INGAT SHALAT :

Selasa, 26 Agustus 2014

>>>HAFALAN AL-QUR’AN UNTUK ANAK KECIL


Tanya: Bolehkah ayah dan ibu mengajarkan hafalan Al-Qur’an kepada anak mereka yang masih kecil, sementara keduanya tahu si anak terkadang melantunkan surat yang dihafalnya di kamar mandi saat buang hajat, atau si anak membacanya dengan cara yang tidak pantas (terhadap Al-Qur’anul Karim), dalam keadaan si anak telah berulang kali diperingatkan?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjawab, “Iya, sepantasnya ayah dan ibu membacakan Al-Qur’anul Karim kepada anak mereka agar si anak menghafalnya dan keduanya memperingatkan si anak agar tidak membaca Al-Qur’an di tempat yang tidak sepantasnya. Kalau toh anak-anak tetap melakukannya maka mereka belum mukallaf (belum dibebani syariat, belum terkena perintah dan larangan, pen.). Mereka tidak berdosa. Ketika ayah atau ibu mendengar si anak membacanya di tempat yang tidak layak, hendaknya menerangkan bahwa hal itu tidak boleh.
Anak kecil harus dihasung untuk banyak menghafal Al-Qur’an. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari tentang ‘Amr ibnu Salamah Al-Jarmi [1] yang menjadi imam bagi kaumnya, padahal usianya baru enam atau tujuh tahun. Dan itu terjadi di masa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.”
[Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 151]
————————-
Catatan Kaki:
  1. ‘Amr bin Salamah menuturkan kelengkapan kisahnya: Kami bermukim di dekat sebuah mata air yang biasa dilewati orang-orang. Suatu ketika serombongan musafir yang berkendaraan melewati kami. Kami pun bertanya kepada mereka, “Bagaimana kabarnya orang-orang? Ada apa dengan mereka? Bagaimana dengan lelaki yang sedang ramai pemberitaannya?” Mereka menjawab, “Lelaki itu mengaku Allah-lah yang mengutusnya dan memberi wahyu kepadanya. Allah mewahyukan kepadanya ini dan itu (dengan membacakan wahyu Al-Qur’an yang mereka maksud).” Aku pun menghafal wahyu berupa ayat-ayat Al-Qur’an tersebut seakan-akan menempel dalam dadaku. Sementara itu kabilah-kabilah Arab menunda keislaman mereka sampai Fathu Makkah. Mereka mengatakan, “Biarkan dia dan kaumnya. Bila dia menang atas kaumnya berarti memang dia nabi yang benar.” Tatkala terjadi Fathu Makkah, setiap kaum bersegera masuk Islam. Ayahku mendahului kaumku dalam berislam. Saat ayahku datang dari menemui Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Demi Allah! Aku datang kepada kalian dari sisi nabi yang haq (benar-benar seorang nabi). Nabi itu berkata, “Shalatlah kalian shalat ini di waktu itu dan shalat itu di waktu ini. Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian menyerukan adzan dan hendaknya orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya mengimami kalian.” Mereka pun melihat siapa yang paling banyak hafalannya. Ternyata tidak ada seorang pun dari kaumku yang paling banyak hafalannya melainkan aku, karena sebelumnya aku mendapatkannya dari rombongan musafir. Kaumku pun memajukan aku di hadapan mereka untuk mengimami mereka, padahal saat itu usiaku masih enam atau tujuh tahun. Saat mengimami mereka aku mengenakan pakaian yang pendek. Bila aku sujud, pakaian itu terangkat dari bagian bawah tubuhku. Seorang wanita dari kampung (yang ikut shalat bersama jamaah) lalu berkata, “Tidakkah kalian menutupkan dari kami pantat pembaca Al-Qur’an kalian itu?” Kaumku lalu membelikan untukku pakaian dan mereka pakaikan kepadaku. Tidaklah aku bergembira memperoleh sesuatu sebagaimana gembiraku mendapat pakaian tersebut.” (HR. Al-Bukhari) –pen.
————————————————–

Kamis, 21 Agustus 2014

>>>TATA CARA MEMPERBAIKI HATI

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]
Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
Pada akhir pertanyaan, penanya mengatakan :”Wahai Syaikh yang mulia, bagaimana seorang insan bisa memperbaiki hatinya dan yang demikian itu (membersihkan diri) dari dosa-dosa dan maksiat-maksiat?
في آخر أسئلة هذا السائل يقول: سماحة الشيخ: كيف يستطيع الإنسان أن يصلح قلبه وذلك من الآثام والمعاصي؟
Jawaban : 
Hendaknya dia meminta taufiq  kepada Rabbnya dan bermujahadah (bersungguh-sungguh), Allah berfirman :
وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ
”Dan barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka sesungguhnya dia bersungguh-sungguh untuk dirinya.” (QS. Al-’Ankabut 6)
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjuki mereka kepada jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut 69)
Maka dia harus berjihad memerangi nafsunya karena Allah, sampai Allah menjaga nafsunya dari apa-apa yang Allah haramkan. Dan dia mesti memohon kepada Allah taufiq dan pertolongan, memperbanyak  mengingat Allah dan menjauhi teman duduk yang jelek. Inilah beberapa sebab keselamatan.
Keadaan dia yang takut kepada Allah dan selalu merasa diawasi Allah, dan menyadari kalau maksiat itu menyebabkan kemurkaanNya menyebabkan adzabNya. Dan bersungguh-sungguh dalam memohon dan menundukkan diri kepadaNya, agar Allah menjaga dan melindunginya dari segala perkara yang Allah haramkan. Hendaknya dia memperbanyak membaca Al-Quran dan menghayati maknanya. Bersungguh-sungguh dalam bersahabat dengan orang-orang baik dan duduk bersama mereka, serta menjauhi teman-teman yang jelek. Ini adalah sebagian sebab-sebab keselamatan dan kesehatan hati.
Alih Bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary

Senin, 18 Agustus 2014

>>Bantahan terhadap berbagai radikalisme, terorisme, khawarij, syiah, al-Qaedah, Hutsyyin, dll; termasuk gerakan DAIS / ISIS (“Negara Islam” di Iraq dan Syam)


1. SITUBONDO
Masjid Ulul Albab Situbondo bersama Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi Hafizhahullah dengan Penerjemah Al Ustadz Ruwaifi bin Sulaini Lc
Sesi Satu Tema : Kewajiban Perpegang kepada as-Sunnah Download di Sini
Sesi Dua Tema :Bantahan terhadap berbagai radikalisme, terorisme, khawarij, syiah, al-Qaedah, Hutsyyin, dll; termasuk gerakan DAIS / ISIS (“Negara Islam” di Iraq dan SyamDownload di Sini

2. BATU, MALANG
Masjid Al Istiqamah Malang Bersama Asy Syaikh Hani bin Buraik Hafizhahullah dengan Penerjemah Al Ustadz Usamah Mahri Lc Hafizhahullah
Sesi Satu Islam tidak di Dakwahkan dengan Kekerasan Download di Sini
Sesi Dua Bahaya gerakan DAIS/ISIS Download di Sini
Audio Muhadharah Ilmiyah TANGERANG
  Masjid Shiratal Mustaqim, Tangerang
Sabtu, 20 Syawwal 1435H – 16/08/2014M
Sesi 1 – Keindahan Islam
Bersama Asy-Syaikh DR. Badr bin Muqbil azh-Zhafiri hafizhahullah
Sesi 2 – Kekerasan dalam Timbangan Islam
»» (Mewaspadai Bahaya Gerakan ISIS di Indonesia) ««
Bersama Asy-Syaikh DR. Khalid azh-Zhafiri hafizhahullah
Penerjemah Muhadharah al Ustadz Qomar Su’aidy Lc hafizhahullah
Silahkan di Download, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat buat kita Semua, aamiin
WhatsApp Salafy Indonesia

Rabu, 13 Agustus 2014

>>REKAMAN MUHADHAROH ASY SYAIKH HANI BIN BURAIK HAFIZHAHULLAH – DI MA’HAD AR RIDHO SEWON


Bismillahirrahmanirrahim
Berikut Rekaman Muhadharoh Asy Syaikh Hani bin Buraik hafizhahullah
Hari Selasa, Tanggal 17 Syawal 1435H / 12 Agustus 2014
Tempat Ma’had Ar Ridho Sewon, Bantul
Tema : Macam macam Kesebaran
Pemateri Asy Hani bin Buraik hafizhahullah – Penerjemah Al Ustadz Usamah Mahri
Sumber / Link Alternatif : http://radiorasyid.com/lectures/muhadharoh-asy-syaikh-hani-bin-buraik-hafizhahullah-mahad-ar-ridho-sewon/

Selasa, 12 Agustus 2014

>>REKAMAN DAURAH MIRATSUL ANBIYA’ “10” DI MASJID AGUNG MANUNGGAL BANTUL


Jumat, 08 Agustus 2014

>>>KAJIAN INTENSIF RAMADHAN 1435 H / 2014



Berikut ini Rekaman Kajian Intensif Ramadhan 1435 yang di adakan pada Hari Selasa-Sabtu 24 -28 Ramadhan 1435H/22-26 Juli 2014M bertempat di Masjid As Salam Komplek Ma’had Tahfizhul Qur’an Al Manshurah Mujur Kroya Cilacap Jawa Tengah
*. Selasa 24 Ramadhan 1435H – Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy
Pembukaan Abu Ibrahim Zain Download
1. Sesi 1 Taat Pada Pemerintah dalam Suka maupun Duka Download 
2. Sesi  Taat Pada Pemerintah dalam Suka maupun Duka Download 
* Rabu 25 Ramadhan 1435 H- Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy
1. Sesi 1 Selamatkan Dirimu dari Kebinasaan Hizbiyah Download
2. Sesi 2 Selamatkan Dirimu dari Kebinasaan Hizbiyah Download
3. Sesi (TJ)  Selamatkan Dirimu dari Kebinasaan Hizbiyah Download
* Kamis 26 Ramadhan 1435 H- Al Ustadz Qomar Su’aidy Lc
1. Sesi 1 Meraih Kemuliaan di Majlis Ulama Download
2. Sesi 2+TJ Meraih Kemuliaan di Majlis Ulama Download
* Jum’at 27 Ramadhan 1435H- Al Ustadz Abu Hamzah Yusup Al Atsary
1. Sesi 1 Menebar Nasehat Merajut Ukhuwah Download
2. Sesi 2 Menebar Nasehat Merajut Ukhuwah Download
* Sabtu 28 Ramadhan 1435H – Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar
1. Sesi 1 Sejenak Bermuhasabah Download
2. Sesi 2+TJ Sejenak Bermuhasabah Download
Kami Jazaakumullahu Khairaa kepada semua ikhwah yang telah turut andil berbagi Faedah dengan mengirimkan link rekaman kepada Kami, semoga bermanfaat bagi Kaum Muslimin terkhusus Salafiyyin

Jumat, 25 Juli 2014

[BAGUS]>>Kesimpulan Pembahasan Tentang Qunut Witr

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]

asy-Syaikh DR. Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah
Unduh PDF kitabnya di sini :
adobe-pdf
1. Bahwa ucapan sebagain para imam, “Tidak shahih  satu hadits pun dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah qunut witr sebelum rukuk ataupun setelahnya”, demikian pula ucapan Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah : “Tidak shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witr satu hadits musnad pun” pernyataan ini perlu ditinjau ulang, dan tidak bisa diterima. Telah pasti riwayat hadits musnad tentang qunut witr, hadits dari shahabat al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, hadits Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, wallahu a’lam.
Sebagaimana telah pasti pula dari para shahabat, seperti ‘Umar bin al-Khaththab, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’b, dan lainnya. Yang seperti ini tidak ada tempat untuk ra’yu dan ijtihad, karena maqamnya adalah maqam ibadah, hukum asal penilaian dalam maqam ini adalahtauqif (dilakukan berdasarkan keterangan dalil dari Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kalau seandainya mereka tidak memiliki tauqif (keterangan dalil dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam) niscaya mereka tidak akan mengerjakannya.
2. Qunut witr disyari’at dilakukan sepanjang tahun. Praktek sunnah adalah: kadang-kadang mengerjakannya, dan kadang-kadang meninggalkannya. Hal ini berdasarkan dalil keterangan yang datang berupa perbedaan riwayat dalam hal disyari’atkannya sepanjang tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu terkadang mengerjakannya dan terkadang meninggalkannya.
Ditekankan untuk terus mengerjakan qunut witr pada separo terakhir bulan Ramadhan, sejak malam ke-16 Ramadhan. Disyari’atkan untuk meninggalkan qunut witr pada separo pertama Ramadhan kalau dia shalat sebagai imam. Ini termasuk sunnah yang banyak ditinggalkan, bahkan tidak diketahui. Walaupun kalau dia berqunut pada awal dan akhir Ramadhan, boleh.
3. Qunut witr boleh dikerjakan sebelum rukuk, boleh pula setelah rukuk. Yang afdhal (lebih utama) adalah sebelum rukuk.
4. Di antara sunnah yang banyak ditinggalkanpada masa ini, dalam qunut witr dilakukan takbir sebelum qunut dan setelahnya, apabila qunut tersebut dilakukan sebelum rukuk.
5. Termasuk praktek sunnah, imam mengeraskan bacaan doa qunut witr, dan para makmum mengaminkan.
6. Praktek sunnah dalam doa qunut adalah tidak dipanjangkan. Kalau mencukupkan pada doa yang terdapat dalam riwayat, maka itu afdhal (lebih utama). Kalau terkadang dipanjangkan sesuai kadar doa-doa yang ada dalam riwayat, maka itu boleh.
7. Lafazh-lafazh doa qunut tidak ada sesuatu yang harus. Boleh dikerjakan dengan bacaan doa apapun. Namun yang afdhal (lebih utama) membatasi pada bacaan doa yang terdapat dalam riwayat.
8. Termasuk praktek sunnah, seorang imam apabila shalat witr berjama’ah pada bulan Ramadhan, dia tidak berqunut pada separo pertama Ramadhan. Baru berqunut pada separo kedua Ramadhan, dan diiringi doa kecelakaan untuk orang-orang kafir.
9. Disyari’atkan untuk mengangkat tangan dalam qunut witr, disyariatkan pula tidak mengangkat tangan. Disyari’atkan pula untuk mengangkat tangan pada awalnya dan meluruskan tangan pada akhirnya. Semuanya boleh.
10. Tidak disyari’atkan mengusap wajah dengan kedua tengan ketika selesai doa qunut.
11. Disyari’atkan pula membaca shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa qunut.
12. Dilakukan sujud sahwi bagi barangsiapa yang terbiasa melakukan qunut witr namun terlupa darinya. Adapun orang yang tidak memiliki kebiasaan melakukan qunut, atau seorang yang sengaja meninggalkannya, maka tidak perlu sujud sahwi.
13. Bahwa shahabat Ibnu Mas’ud dan Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhuma adalah di antara shahabat yang paling banyak dinukilkan dari mereka hukum-hukum qunut witr.
14. bahwa shalat yang paling mirip dengan shalat witr adalah shalat Maghrib, karena memang Maghrib berkedudukan sebagai witr siang hari. Maka apa yang terdapat dalam qunut Nazilah pada shalat maghrib, apa itu juga ada pada qunut witr. Yang menguatkan hal ini adalah, apa yang berlaku dalam shalat fardhu berlaku pula untuk shalat nafilah, kecuali berdasarkan dalil.
15. Mayorits hukum-hukum qunut witr ditetapkan berdasarkan perbuatan para shahabat Nabi – ridhwanullah ‘alahim - . Maqam ini termasuk yang tidak ada tempat untuk ra’yu dan ijtihad padanya, karena perbuatan seperti itu tidak mungkin dilakukan berdasarkan ra’yu semata. Sehingga riwayat-riwayat dari para shahabat tersebut berstatur marfu’ (sampai kepada NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam). Perbedaan pendapat di kalangan mereka termasuk dalam jenis perbedaan tanawwu’ (variatif), selama bisa dipadukan. Wallahul Muwaffiq.Sumber:http://miratsul-anbiya.net/2014/07/16/kesimpulan-pembahasan-tentang-qunut-witr/


(dari Kitab al-Ahadits wa al-Aatsar al-Waridah fi Qunut al-Witr : riwayatan wa dirayatanasy-Syaikh DR. Muhammad Bazmul, hal. 86-88)

Rabu, 23 Juli 2014

>>Kelemahan Hadits-hadits Yang Menyebutkan Bacaan Basmalah Secara Jahr


KELEMAHAN HADITS-HADITS YANG MENYEBUTKAN BACAAN BASMALAH SECARA JAHR
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahberkata:
“Ulama yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits telah bersepakat, tidak ada satu pun hadits (sahih, pen.) yang tegas menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Demikian pula, tidak diketahui ada salah satu kitab sunan yang masyhur—seperti Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i—yang membawakan periwayatan basmalah secara jahr. Periwayatan yang menyebutkan secara jahr hanya didapatkan dalam hadits-hadits maudhu’ah (palsu) yang diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Mawardi—dalam Tafsir—dan yang serupa dengan beliau berdua, atau disebutkan di beberapa kitab fuqaha yang tidak membedakan antara riwayat yang palsu dan yang tidak.
Ketika Al-Imam Ad-Daraquthni  datang ke Mesir, beliau pernah diminta mengumpulkan hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Beliau pun melakukannya. Ketika beliau ditanya, adakah yang sahih dari hadits-hadits tersebut? Beliau menyatakan, “Adapun dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak didapatkan, sedangkan atsar dari sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ada yang sahih dan ada pula yang dhaif (lemah).” (Majmu’ Fatawa, 22/416,417)
Beliau juga berkata, “Sebenarnya, banyak beredar kedustaan dalam hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr karena orang-orang Syi’ah berpendapat bacaan basmalah dijahrkan, padahal mereka dikenal oleh kaum muslimin sebagai kelompok yang paling pendusta di antara kelompok-kelompok sempalan dalam Islam. Mereka memalsukan hadits-hadits dan membuat rancu agama mereka dengan hadits-hadits tersebut.
Oleh karena itu, didapatkan ucapan imam Ahlus Sunnah dari penduduk Kufah, seperti Sufyan ats-Tsauri, yang menyatakan bahwa termasuk sunnah adalah mengusap kedua khuf dan meninggalkan membaca basmalah secara jahr. Sebagian mereka juga menyebutkan bahwa Abu Bakr dan Umar lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama dan lebih mulia daripada para sahabat yang lainnya, dan ucapan-ucapan yang semisalnya, karena hal-hal tersebut—yaitu tidak mau mengusap khuf, membaca basmalah secara jahr, menganggap ada yang lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama, dan lebih mulia daripada Abu Bakr dan Umar—merupakan syiar Rafidhah. Ada pula seorang imam mazhab Syafi’i, Abu Ali ibnu Abi Hurairah, yang meninggalkan jahr ketika membaca basmalah. Ketika ditanya sebabnya, beliau t berkata, “Karena membaca basmalah secara jahr telah menjadi syiar orang-orang yang menyelisihi agama.”(Majmu’ Fatawa, 22/424)
Hadits yang menyebutkan secara tegas bahwa basmalah diucapkan dengan jahr diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (hadits no. 145), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/233), dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya (2/47), dari jalan Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Bakr bin Hafsh bin Umar, dari Anas bin Malik, bahwasanya Mu’awiyah  pernah mengimami shalat di Madinah dan menjahrkan bacaan Al-Qur’an, membaca basmalah sebelum membaca Al-Fatihah, dan tidak membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Al-Fatihah sampai selesai bacaan tersebut. Beliau z tidak bertakbir ketika turun sujud hingga selesai shalat. Setelah mengucapkan salam dari shalatnya, para sahabat Muhajirin yang mendengar hal tersebut menyerunya dari setiap tempat, “Wahai Mu’awiyah, apakah engkau mencuri shalat, ataukah engkau lupa?” Setelah peristiwa itu, bila shalat mengimami manusia, Mu’awiyah membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Ummul Qur’an (Al-Fatihah) dan bertakbir ketika turun sujud.
Hadits yang lain diriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari bapaknya, bahwasanya Mu’awiyah pernah mengimami penduduk Madinah tanpa membaca basmalah dan tanpa bertakbir ketika melakukan gerakan turun dan naik dalam shalat. Beliau ditegur oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar, kemudian disebutkanlah hadits yang semakna dengan hadits di atas. (Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i no. 146)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, hadits ini dhaif ditinjau dari beberapa sisi.
1. Riwayat yang sahih dan masyhur menyebutkan secara jelas penyelisihan dari Anas z terhadap riwayat di atas.
2. Poros sanad dalam kedua hadits tadi dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim. Ia dilemahkan sekelompok ahlul hadits. Mereka memandang hadits ini mudhtharib/goncang periwayatannya, baik secara sanad maupun matan. Ini menjelaskan bahwa hadits tersebut ghairu mahfuzh (mungkar).
3. Pada sanadnya tidak ada kesinambungan mendengarnya seorang perawi dari perawi yang lain. Bahkan, dalam sanad itu ada kelemahan dan kegoncangan yang dikhawatirkan menyebabkan inqitha’ (terputusnya sanad), juga jeleknya hafalan perawinya.
4. Anas tinggal di Bashrah, sedangkan ketika Mu’awiyah z di Madinah, tidak ada seorang ulama ahli sejarah pun yang menyebutkan Anas bersamanya. Bahkan, secara zahir Anas tidak bersama Mu’awiyah.
5. Kalaupun benar terjadi di Madinah dan perawinya adalah Anas, tentu murid-murid beliau yang terkenal menemani beliau—demikian juga penduduk Madinah—akan meriwayatkan hadits tersebut dari beliau. Akan tetapi, tidak didapatkan salah seorang dari mereka yang meriwayatkan dari Anas, bahkan yang dinukil dari mereka justru sebaliknya.
6. Bila benar Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr, ini menyelisihi kebiasaan beliau yang dikenal oleh penduduk Syam yang menemani beliau, sementara tidak ada seorang pun dari mereka yang menukilkan bahwa Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr. Bahkan, seluruh penduduk Syam, baik pemimpin maupun ulamanya, berpendapat tidak menjahrkan bacaan basmalah. Dalam hal ini Al-Imam Al-Auza’i sendiri—yang dikenal sebagai imam negeri Syam—bermazhab seperti mazhab Al-Imam Malik, yaitu tidak membaca basmalah sama sekali, baik sirr ataupun jahr.
Dengan demikian, orang yang berilmu (para muhaddits) yang melihat beberapa sisi ini akan memastikan bahwa hadits ini batil, tidak ada hakikatnya, atau telah diubah dari yang sebenarnya. Adapun yang membawakan hadits ini, telah sampai kepadanya (hadits tersebut) dari jalan yang tidak sahih, sehingga menimbulkan cacat berupa terputusnya sanad.
Kalaupun hadits ini selamat, dia tetap syadz (ganjil), karena menyelisihi periwayatan perawi yang banyak dan lebih kokoh (hafalannya) yang meriwayatkan dari Anas bahkan menyelisihi periwayatan penduduk Madinah serta Syam. Sumber : dari www.forumsalafy.net
[Majmu’ Fatawa, 22/431—433]


Sabtu, 19 Juli 2014

>>>DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “MIRATSUL ANBIYA” Ke-10 1435 H/2014 M

<<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>>


Alhamdulillah, dengan pertolongan dan taufik dari Allah,
insya Allah akan hadir kembali…
 DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH 

“MIRATSUL ANBIYA” Ke-10 1435 H/2014 M
dengan tema
“URGENSI ULAMA DI TENGAH UMAT KETIKA FITNAH 

MELANDA”,
Dengan pembicara:
✔ Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
✔ Asy-Syaikh Badr bin Muqbil azh Zhafiri (Arab Saudi)
✔ Asy-Syaikh Usamah bin Sa’ud al-’Amri (Arab Saudi)
Kajian umum insya Allah diselenggarakan :
di Masjid Agung Manunggal, Bantul pada tanggal Sabtu-Ahad, 13-14 Syawal\ 1435 H (9-10 Agustus 2014);
Daurah asatidzah insya Allah diselenggarakan  :
di Ma’had al Anshar, Kamis-Sabtu, 11-20 Syawal 1435 H (7-16 Agustus 2014).

Kajian ini insya Allah bisa diikuti melalui:
Radio Rasyid
Radio Miratsul-Anbiya
Radio Salafy.or.id

✔ Info Tambahan
Insya Allah akan ada taushiyyah al-Walid al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-

Madkhali hafizhahullah [ teleconference]


Bagi yang ingin bertaawun dana untuk  Dauroh ilmiyah ahlussunah wal jama’ah miratsul anbiya ke 10 , bisa melalui:
✔ Rek. Bank MANDIRI no rek 9000002394642 a.n. LUWIH AGUS TRIYONO,
  
MANDIRI KALIURANG
✔ Rek BCA atas nama BUSONO SUPRAPTO 8610124705 BCA KCP KALIURANG
Konfirmasi pengiriman dana ke no. 0858-6812-9542,  +62 823-2940-6754
Laporan dana yang sudah masuk akan di tampilkan Di salafy.or.id dan miratsul-anbiya.net

Selasa, 24 Juni 2014

>>>Audio: “Ramadhan Dalam Pandangan Syariat”

www.salafyciampeabogor.blogspot.com


Berikut ini Audio Kajian yang di adakan pada Hari Selasa 19 Sya’ban 1435H – 16 Juni 2014M, Tempat Masjid Al Falah Bugih.
Bersama: Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy Hafizhahullah
 ” RAMADHAN DALAM PANDANGAN SYARI’AT “
Sumber : www.forumsalafy.net

Jumat, 20 Juni 2014

>>>Mengingat Kembali Hukum-hukum Puasa ~ Bagian 3

<<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>>

MENGINGAT KEMBALI HUKUM-HUKUM PUASA
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushaby hafizhahullah
BAB KE-5:  HAL-HAL YANG DIANJURKAN BAGI ORANG-ORANG YANG BERPUASA DAN SELAIN MEREKA
Hal-hal yang dianjurkan bagi orang-orang yang berpuasa dan selain mereka:
1. Berusaha melihat hilal.
2. Berdoa ketika melihat hilal.
3. Memperbanyak doa.
4. Mendoakan kebaikan bagi kaum Muslimin.
5. Selalu menyebarkan salam.
6. Menyambung silaturahmi walaupun dengan telpon.
7. Memperbanyak berbuat baik kepada orang-orang yang memiliki hubungan darah.
8. Memperbanyak sedekah.
9. Tersenyum di hadapan saudaramu.
10. Memperbanyak berbuat baik kepada tetangga.
11. Memperbanyak berbuat baik kepada orang-orang yang lemah, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim.
12. Selalu mengucapkan perkataan yang baik.
13. Memperbanyak dzikir.
14. Memperbanyak taubat dan istighfar sebanyak ratusan kali.
15. Memperbanyak mengucapkan “laa ilaha illallah.”
16. Memperbanyak mengucapkan “laa haula wa laa quwwata illa billah.”
17. Memperbanyak mengucapkan “subhanahullah wabihamdihi, subahanallahul azhim.”
18. Memperbanyak mengucapkan shalawat bagi Rasulullah shallallahu alaihi was sallam.
19. Memperbanyak menuntut ilmu.
20. Memperbanyak usaha mendakwahkan agama Allah.
21. Mengharapkan pahala ketika memberi nafkah keluarga.
22. Menjaga wudhu.
23. Bersiwak.
24. Menjaga agar bau badan tetap harum.
25. Mengerjakan shalat dua rakaat sebelum maghrib.
26. Menjaga shalat-shalat sunnah rawatib.
27. Semangat untuk mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib di rumah.
28. Memperbanyak shalat sunnah.
29. Bersegera mendatangi shalat.
30. Selalu berusaha agar mendapatkan shaff pertama.
31. Menunggu shalat setelah selesai shalat.
32. Berusaha memanfaatkan waktu dikabulkannya doa pada hari Jum’at.
33. Berusaha memanfaatkan waktu dikabulkannya doa pada malam hari.
34. Semangat untuk tinggal di masjid hingga terbitnya matahari.
35. Duduk bersama orang-orang yang suka berdzikir di pagi dan petang hari.
36. Menjaga dzikir pagi dan petang.
37. Menghadiri taman-taman syurga (mejelis ilmu dan dzikir –pent).
38. Mempelajari Al-Qur’an Al-Karim.
39. Memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an.
40. Melakukan sujud tilawah ketika membaca ayat yang dianjurkan untuk melakukan sujud padanya.
41. Memperbanyak membaca Al-Qur’an.
42. Semangat untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.
43. Berdoa ketika mengkhatamkan Al-Qur’an.
44. Menjenguk orang sakit.
45. Ziyarah kubur.
46. Mengingat kematian, akherat, syurga, dan neraka.
47. Merenungkan ayat-ayat Allah dan makhluk ciptaan-Nya.
48. Bersikap zuhud di dunia.
49. Bersikap zuhud terhadap apa-apa yang di tangan manusia.
50. Mengumpulkan empat hal berikut: dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟
“Siapa diantara kalian yang hari ini berpuasa?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Beliau bertanya lagi:
فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟
“Siapa diantara kalian yang hari ini mengikuti jenazah?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Beliau bertanya lagi:
فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِيْنًا؟
“Siapa diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Beliau bertanya lagi:
فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيْضًا؟
“Siapa diantara kalian yang hari menjenguk orang sakit?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Maka beliau berkata:
مَا اجْتَمَعْنَ فِيْ امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Tidaklah perkara-perkara tersebut terkumpul pada seseorang kecuali dia pasti masuk syurga.”(HR. Muslim no. 1028)
Sumber artikel:
Mudzakkirah Fii Ahkamis Shiyam

Alih bahasa: Abu Almass
Rabu, 20 Sya’ban 1435 H
>>>Klik www.tokobagusbogor.blogspot.com