Senin, 02 September 2013

>>>Permata Faidah dari Dauroh Asatidzah IX 1434 H (Faidah 1-3)


FAIDAH 1

Sebab-Sebab Memperoleh Ilmu Syar’i

Dengan memohon pertolongan dari Allah, hari ini 14 Syawal 1434 H/22 Agustus 2013 M dimulai dauroh Durus Asatidzah di Ma’had al-Anshar Wonosalam Sleman Yogyakarta.
Mengawali pelajaran pertamanya yang dimulai ba’da Shubuh pagi tadi, asy-Syaikh Badr Al-Badr mengawalinya dengan menyebutkan beberapa hal penting terkait dengan ilmu, keutamaannya, dan cara memperolehnya.
Di antara sebab mencapai ilmu syar’i adalah
  1. Banyak-banyak berdoa kepada Allah
  2. Ikhlash karena Allah. Sebuah amal apabila tidak ikhlash maka akan menjadi debu yang beterbangan. Tidak ikhlash beramal merupakan perbuatan orang-orang munafiq, sebagaimana dalam surat al-Baqarah 264.
  3. Ketahuilah bahwa riya’ bisa membatalkan amal. Dijelaskan secara rinci oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam.
  4. Terus menerus menghadiri majelis-majelis ilmu.
  5. Mudzakarah (mengulang-ulang dan mengingat-ingat ilmu). Al-Bukhari mengatakan, “Menghidupkan ilmu itu dengan cara bermudzakarah.” (diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih). Demikian dulu para salafush shalih senantiasa melakukan mudzakarah.
  6. Banyak membaca. Ada yang bertanya kepada al-Bukhari, ‘Bagaimana anda bisa menguasai ilmu?’  Beliau menjawab, “Dengan terus sering melihat pada kitab (yakni membaca).”
  7. Memilih syaikh (guru) yang salafy. Ilmu itu diambil dari ahlinya, yaitu seorang guru yang memiliki aqidah lurus, bermanhaj salafy. Tidak mengambil ilmu dari semua orang. Jika mengambil ilmu dari seorang asy’ari maka kamu akan menjadi asy’ari, jika mengambil ilmu dari rafidhi maka kamu akan menjadi rafidhi, yakni guru memiliki pengaruh yang besar terhadap murid. Maka dari itu, ahlus sunnah  melarang untuk duduk bersama ahlul bid’ah, dan tidak boleh membaca kitab-kitab karya ahlul bid’ah.

———————————————————————-

FAIDAH 2

Faidah Seputar Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar
1. Ada yang menyebutkan bahwa kitab ini ditulis oleh al-Hafizh Ibnu Hajar untuk putranya.
2. Namun yang pasti, sebagaimana dalam muqaddimahnya, bahwa kitab ini beliau peruntukkan untuk para penuntut ilmu dan ‘ulama. Para ‘ulama pun masih perlu untuk mencari ilmu. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, barangsiapa yang membaca Kitabullah dan menghafal kitab Bulughul Maram dan kitab Zadul Mustaqni’ maka dia menjadi seorang yang ‘alim.
3. Orang pertama yang mensyarh kitab Bulughul Maram seorang dari kalangan Zaidiyyah Yaman, bernama Abul Husain Al-Maghrabi. Kitabnya berjudul al-Badr at-Tamam fi syarh Bulughil Maram.
Kemudian berikutnya Muhammad bin Isma’il Al-Amir ash-Shan’ani, dengan judul Subulus Salam fi Syarh Bulughil Maram. Kitab ini di antara kitab syarh Bulughil Maram yang paling terbaik, bagi barangsiapa yang punya perhatian terhadap ilmu hadits.
Berikut banyak bermunculan kitab-kitab syarh lainnya. Pada masa ini, di antara syarh terbaik adalah syarh-nya asy-Syaikh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. Beliau men-syarh-nya secara meluas.
———————————————————————-

FAIDAH 3

Syaikh Hani’ :  Tulislah Kalimat Agung ini

Pelajaran Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsamin rahimahullah
bersama asy-Syaikh Hani’ bin ‘Ali bin Braik al-’Adani hafizhahullah
Di antara nikmat Allah kepada asy-Syaikh Hani’ bin ‘Ali bin Braik al-Buraiki al-’Adani hafizhahullah adalah beliau berkesempatan untuk bisa belajar langsung kepada Faqihul ‘Ashr asy-Syaikh al-’Allamah al-Utsaimin rahimahullah. Tentunya di samping beliau juga berguru kepada Mujaddid negeri Yaman asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah.
“Saya harap kalian menulis kalimat agung ini, asy-Syaikh Muqbil mengatakan, ‘Pelajarilah ilmu agar kalian menjadi hakim. Bukan hakim dengan makna penguasa politik. Namun hakim yang membedakan kebenaran dari kebatilan. Dengan ilmu engkau bisa membedakan mana yang benar dan mana yang batil.’ ” Demikian di antara faidah berharga yang beliau sampaikan di tengah-tengah syarh beliau terhadap kitab Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah (karya asy-Syaikh al-’Utsaimin), sore ini ba’da shalat ‘Ashr yang merupakan dars (pelajaran) pertama beliau pada Daurah Asatidzah 1434 H ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar