Rabu, 22 Januari 2014

>>SEMUA KARENA CINTA : INILAH ALASAN MENGAPA SEORANG WANITA RELA MENJADI ISTERI TERORIS

<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>
Judul Asli: Karena Cinta Menjadi Teroris
Oleh: Abu Mujahid
Cinta sering membutakan mata-hati seseorang. Sesuatu yang menjadi prinsip hidup, karena cinta, bisa menjadi seonggok sampah yang dibuang begitu saja di selokan depan rumah. Sebaliknya, karena cinta, sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani dapat diterima, didekap erat-erat lalu dibawa sampai mati.
Cinta pun dapat membuat seseorang menjadi teroris atau hanya sekedar mendukung terorisme.
Ketika berita kematian Noordin M. Top diekspos beramai-ramai di media, seorang ibu rumah tangga di Jakarta tidak habis pikir, ada wanita-wanita yang mau diperistri seorang teroris. Noordin memang dikenal sebagai pria dari negeri jiran yang berpoligami. Meski terkesan sepele, kenyataan ini tetap mengundang kita untuk berpikir juga.

Salah seorang istri Noordin bernama Munfiatun. Berdasarkan laporan Internasional Crisis Group nomor 114 yang berjudul “Terorisme di Indonesia: Jaringan Noordin Top,” Munfiatun pernah kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Dalam laporan yang bertanggal 5 Mei 2006 itu, wanita muda yang dimaksud memiliki keinginan untuk diperistri seorang mujahid.
Lewat perantaraan seorang teman kuliahnya, keinginan itu terkabulkan juga. Ia dinikahi Noordin sebagai istri kedua. Pernkahan mereka itu berlangsung dalam suasana pelarian. Sebab, waktu itu, Polri telah menetapkan Noordin sebagai otak di balik sejumlah peledakan bom di Indonesia. Noordin menjadi orang kedua yang paling dicari-cari polisi setelah Dr. Azahari.
Berbeda dengan Ali Ghufran alias Mukhlas. Ia menikah dengan adik Nasir Abas, penulis buku Membongkar Jamaah Islamiyah. Wanita yang diperistri Mukhlas ini tidak lebih dari gadis muda yang masih sekolah menengah. Dalam otobiografi yang pernah ditulisnya di tahanan Polda Bali, Mukhlas melukiskan calon istrinya itu sebagai seorang gadis manis berkerudung putih dan berseragam putih-biru yang sedang bermain tali bersama teman-temannya.
Ayah si gadis-lah yang pertama kali menawari Mukhlas. Semula, gadis manis itu tidak setuju dan menolak mentah-mentah penjodohan itu. Akhirnya, lewat bujukan kakaknya, berhari-hari kemudian, Mukhlas pun diterima sebagai calon suami. Pernikahan itu berlangsung di rumah orangtuanya di Malaysia.
Mukhlas sendiri butuh waktu untuk mengajari istrinya agama Islam. Sebagai mantan pengajar di Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, usaha itu rupanya tidak sulit dijalani. Beberapa bulan setelah pernikahan, istri Mukhlas mengakui bahwa dirinya menyesal sempat menolak penjodohan itu di awal kali. Ia malah bersyukur memiliki suami yang beragama baik seperti Mukhlas.
Jangan pula kita bayangkan istri Osama bin Laden sebagai wanita gagah yang berapi-api teriak, “Bakar, bakar Amerika!”, meski suaminya lantang berfatwa, “Membunuh orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya—sipil ataupun militer—adalah tugas tersendiri bagi setiap muslim yang dapat melakukannya di negara mana pun yang dimungkinkan untuk melaksanakannya.”
Dalan Inside the Kingdom: Kisah Hidupku di Arab Saudi, Carmen bin Laden justru melukiskan istri Osama itu, Najwa, sebagai seorang wanita mungil dan perasa tapi sangat penurut kepada suaminya. Ia menyusui anak-anak Osama dengan khidmat persis seorang ibu tua di salah satu desa Jawa Tengah. Sekarang, setelah kematian Osama, kita bisa bayangkan Najwa sebagai seorang janda yang menerima takdir apa adanya.
Bahwa cinta dapat mempertahankan seseorang menjadi istri seorang teroris, bukan cerita baru. Orang-orang yang anti feminisme kemungkinan besar akan menganggap itu semua sebagai kelemahan yang jamak dimiliki seorang wanita: sering tidak bisa berpikir sehat dan melulu pakai perasaan.
Akan tetapi, mereka, agaknya, belum tahu, bahwa sejarah Islam justru mencatat yang lebih dari itu: karena cinta, seorang pria cerdas menjadi teroris. Ia terpikat paras cantik seorang wanita, tertipu, dan mengorbankan hidupnya yang beharga untuk menjadi muslim-teroris. Kelompok Islam-teroris sudah muncul di awal sejarah peradaban Islam. Dan mereka itu disebut dengan kaum Khawarij.
***
Di kalangan peneliti hadis nabawi, Shahih Al Bukhari adalah sebuah antologi hadis yang diterima sekaligus dikagumi sepanjang masa. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat mereka kepada Imam Al Bukhari, ada beberapa kritik yang mereka ajukan terkait dengan beberapa hadis dalam karya tersebut. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imran bin Hittan As Sadusi. Ternyata, hadis-hadis yang diriwayatkan Imran bin Hittan didapati pula di dalamSunan Abi Dawud dan Jami’ At Tirmidzi.
Kritik para pakar ilmu hadis itu mengacu kepada diri periwayat hadis, bukan isi hadisnya. Hal inilah yang mengundang tanya pada kita. Siapa Imran bin Hittan yang dimaksud?
Imran bin Hittan As Sadusi Al Basari adalah salah seorang yang cerdas. Ia pernah mendatangi Aisyah Al Humaira, Abu Musa Al Asyari, dan Abdullah bin Abbas. Kepada ketiga sahabat Nabi Muhammad ini, Imran bin Hittan belajar dan mendapatkan hadis-hadis Nabi Muhammad. Karena hadis-hadis itu pula kemudian, ia didatangi oleh pemuka-pemuka generasi Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Qatadah bin Diamah As Sadusi dan Yahya bin Abi Katsir.
Selain pernah belajar langsung kepada sahabat-sahabat Nabi Muhammad, Imran dikenal sebagai penyair yang genial; ia bisa menggubah syair-syair Arab yang bagus. “Imran bin Hittan,” puji Al Farazdaq suatu hari, “bisa berkata-kata dengan tutur-kata kita. Tapi kita tak pernah bisa bertuturkata dengan kata-katanya.” Al Farazdaq dikenal sebagai salah seorang penyair besar Arab. Akan tetapi, reputasi Imran akhirnya hancur berantakan setelah ia menjadi pengikut Khawarij.
Khawarij adalah salah satu kelompok yang menyempal dari barisan kaum muslimin. Mereka senang dan gampang mengafir-ngafirkan pemeluk Islam yang melakukan suatu dosa besar selain syirik dan memvonisnya kekal di dalam neraka jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Karena itulah, mereka membolehkan membunuh siapa saja yang dianggap kafir, meskipun itu orang Islam atau para utusan diplomatik negara-negara non-muslim atau hanya sekedar para pelancong non-muslim.
Bermula dari seorang wanita yang dilihatnya suatu hari, Imran terpesona dengan kecantikannya. Muncul hasrat untuk menikahi wanita itu. Meski telah diberitahu bahwa wanita itu pengikut kelompok Khawarij, Imran tidak peduli. “Akan kupengaruhi dia,” kata Imran. Dengan kapasitas kecerdasan yang dimilikinya, Imran bertekad menyadarkan wanita itu setelah dinikahi nanti. Sebagai seorang istri, tentu saja akan mudah bagi Imran untuk menasehati dan mengajaknya bertobat dari keyakinan yang dipeluk selama ini.
Ternyata tidak mudah. Yang terjadi kemudian justru Imran-lah yang dipengaruhi oleh istri tersebut. Lambat laun, Imran pun berubah. Dan sejak saat itu, ia bergabung ke dalam barisan Khawarij dan menjadi salah seorang pembesar yang pernah dimiliki kelompok itu sepanjang sejarah.
Banyak orang yang tidak percaya. Tapi, bagaimana pun, perubahan sikap Imran menjadi perbincangan orang ramai waktu itu sampai khalifah Abdul Malik bin Marwan pun tahu. Menghindari panggilan khalifah, Imran pergi ke utara Jazirah Arab. Pada tahun 84 Hijriah, Imran meninggal dunia.
***
Dari semula yang menghormati Ali bin Abi Thalib, Imran menjadi pencelanya. Dalam salah satu syair yang digubahnya, Imran menjelek-jelekkan menantu Nabi Muhammad itu. Imran bahkan memuji orang yang membunuh Ali bin Abi Thalib sebagai pembunuh yang diberi cahaya terang oleh Allah.
Sikap Imran demikian termasuk salah satu ciri khas orang-orang Khawarij waktu itu. Mereka tidak menyukai Ali bin Abi Thalib dan menganggapnya boleh dibunuh. Di mata mereka, Ali telah kafir karena kebijakannya dalam perang Shiffin—satu perang saudara yang terjadi antara Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Bagi para pencari hadis dan pakar ilmu hadis, orang-orang seperti Imran adalah mereka yang diragukan keabsahan hadis-hadisnya. Biasanya, para pengikut kelompok sesat memalsukan atau memelintirkan hadis-hadis yang mereka sampaikan untuk membenarkan ideologi dan aksi-aksi mereka.
Imam Safei termasuk imam kaum muslimin yang meragukan hadis-hadis mereka. Bahkan, disebutkan di dalam Al-Ba’its Al-Hatsits Syarhu Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits, Imam Safei menolak mentah-mentah hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang Syiah.
***
Kisah yang serupa juga terjadi pada orang yang telah dipuji Imran itu. Karena cinta pula, Abdurrahman bin Muljam bersedia membunuh Ali bin Abi Thalib. Padahal, waktu itu, Ali adalah pemimpin kaum muslimin (baca: amirul mukminin). Ali menjabat sebagai khalifah setelah khalifah Usman bin Affan dibunuh oleh orang-orang Khawarij.
Semula, sebagaimana dikatakan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis, Abdurrahman bin Muljam adalah seorang yang pandai membaca Al Qur’an. Ia diminta oleh Umar bin Khattab untuk mengajarkan Al Qur’an kepada orang-orang yang baru masuk Islam di daerah yang baru ditaklukkan. Masa pemerintahan Umar dikenal sebagai masa yang penuh dengan pembukaan daerah-daerah baru. Dan seorang pengajar Al Qur’an waktu itu adalah orang yang hafal Al Qur’an sekaligus pandai membaca dan memahami kandungannya.
Sayangnya, di masa pemerintahan Ali, Abdurrahman tergabung ke dalam barisan Khawarij. Ketika perang antara pasukan Ali dan orang-orang Khawarij terjadi di Nahrawan, Abdurrahman termasuk orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri dari kematian. Ia berencana membalaskan dendam rekan-rekannya yang terbunuh kepada Ali.
Rencana itu makin menguat, ketika suatu hari Abdurrahman bertemu dengan seorang wanita cantik di masjid kota Kufah. Ayah dan kakak wanita ini terbunuh pada perang di Nahrawan. Terpikat oleh kecantikannya, Abdurrahman berusaha meminang wanita itu. Ternyata, mahar yang diajukan sebagai syarat pernikahan mereka adalah uang 3000 dirham, sepasang budak, dan kematian Ali bin Abi Thalib.
Abdurrahman akhirnya menyanggupi mahar untuk wanita itu. Berbekal pedang tajam yang telah diasah selama 40 hari, ia mengintai rumah Ali. Ketika Ali keluar untuk mengimamin salat Subuh di masjid Kufah, Abdurrahman menghantam kepala Ali dengan pedang itu. Peristiwa ini terjadi pada malam 17 Ramadan tahun 40 Hijriah. Abdurrahman sendiri dihukum mati tidak lama kemudian.
Satu hal yang menarik, dalam melaksanakan rencananya, Abdurrahman menggunakan kamuflase sedemikian rupa. Ia ingin teman-temannya sesama kelompok Khawarij tidak mengetahui dirinya ketika hendak menjalankan rencana itu. Dari sini, kita pun tahu, kamuflase adalah salah satu ciri orang-orang Khawarij dulu yang kemudian diwariskan ke para penerus mereka. Bahwa kelompok-kelompok Islam-teroris sekarang ini juga sering menggunakan kamuflase, itu tidaklah mengherankan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar