Sabtu, 07 September 2013

>>Hidup Nikmat Tanpa Jimat ...

Wajahnya menampakkan kecemasan. Itu terlihat dari kerutan-kerutan di dahi yang tiada kunjung hilang. Sungguh dirinya benar-benar terlihat bingung. Entah perasaan apa yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Selapis hawa dingin ia rasakan mengalir di permukaan punggungnya.
Ilustrasi di atas hanyalah sedikit gambaran tentang orang-orang yang telah terikat dengan benda-benda mati. Ada yang menamakannya jimat, barang pegangan, gegawan, pripih, pepunden atau nama-nama lain.
Kondisi orang-orang semacam di atas sesungguhnya sangat menyedihkan. Hidupnya selalu dipenuhi dengan perasaan cemas dan resah. Tanpa dia sadari dirinya telah menghamba kepada benda-benda mati yang tiada bisa memberi manfaat atau menolak madharat sama sekali. Harapannya tercurah kepada benda-benda tersebut. Jika benda-benda itu hilang atau tidak ada di dekatnya, seolah-olah musibah dan bencana selalu dekat menghampirinya.
Merekapun bertanya,“Wahai Rasulullah, ada apa gerangan Engkau hanya membaiat sembilan orang dan membiarkan yang seorang?”
Kemudian Rasulullah mengambil tamimah tersebut lalu memutusnya. Setelah itu Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa menggantungkan tamimah maka ia telah berbuat syirik”
<<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>
Setelah menerangkan kedudukan hadits di atas, Syaikh Al Albani memberikan beberapa keterangan penting tentang tamimah.
Tamimah adalah gelang. Dahulu orang-orang arab memakaikannya pada anak-anak mereka dengan tujuan terhindar dari penyakit ‘ain  -menurut sangkaan mereka-. Kemudian Islam menghukuminya batil. Sebagaimana keterangan di dalam An Nihayah karya Ibnul Atsir.
Bahkan sebagian mereka menggantungkan sandal di bagian depan atau belakang mobil. Sebagian yang lain menggantungkan sepatu kuda di bagian depan rumah atau toko. Semua itu dilakukan agar terhindar dari penyakit ‘ain  -menurut anggapan mereka-.
Padahal tidaklah para Rasul diutus dan kitab-kitab suci diturunkan kecuali untuk menghapuskan dan meniadakan hal-hal demikian. Hanya kepada Allah kita mengadu tentang kejahilan kaum muslimin di masa ini juga jauhnya mereka dari agama”
Jimat dan semisalnya memang telah menjadi penyakit akidah di tengah-tengah masyarakat kita. Benda-benda tersebut diletakkan di sudut-sudut rumah agar terhindar dari bala’, di belakang kursi sopir bis dan truk, di sampan dan perahu para nelayan, ditanam di petak sawah milik petani, dikalungkan dan digelangkan di tangan anak-anak kecil. Ya Allah, sungguh Engkau maha mengetahui tentang kesyirikan semacam ini.
Seorang sahabat nabi, Hudzaifah bin Al Yaman pernah menjenguk seseorang yang sedang jatuh sakit. Ternyata beliau melihat di lengan orang tersebut ada semacam gelang dari benang. Beliau langsung bertanya,”Benda apa ini?”
Seketika itu juga Hudzaifah memutus gelang tersebut dan mengatakan,”Kalau engkau mati dalam kondisi masih menggunakannya, aku tidak akan menyhalatkan jenazahmu!”
Demikianlah sikap para sahabat Rasulullah. Adakah kesadaran kita untuk meneladani Rasulullah yang telah memutuskan tamimah ? Juga meneladani para sahabat yang begitu gigih melaksanakan perintah Rasulullah? Sungguh kebahagiaan dan ketenangan hakiki hanyalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah.
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَ التِّوَلَةَ شِرْكٌ
Hadits di atas diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud oleh Ahmad (1/381), Abu Dawud (3883) dan Ibnu Majah (3530), dan dishahihkan Syaikh Al Albani (As Shahihah 331) dan Syaikh Muqbil (As Shahihul Musnad 1/642)
Tiwalah juga diharamkan oleh Islam dan ditetapkan oleh Rasulullah sebagai salah satu bentuk kesyirikan. Lalu apakah tiwalah itu?
Jika ia meyakini bahwa benda-benda tersebut mampu memberi manfaat atau menolak bala’ dengan sendirinya, maka ia telah terjatuh dalam syirik akbar (akbar). Adapun seseorang yang meyakininya hanya sebagai sebab dan faktor saja, maka ia dihukumi berbuat syirik asghar (kecil).
Keselamatannya bukan ditentukan oleh jimat. Keuntungan dan rizkinya sama sekali tidak terkait denganpelet dan pengasihan. Kesembuhan dan kesehatannya tidak ada hubungannya dengan gelang, cincin atau kalung pemberian dari mbah Dukun. Bukan!
الْمُتَوَكِّلُونَ
Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.'' (QS. 39:38)
Keutuhan ibadah sepenuh hati dan jiwa, hanyalah ditujukan kepada Allah. Janganlah berpaling dan menduakan hati! Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan mati kita untuk Allah rabbil ‘alamin.
Wallahu a’laamu bishawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar