Senin, 02 September 2013

>>>Permata Faidah dari Dauroh Asatidzah IX 1434 H (5)

Kesabaran Seorang ‘Ulama Besar Demi Kemurniaan Aqidah

Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengisahkan tentang al-Imam al-Buwaithi, “Sungguh aku melihatnya di atas Bighal dengan leher terbelenggu, dan kaki juga dibelenggu, antara kedua belenggu tersebut ada rantai padanya ada batu (beban) seberat 40 rathl. Beliau mengatakan, “Allah menciptakan makhluk dengan kalimat Kun (jadilah)[1] Kalau seandainya “Kun” itu makhluk, maka berarti makluk diciptakan dari makhluk. Sunguh kalau aku dipertemukan dengannya (yakni Khalifah al-Watsiq) niscaya aku akan tetap mengatakan kebenaran di hadapannya dan aku akan binasa di belenggunya ini. Supaya generasi setelah ini tahu bahwa di sana telah gugur orang-orang besar di belenggu-belenggu penguasa demi mempertahankan urusan ini (aqidah ahlus sunnah wal jama’ah).” (Siyar A’lamin Nubala’ IX/459)
Sungguh kalimat yang agung, kisah yang agung. Padanya sangat banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh generasi muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di antaranya:
1. Perhatikan bagaimana para ‘ulama rela disiksa dan diadzab demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun meskipun demikian, para ‘ulama tersebut tidak mencabut tangan ketaatan terhadap pemerintah! Bahkan tetap memandang wajibnya memberikan an-Nush (kebaikan dan nasehat) kepada pemerintah yang mengadzab dan menyiksanya. Mereka bersikap demi agamanya, bukan demi membela dirinya.
Ditanyakan kepada al-Imam Ahmad – beliau adalah orang terdepan dalam mempertahankan aqidah sehingga siksaan kepada beliau paling besar pula – “tidakkah engkau mendoakan kejelekan untuk penguasa yang menyiksamu ini?” maka dengan tegas beliau menjawab, “Kalau seandainya aku memiliki doa yang mustajab, niscaya aku berdoa untuk kebaikan waliyyul amr.” Inilah jawaban beliau, padahal beliau sedang disiksa. Hal yang sama ditanyakan kepada Fudhail, maka beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Demikianlah fiqh (pemahaman) para ‘ulama.
2. Banyak para ‘ulama berguguran demi mempertahankan aqidah yang bersih murni ini, aqidah ahlus sunnah wal jama’ah as-salafiyah. Permasalahan aqidah merupakan urusan besar, bukan urusan remeh. Maka jangan tertipu dengan orang-orang yang meremehkan urusan aqidah. Yang hanya mementingkan untuk menyatukan umat, menggerakkan umat, tanpa melihat permasalahan aqidah.
3. Jangan tertipu dengan para “dai” – yang sebenarnya mereka hanya para orator atau politikus – yang dipenjara oleh penguasa karena mempertahankan agama katanya. Padahal dia menjerumuskan kaum muslimin ke banjir darah!! demi mempertahankan atau mengembalikan kekuasaan si fulan!!
>>www.salafyciampeabogor,blogspot.com<<
4. Perhatikan bagaimana teladan yang ditunjukkan oleh Amirul Mukminin Khalifah ‘Utsman bin ‘Affanradhiyallahu ‘anhu, beliau sangat sayang kepada kaum muslimin, tidak rela darah kaum muslimin tertumpah. Maka ketika beliau dikepung oleh para pemberontak bejat, maka shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum lainnya datang demi membela beliau dan mengusir para pemberontak!! Namun Amirul Mukminin mengatakan kepada para shahabat tersebut, “Barangsiapa yang masih memandang kewajiban mentaatiku, maka hendaknya menyimpan pedangnya masing-masing dan keluar dari rumahku ini.” demi menjauhkan kaum muslimin dari fitnah dan menjaga agar darah mereka tidak tertumpah!!
Apakah para revolusioner yang mengepung rumah ‘Utsman di atas kebenaran? Demi Allah mereka di atas kebatilan. Mereka adalah para pemberontak. Maka perhatikan sikap Amirul Mukminin yang menyayangi umat ini, bandingkan dengan para orator yang menjerumuskan kaum muslimin untuk berhadapan dengan senjata-senjata mematikan, mengeluarkan kaum wanita agar turun ke jalan-jalan melakukan demo,, demi mengembalikan si fulan ke tampuk kekuasaannya??! Ini sangat jauh dari fiqh para salaf.
5. Perhatikan kisah di atas, “Sunguh kalau aku dipertemukan dengannya (yakni Khalifah al-Watsiq) niscaya aku akan tetap mengatakan kebenaran di hadapannya.”
Inilah jihad!! Kalimat haq yang disampaikan dihadapan penguasa zhalim. Bukan dia mengucapkan di depan mimbar, di hadapan umum. Ketika itu berani berkata. Namun ketika di hadapan penguasa secara langsung, dia tidak berkata benar. Tidak kuasa mempertahankan al-haq.
(faidah yang aku catat dari pelajaran al-Muhimmat al-Awwaliyah fi al-Muqaddimat al-Fiqhiyyah bersama asy-Syaikh Hani bin Braik, pagi ini 22 Syawwal 1434 H/29 Agustus 2013 M. Semoga bermanfaat bagi semua)
http://dammajhabibah.net/2013/08/29/permata-faidah-dari-dauroh-asatidzah-ix-1434-h-5/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar