>>Rasul baru Tersebut Al Masih Al Maw’ud, Menyingkap Kesesatan “Al-Qiyadah Al-Islamiyah/Gavatar “


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Faruq Ayip Syafrudin)
Sebuah ‘agama’ baru telah lahir di Indonesia. Nabinya orang Indonesia, kitabnya juga berbahasa Indonesia. Yang bikin bingung, namanya berbau Islam namun ajarannya Kristen. Sebuah upaya pemurtadan?
Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sebuah gerakan yang memiliki pemahaman bahwa kini telah ada orang yang diutus sebagai rasul Allah. Orang yang dimaksud, menurut kelompok ini, adalah Al-Masih Al-Maw’ud. Dia dilantik menjadi rasul Allah pada 23 Juli 2006 di Gunung Bunder (Bogor, Jawa Barat). Itu terjadi setelah sebelumnya Al-Masih Al-Maw’ud bertahannuts dan pada malam ketigapuluh tujuh, tiga hari menjelang hari keempatpuluh bertahannuts, dirinya bermimpi dilantik dan diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabatnya. Katanya, “Aku Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku… Selanjutnya bagi kaum mukmin yang mengimaniku agar menjadi syahid tentang kerasulanku kepada seluruh umat manusia di bumi Allah ini, seperti halnya murid-murid Yesus, tatkalah Yesus berbicara kepada murid-muridnya maka murid-muridnya itu segera melaksanakan perintahnya.” (Ruhul Qudus yang turun kepada Al-Masih Al-Maw’ud, edisi I, Februari 2007, oleh Michael Muhdats, hal. 178)
Selain itu, kelompok ini memiliki pemahaman tidak ada ketentuan untuk menunaikan shalat wajib lima waktu. Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dinyatakan sebagai orang-orang musyrik. Mereka menolak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   dan mencukupkan diri hanya pada Al-Qur`an. Itupun dengan penafsiran (pada ayat-ayat Al-Qur`an tersebut) berdasar ra`yu (akal) mereka, terutama akal Al-Masih Al-Maw’ud. Tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang baku sebagaimana dipahami para ulama dari kalangan salafush shalih. Mereka memiliki lafadz syahadatain tidak seperti yang diikrarkan dan diyakini kaum muslimin. Lafadznya berbunyi: “Aku bersaksi bahwa tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah.” (idem, hal. 191)
Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rasul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw’ud, maka tidak akan diterima ibadahnya. (idem, hal. 175)
Bagi mereka, Islam yang sekarang ini sudah tidak sempurna. Mereka berkeyakinan bahwa ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad adalah sama karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah). Bahkan kata mereka, di dalam ajaran Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran Kristen. Mereka tidak segan-segan untuk menyatakan: “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.” Para anggota kelompoknya pun diberi atribut nama yang berbau Kristen, seperti asal namanya Muhammad, lalu ditambahi dengan nama Kristen menjadi Muhammad Joseph.
Dalam sejarah perkembangan Islam, adanya orang yang mengaku dirinya sebagai utusan Allah Subhanahuwata’ala atau nabi, tidak satu atau dua kali saja. Tidak pula terjadi pada masa kini saja. Semenjak para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   masih hidup, orang yang mengaku sebagai nabi juga ada. Sebut misalnya, Al-Aswad Al-‘Ansi di Yaman dan Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah. Sudah sepantasnya bila Ibnu Katsir t dalam Tasfir-nya menegaskan bahwa siapapun yang mengaku sebagai seorang nabi yang diutus Allah Subhanahuwata’ala kepada umat ini, layak baginya untuk disebut pendusta. Kata Ibnu Katsir t, “Allah tabaraka wa ta’ala sungguh telah mengabarkan dalam Kitab-Nya dan Rasul-Nya n dalam As-Sunnah Al-Mutawatirah tentangnya, (bahwa) ‘Sesungguhnya tidak ada nabi setelah Muhammad n’. Sungguh kalian telah mengetahui pula, bahwa setiap yang mengaku berkedudukan (sebagai nabi) ini setelah Muhammad n, maka dia itu pendusta, pembohong, dajjal, sesat menyesatkan.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, Ibnu Katsir t, 3/599)
Saat memberi tafsir terhadap ayat:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40)
Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari t mengungkapkan bahwa khatamun nabiyyin (penutup para nabi) adalah yang menutup nubuwah (kenabian). Maka telah ditentukan tabiat atas kenabian bahwa tidak dibuka bagi seorang pun (menjadi seorang nabi, pen.) setelah kenabian Muhammad n hingga hari kiamat. (Tafsir Ath-Thabari, 19/121)
Sedangkan menurut Ibnul ‘Arabi t dalam Ahkamul Qur`an (3/473) dan Al-Imam Asy-Syaukani t dalam Fathul Qadir (4/376), bahwa khatamun nabiyyin adalah akhir mereka (para nabi, pen.).
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, saat menjelaskan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t tentang i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah kematian dan qadar-Nya yang baik dan yang buruk, menyatakan bahwa akhir mereka (para rasul, pen) adalah Muhammad n, berdasarkan firman Allah Subhanahuwata’ala:
“Dan akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40)
tidak dikatakan ‘wa khatama al-mursalin’ (penutup para rasul, pen.) karena sesungguhnya apabila (disebutkan, pen.) ‘khatama an-nubuwah’ (penutup kenabian) tentu ‘khatama ar-risalah’ (penutup kerasulan) lebih utama. Jika dipermasalahkan, bagaimana dengan Isa q yang akan turun di akhir zaman, bukankah dia seorang rasul? Maka jawabnya, Isa q tidak akan turun membawa syariat baru. Dia akan berhukum dengan syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  . (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 42-43)
Juga disebutkan oleh Ibnu Katsir t bahwa firman Allah Subhanahuwata’ala:
“Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab: 40)
dan firman-Nya:
“Allah Subhanahuwata’alaebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 124)
Ini merupakan ayat yang menjadi nash bahwa sesungguhnya tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad n. Jika tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad n, maka tidak ada lagi rasul setelah beliau n merupakan sesuatu hal yang lebih utama dan pantas. Sebab, kedudukan kerasulan (ar-risalah) lebih khusus daripada kedudukan kenabian (an-nubuwwah). Maka setiap rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi adalah rasul. Diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad dari Ubai bin Ka’b z, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  , beliau bersabda:
مَثَلِي فِي النَّبِيِّيْنَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَحْسَنَهَا وَأَكْمَلَهَا وَتَرَكَ فِيْهَا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ لَمْ يَضَعْهَا فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِالْبُنْيَانِ وَيَعْجِوُنَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: لَوْ تَمَّ مَوْضِعَ هَذِهِ اللَّبِنَةِ! فَأَنَا فِي النَّبِيِّيْنَ مَوْضِعُ تِلْكَ اللَّبِنَةِ
“Perumpamaan aku di kalangan para nabi seperti seorang yang membangun rumah. Maka dia membaguskan dan menyempurnakan semaksimal mungkin. (Namun) ternyata ada satu batu bata yang tertinggal, belum terpasang pada bangunan tersebut. Maka orang-orang pun mengelilingi bangunan tersebut dan merasakan keheranan melihat hal itu. Mereka berucap, ‘Andai satu batu bata itu terpasang, sempurnalah (bangunan itu).’ Maka akulah, di kalangan para nabi, yang menjadi sebuah batu bata yang dipasangkan tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t) [Lihat Mukhtashar Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim Al-Musamma ‘Umdatut Tafsir ‘an Al-Hafizh Ibnu Katsir, Ahmad Muhammad Syakir t, hal. 55)
Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala telah memilih Muhammad n dengan nubuwah-Nya, bahkan secara khusus dengan risalah-Nya. Maka Allah Subhanahuwata’ala menurunkan Al-Qur`an kepadanya dan memerintahkannya agar menjelaskan isi Al-Qur`an itu kepada segenap manusia. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“…Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)
Karena itu, untuk memahami Al-Qur`an sangat diperlukan sekali Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melalui beliau n, pesan-pesan Al-Qur`an bisa ditangkap secara tepat arah dan maksudnya. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t memberikan ilustrasi radhiyallahu anhu ontoh yang radhiyallahu anhu emerlang sekali tentang betapa urgennya kedudukan As-Sunnah dalam memahami ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau t memberikan radhiyallahu anhu ontoh sebagai berikut:
Firman Allah Subhanahuwata’ala:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Ma`idah: 38)
Maka, terkait perihal pencuri masih bersifat mutlak. Demikian haln
ya dengan kata tangan. Dalam hal ini, As-Sunnah al-qauliyyah (berupa ucapan) menjelaskan tentang ketentuan (kaidah) nilai barang yang dicuri sehingga menjadikan pelakunya dipotong tangan. Berdasarkan As-Sunnah, pencurian senilai seperempat dinar atau lebih terkena hukum potong tangan, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  :
لَا قَطْعَ إِلاَّ فِي رُبُعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا
“Tidak ada pemotongan (tangan) kecuali (atas kasus pencurian) seperempat dinar atau lebih.” (Muttafaqun alalih)
As-Sunnah menjelaskan pula melalui perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   dan para sahabat serta melalui taqrir (persetujuan) beliau n, bahwa pemotongan tangan seorang pencuri adalah pada pergelangan tangan.
Demikian pula firman Allah Subhanahuwata’ala:
“Maka basuhlah mukamu dan tanganmu.” (Al-Ma`idah: 6)
Yang dimaksud tangan di sini adalah telapak tangan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  :
التَّيَمُّمُ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ
“Tayammum itu sekali tepukan ke wajah dan dua telapak tangan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan selainnya dari hadits ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu )
Contoh lain adalah firman Allah Subhanahuwata’ala:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Pada saat itu, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   memahami ayat tersebut dengan kedzaliman yang bersifat umum, yang meliputi semua jenis kedzaliman, meski hanya kecil saja. Akibatnya mereka mempertanyakan ayat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak mencampuradukkan imannya dengan kedzaliman?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam   pun menjawab, “Bukan seperti itu. Sesungguhnya yang dimaksud ayat itu adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman:
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13) [HR. Al-Bukhari dan Muslim serta selainnya]
Dari apa yang telah dijelaskan di depan, maka betapa teramat sangat pentingnya As-Sunnah dalam syariat Islam. Dengan memerhatikan radhiyallahu anhu ontoh-contoh di muka, dan banyak lagi radhiyallahu anhu ontoh perkara yang tidak bisa disebutkan di sini, sampailah pada keyakinan bahwa tidak ada jalan ke pemahaman Al-Qur`an yang benar-benar shahih kecuali dengan menyertakan As-Sunnah. (Manzilatu As-Sunnah fil Islam wa Bayanu Annahu La Yustaghna ‘anha bil Qur`an, Muhammad Nashiruddin Al-Albani t, hal. 7-9)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam mukadimah Tafsir-nya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur`an. Kata beliau:
1. Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Metodologi ini merupakan yang paling shahih (valid).
2. Menafsirkan Al-Qur`an dengan As-Sunnah. Karena As-Sunnah merupakan pensyarah dan menjelaskan Al-Qur`an.
3. Menafsirkan Al-Qur`an dengan perkataan para sahabat.
Menurut Ibnu Katsir t, bila tidak didapati tafsir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para sahabat. Karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi.
4. Bila tidak didapati radhiyallahu anhu ara menafsirkan dengan ketiga metode di atas, maka menafsirkan Al-Qur`an dengan pemahaman yang dimiliki para tabi’in (murid-murid para sahabat). Sufyan Ats-Tsauri t berkata, “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan.” Mujahid t adalah seorang tabi’in.
Fenomena memberikan interpretasi terhadap ayat-ayat Allah Subhanahuwata’ala tanpa mengindahkan kaidah-kaidah yang berlaku sebagaimana dipahami salafush shalih, kini nampak mulai marak. Ini sebagaimana diungkap Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t: “Didapati pada sebagian penafsir dan penulis dewasa ini yang membolehkan makan daging binatang buas atau memakai emas dan sutera (bagi laki-laki) dengan semata bersandar kepada Al-Qur`an. Bahkan dewasa ini didapati sekelompok orang yang hanya mencukupkan dengan Al-Qur`an saja (Al-Qur`aniyyun). Mereka menafsirkan Al-Qur`an dengan hawa nafsu dan akal mereka, tanpa dibantu dengan As-Sunnah yang shahih.” (Manzilatu As-Sunnah fil Islam, hal. 11)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu  telah memberi peringatan:
“Barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur`an dengan ra`yu (akal) nya, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.” (I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ibnul Qayyim t, hal. 54)
Wallahu a’lam.
Sumber : http://salafy.or.id/blog/2016/01/15/rasul-baru-tersebut-al-masih-al-mawud-menyingkap-kesesatan-al-qiyadah-al-islamiyahgavatar/

[BARU 2016]>> KEMDENDIKBUD TERBITKAN PANDUAN GURU UNTUK MENJELASKAN TERORISME KE SISWA


KEMDENDIKBUD TERBITKAN PANDUAN GURU UNTUK MENJELASKAN TERORISME KE SISWA

KEMDENDIKBUD TERBITKAN PANDUAN GURU UNTUK MENJELASKAN TERORISME KE SISWA

Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Friday, January 15, 2016

Pasca teror yang dilakukan teoris di Jakarta tanggal 14 Januari 2016 kemarin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan panduan bagi para guru dan orangtua dalam membicarakan atau membahas kejahatan terorisme dengan siswa dan anak-anak, Mendikbud menyatakan bahwa: “Dalam situasi seperti ini, orang tua dan guru perlu membantu anak-anak mencerna dan menanggapi peristiwa teror ini,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan di Jakarta, Kamis (14/1). 

Mendikbud meminta semua pihak membantu menyebarluaskan panduan singkat bagi para guru dan orangtua dalam membicarakan kejahatan terorisme dengan siswa dan anak-anak mereka.‎ Panduan singkat itu terdiri dari dua bentuk. Panduan pertama adalah untuk guru dalam berbicara dengan siswa tentang kejahatan terorisme. Kedua, panduan bagi orangtua untuk bicara terorisme dengan anaknya.



>>>The Fundamental of Goblok Made By Said Aqil Siradj Dalam Sorotan (2): KETIKA SAID AQIL SIRADJ MENGHINA SYARIAT, MENGKLAIM TAHU HAL YANG GHAIB DENGAN MELECEHKAN MALAIKAT MUNKAR-NAKIR

Bismillahirrohmanirrohim. o
the fundamental of goblok said aqil siradj
THE FUNDAMENTAL OF GOBLOK MADE BY SAID AQIL(?) SIRADJ DALAM SOROTAN (2):
KETIKA SAID AQIL SIRADJ MENGHINA SYARIAT, MENGKLAIM TAHU HAL YANG GHAIB DENGAN MELECEHKAN MALAIKAT MUNKAR-NAKIR

OWGHT, SAS TERNYATA MENGKLAIM MENGETAHUI ALAM GHAIB MALAIKAT & LEBIH SUKA SHALAT DI SEBELAH IBLIS DARIPADA MENGIKUTI TUNTUNAN MERAPATKAN SHAF

Dengan semakin berkembangnya dakwah tauhid dan sunnah di Indonesia. walhamdulillah bisa kita rasakan dan saksikan bersama, betapa dakwah sunnah ini sangat baik diterima kaum muslimin di Indonesia. Dari kampung ke kampung, dari desa ke desa, dan dari kota ke kota. Yang tiada lain misi dakwah ini adalah untuk menegakkan Tauhid dan sunnah berdasarkan pemahaman salafush shaleh. Semuanya ini adalah berkah dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’alasemata.
Dakwah tauhid dan sunnah terus dikumandangkan setiap harinya, dari mesjid ke mesjid, lewat media elektronik, internet, radio yang Allah jadikan semuanya sebagai sarana yang bermanfaat bagi kaum muslimin untuk menebarkan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.
Nuansa Islami pun sangat terasa bila kita lihat di masjid – masjid kaum muslimin sekarang ini. Perlahan tapi pasti , satu demi satu hidayah menyapa kepada seseorang yang memang Allah kehendaki hidayah kepadanya untuk mengenal dan mengamalkan ajaran Islam yang murni, yang berlandaskan al Qur’an dan Sunnah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
Dengan tersebarnya dakwah Tauhid dan Sunnah ini. Para ahlu batil  dari kalangan pembela, pelaku kesyirikan dan kebid’ahan serta bala tentaranya pun , tak tinggal diam untuk berusaha menahan gerakan dakwah ini. Demi mempertahankan dan membela kebatilannya. Berbagai tipu daya , fitnah dan makar pun mereka tebarkan untuk menjauhkan ummat dari ajaran Islam yang sebenarnya. hingga sesuatu kebenaran yang bersumber dari kalamullah dan sunnah Rasulullah-pun di olok, dijadikan bahan tertawaan dan ejekan. Hanya karena orang yang mengamalkan Tauhid dan sunnah yang murni, adalah orang yang mereka anggap musuh mereka.
Demikian pula di hari-hari ini, di media tersebar video yang berisi ceramah seorang tokoh organisasi keagamaan yang isi ceramahnya banyak mengandung perkataan yang nyeleneh, yang tak selayaknya dilakukan oleh seorang muslim, apalagi ditokohkan. Penuh olokan dan ejekan terhadap sunnah Nabi kita Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam.
Said Agil Siradj, seakan tidak henti-hentinya menebarkan makar demi makar. Setelah sebelumnya ia pernah membuat berbagai pernyataan nyeleneh di dalam ceramahnya. Kali ini ia ulangi lagi.
Berikut transkrip ceramahnya di stadion Kanjuruhan Malang yang disiarkan oleh TV9 :
“Qur’an berulang kali perintah shalat, aqimush shalah, aqimush shalah, tapi Qur’an tidak menjelaskan berapa kali shalat yang wajib sehari-semalam, nggak ada di Qur’an. Namanya shalat itu, apa namanya, nggak  ada di Qur’an.
Jadi, kalau ada orang pidato, ceramah khutbah, mari kita kembali ke Qur’an, semua ada di Qur’an, … GOBLOK, semua ada di Qur’an gimana?!
Nah, di hadits ada.. hadits wonten, furidlot alaikum khomsu maktuban, kata Rasulullah “diwajibkan kepada kamu sekalian shalat sehari semalam 5 kali”. Hadits, bukan Qur’an, namanya Ad-Dhuhr, wal Ashr wal Maghrib wal Isya’ wal Fajr,  hadits bukan Qur’an.
Nah, hadits pun, Rasulullah pun tidak menjelaskan syarat-syarat sahnya shalat, harus Islam, baligh, aqil, suci dari hadats shaghir, hadast kabir, suci dari najis, nggak ada didalam hadits seurut itu. Rukunnya shalat 14: takbiratul Ihram, niat, berdiri bagi yang mampu, baca Fatihah.., nggak ada di dalam hadits itu.
Terus darimana kita tahu, syaratnya shalat ada 6, rukunnya shalat (ada) 14, darimana itu? Dari Ijma’ul Ulama. Darimana Bu..?!! Itu baru shalat, baru satu itu contohnya.
Kalau ada orang belum pernah shalat, ada orang belum bisa shalat, belajar shalat, hanya baca Qur’an dan hadits, potong leher saya kalau bisa shalat, sembelehen aku nek iso nek ono wong dari Qur’an dan Hadits, potong leher saya kalau bisa, itu baru contoh shalat, belum haji, belum masalah lain-lain, tidak bisa kalau tanpa mengikuti ijm’aul ulama.
Hanya beda-beda dikit, kalau Imam Hanafi takbir santai, “Allahu Akbar.. ”, kalau Imam Malik malah tidak sedekap (membiarkan tangannya kebawah), kalau Imam Syafi’i tengah-tengah, KALAU IMAM HANBALI RODO NYEKEK (RADA MENCEKIK LEHER) KAYAK WAHABI-WAHABI ITU.. yang kalau shalat takbire ngene (mempraktekkan) terus kakinya harus ketemu satu sama lain, nggak boleh ada ruang antara kaki, kenapa? Nanti Iblis di situ tempatnya, kalau saya Alhamdulillah iblis bisa ikut shalat (hahahahaha, penonton tertawa)… jadi kaki harus ketemu, antara satu dengan yang lain kakinya harus rapet, jangan sampai ada ruangan sedikit, kenapa? Iblis nanti situ. Saya Alhamdulillah kalau Iblis mau jama’ah…..
……
Wahid Hasyim wafat punya putra di atas cerdas. Kalau Wahid Hasyim cerdas, putranya sak nduwure (di atasnya) cerdas, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gusdur yang sampai sekarang Munkar Nakir belum bisa nanyai Gusdur (hahahaha… penonton tertawa) karena di dalam hadits shaheh, di dalam hadits shaheh orang mati dimasukkan di liang kubur, pengiringnya pulang, sunyi, sepi ….Munkar-Nakir datang tanya man Rabbuka, wa man Nabiyyuka dan seterusnya.
Gusdur nggak pernah sepi kuburannya.
Sampai sekarang Munkar-Nakir masih ngantri… nunggu…kapan sepine iki (sepinya ini) aku tak (hahahahaha, penonton tertawa)…sampai sekarang belum bisa itu “
Silahkan dengar dan download audio suaranya di sini:
https://app.box.com/s/9c4x3kgzty74l34hu6vshtqgft8s9w52
Diantara pernyataan nyeleneh SAS (pen: Said Agil Siraj) di atas, ia menyebutkan dalam ceramahnya bahwa:
“…Jadi, kalau ada orang pidato, ceramah khutbah, mari kita kembali ke Qur’an, semua ada di Qur’an, … GOBLOK, semua ada di Qur’an gimana?! ” -selesai penukilan-
Mengolok Sunnah Nabi dalam merapatkan shaf dalam shalat berjamaah, bahkan ia mengatakan:
“…KALAU IMAM HANBALI RODO NYEKEK (RADA MENCEKIK LEHER) KAYAK WAHABI-WAHABI ITU.. yang kalau shalat takbire ngene (mempraktekkan) terus kakinya harus ketemu satu sama lain, nggak boleh ada ruang antara kaki, kenapa? Nanti Iblis di situ tempatnya, kalau saya Alhamdulillah iblis bisa ikut shalat (hahahahaha, penonton tertawa)… jadi kaki harus ketemu, antara satu dengan yang lain kakinya harus rapet, jangan sampai ada ruangan sedikit, kenapa? Iblis nanti situ. Saya Alhamdulillah kalau Iblis mau jama’ah…..” -selesai penukilan-
Dikarenakan ia menuding, merendahkan dus mengejek bahwa merapatkan shaf adalah cara beragamanya Ahlussunnah yang ia tuding sebagai Wahabi.
Iapun juga mengatakan dengan lantang dan sombongnya tentang malaikat Munkar Nakir:
“Wahid Hasyim wafat punya putra di atas cerdas. Kalau Wahid Hasyim cerdas, putranya sak nduwure (di atasnya) cerdas, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gusdur yang sampai sekarang Munkar Nakir belum bisa nanyai Gusdur (hahahaha… penonton tertawa) karena di dalam hadits shaheh, di dalam hadits shaheh orang mati dimasukkan di liang kubur, pengiringnya pulang, sunyi, sepi ….Munkar-Nakir datang tanya man Rabbuka, wahai mana Nabiyyuka dan seterusnya.
Gusdur nggak pernah sepi kuburannya.
Sampai sekarang Munkar-Nakir masih ngantri… nunggu…kapan sepine iki (sepinya ini) aku tak (hahahahaha, penonton tertawa)…sampai sekarang belum bisa itu ” -selesai penukilan-
Bantahan 1:
Benarkah orang yang menyeru untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan mengatakan semua solusi ada di al-Qur’an adalah orang yang GOBLOK seperti pernyataannya?
Benarkah pernyataan SAS?! Bahkan Cap GOBLOK seharusnya ia lemparkan kepada dirinya sendiri. Jika ia benar – benar memahami isi kandungan Al–Qur’an tentunya ia akan tahu bahwa semua solusi dalam masalah dunia & akhirat ada di Al-Qur’an, walau tidak langsung disebutkan secara rinci didalamnya.
Misalkan ada yang mengatakan, bagaimana cara mengoperasikan Komputer? Bagaimana cara membuat tempe? Bagaimana cara sholatnya Rasulullah? Apakah ada jawabannya di Al-Qur’an?
Maka penulis katakan, Jawabannya juga ada di Al-Qur’an.
Allah Ta’ala terangkan semuanya dalam Al-Qur’an:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (An Nahl: 43)
Dan inilah Jawaban untuk segala permasalahan yang ada. Artinya semua solusi yang kita cari untuk memecahkan sebuah masalah, ketika kita merujuk kepada Al-Qur’an. Maka kita dapati bahwa kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bertanya kepada Ulama (ahli Ilmu).
Untuk dapat mengoperasikan Komputer kita bertanya kepada ahli Komputer. Untuk tahu bagaimana membuat tempe, maka kita belajar kepada tukang tempe.
Demikian juga ketika kita berkeinginan mengikuti cara sholatnya Rasulullah, maka kita merujuk kepada tuntunan beliau yang termaktub di dalam hadits-hadits beliau shalallahu ‘alaihi wa salam sebagaimana perintah Allah Ta’ala. Dan ini termasuk tanda kesempurnaan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an.
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ. ]النحل: 64[
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (an-Nahl: 64)
…وَمَا ءَآتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا… [الحشر: 7]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr: 7)
Dengan ayat ini Allah mewajibkan kepada manusia agar mentaati perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dan menjauhi larangan-larangannya. Firman Allah Ta’ala:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا. ]النساء: 80[
“Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (an-Nisa’: 80)
Bantahan 2:
Benarkah merapatkan Shaf adalah cara beragamanya Wahabi saja ?
Pernyataan SAS ini juga salah besar kalau tidak dikatakan sebagai upayanya untuk membodohi umat demi membakar mereka dengan api kebencian dan permusuhan terhadap “Wahabi” yang sejatinya hanyalah mengikuti apa yang dibimbingkan oleh beliau shalallahu ’alaihi wa salam.
Menata shaf, meluruskan, dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah merupakan hal yang penting. Disamping menunjukkan kesan rapi, namun yang utama adalah bukti kepatuhan kita dalam menjalankan perintah–perintah Rasulullah shalallahu ’alaihi wa salam.
Di dalam berbagai ayatNya, Allah memerintahkan agar kita mentaati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ… ]النساء: 59[
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa’: 59)
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ … ]النور: 54[
Katakanlah: “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul” (an-Nuur: 54)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. ]ال عمران: 31[
Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلاَ تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ. ]مححد: 33[
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kalian merusak (pahala) amal-amalmu.” (Muhammad: 33)
Bahkan Allah Ta’ala mengancam sesiapa saja yang berani menentang, membangkang apa yang dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. FirmanNya:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا. ]النساء: 115[
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا. ]الأحزاب: 36[
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (al-Ahzab: 36)
Maka mentaati Rasulullah adalah perintah langsung dari Allah Ta’ala dan akan mendapatkan hidayahNya:
…وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا… ]النور: 54[
“…Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk…” (an-Nuur: 54)
Maka tatkala Rasulullah yang merupakan suri tauladan bagi ummatnya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah berwasiat dalam sabdanya:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، وَتَرَاصُّوا،
”Luruskan shaf kalian DAN RAPATKANLAH.” (HR. Bukhari 719)
Apakah pantas bagi orang yang mengaku beriman untuk menyelisihi, menentang dan melecehkannya?!
Juga disebutkan dalam sebuah hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ
Dari Anas bin Malik radhiyalahuanhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda, “RAPATKAN SHAF-SHAF KALIAN, DEKATKANLAH DIANTARA KEDUANYA, luruskan leher. Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya AKU MELIHAT SYETAN MASUK KE DALAM CELAH-CELAH SHAF ITU, SEPERTI ANAK KAMBING. ” (HR. Abu Dawud 667, dishahihkan syaikh al-AlBani rahimahullah)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، فَإِنَّمَا تَصُفُّونَ بِصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ، وَلِينُوا فِي أَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا، وَصَلَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : Luruskan shaf, agar kalian bisa meniru shafnya malaikat. Luruskan pundak-pundak, TUTUP SETIAP CELAH, dan buat pundak kalian luwes untuk teman kalian. Dan JANGAN TINGGALKAN CELAH-CELAH UNTUK SETAN. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah Ta’ala akan menyambungnya dan SIAPA YANG MEMUTUS SHAF, MAKA ALLAH AKAN MEMUTUSNYA. (HR. Ahmad 5724).
Apakah layak bagi kita untuk membangkang dan mencemooh perintah Nabi tersebut dengan menyatakannya bahwa merapatkan shaf adalah amalan Wahabi?!?!?! Lebih suka merenggangkan shaf agar syetan yang kafir dan terlaknat bisa shalat bersamanya ???!
Allah Ta’ala sendiri yang memerintahkan kaum mu’minin untuk mengikuti
Sungguh gelar Profesormu bukanlah modal yang kuat untuk membekingimu dari fitnah kekafiran serta adzab Allah yang sangat pedih yang telah Dia janjikan bagi para pembangkang !!!
Firman Allah Ta’ala:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. ]النور: 63[
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah (kekafiran) atau ditimpa adzab yang pedih. (an-Nuur: 63)
Jika SAS mengatakan bahwa alasan kebenciannya untuk merapatkan shaf di dalam shalat berjamaah karena itu merupakan amalan Wahabi maka dengan riwayat di atas dan yang lainnya merupakan hujjah yang nyata bahwa serangan dan kampanye kebencian yang dikobarkannya terhadap Wahabi selama ini hanyalah sebagai kedok dari serangan dan kampanye kebenciannya yang sesungguhnya tertuju langsung kepada pembawa syariat ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan sunnah yang beliau dakwahkan!!
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan untuk merapatkan shaf dan larangan untuk memutus shaf, menutup setiap celah, lalu datang SAS berteriak menolak, menentang dan menantangnya serta mengobarkan kebencian dengan dalih bahwa itu adalah amalan Wahabi!!!!!!!!!!
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan agar jangan meninggalkan celah-celah untuk syetan serta ditegaskan sendiri bahwa beliau melihat syetan masuk ke dalam celah-celah shaf itu seperti anak kambing, lalu datang SAS mengejeknya bahwa dia bersyukur jika syetan yang masuk mengisi celah tersebut, shalat bersamanya!!! Hadza buhtanun ‘adzim!!!
Bagaimana mungkin dia memilih bersyukur walhamdulillah (na’udzubillah!) memberi tempat bagi syetan bisa mengisi celah shaf untuk shalat bersamanya sementara Nabiyullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam tegas memerintahkan untuk menutup celah-celah shaf dan melarang untuk memutus shaf memberi tempat bagi syetan???!
Bukankah ini merupakan pengakuan konspirasinya bersama syetan dalam memerangi Wahabi yang sejatinya itu adalah ikrar peperangannya untuk menentang syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam?!
Ini adalah kedustaan dus pembangkangan yang nyata terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa salam dan penentangan serta istihza’ pelecehan terhadap berita keNabian yang dikamuflasekannya sebagai amalan Wahabi!!! Wal’iyadzubillah.
Jika mengikuti dan membela sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam adalah Wahabi maka saksikanlah bahwa kami adalah Wahabi!!
Tetapi bukankah missionaristen kolonialisten Inggris yang sesungguhnya memunculkan penamaan/julukan Wahabi demi menjelek-jelekkan orang-orang yang mendakwahkan Tauhid ajaran para Rasul dan mengobarkan api jihad fi sabilillah untuk melawan penjajah ini?
SAS telah memilih jalannya untuk mengolok-olok sunnah Nabi dan lebih senang jika Iblis yang masuk mengisi celah ke dalam shaf sholatnya. Menjadi jelaslah tuntunan siapa yang ia dakwahkan dan amalkan serta bersama siapa ia suka berdakwah. Wal Iyadzubillah.
Bantahan 3:
Benarkah Malaikat sampai sekarang masih mengantri dan belum memberi pertanyaan kepada Gusdur dengan alasan karena sampai sekarang pengunjung kuburannya masih ramai??
Said Agil Siradj dalam pernyataannya sungguh sangat terkesan nyeleneh, beracting bak orang TIDAK GOBLOK yang mampu melihat alam ghaib, malaikat , seakan-akan ia melihat langsung bahwa malaikat mengantri untuk memberi pertanyaan kepada Gusdur di alam kubur . ia katakan “ Karena di dalam hadits shahih, di dalam hadits shahih, orang mati dimasukkan ke liang kubur pengiringnya pulang, sunyi, sepi, Munkar Nakir datang, tanya man Rabbuka (siapa Tuhanmu) wa man nabiyyuka (siapa nabimu) dan seterusnya.”
Betapa jahilnya orang ini, ia lupa bahwa Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ فَيَقُولَانِ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ نَمْ فَيَقُولُ أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ فَيَقُولَانِ نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ الْتَئِمِي عَلَيْهِ فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلَاعُهُ فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ
Abu Salamah Yahya bin Khalaf Al Bashri menceritakan kepada kami, Bisyr bin Al Mufadhdhal memberitahukan kepada kami dari Abdurrahman bin Ishaq, dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Sholallahualaihiwasalam bersabda, ‘Apabila mayit telah dikuburkan (atau beliau bersabda, ‘Salah satu di antaramu dikuburkan), maka datanglah dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya bernama Munkar dan yang kedua Nakir. Kedua malaikat itu berkata, “Apa yang kamu katakan tentang lelaki ini (Nabi Muhammad)? ” Mayit menjawab seperti sebelum ia mati, “Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ” Kedua malaikat itu berkata lagi, “Kami tahu engkau akan berkata begitu.” Kemudian diluaskanlah kuburannya; lebar dan panjangnya tujuh puluh hasta, serta diterangi cahaya. Lalu diucapkan kepadanya, “Tidurlah.” Mayit itu berkata, “Aku mau pulang kepada keluargaku dan memberitahukan (keadaanku) kepadanya.” Kedua malaikat berkata, “Tidurlah seperti tidurnya pengantin yang tidak dibangunkan kecuali oleh keluarganya yang paling dicintainya, sampai Allah membangunkannya dari tempat pembaringannya itu.” Kalau mayit itu orang munafik, maka ia akan menjawab dengan berkata, “Aku mendengar orang-orang mengatakan demikian, maka akupun mengatakan seperti yang mereka katakan. Aku tidak tahu. ” Kedua malaikat itu berkata, “Aku tahu kamu akan menjawab seperti itu. ” Lalu dikatakan kepada bumi, “Jepitlah dia” Maka bumi menjepitnya sehingga tulang rusuknya remuk dan ia terus menerus dalam siksaan tersebut sampai Allah membangunkannya dari tempat siksaannya itu. “(HR.Tirmidzi Kitab Al-Jana’iz no 1071)
Dari hadits ini kita ketahui bahwa Apabila mayit telah dikuburkan, maka datanglah dua malaikat yaitu Munkar dan Nakir. Tanpa menyebutkan harus sepi dari pengunjung ziarah. Sedangkan hujah yang dibawakan SAS sendiri, diketahui bahwa malaikat Munkar Nakir datang apabila pengiringnya telah pulang. Pengiring disini tentunya adalah pengiring jenazah yang membawa jenazah dari rumah sampai ke kuburan si mayit. Tidak disebutkan bahwa maksud dalam hadits yang ia bawakan adalah para peziarah.
Maka tentunya kita dapat katakan, apakah benar ramainya rombongan pengiring jenazah yang mengantarkan jenazah Gusdur dari dulu sampai sekarang belum pernah  pulang kerumah?? Dan kuburannya tidak pernah sepi semenit pun?? Bahkan secara khusus penjaga kuburnyapun (jika ada), bukankah berhajat pula pulang ke rumahnya walau hanya sekadar untuk mandi membersihkan badan?!
kuburan gus dur ambles
Gambar 1. Kuburan Gusdur ambles menganga setahun setelah dikubur dan kejadian luarbiasa yang malah ditutup-tutupi. (Benarkah kuburan Gusdur tidak pernah sepi wahai SAS? Lalu kenapa diberitakan:) “Dia menambahkan, kejadian itu PERTAMA DIKETAHUI oleh pedagang asongan yang biasa menjual VCD tentang Gus Dur. Pedagang asongan itu bernama Waldi. “Namanya Pak Waldi, ia melaporkan kejadian itu ke saya yang kebetulan sedang berjaga di pos utara (pos pintu keluar masuk para peziarah),” tambah Zainul.
Zainul menerangkan seketika ia berlari menuju areal makam. Dalam hitungan detik lubang di pusara Gus Dur ini pun segera ditutupi dengan pasir ala kadarnya. Baik penjaga dan pengurus pondok langsung membuat barisan blokade untuk menutupi lubang di pusara Gus Dur. Hal ini dimaksudkan agar peziarah tidak sampai mengambil gambar. Pasalnya, jasad Gus Dur yang sudah setahun lebih dimakamkan masih tetap utuh. Hanya saja, kabar fenomena langka tersebut terkesan disembunyikan oleh pengurus pondok lainnya.” -selesai penukilan-
Jika yang SAS maukan adalah sepinya kuburan dari pengunjung, maka bisa timbul keanehan baru lagi. Orang kaya bisa saja menyewa dan membayar para pengunjung atau security untuk selalu ada di kuburannya, Mengikuti apa yang dimaukan SAS. Yaitu agar Malaikat terus mengantri untuk bertanya kepada mayit hingga kuburannya sepi. Allahul Musta’an
Entah kalau kisah ramainya kuburan Gusdur itu hanyalah sebagai sasaran antara untuk menggiring umat secara halus pada fenomena kuburan dajjal Rafidhah Syiah Khumainy al Mal’un yang lebih dahsyat lagi keramaiannya dijejali pengunjung, apakah itu juga membuat malaikat kubur masih antri belum bisa menanyai si penghujat shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam wahai Profesor Doktor Said Aqil(?) Siradj?!?!?!?!?!?!
said aqil siradj ziarah ke makam khomeini
Gambar 2. Said Aqil Siradj menziarahi kuburan dedengkot Syiah Rafidhah Khumainy al Mal’un.
Maka yang nampak justru adalah tontonan (dan bukan tuntunan!) The Fundamental of Gobloknya SAS yang tidak mampu membedakan antara pengiring jenazah dengan peziarah serta upayanya dalam mengelabui umat dengan cara merancukan diantara keduanya.
Demikianlah keanehan-keanehan tokoh ini, hasil dari sering bergaulnya dengan ahlu bathil semisal Syiah dan Kaum Liberal.
MoU SAS dengan Syiah
Gambar 3. Nota kesepahaman resmi, kerjasama SAS dengan Universitas penggodok kader Rafidhah Syiah di Iran.
Membuat setiap ceramahnya hanya berisi propaganda nyeleneh untuk menyerang Sunnah dan dakwah Ahlussunnah yang dia kamuflasekan sebagai Wahabi . Semangat kedengkian dan kebenciannya kepada Ahlussunnah membuatnya malah mengolok-olok Sunnah Nabi yang mulia. Hanya karena ahlussunnah yang ia sebut wahabi adalah kelompok yang gemar melakukan sunnah-sunnah Rasulullah tersebut. Walhasil, dia mencela Ahlusunnah, tetapi hakekatnya justru syariat Islam itu sendiri yang ia olok-olok. wal ‘iyadzubillah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensifati orang yang suka mengolok-olok ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya dalam firmannya:
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]
Silahkan baca artikel Hukum Mengolok-olok Sunnah Nabi di link berikut:
http://www.alghurobaasahan.net/hukum-mengolok-olok-sunnah-nabi/
Demikianlah apa yang bisa penulis sampaikan. Selanjutnya kita dihadapkan diantara 2 pilihan, ke arah mana SAS ini akan menuju? Apakah akan terus menjadi penentang sunnah Rasulullah ataukah mengikuti petunjuk–petunjuk beliau shalallahu alaihi wa sallam. Hanya kepada Allah semata kita memohon petunjuk.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa': 115)
Allahu’alam bish shawab
Sumber Rujukan:
– Al Qur’an
– Maktabah Shamela
– Shahih Sunan Abu Dawud
Baca artikel terkait:
Sumber : http://tukpencarialhaq.com/2015/09/20/the-fundamental-of-goblok-made-in-said-aqil-siradj-dalam-sorotan-2-ketika-said-aqil-siradj-menghina-syariat-mengklaim-tahu-hal-yang-ghaib-dengan-melecehkan-malaikat-munkar-nakir/

[BAGUS]>>[VIDEO] Ada Apa Dengan Radio Rodja { Fatwa Syaikh Ubaid Al-jabiri Hafizhahullah Melarang Mendengar Radio Turotsi Halaby Ma'riby }


Disampaikan oleh Asy-Syaikh 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jabiri hafizhahullah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

Versi SD (Hemat Quota):
http://sendvid.com/066a4w3z

Download Pelbagai Pilihan Versi Di Sini:
https://savemedia.com/watch?v=SwIAn398htU

(Durasi: 3:31)
________

- - - - - - - - -
LARANGAN MENDENGARKAN
RADIO TURATSIYYAH-HALABIYYAH-MA’RIBIYYAH (semisal RODJA dll.)

Pertanyaan:
Di dekat kami ada radio yang dia ini pengikut At-Turotsiyyin seperti Abul Hasan dan Ali Al-Halaby dan ada sebagian Salafiyyin yang menanyakan tentang hukum mendengarkan radio ini. Dan tentunya di radio ini disebarkan perkataan Al-Halaby, Ar-Ruhaily dan selain keduanya, padahal Salafiyyin memiliki radio sendiri dan memiliki CD-CD yang merekam durusnya para ulama dan para da’i (Salafiyyin) Indonesia dalam berbagai bidang ilmu, Tauhid, Sunnah, Akhlaq. Maka apakah anda menasehati anak-anak anda di Indonesia untuk mendengarkan radio ini?

Jawab:
Yang pertama, mencukupkan diri dengan mendengarkan radio Salafiyyin dan pada yang engkau sebutkan itu sudah cukup. Maka TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH.
Kedua, barangsiapa yang DIA INI MEMILIKI KEMAMPUAN KEAHLIAN/KAPASITAS LALU MENDENGARKAN RADIO INI DALAM RANGKA MEMBANTAHNYA MAKA TIDAK MENGAPA.
JADI ORANG-ORANG AWAMNYA AHLUSSUNNAH TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO TERSEBUT.
Kewajiban kita hanya menjelaskan, dan termasuk kelembutan dan rahmat Allah kepada kita (yaitu) Allah tidak membebani kita untuk memberi hidayah kepada hati-hati manusia dan Allah tidak membebani kita agar kebenaran itu diterima oleh mereka….
(diterjemahkan secara bebas. Sumber: rekaman pertanyaan-pertanyaan Salafiyyin Indonesia pada malam Ahad, 15 Jumadil Akhir 1433H yang bertepatan dengan 5 Mei 2012)

Link Suara: http://bit.ly/1OkPhu4

Faidah-faidah yang bisa kita petik:
1. Si penanya tidak menyebutkan secara khusus nama radio tertentu kecuali penyifatannya adalah radio dari kalangan Turatsiyyun, Abul Hasan, Al-Halaby, Ar-Ruhaily. Ini mengandung faidah yang sangat luas bahwa hukum yang ditanyakan tersebut tidak hanya tertuju pada satu atau dua radio saja (tidak ada celah bagi hizbiyyin dan para pembelanya untuk beralasan [misalnya] “Itu kan fatwa larangan untuk radio A bukan larangan mendengarkan radio B, C atau yang lainnya” atau berhilah “Nama radionya sudah berubah dari RODJA menjadi RADJA, jadi fatwa tentang larangan mendengarkan radio RODJA sudah tidak berlaku lagi” dan hilah-hilah yang lainnya.).
2. Syaikh memberikan penegasan yang jelas lagi gamblang TIDAK DINASEHATKAN UNTUK MENDENGARKAN RADIO SELAIN SALAFY YAITU RADIO-RADIO YANG MENYIMPANG, SAMA SAJA APAKAH ITU TUROTSIYYAH MAUPUN HALABIYYAH, MA’RIBIYYAH. Maka apapun nama radio tersebut yang memiliki sifat-sifat di atas masuk dalam larangan beliau.
3. Asy-Syaikh pada bulan Mei 2012 kemarin masih memperingatkan Salafiyyin tentang Penyimpangan Turotsiyyah maka ini adalah bantahan terhadap ucapan semisal masalah Ihya’ut Turots sudah selesai dan yang masih membicarakannya adalah PAHLAWAN KESIANGAN.
4. Larangan bagi awam Ahlussunnah untuk mendengarkan radio Turotsiyah Halabiyyah Ma’ribiyyah.
5. Bolehnya bagi orang yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan radio tersebut dalam rangka membantahnya (maka bagaimana pula jika dia malah berpromosi, memuji, men-Salafy-kan dan membela tokoh-tokohnya serta menghasung ribuan orang lainnya untuk mendengarkannya?). Wallahul musta’an.

Diterjemahkan oleh Tim Darussalaf.or.id,.
Muroja’ah : Al-Ustadz Muhammad Ar-Rifa’i (Alumni Yaman)
__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

‪#‎VideoFawaid #‎Bantahan #mendengar_radio #bid_ah #rodja #halaby #ruhaily #sururi #turatsi #ikhwani #mlm #mlmm

[BAGUS]>>NASIHAT BAGI YANG MENGOPERASIKAN SALURAN-SALURAN TELEVISI SATELIT DI RUMAHNYA D


NASIHAT BAGI YANG MENGOPERASIKAN SALURAN-SALURAN TELEVISI SATELIT DI RUMAHNYA
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رحمه الله
PertanyaanSyaikh yang mulia yang semoga Allah menjaganya, anda mengetahui bahwasanya telah terjadi fitnah yang besar dalam menyaksikan siaran televisi. Dan sebagian manusia, wal’iyaadzu billah- terkadang memasukkan saluran televisi ke dalam rumahnya diantara anak-anaknya. Maka apa komentar anda semoga Allah menjaga anda.
Jawaban:
Mengomentari hal ini, hendaknya seorang itu bertakwa kepada Allah menjaga diri dan keluarganya. Hendaknya jangan memasukkan televisi ini di rumahnya. Karena terkadang pada awalnya seorang itu memasukkan siaran televisi ke dalam rumahnya cuma untuk menyaksikan berita saja, atau yang disiarkan disana berupa ilmu-ilmu agama. Akan tetapi televisi tersebut terus ada di rumahnya sampai akhirnya ia terjerumus-wal’iyaadzu billah- ke dalam kerusakannya.
Sungguh saya pernah mendengar tentang sebagian orang yang dulunya komitmen (dalam agamanya) dalam tingkatan ilmu yang tinggi. Mulanya mereka memasukkan siaran televisi (ke dalam rumahnya) dengan maksud untuk menyaksikan berita. Lalu muncul beberapa informasi (yang penuh fitnah-pent), tiba-tiba keadaan mereka sudah terbalik-wal’iyaadzubillah. Maka bahayanya itu sangat besar,
Adapun orang yang memasukkan siaran ini dirumahnya, dalam keadaan ia menyaksikan istrinya sedang menyaksikan kemungkaran yang besar ini. Maka saya bertanya: Apakah orang ini tergolong tulus terhadap keluarganya ataukah termasuk menipu  keluarganya?
Dia telah menipu keluarganya tidak ragu lagi. Karena dia mampu untuk mencegah mereka darinya untuk mengeluarkan (siaran televisi) dan menghancurkannya. Kalau dia telah menipu, maka apakah dia termasuk dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam:
“Tidaklah ada seorang hamba yang diamanahi oleh Allah untuk memimpin rakyat, kemudian dia mati, pada hari kematiannya dalam keadaan dia menipu rakyatnya, kecuali Allah akan mengharamkan sorga atasnya.” ?
Perkaranya sangat berbahaya wahai saudaraku. Oleh karena itu aku berpendapat, haram hukumnya bagi seorang suami untuk memasukkan siaran televisi ini ke dalam ( rumah), kalau sudah makruf keluarganya akan menyaksikan acara-acara yang tidak boleh untuk dilihat.
[Sumber Silsilah al-Liqa Asy-Syahri 72]
* Alih bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary
*******
نصيحة لمشغل القنوات الفضائية في بيته
[ السؤال: ]
فضيلة الشيخ، حفظه الله، تعلمون أنه حصل فتنة كبيرة بمشاهدة الدشوش، وبعض الناس والعياذ بالله ربما أدخله في منزله وبين أولاده فما تعليقكم حفظكم الله؟
الجواب:
تعليقنا على هذا:
أن يتقي الله المرء في نفسه وأهله، وألا يدخل هذه الدشوش في البيوت؛
لأن الإنسان يدخلها على أنه سيشاهد الأخبار فقط أو ما يبث فيها من علوم، لكن لا تزال به حتى ينغمس
في طينها والعياذ بالله
ولقد سمعت عن أناس ملتزمين على درجة عالية من العلوم أدخلوا هذه الدشوش على أنهم يشاهدون الأخبار، ويطالعون بعض المعلومات، وإذا بهم ينتكسون والعياذ بالله،
فخطرها عظيم.
أما بالنسبة لمن يدخلها في بيته وهو يشاهد أهله يطالعون هذه المنكرات العظيمة، فأنا أسأل: هل يعد هذا ناصحاً لأهله أم غاشاً لهم؟
هو غاش بلا شك؛
لأنه قادر على أن يمنعهم منها لإخراجها
وتكسيرها، فإذا كان غاشاً فهل يدخل في قول النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم« ما من عبدٍ يسترعيه الله على رعيه يموت يوم يموت وهو غاش لها إلا حرم الله عليه الجنة)»؟
الأمر خطير يا إخواني،
فلذلك أرى أنه يحرم على الرجل أن يدخل هذه الدشوش إذا كان يعرف من أهله أنهم سيشاهدون ما لا تجوز مشاهدته.
للشيخ محمد صالح العثيمين رحمه الله
المصدر:
سلسلة اللقاء الشهري > اللقاء الشهري [72]
Sumber : http://forumsalafy.net/nasihat-bagi-yang-mengoperasikan-saluran-saluran-televisi-satelit-di-rumahnya/

[AUDIO]: Nilai Sebuah Keikhlasan

Rekaman –  AUDIO KAJIAN  Kajian Islam Ilmiyyah Tanjung Priok  Ahad, 03 Rabi’ul Awwal 1440H / 11 November 2018M   Masjid Raya al-H...