Senin, 10 Desember 2012

Antara Facebook, Syubhat, Fitnah, Ghibah dan Tergesa-gesa dalam Menghukumi

Antara Facebook, Syubhat, Fitnah, Ghibah dan Tergesa-gesa dalam Menghukumi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Walaupun judulnya “berteman” bahkan “berlangganan” di FB, tetap saja TEMAN dunia maya tidak seperti TEMAN dunia nyata, buktinya lebih sering kita tidak betul-betul mengenal siapa teman kita di FB.
Kadang kita mengenal teman FB kita sebagai orang-orang yang BERADAB, MENJAGA LISAN dan TIDAK TERGESA-GESA dalam MENGHUKUMI, tidak suka GHIBAH dan tidak suka membahas FITNAH. Ternyata, ketika dia memiliki perselisihan atau perbedaan pendapat dengan kita maka dengan mudahnya dia menggibah dan menghukumi saudaranya: “Dikatakan “Ustadz” saja tidak bisa berdiskusi ilmiah”, “Memaksakan pendapat”, “Jumud”, “Gak salah muridnya pun demikian”, “Tidak konsekuen dengan ucapannya”, “Mantan da’i sesat”. Hanya sebagai permisalan, selain itu masih banyak kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang “teman”.
Padahal kalau mereka mau, betapa mudahnya mengirim pesan via inbox untuk menanyakan apa dasar sikap kita, ataupun menasihati secara tertutup jika memang mereka menganggap kita telah salah. Dan sering kali, diantara mereka, tentunya juga tidak senang jika ia melakukan kesalahan, lalu aib-aibnya diumbar secara murahan di FB, tetapi hendaklah dinasehati secara tertutup. Namun sayang, ketika mereka melihat kesalahan orang lain, mereka pun melakukan hal yang sama, jadi STANDAR GANDA.
Tidakkah mereka takut dari bahaya ghibah, ataukah dalil-dalil tentang bahaya ghibah hanya mereka arahkan kepada orang lain, tidak untuk diri mereka? Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu terdapat pada diri saudaraku?” Beliau bersabda, “Jika apa yang engkau katakan itu terdapat pada diri saudaramu maka engkau telah mengghibahinya, jika tidak maka engkau telah berdusta atasnya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Ikhwani fid diin, takutlah kepada Allah ta’ala, bertakwalah kepada-Nya, dan realisasikan takutmu kepada Allah ta’ala dan takwa kepada-Nya dalam kehidupanmu sehari-hari, tidak terkecuali dalam tulisan-tulisanmu di internet, dan jangan sampai engkau pintar menasihati manusia untuk takut dan takwa kepada Allah ta’ala, namun engkau sendiri tidak mengamalkannya. Maka ketahuilah, membicarakan keburukan seorang muslim tanpa terpenuhi syarat-syarat dibolehkannya secara syar’i, hanya ada dua kemungkinan:
  1. Ghibah.
  2. Dusta.
Dan keduanya adalah kezaliman yang taubatnya dipersyaratkan harus meminta penghalalan dan pemaafan dari orang yang dizalimi tersebut, jika tidak maka urusannya akan panjang sampai di akhirat.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya kezaliman,
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak (lagi) memiliki dinar dan harta”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari ummatku adalah seorang yang datang (menghadap Allah Ta’ala) pada hari kiamat dengan (membawa pahala) sholat, puasa, zakat, namun ketika di dunia dia pernah mencaci fulan, menuduh fulan, memakan harta fulan, menumpahkan darah fulan, memukul fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah dia zalimi. Hingga apabila kebaikan-kebaikannya habis sebelum terbalas kezalimannya, maka kesalahan orang-orang yang pernah dia zalimi tersebut ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Maka jangan pernah engkau lupakan, setiap ucapanmu tentang saudaramu secara zalim akan menjadi bencana bagimu pada hari kiamat. Sebagaimana hadits ini juga menjadi hiburan bagi orang-orang yang dizalimi, baik dengan sikap maupun dengan kata-kata, semoga dosa-dosanya menjadi berkurang dan diampuni oleh Allah ta’ala.
Lihatlah bagaimana para ulama ketika berselisih dalam satu masalah, Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan pada biografi Al-Imam Ar-Rabbani Asy-Syafi’i rahimahullah dalam Siyar A’lam An-Nubala (10/16-17):
قال يونس الصدفي: ما رأيت أعقل من الشافعي، ناظرته يوما في مسألة، ثم افترقنا، ولقيني، فأخذ بيدي، ثم قال: يا أبا موسى، ألا يستقيم أن نكون إخوانا وإن لم نتفق في مسألة.
قلت: هذا يدل على كمال عقل هذا الامام، وفقه نفسه، فما زال النظراء يختلفون.
Yunus As-Shodafi berkata, aku tidak melihat orang yang lebih berakal dibanding Asy-Syafi’i, aku pernah berdiskusi dengannya dalam satu permasalahan, kemudian kami berpisah, dan ketika bertemu denganku, maka ia memegang tanganku, kemudian ia berkata, “Wahai Abu Musa, tidakkah bisa kita bersaudara meskipun kita berbeda pendapat dalam satu masalah?”
Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Ini menunjukkan sempurnanya akal imam ini dan pemahaman dirinya, sebab orang-orang yang berdiskusi itu tidak henti-hentinya berselisih.”
Jika kita tidak bisa mengikuti adab para imam ketika berselisih, paling tidak kita tidak berusaha untuk saling menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, dengan adanya kemajuan sarana komunikasi dewasa ini, yaitu munculnya jejaring-jejaring sosial seperti FB dan semisalnya, membuat manusia semakin sulit menahan diri dan sulit menahan lisannya.
Dengan adanya kemudahan berekspresi melalui status FB, bukan hanya orang-orang awam, tidak sedikit penuntut ilmu, bahkan dianggap ustadz yang berbicara tanpa memikirkan akibat dari ucapannya tersebut. Padahal, sekali ia salah berbicara, maka akan sulit ditarik kembali, sebab dengan mudah ucapannya tersebut akan tersebar ke seluruh dunia melalui jaringan internet.
Tidakkah kita menyadari, bahwa setiap ucapan kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak pada hari kiamat. Allah ta’ala telah mengingatkan,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qoof: 18]
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengingatkan sahabatnya Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,
كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ قَالَثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْإِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Jagalah olehmu ini (lisanmu).” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan diazab disebabkan apa yang kami ucapkan?” Beliau bersabda, “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidaklah manusia itu diseret di neraka di atas wajah-wajah mereka, kecuali karena perbuatan lisan-lisan mereka.” [HR. At-Tirmidzi, no. 2616, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani]
Juga diantara bentuk ucapan yang berbahaya di internet, khususnya di FB adalah tersebarnya syubhat-syubhat yang menyamarkan kebenaran. Dan seorang muslim yang merasa dirinya lemah, tentunya ia tidak akan menyibukkan diri dengan membaca dan membantah syubhat-syubhat tersebut. Dan telah dimaklumi bersama bagaimana takutnya ulama Salaf ketika mendengarkan ucapan-ucapan yang dapat menyamarkan kebenaran yang telah mereka yakini.
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah pada biografi Al-Imam Ar-Rabbani Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata dalam As-Siyar (7/261):
وعنه: من سمع ببدعة فلا يحكها لجلسائه، لا يلقها في قلوبهم.
قلت: أكثر أئمة السلف على هذا التحذير، يرون أن القلوب ضعيفة، والشبه خطافة.
“Dan dari beliau (Sufyan Ats-Tsauri) berkata, Barangsiapa mendengarkan satu bid’ah janganlah ia sampaikan kepada teman-teman duduknya, agar tidak masuk ke hati-hati mereka.”
Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Kebanyakan ulama Salaf memperingatkan perkara ini, karena mereka menganggap hati itu lemah, sedang syubhat menyambar-nyambar.”
Berikut beberapa mutiara dari Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur (hal. 36-37) :
“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi Ibnu Sirin seraya berkata, “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan satu hadits kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Keduanya berkata lagi: Kalau begitu kami bacakan satu ayat Al-Qur’an kepadamu?”  Beliau menjawab, “Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi”. Lalu keduanya pun keluar. Sebagian orang berkata, “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Al-Qur’an kepadamu?”  Beliau menjawab, “Sungguh saya khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka selewengkan maknanya sehingga tertanam dalam hatiku.” [HR. Ad Darimy (1/120/no. 397)]
Sallam -rahimahullah- berkata, “Seorang pengikut kesesatan berkata kepada Ayyub“Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?” Maka Ayyub segera berpaling dan berkata, “Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat” Beliau mengisyaratkan jarinya.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/447 no. 402), Al-Lalika'iy dalam Syarh Ushul Al-I'tiqod (1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah (1/138/no. 101), dan Ad Darimy dalam Sunan-nya (1/121 no. 398)]
Al Fudlail bin Iyyadh rahimahullah berkata, “Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu dan janganlah engkau duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena sungguh saya khawatir kamu terkena murka Allah.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/462-463 no. 451-452), dan Al-Lalika'iy dalam Syarhul Ushul (262)]
Perhatikanlah, bagaimana rasa takut para imam Salaf terhadap bahaya syubhat. Maka janganlah engkau remehkan hal ini, dan janganlah engkau mengejek saudaramu yang berusaha menjaga hatinya dari kesesatan. Kalau engkau merasa dirimu kuat dalam menghadapi syubhat, mungkin saudaramu merasa ia tidak kuat sepertimu. Jangan paksakan dirinya menjadi sepertimu.
Oleh karena itu, bukanlah sikap ekstrim jika ada seorang muslim yang membatasi pertemanannya di FB hanya dengan orang-orang yang ia kenal sebagai seorang Ahlus Sunnah, atau tidak berteman dan memblokir para penebar syubhat, atau minimal tidak berusaha membaca syubhat-syubhat mereka.
Sebagaimana juga, bukanlah sesuatu yang berlebihan jika ia menghapus komentar-komentar di dinding FBnya yang menurutnya mengandung syubhat yang dapat membahayakannya ataupun membahayakan kaum muslimin yang membacanya. Walaupun Anda memandang bahwa komentar Anda bukanlah sebuah kebatilan  atau syubhat yang harus dihapus, tetapi janganlah Anda memaksakan pandangan Anda kepada orang lain.
Karena terkadang, sesuatu yang kita anggap sebagai kebenaran, namun ternyata di baliknya mengandung kebatilan, sehingga komentar kita pada akhirnya dihapus oleh saudara kita yang mungkin lebih mengetahui permasalahan tersebut. Di sinilah dibutuhkan kesabaran untuk meminta penjelasan dengan penuh adab terhadap saudara kita, dan janganlah kita terburu-buru mengghibahi dan menghukumi saudara kita. Dan kesabaran dalam menghargai pendapat saudara kita yang menganggap itu sebagai syubhat yang harus dihapus. Janganlah kita hanya selalu menuntut orang untuk tidak memaksakan pendapat, sementara kita sendiri memaksakan pendapat kepada orang lain. Sehingga ketika komentar kita dihapus, serta merta kita berprasangka buruk terhadap saudara kita, apalagi sampai menebarkan ghibah dan kedustaan atasnya.
Adapun jika seorang mengatakan: Kalau memang komentar tersebut mengandung kebatilan atau syubhat mengapa tidak dibantah dan tidak didiskusikan secara ilmiah? Apa tidak mampu berdiskusi secara ilmiah? Hanya memaksakan pendapat? Bersikap jumud? Tidak konsekuen?
Maka kami jawab: Yaa Akhi jangan terburu-buru, berilah udzur kepada saudaramu. Mungkin saudaramu masih dalam keadaan sibuk sehingga dia belum sempat membantah atau mendiskusikannya. Apalagi jika bantahannya membutuhkan pembahasan ilmiah, dengan mengumpulkan ucapan-ucapan para ulama dalam masalah tersebut, sehingga membutuhkan waktu yang tidak singkat, sementara di satu sisi ia memandang bahwa komentar tersebut adalah kebatilan atau syubhat, maka wajar kalau ia menghapusnya. Janganlah Anda memaksakan pendapat Anda bahwa komentar Anda harus tetap ada, tidak boleh dihapus.
Terlebih jika komentar tersebut ditulis di FB yang tidak memiliki fasilitas moderasi seperti di blog, maka tidak ada jalan kecuali menghapusnya. Dan terlebih lagi jika saudaramu memiliki kesibukan yang jauh lebih penting dan lebih besar maslahatnya dibanding menanggapi setiap syubhat di internet, seperti kesibukan membina orang-orang awam dan para mu’allaf di dunia nyata untuk mengenal tauhid dan sunnah serta memerangi kesyirikan dan kristenisasi, namun di tengah-tengah kesibukannya tersebut, ternyata Anda menikamnya dari belakang dengan ghibah yang Anda sebarkan dan ketergesa-gesaan Anda dalam menghukuminya. Allahul Musta’an.
Dan juga yang tidak kalah penting untuk dicermati, adalah “kebebasan berekspresi” mengungkapkan isi hati tentang fitnah perpecahan antara Ahlus Sunnah di internet, khususnya di FB. Setiap orang berani berbicara tanpa memperhatikan kadar dirinya, nasihat-nasihat ulama dalam menyikapi fitnah hampir-hampir tidak berharga di sisi mereka, berbicara tanpa ilmu dan adab, melanggar kehormatan orang-orang mulia.
Pada akhirnya, fitnah semakin berkobar, pertikaian semakin meluas, dari dunia maya hingga dunia nyata, yang terjadi di dunia nyata segera berpindah ke dunia maya, kemudian tersebar ke seluruh dunia, dalam keadaan mereka menyangka sedang melakukan perbaikan. Inna liLlahi wa inna ilaihi roji’un.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ وَلَمَنِ ابْتُلِىَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah, sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah (tiga kali beliau menyebutkannya), dan orang yang jika ia tertimpa fitnah maka ia bersabar, sungguh mengagumkan.” [HR. Abu Daud, no. 4263 dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani]
WaLlahu A’la wa A’lam. 
Sumber:
Nama Blog: موقع أبي عبد الله سفيان خالد بن إدهام روراي السلفي الأندونيسي
Blog URL:
http://nasihatonline.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar