GELORA FITNAH SEKJEN GP. ANSHOR ADUNG ABDURROHMAN YANG DIDUSTAKAN OLEH BUKTI DAN KENYATAAN (Bag.3)
GELORA FITNAH SEKJEN GP. ANSHOR ADUNG ABDURROHMAN YANG DIDUSTAKAN OLEH BUKTI DAN KENYATAAN (ANTARA KRITIKAN TERHADAP SEBUAH BUKU DENGAN AMBISI BOOMBASTIS MENGUNDANG MASS MEDIA HANYA UNTUK MENUDUH BERDASARKAN DUGAAN DENGAN DATA KADALUARSA EMPATBELAS TAHUN YANG LALU)
Bag.3
6. KETIKA SANG PAHLAWAN KESIANGAN ADUNG ABDURROHMAN BERDIRI DI DEPAN CERMIN BUKTI YANG MENYINGKAP KEDUSTAAN FITNAHAN KEJINYA
Bukti Pertama,
USTADZ AYIP SYAFRUDIN (PENYUNTING
SEKALIGUS SUAMI PENULIS) BUKU ANAK ISLAM SUKA MEMBACA (AISM), SEJAK
EMPAT TAHUN YANG LALU (2012) TELAH MEMPERINGATKAN UMAT DARI MODUS AKSI
TEROR OLEH TERORIS KHAWARIJ ANJING-ANJING NERAKA BOM THAMRIN 2016
Berikut ini adalah nukilan
dari makalah yang ditulis oleh Ustadz Ayip Syafrudin yang ditampilkan di
dalam majalah Asy Syariah No.86/VIII/1432H/2012 berjudul Bahaya Laten
Terorisme yang kemudian diposting di situs resminya pada tanggal 14
bulan Mei 2013.
Nukilan:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang
menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka
perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata.” (al- Ahzab: 58)
Sisi yang lain, seorang muslim
hendaknya tidak tertipu melihat tampilan para teroris mengenakan jubah,
berjenggot dan kepala dibebat imamah (surban).
Jangan ada anggapan sedikit
pun dengan atribut keIslaman yang lekat di tubuh mereka bahwa mereka
para teroris adalah mujahid sejati.
Ketahuilah, penampilan mereka
berjubah, berjenggot, dan mengenakan imamah atau peci putih mereka
lakukan setelah mereka dijebloskan ke dalam penjara.
Gambar 19. Screenshot situs majalah Asy Syariah yang memposting artikel tersebut.
Saat mereka melakukan aksi
teror di tengah-tengah masyarakat, tak sedikit pun ada keberanian untuk
menampilkan syiar-syiar keIslaman. Tak sedikit dari mereka yang
mengenakan celana, kaos oblong, atau kemeja dengan jenggot dicukur
habis, sementara topi pet ada di atas kepala. Ini semua dilakukan untuk
mengelabui aparat keamanan.
Gambar 20. Modus teroris bom
Thamrin (2016) telah diperingatkan oleh Ustadz Ayip Syafrudin pada tahun
2012; mengenakan celana (jeans), kaos oblong, atau kemeja dengan
jenggot dicukur habis, sementara topi pet ada di atas kepala.
Mereka meneriakkan diri
sebagai mujahid yang hendak menegakkan syariat Islam, sementara syiar
keIslaman tak berani mereka tampakkan pada diri mereka.
Aparat keamanan lebih mereka takuti daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka tinggalkan Sunnah Rasul-Nya untuk menghilangkan jejak dan agar tidak teridentifikasi aparat keamanan. Allahu musta’an.
Tampak betapa kacau prinsip yang ada di dada mereka.
Jelas, mereka bukan mujahidin
sejati, bukan pejuang umat yang berada di atas landasan keIslaman. Lebih
tepat dikatakan MEREKA ADALAH TERORIS, pembuat tindakan anarkis dan
kekacauan di tengah-tengah umat.
Pantas apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut mereka anjing-anjing neraka.
كِلَابُ النَّارِ، كِلَابُ
النَّارِ، كِلَابُ النَّارِ، هَؤُلَاءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ
أَدِيم السَّمَاءِ، وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيم السَّمَاءِ
الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلَاءِ
“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing
neraka, anjing-anjing neraka. Mereka ini (kaum Khawarij Azariqah)
sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik
orang yang terbunuh di bawah kolong langit adalah orang-orang yang
dibunuh oleh mereka (Khawarij Azariqah).” (al-Jami’ ash-Shahih, 1/201)
Kemudian cermati buku-buku atau
kitab-kitab yang dikaji, dibaca dan dijadikan rujukan dalam bersikap,
bertindak, beramal, dan berucap. Manakala buku atau kitab yang dijadikan
pegangan melegalkan anarkisme, terorisme, mendorong untuk melakukan
kemaksiatan, bid’ah, dan penyimpangan syar’i lainnya, akan semakin
tampak arah kecenderungannya dalam beragama.
Di antara buku atau kitab yang
berbahaya adalah tulisan Sayid Quthb, Salman al-Audah, Hasan al-Bana,
Said Hawa, Fathi Yakan, Abu Muhammad al-Maqdisi (yang dijebloskan ke
penjara di Jordania), dan Abdul Qadir bin Abdul Aziz alias Dr. Fadhl
alias Sayid Imam Abdul Aziz asy-Syarif (dipenjara seumur hidup di Mesir
atas perannya dalam kelompok Islamic Jihad, dia adalah teman sekolah dan
sahabat Aiman azh-Zhawahiri, pentolan al-Qaeda Usamah bin Ladin), serta
buku-buku yang diterbitkan oleh jaringan teroris Khawarij. Seseorang
yang memiliki kecenderungan kepada al-haq akan menghindari buku-buku
semacam itu. Dia akan mengikuti bimbingan salafus saleh.
…..
…..
Setelah aksi-aksi teror mereka
diberangus aparat keamanan, kini mereka menerapkan strategi baru.
Keberadaan pondok pesantren yang masuk dalam jaringan mereka,
diberdayakan untuk kaderisasi. Kader-kader muda yang telah disusupi
paham-paham Khawarij dibekali pula dengan pelatihan berbau militer.
Tujuannya menyiapkan pejuang-pejuang untuk “jihad”, yaitu melakukan aksi
teror, kekacauan, keonaran dengan dikemas bahasa jihad. Adapula dari
mereka yang menyusup ke dalam badan amal usaha milik ormas tertentu.
Mereka menggunakan fasilitas-fasilitas milik ormas tersebut untuk
merekrut kader-kader baru.
Berikut bukti gambar Majalah Asy Syariah yang memuat makalah Ustadz Ayip tersebut.
Gambar 21. Majalah Asy Syariah
No.86/VIII/1432H/2012, Mereka Adalah Teroris Anjing-Anjing Neraka,
tulis Ustadz Ayip memperingatkan umat akan bahaya mereka.
Jika demikian halnya sikap
tegas Ustadz Ayip Syafrudin dalam menghadapi dan memperingatkan umat
dari bahayanya jaringan radikalis Anjing-Anjing Neraka Teroris Khawarij,
tibalah gilirannya sekarang kita meminta data dimana bukti si tukang
fitnah, Pahlawan Kesiangan Adung Abdurrohman telah memperingatkan umat
dari bahaya mereka?! Hanyakah Tong Kosong Nyaring Bunyi (Fitnahan)nya ?!
Selengkapnya…
Kajian Utama “Bahaya Laten Terorisme”
(1918 Views) Mei 14, 2013 12:08 am | Published by Redaksi
Kajian Utama “Bahaya Laten Terorisme”
(1918 Views) Mei 14, 2013 12:08 am | Published by Redaksi
Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin
Menangkal aksi terorisme tak
semata dengan tindak represif aparat keamanan. Bisa saja kelompok
teroris itu telah ditangkap, dipenjara, bahkan dihukum mati. Namun,
jangan tumbuh anggapan bahwa terorisme telah lenyap. Sang teroris
generasi baru dengan kemampuan dan peralatan yang lebih strategis bisa
melangsungkan aksinya sewaktu-waktu. Sebab, aksi teror akan senantiasa
tumbuh dari masa ke masa, seiring dengan tumbuh kembangnya terorisme
sebagai paham dan ideologi.
Walau para teroris sekarang
ini telah dibungkam aparat keamanan, tetapi paham dan ideologinya tidak
serta merta mati. Ideologi mereka akan terus bercokol di tengah
masyarakat manakala umat tak dibekali kemampuan menolak melalui ilmu
agama yang benar selaras pemahaman salafus saleh. Para pendahulu mereka
(kelompok teroris) adalah orang-orang yang secara fisik menampakkan
dirinya sebagai ahli ibadah. Ketika Abdullah bin al- ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma diutus untuk melakukan dialog dengan kelompok khawarij, beliau
mengungkapkan keadaan mereka.
Beliau mengatakan bahwa
kelompok Khawarij adalah orang-orang yang rajin beribadah. Mereka adalah
orangorang yang kuat menunaikan shalat malam, puasa, dan tak peduli
pada Bahaya Laten Terorisme pakaian yang dikenakannya. Pakaian mereka
lusuh. Dahi mereka menghitam lantaran banyak sujud. Tangan-tangan mereka
pun terasa kasar. Wajah mereka pucat karena seringnya beribadah di
waktu malam. Itulah gambaran mereka, pendahulu kelompok teroris. Mereka
memisahkan diri dari pemerintahan yang sah saat itu, yaitu Khalifah Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tak hanya itu, pemerintah Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu pun dikafirkan dengan alasan tidak berhukum
dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Konsentrasi pasukan mereka ditempatkan di satu wilayah yang disebut
Harura’ (atau ada pula yang menyebutkan di daerah Nahrawan).
Karena itu, kelompok Khawarij
ini disebut juga dengan Haruriyah, yaitu orang-orang yang menetap di
Harura’. Walaupun jumlah mereka ribuan —dalam sebagian riwayat
disebutkan 12.000 orang, ada yang menyebutkan lebih sedikit dari itu—,
tetapi tak seorang pun sahabat Nabi n bersama mereka. Tak ada seorang
pun ulama yang mendukung aksi mereka. Tidak ada dari kalangan Muhajirin
dan Anshar. Padahal para sahabat Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang
yang paling paham tentang al-Qur’an. Mereka lebih mengetahui tafsir
al-Qur’an. Penyimpangan lainnya yang ada Mengapa Teroris Tak Pernah
Habis pada mereka adalah menghalalkan darah kaum muslimin. Untuk
melampiaskan keyakinan satu ini, kalangan Khawarij tak segan menghabisi
nyawa kaum muslimin. Dari kalangan mereka, hadir pula manusia jahat yang
membunuh para sahabat mulia. Di antara yang terbunuh adalah dua sahabat
agung dan mulia, yaitu Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan Ali bin
Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Pada masa kekhalifahan Ali bin
Abi Thalib, ada tiga orang Khawarij yang bersekongkol membunuh tiga
sahabat mulia. Abdurrahman bin Amr, dikenal dengan Ibnu Muljam
al-Himyari, berencana membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu;
al-Burak bin Abdillah menyanggupi membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan
radhiyallahu ‘anhu; dan Amr bin Bakr siap membunuh Amr bin al-Ash
radhiyallahu ‘anhu . Ketiganya merencanakan aksi menghalalkan darah kaum
muslimin. Abdurrahman bin Amr alias Ibnu Muljam al-Himyari melakukan
provokasi. Kecemburuan terhadap kelompok korban Nahrawan dibangkitkan
oleh Ibnu Muljam. Peristiwa Nahrawan pun diungkit. Mereka mengenang saat
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerangi teman-teman mereka di
Nahrawan. Tak sedikit yang terbunuh di antara mereka.
Akhirnya, dengan lantang
mereka berucap, “Apa yang akan kita perbuat setelah kematian teman-teman
kita? Teman-teman kita yang terbunuh adalah manusia terbaik. Mereka
adalah orang-orang yang banyak melakukan shalat. Mereka menyeru kepada
Rabbnya. Tak pernah merasa takut walaupun manusia lain mencercanya. Kami
telah menjual jiwa-jiwa kami. Para pemimpin sesat itu akan kami
datangi. Kami akan bunuh mereka. Kami akan bebaskan negeri-negeri dari
cengkeraman mereka. Kami akan membalas kematian temanteman kami.” Ibnu
Muljam lantas berkata, “Saya akan membunuh Ali.”Al-Burak bin Abdillah
menyertai dan berucap, “Saya akan habisi Mu’awiyah bin Abi Sufyan.” Amr
bin Bakr kemudian angkat bicara, “Saya akan libas Amr bin al-Ash.”
Mereka saling berjanji, berikrar setia, dan saling memercayai. Mereka
tak akan sekali-kali mundur dari rencana ini. Tekad mereka adalah
membunuh atau dibunuh. Api telah berkobar, tak mungkin untuk dipadamkan
lagi.
Amarah telah memuncak, tak
mungkin untuk diredam lagi. Hawa nafsu telah merasuk. Hati telah
dipenuhi oleh kebencian membusuk. Dendam telah membara di atas dasar
kebatilan. Barbar! Masuk bulan Ramadhan, malam Jumat, malam ketujuh
belas. “Malam ini adalah malam untuk menunaikan janjiku terhadap para
sahabatku,” kata Ibnu Muljam. Untuk melancarkan aksi terornya, Ibnu
Muljam ditemani oleh dua orang, yaitu Wardan dan Syabib bin Bajarah
al-Asyja’i al-Haruri. Seraya membawa pedang, ketiganya bersiaga. Mereka
mengambil posisi menghadap pintu rumah tempat Ali bin Abi Thalib keluar.
Saat yang dinanti tiba. Ali keluar dari pintu rumah itu. Sontak,
serangan bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Pedang yang berada di tangan
Syabib berkelebat, mengenai bagian leher Ali bin Abi Thalib.
Selang tak berapa lama,
giliran pedang Ibnu Muljam menebas bagian samping atas kepala. Darah pun
bersimbah, mengucur membasahi janggut Ali. Saat melayangkan pedangnya,
Ibnu Muljam berucap, “La hukma illa lillah (tiada hukum kecuali milik
Allah). Tidak ada bagimu Ali, tidak ada pula bagi para sahabatmu.”
Sejarah telah ditulis dengan darah. Tak akan lekang dalam ingatan kaum
muslimin atas tindakan barbar kaum teroris Khawarij. Mereka telah berani
menumpahkan darah para sahabat mulia. Mereka telah lancang sebagaimana
pendahulunya yang bersikap lancang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa Sallam. Dzul Kuwaishirah mengucapkan, “Berbuat adillah, wahai
Rasulullah!” Saat itu, Rasulullah n membagi sesuatu kepada para sahabat.
Inilah karakter kaum Khawarij, melawan penguasa atau mencelanya.
Apabila kita mencermati keadaan orang-orang Khawarij terdahulu, ternyata
mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah. Namun, kerajinan ibadah
yang mereka lakukan tidak diiringi oleh pemahaman yang benar mengenai
ibadah. Landasan ibadah kaum Khawarij hanyalah al-khauf, rasa takut.
Ibadah yang mereka tunaikan tidak diiringi dengan raja’ (mengharap) dan
mahabbah (cinta).
Hanya saja, secara lahir
tergambar betapa mereka adalah kaum yang tekun beribadah. Setelah
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma melakukan dialog dengan mereka,
sebagian mereka bertobat. Sebagian lainnya tetap dengan pemahamannya,
lalu diperangi oleh pemerintah Ali bin Abi Thalib. Apakah tindakan Ali
bin Abi Thalib memerangi sebagian pengikut Khawarij yang tidak mau
bertobat dianggap memerangi sesama muslim? Tentu tidak. Walau secara
lahir mereka menampakkan amaliah sebagaimana kaum muslimin lainnya,
namun di balik itu semua mereka memiliki keyakinan sesat. Keyakinan yang
tak semata-mata akan merusak tatanan sosial masyarakat (dalam bentuk
pembunuhan, perampasan hak, dan kekacauan). Lebih dari itu,
keyakinankeyakinan sesat mereka akan merusak ajaran Islam.
Kemuliaan Islam akan
dihancurkan. Ajaran Islam yang penuh rahmah akan dicemari sehingga wajah
Islam coreng-moreng. Islam diidentikkan dengan teror. Kaum muslimin
yang dengan ikhlas dan benar-benar mengikuti Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam secara lahir tampak mirip, disamakan dengan kaum barbar
yang tak beradab. Bisa jadi, amaliah secara lahir tampak sama, atribut
yang dikenakan juga persis. Akan tetapi, keyakinan yang mendasari sikap
dan perbuatan tidak bisa disamakan. Kaum teroris di masa sekarang
mengusung nama sebagai pejuang dan pembela Islam serta kaum muslimin.
Namun, itu hanya pengakuan
sendiri secara sepihak. Sebab, tindakan mereka di tengah-tengah umat
Islam menampakkan wajah aslinya. Apa yang selama ini mereka perbuat
mencerminkan keyakinan yang batil. Klaim sebagai mujahid (pejuang) dan
pembela Islam tak pantas disematkan kepada mereka. Sebab, pada
kenyataannya perjuangan dan amaliah mereka di atas kebatilan. Jubah,
sorban boleh sama. Jenggot dan pakaian di atas mata kaki juga boleh
sama. Tetapi, keyakinan yang tersimpan di hati tidak bisa disamakan. Itu
semua akan tampak dari ucapan, perilaku, dan amaliah lainnya. Pemahaman
yang mereka usung akan tampak dari perbuatannya yang tak terbimbing
salafus saleh. Tindakan-tindakan anarkis yang mereka lakukan bukan
cerminan dari ajaran Islam nan luhur.
Bahkan, bukan pula cerminan
dari ajaran jihad yang mulia sebagaimana diajarkan oleh salafus saleh.
Jihad yang diajarkan oleh salafus saleh, di antaranya harus dilakukan
bersama penguasa. Hal ini dituntunkan oleh al- Imam al-Barbahari
rahimahullah dan para imam lainnya bahwa, “Haji dan berperang
dilaksanakan bersama pemerintah kaum muslimin (penguasa) akan senantiasa
berlangsung (hingga akhir kiamat).” (Syarhus Sunnah. Pernyataan serupa
dari para imam lain bisa dilihat pada majalah Asy-Syariah edisi 48)
Cara Identifikasi Teroris
Di antara cara
mengidentifikasi seseorang yang berjubah, berjenggot, berpakaian di atas
mata kaki, dan berkopiah putih atau bersorban, apakah termasuk jaringan
sesat atau tidak, lihatlah teman seiring dalam beraktivitas dan mengaji
ilmu agama. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang tergantung atas agama
temannya. Maka dari itu, perhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”
(lihat ash-Shahihah no. 927)
Saat al-Imam Sufyan ats-Tsauri
tiba di Bashrah, beliau melihat kedudukan ar-Rabi’ bin Shubaih di
tengah-tengah umat. Lantas beliau bertanya tentang mazhab (pemahaman)
agama ar-Rabi’. Jawab mereka, “Tiada lain mazhabnya adalah as-Sunnah.”
Al-Imam Sufyan bertanya,
“Siapa temannya?” Orang-orang menjawab, “Orang-orang Qadariyah (yang
ingkar terhadap takdir).” Kata al-Imam Sufyan ats-Tsauri, “Kalau begitu,
dia seorang qadari.” (al-Ibanah, Ibnu Baththah. Lihat Ijma’ul Ulama
‘ala al-Hajr wa at-Tahdzir min Ahli al-Ahwa’, asy-Syaikh Khalid bin
Dhahwi azh-Zhafiri, hlm. 106)
Kemudian cermati buku-buku
atau kitab-kitab yang dikaji, dibaca dan dijadikan rujukan dalam
bersikap, bertindak, beramal, dan berucap. Manakala buku atau kitab yang
dijadikan pegangan melegalkan anarkisme, terorisme, mendorong untuk
melakukan kemaksiatan, bid’ah, dan penyimpangan syar’i lainnya, akan
semakin tampak arah kecenderungannya dalam beragama. Di antara buku atau
kitab yang berbahaya adalah tulisan Sayid Quthb, Salman al-Audah, Hasan
al-Bana, Said Hawa, Fathi Yakan, Abu Muhammad al-Maqdisi (yang
dijebloskan ke penjara di Jordania), dan Abdul Qadir bin Abdul Aziz
alias Dr. Fadhl alias Sayid Imam Abdul Aziz asy-Syarif (dipenjara seumur
hidup di Mesir atas perannya dalam kelompok Islamic Jihad, dia adalah
teman sekolah dan sahabat Aiman azh-Zhawahiri, pentolan al-Qaeda Usamah
bin Ladin), serta buku-buku yang diterbitkan oleh jaringan teroris
Khawarij. Seseorang yang memiliki kecenderungan kepada al-haq akan
menghindari buku-buku semacam itu. Dia akan mengikuti bimbingan salafus
saleh.
Dinukil oleh al-‘Allamah Ibnu
Muflih rahimahullah dalam al-Adabu asy-Syar’iyah, mengutip apa yang
disebutkan oleh asy- Syaikh Muwaffiquddin rahimahullah bahwa salaf
melarang bermajelis dengan ahli bid’ah, memerhatikan buku-buku mereka
dan mendengarkan perkataannya. (Ijma’ul Ulama’, hlm. 69)
Untuk mengokohkan
identifikasi, “Seseorang tergantung atas agama temannya. Maka dari itu,
perhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” berikutnya telusurilah
kepada siapa dia mengambil pemahaman agamanya. Dari sanalah akan
diperoleh kepastian siapa sesungguhnya sosok berjenggot, berjubah di
atas mata kaki, dan berkopiah putih tersebut. Sebab, bagi orang yang
benar benar belajar Islam secara baik dan benar, tak semudah itu duduk
bersimpuh di depan guru. Dia harus mengetahui jati diri dan paham apa
yang dianut oleh gurunya. Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah
menyatakan,
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُو عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka dari itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqqadimah Shahih)
Nasihat emas Muhammad bin
Sirin rahimahullah di atas adalah pegangan untuk tidak meremehkan
penentuan sumber pengambilan Islam. Betapa banyak kaum muslimin yang
memiliki pemahaman menyimpang karena keliru menentukan sumber rujukan.
Bisa saja yang diajarkan adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi saat
orang yang dijadikan rujukan itu menafsirkan tidak berdasar pada
bimbingan salaf, terjadilah penyimpangan. Betapa mengambil dan menerima
ilmu agama haruslah dari orang yang adil dan terpercaya, yaitu para
ulama Ahlus Sunnah. Tidak kepada setiap orang hati dan pendengaran ini
diserahkan. Ini semua dalam rangka menepis penyimpangan dalam berislam
agar Islam yang bersemi di hati berasal dari sumber yang benar.
Setelah memahami permasalahan
ini, maka sangat tidak baik apabila menyamaratakan setiap orang
berjenggot, berjubah, bercadar, berkopiah putih, atau sorban (imamah)
adalah kelompok teroris. Sebagai seorang muslim, hendaknya bijak dalam
menyikapi keadaan. Benar adanya, kalangan teroris mengenakan pakaian
atau atribut lainnya yang sama dengan yang dikenakan kaum muslimin pada
umumnya. Dalam beberapa hal yang mencocoki mereka, para ulama Ahlus
Sunnah dijadikan rujukan. Karena itu, pantas apabila dalam mengenakan
hal yang bersifat lahir yang melekat pada tubuh ada kesamaan dengan kaum
muslimin lainnya.
Sebut saja salah seorang
pelaku bom Bali, Imam Samudra. Dia mengambil fatwa para ulama Ahlus
Sunnah berdasarkan seleranya. Terkait dengan urusan jilbab dan cadar,
dia merasa lebih pas dengan fatwa ulama Saudi, meskipun ulama itu tak
lepas dari cercaannya. Sementara itu, dalam masalah musik dan alat
hiburan, dia mengambil fatwa asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Sekali lagi, tak mengherankan apabila para istri pelaku bom Bali dan
orang-orang yang berada dalam jaringannya berpakaian sama dengan
kalangan wanita Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kata Imam Samudra, “Secara
pribadi dan keluarga, dalam masalah berpakaian misalnya, jilbab atau
hijab atau cadar, aku lebih setuju dan “pas” dengan fatwa para ulama
Saudi Arabia, seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Shalih Utsaimin, Syaikh
Hamud at-Tuwaijiri, dan lain-;lain. Dalam menyikapi dan menjaga diri
beserta keluarga dari musik dan alat hiburan lainnya, selain berpegang
pada syaikh Muhaddits Nashiruddin al- Albani, aku juga berpegang pada
fatwa para ulama anggota Dewan Fatwa Saudi Arabia….”(Aku Melawan
Teroris, hlm. 64. Lihat Mereka Adalah Teroris, hlm. 181 dan 554—555)
Menyikapi keadaan ini,
hendaklah seorang muslim tidak tergesa-gesa memberi penilaian negatif
terhadap orang-orang yang berjubah, bercadar, berjenggot, dan yang
semakna dengan itu. Apalagi jika langsung menyamakan dan mengelompokkan
setiap orang berjubah, berjenggot, atau wanita bercadar adalah bagian
dari kelompok teroris. Sebab, sikap demikian bisa menimbulkan antipati
terhadap ajaran Islam. Bagaimana pun juga, berjubah, berjenggot, atau
wanita bercadar adalah bagian dari ketentuan syariat Islam. Tak bisa
dimungkiri bahwa semua itu ada tuntunannya dalam Islam.
Faktor pendorong orang-orang
untuk berpenampilan agamis adalah karena hal itu merupakan ajaran Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, terlepas dari perbedaan pendapat ulama
dalam hal cadar, apakah wajib atau sunnah. Semua itu tak ubahnya ajaran
agama Islam semisal shalat, puasa, dan yang lainnya. Mereka para teroris
Khawarij juga shalat dan puasa, bahkan bisa jadi lebih rajin dan
semangat melakukannya. Lantas apakah kita akan menilai bahwa shalat dan
puasa adalah ciri teroris? Tentu tidak demikian. Begitu pula masalah
jenggot dan cadar. Maka dari itu, ingatlah firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti
orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat,
maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”
(al- Ahzab: 58)
Sisi yang lain, seorang muslim
hendaknya tidak tertipu melihat tampilan para teroris mengenakan jubah,
berjenggot dan kepala dibebat imamah (surban).
Jangan ada anggapan sedikit pun dengan atribut keIslaman yang lekat di tubuh mereka bahwa mereka para teroris adalah mujahid sejati.
Ketahuilah, penampilan mereka berjubah, berjenggot, dan mengenakan imamah atau peci putih mereka lakukan setelah mereka dijebloskan ke dalam penjara.
Jangan ada anggapan sedikit pun dengan atribut keIslaman yang lekat di tubuh mereka bahwa mereka para teroris adalah mujahid sejati.
Ketahuilah, penampilan mereka berjubah, berjenggot, dan mengenakan imamah atau peci putih mereka lakukan setelah mereka dijebloskan ke dalam penjara.
Saat mereka melakukan aksi
teror di tengah-tengah masyarakat, tak sedikit pun ada keberanian untuk
menampilkan syiar-syiar keIslaman. Tak sedikit dari mereka yang
mengenakan celana, kaos oblong, atau kemeja dengan jenggot dicukur
habis, sementara topi pet ada di atas kepala. Ini semua dilakukan untuk
mengelabui aparat keamanan.
Mereka meneriakkan diri
sebagai mujahid yang hendak menegakkan syariat Islam, sementara syiar
keIslaman tak berani mereka tampakkan pada diri mereka.
Aparat keamanan lebih mereka takuti daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka tinggalkan Sunnah Rasul-Nya untuk menghilangkan jejak dan agar tidak teridentifikasi aparat keamanan. Allahu musta’an.
Aparat keamanan lebih mereka takuti daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mereka tinggalkan Sunnah Rasul-Nya untuk menghilangkan jejak dan agar tidak teridentifikasi aparat keamanan. Allahu musta’an.
Tampak betapa kacau prinsip yang ada di dada mereka.
Jelas, mereka bukan mujahidin sejati, bukan pejuang umat yang berada di atas landasan keIslaman. Lebih tepat dikatakan MEREKA ADALAH TERORIS, pembuat tindakan anarkis dan kekacauan di tengah-tengah umat.
Jelas, mereka bukan mujahidin sejati, bukan pejuang umat yang berada di atas landasan keIslaman. Lebih tepat dikatakan MEREKA ADALAH TERORIS, pembuat tindakan anarkis dan kekacauan di tengah-tengah umat.
Pantas apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut mereka anjing-anjing neraka.
كِلَابُ النَّارِ، كِلَابُ
النَّارِ، كِلَابُ النَّارِ، هَؤُلَاءِ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ
أَدِيم السَّمَاءِ، وَخَيْرُ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيم السَّمَاءِ
الَّذِينَ قَتَلَهُمْ هَؤُلَاءِ
“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing
neraka, anjing-anjing neraka. Mereka ini (kaum Khawarij Azariqah)
sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik
orang yang terbunuh di bawah kolong langit adalah orang-orang yang
dibunuh oleh mereka (Khawarij Azariqah).” (al-Jami’ ash-Shahih, 1/201).
Kesamaan Khawarij dahulu dan
sekarang adalah mengafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang
yang mendukungnya, melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kaum
muslimin, menghalalkan darah dan harta kaum muslimin, serta membolehkan
membunuh anak-anak muslimin. Inilah ideologi mereka. Ideologi mereka
telah diwujudkan dalam berbagai aksi “berbau darah” di sepanjang
perjalanan sejarah. Tindakan-tindakan mereka senantiasa dihiasi onar,
kacau, dan kerusakan di muka bumi. Para sahabat pun dibunuh,
ditumpahkan darahnya.
Mereka jahil, tak berilmu, tak
paham fikih dan syariat Islam lantaran mereka berseberangan dengan para
ulama Ahlus Sunnah. Di tengah-tengah mereka tidak ada ulama. Mereka
hanya memiliki semangat ibadah dan beramal, tetapi ditegakkan dengan
emosi dan kebodohan. Tidak di atas landasan ilmu yang benar. Itulah
Khawarij. (Mereka Adalah Teroris, hlm. 698—699)
Setelah aksi-aksi teror mereka
diberangus aparat keamanan, kini mereka menerapkan strategi baru.
Keberadaan pondok pesantren yang masuk dalam jaringan mereka,
diberdayakan untuk kaderisasi. Kader-kader muda yang telah disusupi
paham-paham Khawarij dibekali pula dengan pelatihan berbau militer.
Tujuannya menyiapkan pejuang-pejuang untuk “jihad”, yaitu melakukan aksi
teror, kekacauan, keonaran dengan dikemas bahasa jihad. Adapula dari
mereka yang menyusup ke dalam badan amal usaha milik ormas tertentu.
Mereka menggunakan fasilitas-fasilitas milik ormas tersebut untuk
merekrut kader-kader baru.
Strategi lain yang mereka
kembangkan adalah selalu melansir kata kunci “salaf” atau “ahlus sunnah”
ke hadapan umat. Di sisi lain, mereka menghantam habis-habisan kaum
muslimin–yang mereka bahasakan sebagai kelompok salafi. Tak sedikit
buku-buku yang mereka terbitkan menyerang masyarakat yang benar-benar
ingin mendakwahkan pemahaman Ahlus Sunnah yang selaras dengan apa yang
diajarkan oleh salafus saleh. Dari masa ke masa, paham Khawarij terus
menggelinding. Kaum muslimin hendaknya mewaspadai gerakan mereka.
Keyakinan batil yang ada pada mereka akan terus ditularkan ke tubuh umat
Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ
قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ
خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ
حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ
الرَّمِيَّةِ
“Pada akhir zaman akan keluar satu kaum
yang muda belia usianya, pendek akalnya. Mereka mengatakansebaik-baik
ucapan manusia. Mereka membaca al-Qur’an, tetapi tidak melewati
kerongkongan mereka. Mereka lepas (melesat keluar) dari agama seperti
melesatnya anak panah dari (tubuh) buruannya.” ( HR. al-Bukhari no. 3611
dan Muslim no. 1066)
Mereka rajin membaca
al-Qur’an, tetapi tidak bisa memahami dengan benar ayat-ayat yang mereka
baca. Akibatnya, apa yang mereka baca tak bisa menembus hati. Secara
bertahap mereka tergiring untuk keluar dari ketentuanketentuan Islam.
Mereka terjatuh pada kebid’ahan dalam keadaan merasa yakin di atas
kebenaran, yakin kalau sedang memperjuangkan Islam. Itulah kebodohan
mereka. Sebab, sesungguhnya akal mereka itu dangkal.
Wallahu a’lam.
Bukti gambar selengkapnya makalah ustadz Ayip Syafrudin yang dimuat di majalah Asy Syariah:
Believe itor not,
demikianlah orang yang menjadi tertuduh terlibat dalam jaringan radikal
di sisi Sekjen GP. Anshor Adung Abdurrohman yakni dai Ahlussunnah yang
justru memperingatkan umat dari bahayanya pemahaman radikal ekstrem
takfiri khawarij teroris Imam Samudra, Usamah bin Laden, Sayid Quthb,
Salman al-Audah, Hasan al-Bana, Said Hawa, Fathi Yakan, Abu Muhammad
al-Maqdisi (yang dijebloskan ke penjara di Jordania), dan Abdul Qadir
bin Abdul Aziz alias Dr. Fadhl alias Sayid Imam Abdul Aziz asy-Syarif
(dipenjara seumur hidup di Mesir atas perannya dalam kelompok Islamic
Jihad yang dia ini adalah teman sekolah dan sahabat Aiman azh-Zhawahiri
pimpinan tertinggi kelompok teroris Al Qaeda setelah matinya Usamah bin
Laden. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Hikmah yang bisa kita petik dari mushibah ini…
Jika bukan karena dijilat api
Takkan dikenal wangi aroma gahru
Jika bukan karena Adung Abdurrahman melemparkan fitnah yang keji
Takkan dikenal siapa yang jujur anti radikal dari si penipu
Walhamdulillah.
BERSAMBUNG IN SYA ALLAH
Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
Klik
JOIN Channel Telegram: http://bit.ly/tukpencarialhaq
http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com
Klik
Sumber : www.tukpencarialhaq.com