INGAT SHALAT :

Selasa, 15 April 2014

>>>Menggapai Cinta Sejati

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]

Berkata Ibnul Qoyim rahimahullah: “Sebab-sebab yang mendatangkan cinta ada sepuluh:
1. Membaca Al Quran dan menghayatinya serta memahami maknanya dan apa yang diinginkan darinya, seperti seseorang  menghayati buku yang dia telah menghapal dan memberikan penjelasan padanya agar lebih memahami keinginan pengarang buku itu.
2. Mendekatkan diri pada Allah dengan perkara-perkara yang disunahkan setelah perkara-perkara yang wajib, sesungguhnya hal ini menyampaikan ke tingkatan yang dicintai Allah setelah adanya cinta.
3. Terus menerus berdzikir kepada Allah dengan lisan, hati, perbuatan dan penampilannya dalam semua keadaan, maka kadar cintanya sekadar dzikirnya.
4. Mengedepankan cinta Allah dari cinta anda ketika hawa nafsu menguasai dan berusaha menggapai cinta-Nya walau terasa berat dalam pencapaiannya.
5. Hati menelaah nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, menyaksikan, mengetahui dan hanyut dalam keindahan taman pengenalan dan penkajiannya, maka barang siapa mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya, dia akan cinta pada-Nya tanpa kemustahilan, karena inilah sekte muathilah, firauniyah dan jahmiyah merampok hati-hati untuk sampai ke yang dicintainya.
6. Menyaksikan kebaikan, kebajikan, anugerah dan nikmat-Nya yang lahir dan yang batin, maka sesungguhnya hal ini mendorong untuk mencintai-Nya.
7. Ketundukan hati yang sepenuhnya di hadapan Allah, inilah yang paling mengagumkan dan tidak ada ungkapan lain dari maknanya selain ini.
8. Menyendiri dengan-Nya ketika waktu turunnya Allah untuk bermunajat dan membaca kalam-Nya, menghadirkan hati, dan beradab dengan adab penghambaan dihadapan-Nya, kemudian menutupnya dengan beristighfar dan bertaubat.
9. Bermajelis dengan para pecinta yang jujur, memetik hasil terbaik dari perkataan mereka sebagaimana memilih buah-buahan yang terbaik dan tidak berbicara kecuali jika kuat kemashlahatannya dan anda mengetahui bahwa padanya ada perbaikan keadaan anda dan kemanfaatan bagi selain anda.
10. Menjauhi setiap sebab yang menghalangi antara hati dan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia.
Maka dari sepuluh sebab ini, sampailah para pecinta ke kedudukan cinta dan masuk pada yang dicintai. Dan inti dari itu semua adalah dua perkara; persiapan ruh terhadap hal ini dan terbukanya mata hati.
(Madarijus Salikin 2/529-530)
Ditulis oleh: Abu Abdillah Zaki ibnu Salman
Sumber: Forumsalafy.net

>>>Keistimewaan Dakwah Salafiyah


oleh : Asy Syaikh Abdurrahman Al-Adeny hafizhahullah

Dakwah ahlus sunah di masa dahulu dan yang akan datang adalah dakwah tauhid, dakwah sunah, dakwah yang menyeru untuk berpegang teguh dengannya. Dakwah yang menghilangkan syirik, bidah, dan hawa nafsu. Dakwah yang mengajak masyarakat ke negeri yang aman dengan menanamkan kecintaan pada tauhid dan sunah dalam hati-hati mereka, dan memperingatkan mereka dari bidah dan hawa nafsu.
Termasuk dari keistimewaan dakwah ahlus sunah adalah tidak hanya memperingatkan dari bidah, hawa nafsu, dan kebatilan secara umum, tapi juga memperingatkan dari para pelaku bidah dan hawa nafsu. Akan tetapi, penanganan perkara ini dipegang oleh para ulama cendekia yang mengumpulkan antara ilmu dan takwa. Dengan peran mereka, alhamdulillah, pendirian kita kokoh tatkala banyak fitnah, ujian dan musibah. Tauhid dan sunah diajarkan, bidah dan hawa nafsu diperingatkan darinya.
Termasuk perkara yang paling dikhawatirkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam kepada kita adalah bidah dan hawa nafsu, sebagaimana sabda beliau,
(( إن ممّا أخاف عليكم بعدي بطونكم وفروجكم ومضلات الأهواء ))
“Sesungguhnya perkara yang aku khawatirkan pada kalian setelah wafatku adalah perut-perut kalian, kemaluan-kemaluan kalian dan kesesatan hawa nafsu.” (HR Ahmad)
Demikian juga dari doa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam,
(( اللهم جنبنا منكرات الأخلاق والأعمال والأهواء والأدواء ))
Ya Allah jauhkanlah kami dari kerusakan akhlak, amalan, hawa nafsu dan penyakit. (HR At Tirmidzi)
Sejak dahulu Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam memerangi bidah dan pelakunya sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Oleh karena itulah, mari kita peluk manhaj ini, manhaj nabawi, manhaj salafi.
Para pelaku tauhid dan sunah direkomendasi, sedangkan para pelaku bidah dan penyimpangan dikritik, dicela, dan diwaspadai, hal ini adalah bagian dari dakwah ahlu sunah. Sejak dahulu hal ini digunakan sebagai benteng yang menjaga kaum muslimin dari bidah dan hawa nafsu. Tatkala muncul sikap bermudah-mudahan dalam hal ini, maka tanpa Anda sadari seorang penuntut ilmu yang mengerti tauhid dan sunah terjatuh dan tergelincir dalam perjalanannya, disebabkan tidak ada sikap pembeda disisi kebanyakannya mereka.
Wahai saudaraku, hendaknya kita mengambil pelajaran, Al Imam Baihaqi terpengaruh dengan Ibnu Fauroh dan mengambil darinya paham as’ariyah. Ibnu ‘Aqil disebabkan karena teman duduknya, menjadi berpaham mu’tazilah. Ya’qub bin Syubah disebabkan teman duduknya menjadi berpandangan netral dalam Al Quran. Al Imam Abdurazaq As Shon’ani disebabkan Jafar bin Abi Sulaiman Ad Dubai, menjadi mengambil paham syiah darinya. Demikianlah, hendaknya seorang pelaku sunah berhati-hati dari bermajelis dengan pelaku bidah dan hawa nafsu.
Termasuk dari manhaj ahlus sunah adalah memperingatkan dari pelaku bidah dan hawa nafsu. Dan jika ada tuntutan kemaslahatan, maka perlu untuk menyebutkan nama tokoh-tokoh bidah dan hawa nafsu ketika memperingatkan dari mereka. Agar diwaspadai kejahatan mereka dan ditampik fitnah mereka. Yang demikian ini juga dari manhaj ahlus sunah wal jamaah.
Penuntut ilmu hendaknya berhati-hati untuk masuk pada perkara yang dia tidak membutuhkannya. Alhamdulillah, para ulama dan para penasihat yang jujur telah mencukupi kita. Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya perkara ini pelakunya berada di antara sikap berlebih-lebihan dan bermudah-mudahan. Dan yang diinginkan adalah sikap pertengahan, sebagaimana firman Allah:
{( وَكَذَلِكَ جَعَلنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا )}
“Demikianlah Kami jadikan kalian umat pertengahan” (QS. Al Baqorah :143 )
Tidak semua orang yang menyeru dengan Jarh Wa Ta’dil beruntung. Bagi kita pelajaran dari perjalanan Mahmud Al Hadad, bagi kita pelajaran dari perjalanan Falih Al Harbi, dan bagi kita pelajaran dari kelanjutan Al Hajuri. Bagi kita juga pelajaran dari perihal Ahmad Syaibani dan Shaleh Bakri di Yaman dan yang lainnya. Bab perkara ini berbahaya, hendaknya kita melazimi takwa kepada Allah.
Dan wajib bagi kita untuk mengikuti langkah-langkah para ulama kita, dan mengambil faedah dari manhaj dan metode mereka. Alhamdulilah, pondok ini dengan izin Allah, seperti pondok-pondok ahlu sunah yang lainnya berjalan diatas jalan yang terang dan jelas. Mementingkan ilmu syar’i, tauhid, dan sunah, dan memperingatkan dari bidah dan hawa nafsu. Dan tidak mengapa untuk saling menasihati, bahkan merupakan kewajiban untuk memperingatkan dari pelaku bidah dan hawa nafsu.
Tidaklah bidah itu terbatasi dengan bidah jahmiyah, mu’tazilah, murjiah, as’ariyah, syiah rafidhah dan sufiyah saja. Tidak, bahkan sekarang ini bidah banyak, sangat benar yang disabdakan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam,
(( افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة ))
“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan dan semuanya di neraka kecuali satu golongan” (HR Ahmad, Abu Daud Tirmidzi dan lainnya)
Siapakah golongan yang selamat ini? Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas jalan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan para Sahabatnya radhiyallah’anhum. Maka selalu saja bidah dan hawa nafsu ada sampai zaman kita ini. Demikianlah, dengan rasa persaudaraan, dan saling menasihati kita bekerja sama seluruhnya untuk tetap kokoh diatas kebaikan ini.
Janganlah masuk ke bab Jarh Wa Ta’dil kecuali jika Anda punya keahlian yang mencukupi padanya, dan bertakwalah kepada Allah. Bukanlah permasalahannya berbasa-basi dengan seseorang, mencari keridaan seseorang atau menghindar dari kemarahan seseorang. Karena Anda nantinya akan berdiri dihadapan Allah yang akan menanyakan kepada Anda perkara yang kecil dan besar, dan menperhitungkan amalan walaupun sekulit ari. Sangat benar Allah dalam firman-Nya,
{( وَوُضِعَ الكِتَابُ فَتَرَى المُجْرِمِين مُشْفِقِين مِمَّا فِيْه وَيَقُولُونَ يَوَيلَتَنَا مَالِ هَذَا الكِتابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلَّا أَحْصَهَا )}
“Dan diletakkanlah kitab, maka engkau melihat orang-orang yang berbuat dosa ketakutan dengan isinya dan berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan hal kecil dan besar, melainkan mencatat semuanya.” (QS. Al Kahfi :49)
Berhati-hatilah dari sikap zalim dan berlebih-lebihan, dan berhati-hatilah dari sikap lembek dan bermudah-mudahan. Mari kita bekerja sama semuanya di pondok ini, demikian juga di seluruh pondok-pondok ahlus sunah, untuk tetap kokoh di atas dakwah yang murni dan bersih. Yang berada padanya para ulama zaman sekarang dan terdahulu, para salafus shalih. Manhaj yang dipetik dari kitab Allah dan sunah Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wasalam.
Kita memohon kepada Allah untuk melapangkan dada-dada agar
menerima kebenaran, dan menganugerahkan kekokohan sampai ketika meninggalkan dunia, sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa-doa.
Alih bahasa: Abu Abdillah Zaki Ibnu Salman
Sumber : WA Salafy Lintas Negara

Senin, 14 April 2014

>>Audio: Kajian Salafiyyah Indonesia Sabtu-Ahad 12-13 Jumadal Akhirah 1435H / 12-13 April 2014M [Pekan 2]

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]

Berikut Rekaman Kajian yang di adakan di beberapa tempat di Indonesia Hari Sabtu dan Ahad. Tanggal 12-13 Jumadal Akhirah 1435H /12-13 April 2014H.
Makassar, Cikarang (Jawa barat), Semarang
1. Makassar ~ @ Al Ustadz Abu Nashim Muhtar
Dauroh Makassar 8aMenakar Cinta – Upaya Menelusuri Sunnah Nabi
Sabtu – 12 Jumadal Akhirah 1435H
Sesi 1 – Download di Sini
Sesi 2 – Download di Sini
=======
Ahad – 13 Jumadal Akhirah 1435H
Tausyiah Ba’da Subuh – Download di Sini
Sesi 3 – Download di Sini
Sesi 4 – Download di Sini
Sesi 5 (Tanya Jawab) – Download di Sini
=========================================================
2. Cikarang Jawa Barat ~ @Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf
ust abu hamzah cikarangAhad 13 Jumadal Akhirah 1435H
Sesi 1 – Tausiyah Panitia Download di Sini
Sesi 2 – Menyingkap Kesesatan Agama Syiah Download di Sini
Sesi 3 – Menyingkap Kesesatan Agama Syiah Download di Sini
Sesi 4 – Tanya Jawab Download di Sini
=========================================================
3. Semarang Jawa Tengah ~ @Al Ustadz Abul Faruq Ayip Syafrudin
SemarangAhad 13 Jumadal Akhirah 1435H
Sesi 1 – Pendamping Hidupmu Bukanlah Manusia Suci Download di Sini
Sesi 2 – Pendamping Hidupmu Bukanlah Manusia Suci Download di Sini
ahad pagi4. Purwokerto Jawa Barat ~ @Al Ustadz Saiful Bahri
Ahad 13 Jumadal Akhirah 1435H
Kajian Manhaj Download di Sini
limo5. Depok ~ @Al Ustadz Muhammad Shalehudin
Kiat-kiat mendapatkan ilmu Download di Sini
Sumber : www.forumsalafy.net

Kamis, 10 April 2014

>>Syubhat & Bantahan Seputar Pemilu

www.salafyciampeabogor.blogspot.com
SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
FATWA ASY-SYAIKH ABU MUHAMMAD RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI HAFIZHAHULLAHU TA’ALA
Soal:
Sebagian orang berkata: ”Jika salafiyun tidak masuk ke kancah parlemen dan pemilu, mereka tinggalkan hak-hak tersebut untukkaum liberal”. Apa tanggapan kalian terhadap hal ini?
[Kaset yang berjudul: Waqafat fil Manhaj Al-Kuwait 2-1423]
Jawaban:
Wallahi, aku pandang jika mereka memasuki parlemen niscaya mereka menjadi perangkat bagi ilmaniyin (kaum liberal yang memisahkan kepemerintahan dan agama, pen). Orang-orang menyangka bahwa jika mereka memasuki parlemen, mereka akan mengusir kaum liberal dari kursi-kursi tersebut dan menduduki jatahnya. Apakah hal ini diwujudkan oleh orang yang ikut andil pada parlemen?
Apakah mereka berhasil mengusir ilmaniyin dari kursi-kursi mereka? Atau tidak semakin menambah kaum ilmaniyin selain kekokohan. Karena ketika mereka menyaingi (kaum liberal), mereka siapkan perbekalan, tegakkan kekerasan dan persaingan. Engkau ingin mengalahkannya sementara ia pun ingin mengalahkanmu. Pada akhirnya dia mengalahkanmu. Hal inidikarenakan engkau tidak menempuh jalan syar’i yang melazimkan pertolongan Allah –Tabaraka Wata’ala–. Ini merupakan perkara yang makruf.
Apakah Ikhwanul Muslimin sukses ketika masuk parlemen di Suria, Iraq, Mesir, dan negeri-negeri yang lainnya? Apakah mereka berhasil dan agama Islam tegak?
Tidak ada hasilnya selain kaum Ba’tsiyin, komunis, dan sekutu-sekutu mereka dari kalangan Nashrani dan yang lainnya semakin kuat. Kekuatannya semakin bertambah sementara mereka semakin lemah. Apa yang mereka wujudkan?
Wahai saudaraku, kami katakan kepada kalian: ‘Tempuhlah jalan dakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Bimbing umat manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi. Para nabi datang (mendakwahi) umat yang sangat melampaui batas. Terkadang di antara mereka, ada yang memiliki parlemen atau yang setara dengannya, para nabi tidak bangkit menyaingi (umat-umat tersebut untuk merebut) kursi-kursi kepimpinan, semata-mata untuk memperbaiki jiwa-jiwa mereka. Para nabi tidak mengatakan hal yang demikian.’
Ibrahim ‘alahish shalatu wassalam datang (membawa syariat Allah) ketika ada raja zhalim yang dipertuhankan. Demi Allah, dia tidak mengatakan: ‘Saya akan memasuki parlemen, lalu saya akan memperbaiki keadaan umat ini dengan ajaran Islam’. Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam, orang-orang kafir Quraisy tawarkan kepadanya kerajaan Makkah, beliau enggan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam enggan (untuk menerima tawaran tersebut, pen). Beliau tempuh jalan berdakwah kepada Allah dan menyelamatkan umat manusia dari kesyirikan dan kesesatan.
Apakah kalian, dengan cara mendesak kaum ilmaniyin, kalian hancurkan kesyirikan, kesesatan, dan pemahaman liberal (yang memisahkan kepemerintahan dan agama, pen) atau justru kalian kuatkan mereka?
Ketika engkau bagi-bagikan materi-materi kekafiran, engkau memuliakan, mengamalkan, dan membenarkannya. Bukankah engkau semakin menguatkan dan mengkokohkan kekufuran tersebut, dan kaki-kaki orang-orang kafir semakin kokoh dalam melawan Islam?
Saya tanyakan: ‘Jika mereka berkuasa di mesir –sehingga kita bisa menjadikan mereka sebagai teladan–, mewujudkan sesuatu (yang mereka dambakan, pen), mengalahkan kaum ilmaniyin, mengusir dan menduduki kursi-kursi mereka dan menguasai mereka. Jika mereka melakukan dan mewujudkan hal yang demikian, kita lihat perkaranya, mungkin kita menyontoh mereka. Kita katakan: ‘Demi Allah, mereka berhasil pada perkara ini, tentunya kitapun berhasil dalam perkara ini.’ Namun kita tidak temukan selain kegagalan. Kita tidak dapatkan selain keterbengkalaian. Kita tidak temukan selain dukungan terhadap kebatilan. Kita tidak dapati selain menyibukkan para pemuda (hingga lalai) terhadap dakwah kepada Allah.
Bahkan mereka mengajarkan kedustaan dan menebarkan berita-berita dusta, demi membela orang yang mereka calonkan untuk mendapatkan kursi. Mengajari para pemuda untuk menyodorkan sogokan dan menerimanya. Sehingga mereka rusak akhlak para pemuda. Berapa banyak akhlak yang dirusak akibat pemilu, coblosan, dan persaingan tersebut. Berapa banyak akhlak yang dirusak. Kedustaan,penyuapan, khianat, penipuan, … dan … dan… dan seterusnya.
Akibat aktifitas ini, dakwah ke jalan Allah Tabaraka Wata’ala binasa. Jalan yang benar adalah dakwah yang shahih di jalan Allah Tabaraka Wata’ala, meluruskan akidah, dan mengikat kaum muslimin dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Menumbuhkan penilaian manusia bahwa engkau tidak menginginkan sedikitpun dari dunia mereka, engkau tidak menginginkan selain apa yang bermanfaat bagi mereka, hingga engkau bisa meyakinkan hal demikian kepada pemilik kursi tersebut. Engkau katakan: ‘Wallahi, aku tidak menginginkan apapun, biarkan kursimu itu untukmu’. Berangkatlah kamu, daripada engkau bersaing dan bergulat dengannya demi mendapatkan kursinya, berangkatlah ke rumahnya, sodorkan kepadanya nasehat yang sarat akan dalil, semoga Allah memberi hidayah kepadanya melaluimu.
Ini adalah cara yang paling baik, daripada kamu beradu dan bersaing dengannya, masuk melakukan penyuapan dan kedustaan, sehingga orang ilmani ini tidak menerimamu dan orang yang lainnya tidak menyambut ajakkanmu, karena dia tahu bahwa sesungguhnya kamu bertindak karena ingin mendapatkan kursi, harta, dunia, dan jabatan. Namun ketika engkau membawa dakwah yang bersih (dari semua tendensi tadi, pen), engkau tidak ingin menyaingi perdagangan, kekuasaan, dan kursi mereka, sesungguhnya kita hanya ingin menghadiahkan kebaikan dan menyuguhkan kebenaran bagi mereka, semoga Allah Tabaraka Wata’ala ridha terhadap mereka, sehingga mereka bahagia di dunia dan di akhirat.
Adapun jika kita datang bergulat dan bertinju, manusia tidak membutuhkanmu ketika mereka melihat bahwa engkau melakukan pertinjuan dan pergulatan untuk meraih kursi-kursi (jabatan tersebut, pen). Bukankah dakwah salafiyah di Kuwait melemah setelah salafiyin atau orang yang menamakan dirinya sebagai salafiyin mengajak ke pemilu, parlemen, dan pergerakan yang beraneka ragam. Dakwah salafiyah lemah. Seandainya mereka tetap berada pada jalan mereka yang semula, tidak jarang para pejabat tersebut menjadi orang-orang yang berjalan di atas kebenaran, pemerintahan menjadi terbimbing, dan berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam.
Sumber:
Fatawa Fadhilatisy Syaikh Rabi’ al-Madkhali 1/213-215
Alih bahasa:
Abu Bakar Abdullah bin Ali Al-Jombangi
Salah seorang thullab Darul Hadits Fiyus
Ghafarallahu waliwalidaihi walijami’il muslimin
Rabu, 9 Jumadats Tsaniyah 1435H
Sumber : WA Salafy Lintas Negara

Selasa, 08 April 2014

>>SEBAB UNTUK MENDAPATKAN REZEKI (Bagian-2)

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]

SEBAB UNTUK MENDAPATKAN REZEKI(2)

الحمد لله رب العابمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وآله وصحبه اجمعين. أما بعد:
Ikhwani fillah-hafizhokumullah- sebagaimana yang disinggung sebelumnya, bahwa kami akan menyebutkan sebagian sebab-sebab untuk mendapatkan rezeki yang Allah sebutkan didalam Al Qur-an dan juga Rasulullah didalam sunnah Beliau. Maka pada kesemptan ini kami akan menyebutkannya secara ringkas diiringi dengan mengharap pertolongan dan taufik dari Allah ta’ala.

1. Taqwa kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب(
Artinya:”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Ath Thalaq : 2,3)
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala akan memberikan rezeki kepada orang yang bertakwa. Dan ini umum baik orang tua atau muda, lelaki atau wanita, orang desa atau orang kota dan yang lainnya. Allah Ta’ala akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangka.

2. Tawakal kepada Allah Ta’ala
Sebagaimana yang Allah firmankan:
) و من يتوكل على الله فهو حسبه (
Artinya:” Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” ( Ath Thalaq: 3)

Rasulullah juga bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, pasti Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana memberi rezeki kepada burung yang pergi dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad, At Tirmidzi,An Nasai dan yang lainnya.)

3. Istighfar (meminta ampun) kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengisahkan Nabi Nuh:
فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا. يرسل السماء عليكم مدوارا. ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا. ()
Artinya: “Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlahy ampunan kepada Tuhan kalian, Sungguh, Dia Mahay Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian.”

4. Menuntut Ilmu
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata:” Dulu dizaman An Nabi ada dua bersaudara, salah satunya selalu datang (belajar) kepada An Nabi dan yang kedua bekerja, yang bekerja pun mengeluhkan saudaranya kepada An Nabi maka Belau bersabda:” Mungkin saja kamu diberi rezeki karena sebab dia.” HR. At Tirmidzi.

5. Menyambung tali persaudaraan
Sebagaimana yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:” Barangsiapa ingin diluaskan rezekinya maka sambunglah tali persaudaraan.” HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim.

6. Menikah
Allah Ta’ala berfirman:
وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله واسع عليم (
Artinya:  “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang diantara kalian, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan (kecukupan) kepada mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (An Nur: 32)

Syaik Abdurrohman As Sa’di berkata:”Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk menikah dan janji (Allah) bagi orang yang menikah untuk memberikan kecukupan setelah kefakiran.”
Rasulullah juga bersabda bahwa ada tiga golongan yang Allah Ta’ala pasti akan membantunya, salah satunya orang yang menikah untuk menjaga kesuciannya(kehormatannya).
Ini yang bisa kami sebutkan dalam kesempatan ini. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Apabila ada kata yang kurang berkenan kami mohon maaf.
اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه.

( Disarikan dari khutbah Syaikh Abdurrohman Al Mar’i Al ‘Adni dan sebagian durus Beliau)

Dikirim oleh Al-akh Abu Umar Saidan (salah satu thulab di Darul hadist Fuyus,Yaman)
Sumber : Whats App Salafy Lintas Negara

>>>Surury Termasuk Khawarij?

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]

SURURY TERMASUK KHAWARIJ

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullahPertanyaan: Apakah para anggota organisasi Al-Qaidah bisa dikatakan sebagai orang-orang Khawarij?


Jawaban:Ya, mereka termasuk Khawarij, kelompok Al-Ikhwan Al-Muslimun juga termasuk Khawarij, Hizbut Tahrir juga termasuk Khawarij, kelompok Surury juga Khawarij, karena kelompok Surury telah melakukan pemberontakan di Aljazair dan selainnya.
Dengarkan Audionya

Alih bahasa: Abu Almass
Sabtu, 5 Jumaada Tsaniyah 1435 H
Sumber : www.forumsalafy.net

Senin, 07 April 2014

[BARU APRIL PEKAN I 2014]KAJIAN AHLUS SUNNAH Indonesia Sabtu-Ahad 5-6 Jumadal Akhirah 1435H/5-6 April 2014M

Berikut Rekaman Kajian yang di adakan di beberapa tempat di Indonesia Hari Sabtu dan Ahad Tanggal 05-06 Jumadal Akhirah 1435H/05-06 April 2014H, Makassar, Semarang, Yogyakarta Magelang dan Cileungsi

makassar71. Makassar
Sabtu 05 Jumadal Akhirah 1435H/05 April 2014 Bersama Al Ustadz Azhari Asri Hafizhahullah
Sesi 1 Download
Sesi 2 Download
Ahad 06 Jumadal Akhirah 1435H/06 April 2014M Bersama Al Ustadz Abu Dihya Kamal Al Atsary Hafizhahullah
Sesi 1 Download
Sesi 2 Download
————————————————————————————————————————————————————-
semarang ust rifai2. Semarang
Ahad 06 Jumadal Akhirah 1435H/06 April 2014M Bersama al Ustadz Rifai (Ngawi) Hafizhahullah
Sesi 1 Download
Sesi 2 Download
—————————————————————————————————————————————————————-
veteran3. Yogyakarta
Ahad 06 Jumadal Akhirah 1435H/06 April 2014M Bersama Al Ustadz Usamah Mahri Hafizhahullah
Sesi 1 Download
Sesi 2 Download
Sesi 3 Download
Ahad Malam Senin 07 Jumadal Akhirah 1435h/06 April 2014M Bersama Al Ustadz Usamah Mahri Hafizhahullah
Kajian Kitab Riyadhus Shaalihin Hadits ke 1 Download
————————————————————————————————————————————————————
ust ayip-Recovered34. Cileungsi Bogor
Ahad 06 Jumadal Akhirah 1435H/06 April 2014M Bersama Al Ustadz Ayip Syafrudin Hafizhahullah
Sesi 1 Download
Sesi 2 Download

SUMBER “PANITIA KAJIAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH INDONESIA DI BERBAGAI TEMPAT” JAZAAHUMULLAHU KHAIRAA
Sumber : www.forumsalafy.net , www.salafyciampeabogor.blogspot.com

Jumat, 04 April 2014

>>Susunan Rumah dan Tata Letaknya Menurut Syariat Islam

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Adapun tentang perkara ini maka tidak ada perbedaan antara rumah seorang muslim dengan rumah orang kafir, dari mulai bentuk rumah, warna rumah atau bahan bangunan rumah, dalam hal ini ada persamaan, dan bukan merupakan tasyabbuh yang diharamkan karena hal ini sudah bersifat umum. Namun jikalau bangunan rumahnya berbentuk seperti candi-candi atau tempat peribadahan orang kafir dan musyrik maka dilarang, karena termasuk dalam tasyabbuh terhadap perkara  yang menjadi kekhususan mereka. Dan bahaya tasyabbuh dengan mereka adalah akan membawa hati kita ke arah tumbuhnya rasa cinta dengan mereka, sedangkan cinta macam ini adalah sebuah cinta yang diharamkan dalam agama kita bahkan kalau cinta tersebut disebabkan karena membanggakan agama mereka maka akan menjatuhkan ke dalam salah satu pembatal-pembatal agama islam.
Yang menjadi pembeda antara rumah orang kafir dengan rumah seorang muslim adalah keadaan yang ada di dalamnya, dari adab-adab dan akhlak-akhlak islami yang mulia yang dimiliki keluarga muslim dari agamanya, yang akan menjunjung derajat mereka dengannya di dunia ini dan membedakan mereka dengan seekor binatang yang tidak memiliki peradaban, seperti keadaan orang-orang kafir yang tidak memiliki peradaban dan akhlak-akhlak mulia pada rumah-rumah mereka.
Walaupun demikian kita tidak boleh bermudah-mudahan dengan terus meniru setiap apa yang datang dari mereka, karena hal itu lambat laun akan menimbulkan rasa dalam hati kita berupa kecintaan kepada mereka, dan akhirnya selalu terpaut dengan setiap model yang datang dari mereka dan meninggalkan sedikit demi sedikit rasa percaya diri kita sebagai seorang muslim. Sehingga kita harus membedakan diri kita dengan mereka dalam setiap urusan mereka. Dalam hal ini rumah seorang muslim harus menghindari  segala perlengkapan yang sifatnya bermewah-mewahan, yang mana hal itu menghilangkan karakteristik seorang muslim yang mendambakan hidup mulia di surga Allah subhanahu wa ta’ala.
Disebutkan dalam hadits bahwa kesederhanaan adalah bagian dari iman. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ
“Dengarkanlah sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman.“ (Shahih, HR. Abu Dawud)

Bila seseorang senantiasa berusaha melengkapi peralatan yang sifatnya bermewah-mewahan, maka hal ini menjadi cerminan akan kecintaannya dengan kehidupan dunia, yang lalai dengan tujuannya, karena kemewahan itu akan membuatnya lupa tujuan, timbullah saling merendahkan antar sesama, sifat ujub, sombong dan angkuhpun mengikutinya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan keadaan manusia yang lalai dengan tujuannya untuk apa dia diciptakan di dunia ini dengan firman-Nya:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ. كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ. لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ. ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ. ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
 “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At Takaatsur: 1-8)
Maka sebagai seorang muslim kita harus selalu mengingat tujuan kita di dunia ini,  yaitu menjadikan dunia ini sebagai ladang amal bukan untuk hidup selama-lamanya, supaya tidak terombang-ambing dengan keadaan apalagi sampai menjadikan orang-orang kafir sebagai tauladan.  Kita harus memiliki karakteristik muslim dengan senantiasa mengikuti petunjuk agama kita, baik dalam gaya hidup,  sifat, dan yang lainnya dalam segala aspek kehidupan.
Sebuah Kenyataan atau Khurafat?
Terjadi pada sebagian tempat,  masyarakat memiliki keyakinan sebaiknya rumah tidak menghadap ke timur atau ke barat,  tapi menghadap ke selatan atau ke utara. Mereka berkeyakinan, jika rumah itu menghadap ke timur atau barat akan terjadi dengan apa yang diistilahkan dengan bahasa jawa “ora becik,  seret rejekine“  yaitu tidak bagus, susah rezekinya. Apakah ini keyakinan yang benar atau sekedar khurafat? Lantas Bagaimana tinjauan syari’at Islam terhadap hal tersebut?
Jawab :
Hal tersebut bukan merupakan keyakinan yang benar, melainkan khurafat dan kerjaan para dukun yang sedang menawarkan dagangan mereka untuk mencari uang.
Adapun ditinjau dari kaca mata syariat, hal itu menyelisihi ajaran Islam yang mengajarkan pemeluknya untuk meyakini bahwasanya hanya Allah subhanahu wa ta’ala satu-satu Dzat yang mampu untuk memberi manfaat dan menolak mudharat kepada hamba-hamba-Nya. Begitu pula masalah rezeki dan lain sebagainya.
Demikian juga hal tersebut seakan-akan mereka mengetahui hal yang ghaib (tersembunyi), karena keyakinan mereka bahwasanya posisi rumah yang demikian akan menyulitkan datangnya rezeki atau yang lainnya, dimana tidak ada yang mengetahui hal yang ghaib kecuali Allah k saja .
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُهُمْ وَلا يَضُرُّهُمْ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلَى رَبِّهِ ظَهِيرًا
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Rabbnya. (Al-Furqaan: 55)
Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ
 “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (Ali-Imran: 128)

Nabi n saja ditiadakan pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib,  lantas bagaimana dengan yang lainnya?
Allah k berfirman memerintahkan kepada nabi-Nya:
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ
“Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.” (An-Naml: 65)

Sesajen dari manakah hal itu?
Kita dapati pula adat sebagian penduduk setelah menaikkan kayu atas rumah atau istilah Jawa (wuwungan), mereka  memberi sesajen berupa seikat gabah,  setandan pisang,  selembar kain (merah-putih) dan lain sebagainya dengan anggapan hal tersebut akan memberi barokah sebuah rumah atau sebagai penghormatan terhadap penunggu desa tersebut . Benarkah perbuatan ini menurut syari’at Islam?
Jawab :
Tidak benar,  dan hal ini bukan dari tuntunan agama Islam, karena dalam agama Islam tidak mengajarkan hal-hal tersebut.  Kalau seandainya hal itu benar,  tentunya sudah dicontohkan oleh Nabi kita n, supaya dicontoh oleh umatnya. Ini adalah budaya-budaya non muslim yang diserap oleh kaum muslimin yang jauh dari agamanya,  lalu mereka mengikutinya, dan kemudian oleh sebagian para dukun dibumbui dengan perkara-perkara mistis untuk menakut-nakuti seorang muslim yang imannya lemah, sehingga terjatuhlah mereka dalam kesyirikan.
Dari sisi lain, disebutkan dalam hadits bahwa makanan saudara kita dari bangsa jin adalah tulang–belulang yang disebut padanya nama Allah l ketika menyembelih, bukan seperti yang mereka sangka dan mereka lakukan itu dengan mempersembahkan sesajen-sesajen kepada para syaitan. Karena ini adalah perbuatan syirik yang diharamkan dalam agama Islam.
Dari Abdullah bin Mas’ud a bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
قَدِمَ وَفْدُ الْجِنِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا : يَا مُحَمَّدُ انْهَ أُمَّتَكَ أَنْ يَسْتَنْجُوا بِعَظْمٍ أَوْ رَوْثَةٍ أَوْ حُمَمَةٍ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ لَنَا فِيهَا رِزْقًا. قَالَ فَنَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم
 “Datang utusan dari jin kepada Rasulullah n lalu berkata:  “Wahai Muhammad! laranglah umatmu dari beristinja’ (membersihkan kotoran) dengan tulang dan kotoran hewan atau arang kayu (dan sesuatu yang telah terbakar dari kayu atau tulang) karena Allah l menjadikannya rejeki  (makanan) untuk kami”. Lalu berkata (Abdullah Ibnu  Mas’ud): “Maka Nabi n melarangnya.“ (Shahih, HR. Abu Dawud, Baihaqi, dll)
 عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ مَسْعُودٍ هَلْ صَحِبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْجِنِّ مِنْكُمْ أَحَدٌ فَقَالَ مَا صَحِبَهُ مِنَّا أَحَدٌ وَلَكِنَّا قَدْ فَقَدْنَاهُ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُلْنَا اغْتِيلَ اسْتُطِيرَ مَا فَعَلَ قَالَ فَبِتْنَا بِشَرِّ لَيْلَةٍ بَاتَ بِهَا قَوْمٌ فَلَمَّا كَانَ فِي وَجْهِ الصُّبْحِ أَوْ قَالَ فِي السَّحَرِ إِذَا نَحْنُ بِهِ يَجِيءُ مِنْ قِبَلِ حِرَاءَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَكَرُوا الَّذِي كَانُوا فِيهِ فَقَالَ إِنَّهُ أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ فَأَتَيْتُهُمْ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمْ قَالَ فَانْطَلَقَ بِنَا فَأَرَانِي آثَارَهُمْ وَآثَارَ نِيرَانِهِمْ قَالَ   قَالَ ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ قَالَ عَامِرٌ فَسَأَلُوهُ لَيْلَتَئِذٍ الزَّادَ وَكَانُوا مِنْ جِنِّ الْجَزِيرَةِ فَقَالَ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ يَقَعُ فِي أَيْدِيكُمْ أَوْفَرَ مَا كَانَ عَلَيْهِ لَحْمًا وَكُلُّ بَعْرَةٍ أَوْ رَوْثَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ فَلَا تَسْتَنْجُوا بِهِمَا فَإِنَّهُمَا زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنْ الْجِنِّ
“Dari Alqomah a berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud a, apakah ada dari kalian yang menemani Rasulullah n pada malam jin (pembacaan Al-Qur’an kepada jin), dia menjawab: “Tidak menemaninya seseorang dari kami,  akan tetapi kami kehilangan beliau pada suatu malam,  kamipun berseru: “Beliau hilang dan lenyap, apa yang beliau kerjakan?”. Maka kamipun tidur dengan sejelek-jelek malam,  yang bermalam padanya suatu kaum. Ketika pagi hari tiba atau pada waktu sahur,  serentak beliau mendatangi kami dari arah Gua Hira .
Kami berseru: “Ya Rasulullah..!“ Lalu menyebutkan kisah mereka.
Lantas beliau n menjawab: “Mendatangiku da’i dari jin,  lalu akupun menemui mereka dan menbacakan untuk mereka Al-Qur’an.” Kemudian beliau mengajak kami dan menunjukkan bekas-bekas mereka dan bekas api mereka.
Berkata Ibnu Abi Zaidah dari ‘Amir: “Mereka meminta Rasululloh n bekal dan mereka para jin dari Jazirah.”
Lalu beliau n berkata: “Untuk kalian setiap tulang yang disebut padanya nama Allah, (tulang tersebut) akan penuh dengan daging apabila sudah ditangan kalian,  dan setiap kotoran hewan itu akan menjadi makanan untuk hewan kalian.
Maka janganlah kalian beristinja’ dengan keduanya karena keduanya itu adalah bekal untuk saudara kalian dari para jin.” (HR. Ahmad, Baihaqi,  dll. Berkata Asy-Syaikh Syuaib Al-Arnaud Al-Hindiy: ”Sanadnya  shahih dengan syarat Muslim,  para perawinya adalah perawi shahihain,  selain Dawud bin Abi Hindi,  perawinya Imam Muslim.“)

Dengan demikian,  masihkah kita sebagai seorang muslim percaya dengan hal-hal tersebut yang tidak jelas asal muasalnya dan dari mana datangnya, melainkan hanya ucapan: “Katanya dan katanya, atau kata orang tua dulu.” Lebih tua orang tua mereka atau Nabi kita?

Bangunlah dari tidur kalian wahai kaum muslimin, pelajari agama kalian dan tinggalkanlah budaya-budaya kesyirikan ini.
Letak rumah
1) Dianjurkan bagi seorang muslim untuk mencari rumah atau membangun rumah yang dekat dengan masjid
Hal ini dimaksudkan agar memudahkan baginya untuk menunaikan shalat berjama’ah dan ibadah yang lainnya di masjid.
Walaupun yang lebih utama adalah jauh dari masjid, karena setiap langkahnya akan dihitung pahala. Tapi, karena mengingat lemahnya iman pada umat Islam dan pengaruh lingkungan yang banyak sekali kemaksiatan  pada zaman sekarang, dekat dengan masjid lebih utama untuk menjaga diri dan keimanan seseorang. Wallahu a’lam bisshawab.

2) Mencari rumah atau membangun rumah yang jauh dari lingkungan  maksiat atau tetangga yang buruk.
Lingkungan yang dekat dengan kemaksiatan atau tetangga yang buruk memiliki pengaruh yang luar biasa pada sebuah keluarga. Sebagaimana kisah yang  panjang, yaitu kisah perjalanan taubatnya seseorang yang telah membunuh 100 orang, padanya disebutkan:
اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا , فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ اللهَ, فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ, فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ
Pergilah engkau ke sebuah negeri seperti ini dan seperti ini (yang disifatkan padanya negeri tersebut), karena sesungguhnya di dalamnya terdapat kaum yang beribadah kepada Allah Ta’ala, beribadahlah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu,  karena negerimu adalah negri yang jelek (banyak kemaksiatannya). (HR. Muttafaqun ‘alaih No : 2766 dari  Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu)

3) Memperhatikan hal-hal yang mendukung kesehatan pada sebuah rumah.
Di antaranya dengan menjauhi membangun rumah di tempat-tempat yang kotor,  seperti dekat tempat-tempat pembuangan sampah, dekat genangan-genangan air, dll.  Karena kebersihan dan kesucian adalah sebagian dari iman, maka wajib bagi seorang muslim untuk memperhatikan kebersihan dan kesucian tempat tinggalnya, lingkungannya, serta dirinya, karena lingkungan juga menunjukkan pribadi si penghuninya. Zhahir dari sesuatu adalah cerminan  bagi batinnya.
Dari Abu Malik  Al-Asy’ariy radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الطّهُورُ شَطْرُ الإِيمَان
“Kesucian adalah sebagian dari iman. (HR. Muslim)

Sebagaimana makanan, lingkunganpun bisa mempengaruhi tabi’at manusia, dimana disyari’atkan untuk tidak makan daging hewan yang kebiasaannya memakan kotoran sebelum dikurung/dikarantina tiga hari atau lebih, atau kita dilarang untuk memakan hewan yang bertaring karena ditakutkan tabi’at hewan tersebut akan ditiru oleh pemakannya, karena daging yang tumbuh pada manusia itu dari binatang tadi.

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:
وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ الْإِبِلِ وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ
“Keangkuhan dan kesombongan ada pada penggembala onta, ketenangan dan kewibawaan ada pada penggembala kambing“. (HR. Muslim)

Dalam hadits ini memberikan faidah bahwasanya kebersamaan akan saling mempengaruhi sebagaimana penggembala onta yang setiap hari bersamanya, jadilah dia seorang yang sombong dan keras kepala dan tinggi hati seperti keadaan onta yang mencari makan pada ujung-ujung pohon. Begitu pula keadaan penggembala kambing, ketenangan yang dimiliki kambing mempengaruhi penggembalanya tanpa perlu berteriak-teriak, tidak seperti halnya penggembala onta.
Contoh hadits lainnya adalah sebagaimana sabda nabi shalallahu alaihi wasallam yang melarang duduk di atas kulit macam agar tidak tertular memiliki tabiat macan yang buas. Disebutkan dalam sebuah hadits:
نهى عن الركوب على جلود النمار

Beliau shalallahu alaihi wasallam melarang untuk duduk di atas kulit macan“. (Shahih. Lihat Jami’ Ash-shahih no. 6881, Asy-Syaikh Al-Bani)
Perkara lainnya yang mendukung kesehatan pada sebuah rumah adalah memperhatikan fisik dari bangunan rumah, di antaranya menjadikan rumahnya segar dengan memasang jendela, lubang-lubang ventilasi angin, serta tempat masuknya sinar matahari ke dalam rumah untuk kesegaran dan sirkulasi udara,  dll.

( Di salin dari buku Baitiy Jannatiy (Rumahku Surgaku) halaman 30-39, Penulis al-Ustadz Abul Hasan al-Wonogiriy )
Perhatian : Dilarang mengubah artikel ini ke dalam file lain berupa e-book, chm, pdf ataupun file yang lainnya, serta di larang mengprint artikel ini tanpa seizin dari Maktabah Almuwahhidiin. Adapun untuk di copy paste ke blog ataupun website dipersilahkan dengan tetap mencantumkan sumbernya tanpa menambah ataupun mengurangi isi artikel. 

Bagi pembaca yang ingin ta’awun (bekerjasama) untuk mencetak artikel di website ini menjadi sebuah buku, silahkan menghubungi ke nomor 0857 1552 1845
Sumber : http://www.almuwahhidiin.com/susunan-rumah-dan-tata-letaknya-menurut-syariat-islam.html#comment-10178