Kamis, 31 Januari 2013

PACARAN: DULU HARAM, KINI “HALAL”



NO PACARAN1
Oleh: Ustadz ‘Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-
Panjangnya zaman yang yang menyelai antara masa kenabian dengan masa sekarang membuat kebanyakan orang diantara mereka yang melupakan sebagian hukum-hukum syariat sehingga sesuatu yang haram kini berubah menjadi halal dalam penilaian mereka. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati bila kebanyakan diantara kita sudah melupakan batasan dan aturan agamanya.
Semua itu dilatari oleh malasnya kaum muslimin mempelajari Kitabullah dan hadits-hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- serta petunjuk dan jalan hidup para sahabat dalam beragama.Manusia hari ini banyak dilalaikan dari hal itu oleh pengaruh-pengaruh serta jerat-jerat setan dan bala tentaranya.
Parapembaca yang budiman, dulu berpacaran adalah sesuatu yang memalukan dan tabu bagi kebanyakan orang. Karena, masih banyak diantara kita yang mengetahui bahwa pacaran itu adalah pengantar menuju zina. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً [الإسراء/32]
“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”.
(QS. Al-Israa’ : 32)
>>>www.salafyciampeabogor.blogspot.com<<<
Ini merupakan dalil gamblang yang mengharamkan pacaran.Sebab ia merupakan sarana yang mendekatkan seseorang kepada dosa zina. Alangkah banyaknya orang-orang yang terjerumus dalam zina pada hari ini melalui pintu dan jalan yang kita dengan“pacaran”!!!
Kita saksikan para pemuda kita yang bergampangan dalam berpacaran akhirnya kumpul kebo, selingkuh, berzina, berhubungan intim sebelum nikah.
Bercinta ala pacaran adalah cinta yang diharamkan dalam agama, kecuali antara suami dengan istri yang telah sah dengan ikatan nikah. Pacaran ialah sebuah langkah setan dalam menjerumuskan anak cucu Adam dalam dosa zina. Itulah sebabnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang keras salah satu trik pacaran yang kita kenal dengan “berdua-duaan” alias “bersunyi-sunyian”.
وَلاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ ؛ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, karena pihak ketiganya adalah setan”
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (177). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shahihah(430)]
Keindahan dan keceriaan saat berduaan adalah ibarat racun berbalut madu. Sebuah keindahan dan keceriaan yang akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kehinaan dan kenistaan. Sungguh muraqabatullah (penjagaan diri karena merasa selalu diawasi oleh Allah) telah hilang dari diri seseorang bila ia berduaan dengan pacarnya!!
Akibatnya setan pun beraksi, lalu disambut oleh orang yang digodanya. Tak ada lagi penghalang di saat berdua.
Kini setan bebas memerintahkan keduanya untuk berbuat mesum!!!
Ia pun menengok ke kanan dan ke kiri pada setiap sudut kamar, lalu mengunci semua pintu dan jendela. Selanjutnya ia melakukan percakapan tentang perkara-perkara yang malu untuk disebutkan di halaman ini.
Dia mengira bahwa mengira bahwa Allah tidak mengetahui, dan melihatmu!!! Demi Allah, tidaklah demikian!!!! Allah mendengar dan melihatnya!!!!
Parapembaca yang budiman, inilah fakta lapangan yang sering kita dengar, baca, atau mungkin menyaksikannya di sekitar kita. Sungguh sebuah kecelakaan, di saat zina beserta pengantar-pengantarnya dianggap perkara yang biasa-biasa saja.
Lebih celaka lagi, media ikut “menghalalkan” pacaran dan zina dengan menampilkan berbagai informasi, kisah, lagu, berita dan lainnya yang menggambarkan kehidupan romantis dan lika-liku para pelaku pacaran dari kalangan para selebriti, baik muslim, maupun kafir.
Semua ini memperkuat usaha mereka dalam menghalalkan sesuatu asalnya adalah haram!! Semua dibungkus dengan rapi dan cantik. Pacaran dikesankan adalah sebuah kemajuan, keindahan, seni, peradaban manusia moderen, dan sederet hiasan baginya!!!
Sementara itu hidup suci, tanpa berpacaran digambarkan dengan konotasi dan gambaran buruk, sehingga para pemuda pun merasa malu dan risih bila hidup bersendirian dan suci dari dosa pacaran. Akibat dari semua itu muncul istilah “jomblo” yang mengandung konotasi buruk bahwa orang yang sendiri tanpa pacar adalah seorang yang lugu, bodoh, kurang kreatif, terbelakang, kurang jantan, tidak hebat, pasif, dan makna-makna buruk lainnya.
Subhanallah, sungguh ini adalah makar setan dalam menjerumuskan manusia dalam perbuatan keji (yakni, zina)!!!
Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ  [النور/21]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
(QS. An-Nuur : 21)
Al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy -rahimahullah- berkata,
“Maksiat-maksiat merupakan langkah-langkah setan; tak akan keluar dari hal itu. Jadi, larangan Allah bagi para hamba dari berbagai maksiat merupakan nikmat dari Allah yang wajib bagi mereka syukuri dan sebut-sebut. Karena, larangan itu adalah perlindungan bagi mereka terkotori oleh perbuatan-perbuatan rendah dan buruk. Nah, diantara kebaikan Allah kepada mereka, Allah mencegah mereka dari dosa-dosa sebagaimana halnya Dia mencegah mereka dari meminum racun-racun yang mematikan dan sejenisnya”.
[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 563)]
NO PACARAN3
Sungguh pacaran dan zina adalah dua dosa yang mengotori hati, bahkan mematikannya. Dosa ini telah menjamur di masyarakat Indonesia dan lainnya; mereka mengira pacaran sebagai dosa ringan di mata Allah!!! Dosa ini tak kalah dahsyatnya dibandingkan racun yang memabukkan dan mematikan.
Itulah hikmahnya Allah melarang kita berpacaran dalam ayat 32 dari Surah Al-Israa’ tersebut di atas, demi melindungi kita dari lumuran dosa dan maksiat yang akan mematikan jiwa, bahkan mungkin raga kita, wahai saudaraku!!!!
Coba bayangkan!! Bagaimana kira-kira kehidupan kita di zaman moderen ini bila Allah tak pernah menurunkan wahyu (Al-Qur’an) sejak 15 abad yang lalu. Pasti kehidupan kita persis denganbahimah (hewan ternak)!!! Kalau Allah tidak melarang semua maksiat dalam Al-Qur’an, makan pasti kita akan hidup bebas tanpa aturan yang benar dan kokoh. Tapi syukurlah ada larangan pacaran Al-Qur’an!!
Namun realita yang membuat kita risau, kaum muslimin tidak mengindahkan larang ini. Malah mereka mengikuti langkah-langkah setan dan bala tentaranya dari kalangan Ahlul Kitab dan orang-orang kafir lainnya yang giat menyemarakkan pacaran, untuk selanjutnya menjerumuskan dalam dosa zina.
Inilah keadaan umat Islam hari ini yang pernah diisyaratkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ دَخَلَ حُجْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ ، وَحَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ جَامِعَ امْرَأَتَهُ بِالطَّرِيقِ لَفَعَلْتُمُوهُ
“Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sedepa demi sedepa sampai pun andai seorang diantara mereka memasuki lubang biawak, niscaya kalian pun akan memasukinya; sampai pun andai seorang diantara mereka berjimak dengan ibunya di jalan, maka kalian pun ikut melakukannya”.[HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (8404). Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah(1348)]
Para pembaca yang budiman, zina di akhir zaman ini akan berubah menjadi “halal” di sisi sebagian orang sampai muncul ungkapan yang mungkar, “Yang penting suka sama suka”.
Subhanallah, ini adalah ungkapan yang salah dan mungkar. Sebab ungkapan seperti ini menghalalkan zina yang didasari oleh rasa suka sama suka. Adapun zina yang didasari oleh paksaan, maka ini yang dilarang oleh mereka!!
Padahal syariat telah mengharamkan zina secara mutlak, baik suka sama suka ataupun tidak!!!
Allah -Azza wa Jalla- berfirman saat menyebutkan sederet sifat bagi hamba-hamba Allah yang taat,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) [الفرقان/68، 69]
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan siksa untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam siksaan itu, dalam keadaan terhina”.
(QS. Al-Furqon : 68-69)
Disini Allah mengancam –secara mutlak- orang yang berzina dengan siksa yang berlipat ganda, tanpa mengecualikan zina yang didasari oleh rasa suka sama suka!! Zina suka sama suka, itulah zina yang diharamkan di dalam agama!!!
Demikianlah zina di zaman ini berusaha dihalalkan oleh sebagian orang dengan dalih yang lebih lemah dibandingkan jaring laba-laba!!!!
Nah, gerakan penghalalan inilah yang pernah disinyalir oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنِ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akanmenghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik”.
[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]
Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata,
“Sesungguhnya para ulama dan fuqoha -diantaranya empat imam madzhab- sepakat mengharamkan alat-alat musik karena berteladan dengan hadits-hadits Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar Salaf “.
[Lihat Tahrim Alat Ath-Thorb (hal 105)]
Jadi, orang yang menghalalkan musik adalah orang yang mengada-ada atas nama Allah. Seorang ketika menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, harus berdasarkan dalil dari Al-Kitab dan Sunnah.
Oleh karena itu, seseorang tak boleh mengada-ada atas nama Allah, “Ini halal, dan itu haram”, lalu tak didasari dengan dalil, hanya dilandasi dengan perasaan. Sebab ini adalah langkah-langkah setan. Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (169)  [البقرة/168، 169]
“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui”.
(QS. Al-Baqarah : 169)
Al-Imam Abul Khoththob Qotadah bin Di’amah As-Sadusiy -rahimahullah- berkata,
“Semua maksiat kepada Allah, termasuk langkah-langkah setan”.
[Lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim (1/423)-Syamilah]
Kemaksiatan (kedurhakaan) kepada Allah adalah jalan hidup setan. Maksiat itu digunakan oleh setan dalam menjauhkan manusia dari Allah agar banyak diantara manusia yang menemani setan dalam neraka!!!
Di dalam ayat ini, Allah mengabarkan kepada kita bahwa musuh kita ‘setan’ selalu menyuruh kita berbuat buruk. Diantaranya berbuat zina beserta pengantar-pengantarnya!!!
Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata saat menerangkan ayat di atas,
“Maksudnya, sungguh musuh kalian ‘setan’ memerintahkan kalian untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sedang perbuatan buruk yang paling berat adalah perbuatan keji, seperti zina dan sejenisnya (seperti, homoseks,- pen.). Perbuatan buruk yang lebih parah lagi dari itu adalah berucap atas Allah tanpa ilmu. Jadi, masuk di dalamnya setiap orang kafir dan juga ahli bid’ah”.
[LihatTafsir Al-Qur'an Al-Azhim (1/479)  karya Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah, 1420 H]
Oleh: Ustadz ‘Abdul Qadir Abu Fa’izah -Hafizhahullah-
SUMBER: http://pesantren-alihsan.org/dulu-haram-kini-halal.html

1 komentar:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai 'pacaran', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    link Sumber
    terima kasih

    BalasHapus