INGAT SHALAT :

Kamis, 18 September 2014

[BAGUS]>>~ Kajian Ilmiyah Banyumas ~

[AUDIO] AL-USTADZ MUHAMMAD AS-SEWED – PRINSIP SALAF DALAM BERMANHAJ


Ma'had Al-Faruq Kalibagor, Banyumas
Sabtu, 18 Dzul Qa'dah 1435 H - 13/09/2014M

Al-Ustadz Ahmad Affandi hafidzahullah

0.53 MB - Sesi Pembukaan 

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal hafidzahullah

0.96 MB - Sesi Sambutan Panitia

*  *  *

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed Hafidzahullah

Prinsip Salaf Dalam Bermanhaj

9.4 MB - [Sesi 1]

11.1 MB - [Sesi 2]

3.4 MB - [Sesi 3] Tanya Jawab

Dipublikasikan:
WA TIS (Thalab Ilmu Syar‘i)

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil. Untuk mengunduh / download sila right click pada link file yang berkenaan dan pilih “Save Link As ...”. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

Rabu, 17 September 2014

>>>Nasihat Untuk Wanita Seputar Shalat


NASIHAT UNTUK WANITA SEPUTAR SHALAT
Tanya: Kebanyakan wanita bermudah-mudah dalam masalah aurat mereka di dalam shalat. Mereka membiarkan kedua lengan bawahnya atau sedikit darinya terbuka/tampak saat shalat, demikian pula telapak kaki bahkan terkadang terlihat sebagian betisnya, apakah seperti ini shalatnya sah?
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah memberikan jawaban, “Yang wajib bagi wanita merdeka dan mukallaf untuk menutup seluruh tubuhnya dalam shalat terkecuali wajah dan dua telapak tangan, karena seluruh tubuh wanita aurat.
Bila ia shalat sementara tampak sesuatu dari auratnya, seperti betis, telapak kaki, kepala atau sebagiannya, maka shalatnya tidak sah, berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:
لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ الْحَائِضِ إِلاَّ بِخِمَارٍ
“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid kecuali bila mengenakan kerudung.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Ahlus Sunan kecuali An-Nasa’i dengan sanad yang shahih)
Yang dimaksud haid dalam hadits di atas adalah baligh.
Juga berdasar sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ
“Wanita itu aurat.”
Juga riwayat Abu Dawud dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang shalat memakai dira’ (pakaian yang biasa dikenakan wanita di rumahnya, semacam daster) dan khimar (kerudung) tanpa memakai izar (sarung/pakaian yang menutupi bagian bawah tubuh). Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ
“(Boleh) apabila dira’ tersebut luas/lebar hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Bulughul Maram berkata, “Para imam menshahihkan mauqufnya haditsnya atas Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha.”
Bila di dekat si wanita (di sekitar tempat shalatnya) ada lelaki ajnabi maka wajib baginya menutup pula wajahnya dan kedua telapak tangannya.”
[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/ 409]
.
******************************************************************
Tanya: Kita perhatikan sebagian orang yang shalat mereka mengenakan pakaian yang tipis hingga bisa terlihat kulit di balik pakaian tersebut. Apa hukumnya shalat dengan pakaian seperti itu?
Jawab:
Samahatusy Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah menjawab, “Wajib bagi orang yang shalat untuk menutup auratnya ketika shalat menurut kesepakatan kaum muslimin dan tidak boleh ia shalat dalam keadaaan telanjang, sama saja apakah ia lelaki ataukah wanita.
Wanita lebih sangat lagi auratnya. Kalau lelaki, auratnya dalam shalat adalah antara pusar dan lutut disertai dengan menutup dua pundak atau salah satunya bila memang ia mampu, berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jabir Radhiyallahu ‘anhu:
إِنْ كَانَ الثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِف بِهِ، وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ
“Bila pakaian/kain itu lebar/lapang maka berselimutlah engkau dengannya (menutupi pundak) namun bila kain itu sempit bersarunglah dengannya (menutupi tubuh bagian bawah).” (Muttafaqun ‘alaihi)
Juga berdasar sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu:
لاَيُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ
“Tidak boleh salah seorang dari kalian shalat dengan mengenakan satu pakaian/kain sementara tidak ada sedikitpun bagian dari kain itu yang menutupi pundaknya.”
Hadits ini disepakati keshahihannya.
Adapun wanita, seluruh tubuhnya aurat di dalam shalat terkecuali wajahnya.
Ulama bersilang pendapat tentang dua telapak tangan wanita: Sebagian mereka mewajibkan menutup kedua telapak tangan. Sebagian lain memberi keringanan (rukhshah) untuk membuka keduanya. Perkaranya dalam hal ini lapang, insya Allah. Namun menutupnya lebih utama/afdhal dalam rangka keluar dari perselisihan ulama dalam masalah ini.
Adapun dua telapak kaki, jumhur ahlil ilmi (mayoritas ulama) berpendapat keduanya wajib ditutup.
Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha:
إِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ
“(Boleh) apabila dira’ tersebut luas/lebar hingga menutupi punggung kedua telapak kakinya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Bulughul Maram berkata, “Para imam menshahihkan mauqufnya hadits ini atas Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha (yakni, ucapan ini adalah perkataan Ummu Salamah bukan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, red.).”
Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, wajib bagi lelaki dan wanita untuk mengenakan pakaian yang dapat menutupi tubuhnya, karena kalau pakaian itu tipis tidak menutup aurat batallah shalat tersebut. Termasuk di sini bila seorang lelaki memakai celana pendek yang tidak menutupi kedua pahanya dan tidak memakai pakaian lain di atas celana pendek tersebut sehingga dua pahanya tertutup, maka shalatnya tidaklah sah.
Demikian pula wanita yang mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi auratnya maka batallah shalatnya. Padahal shalat merupakan tiang Islam dan rukun yang terbesar setelah syahadatain, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin, pria dan wanita, untuk memberikan perhatian terhadapnya dan menyempurnakan syarat-syaratnya serta berhati-hati dari sebab-sebab yang dapat membatalkannya, berdasar firman Allah Azza wa Jalla:
“Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (ashar)…” (Al-Baqarah: 238)
Dan firman-Nya:
“Tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
Tidaklah diragukan bahwa memerhatikan syarat-syarat shalat dan seluruh yang Allah Azza wa Jalla wajibkan berkenaan dengan shalat masuk dalam makna penjagaan dan penegakan yang diperintahkan dalam ayat.
Apabila di sisi/di sekitar si wanita itu ada lelaki ajnabi saat ia hendak shalat maka wajib  baginya menutup wajahnya. Demikian pula dalam thawaf, ia tutupi seluruh tubuhnya karena thawaf masuk dalam hukum shalat. Wabillahi at-taufiq.”
[Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/410-412]
————————————————

Selasa, 16 September 2014

>>Audio: Kajian Salafiyah Indonesia Sabtu-Ahad 18 – 19 Dzulqa’da 1435H/13-14 September 2014

[www.salafyciampeabogor.blogspot.com]
Berikut Rekaman Kajian Ilmiyah di beberapa tempat di Indonesia…semoga Bermanfaat
1. Purwokerto
Prinsip Salaf Dalam Bermanhaj – Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Sambutan Panitia ~ Al Ustadz Muhammad Rijal, Lc ~ Download Audio Di Sini
Sesi 3 (tanya Jawab) ~ Download Audio Di Sini 
********************************************************
2. Karawang
Dauroh KarawangMuqaddimah 1 ~ Ustadz AbulBaro’ Sirojuddin Abbas Download Audi Di Sini
Muqaddimah 2 ~ Ustadz  Abu Muhammad Musa Download Audi Di Sini
Sesi 1 – Ketika Nasihat Ulama Dianggap Pemecah Ummat – Ustadz Abu Ishaq Muslim Download Audi Di Sini
Sesi 2 – Ketika Nasihat Ulama Dianggap Pemecah Ummat – Ustadz Abu Ishaq Muslim Download Audi Di Sini
Sesi 3 – Urgensi Keterikatan Dengan Para Ulama – Ustadz Abu Abduh Sholehuddin Download Audi Di Sini
Sesi 4 – Mewaspadai Syubhat Dalam Manhaj – Ustadz Abu Muawi’yah Askari Download Audi Di Sini
********************************************************
3. Semarang
Dauroh SemarangMewaspadai Gerakan ISIS Di Indonesia ( Al Ustadz Ayip Syafruddin)
********************************************************
4. Cikarang
Dauroh Cikarang_19Dzulqa'daDakwah Islam Dakwah Penuh Rahmat
Sambutan Panitia – Ustadz Abu Ubaidah ~Download Audio Di Sini
Sesi 1 – Al Ustadz Abu Muawi’yah Askari ~Download Audio Di Sini
Taushiyah – Al Ustadz Abdurrahman Mubarak ~ Download Audio Di Sini
Sesi 2 – Al Ustadz Abu Muawi’yah Askari ~Download Audio Di Sini
Taushiyah Ba’da Isya – Sebab-Sebab Kokohnya Di Atas Islam – Al Ustadz Abu Muawi’yah Askari ~Download Audio Di Sini
********************************************************
5. Depok
Dauroh Depok_18Dzulqa'daBahaya ISIS Terhadap Kaum Muslimin Dan Negara ( Ustadz Abu Muawi’yah Askari)
Sesi 2 (Tanya Jawab) ~ Download Audio Di Sini
********************************************************
6. Balikpapan ~ 
Dauroh BalikpapanAl Ustadz Usamah Mahri, Lc
Sesi 1 – Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul ~Download Audi Di Sini
Sesi 2 – Segera Kembali Terhadap Al Haq ~Download Audi Di Sini
Sesi 3 – Mengikuti Ucapan Ahlul Haq Dan Meninggalkan Ucapan Ahlul Bathil ~ Download Audi Di Sini
Sesi 4 – Kokoh Ketika Mendapat Ujian ~Download Audi Di Sini
Sesi 5 – Keimanan Tentang Melihat Allah Bagi Orang Mu’min Di Akhirat ~ Download Audi Di Sini
Sesi 6 – Keimanan Terhadap Mizan (Timbangan) Amal Di Akhirat ~ Download Audi Di Sini
Sesi 7 – Tanya Jawab ~ Download Audi Di Sini

Kamis, 11 September 2014

[Baru]>>TIGA LANDASAN AKHLAQ MULIA


TIGA LANDASAN AKHLAQ MULIA
Oleh: Abu Umar Al Bankawy
Setelah kita mengetahui bagaimana berakhlaq yang baik terhadap Sang Khaliq, sekarang kita akan beralih ke pembahasan bagaimana berakhlaq baik kepada sesama makhluq.
Para ulama, di antaranya Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa akhlaq yang baik terhadap mahluk berputar pada tiga perkara pula, yaitu:
كَفُّ اْلأَذَى ، وَبَذْلُ النَّدَى، وَطَلاَقَةُ الْوَجْهِ
1. Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa)
2. Suka membantu (Badzlun Nada)
3. Wajah yang berseri (Thalaqatul Wajh)
Pertama: Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa)
Maknanya adalah bahwa seseorang menahan dirinya dari mengganggu orang lain, baik itu gangguan yang berhubungan dengan harta, jiwa, maupun kehormatan. Orang yang tidak bisa menahan dirinya dari mengganggu orang lain, maka ia tidak mempunyai akhlaq yang baik, dan ia berakhlaq jelek. Ketika berlangsungnya Haji Wa’da (Haji Perpisahan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sejumlah besar umat beliau,
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا وفِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian serta kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, di negeri kalian ini.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Jika seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan melakukan pengkhianatan, atau berbuat aniaya dengan memukul, dan kejahatan, atau berbuat aniaya kepada manusia dalam kehormatannya, atau mencela, atau ghibah, maka hal ini tidak termasuk berakhlaq baik kepada manusia, karena ia tidak menahan diri dari mengganggu orang lain. Dan dosanya semakin besar manakala perbuatan aniaya itu dilakukan kepada seseorang yang mempunyai hak paling besar dari Anda.
Misalnya jika seseorang berbuat jahat kepada kedua orangtua, maka dosanya lebih besar, dan akan lebih besar daripada dosa perbuatan jahat kepada selain mereka. Perbuatan jahat kepada karib kerabat lebih besar dosanya daripada dosa perbuatan jahat kepada orang yang lebih jauh hubungan kekerabatannya. Perbuatan jahat kepada tetangga lebih besar dosanya dari perbuatan jahat kepada selain tetangga. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَاللهِ لاَ يُؤْمِن، وَاللهِ لاَ يُؤْمِن ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِن
“Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman!”
Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بِوَائِقِهِ
“Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.
2. Suka Membantu/Dermawan (Badzlun Nada)
Makna “Badzlun Nada” adalah bersikap dermawan dan suka membantu. Kedermawanan di sini tidaklah seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa terbatas pada harta saja. Tapi yang dimaksud kedermawanan di sini adalah mendermakan jiwa, kedudukan, dan harta.  Jika kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu mereka, menyebarkan ilmu di antara manusia, mendermakan hartanya kepada manusia, maka kita pun akan mensifati orang tersebut sebagai orang yang berakhlaq baik, karena ia adalah seorang yang dermawan dan suka menolong. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan jelek. Dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ad Darimi)
Dan termasuk dalam sifat ini adalah jika Anda dianiaya atau dipergauli dengan perbuatan buruk, maka Anda pun memberi maaf. Sungguh Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia, Allah berfirman tentang penghuni surga,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:134)
Allah ta’ala berfirman,
وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Dan jika kalian memaafkan maka itu lebih dekat kepada takwa.” (Al Baqarah: 237)
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (An Nur: 22)
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (Asy Syuura: 40)
Dalam berhubungan dengan sesama manusia, seseorang pasti akan mengalami suatu gangguan. Maka dalam menghadapi menghadapi seperti ini, hendaknya dia memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia berkeyakinan kuat bahwa sikap pemaaf dan lapang dada serta berharap untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat bisa merubah permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan.
Allah ta’ala berfirman,
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman setia.” (Al Fushilat: 34)

Ketiga: Wajah yang Berseri (Thalaqatul Wajh)

Yaitu seseorang selalu berwajah ceria, tidak bermuka masam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لا تَحْقِرنَّ مِنَ المَعرُوفِ شَيئاً وَلَوْ أنْ تَلقَى أخَاكَ بِوَجْهٍ طَليقٍ
“Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan sekecil apapun, walaupun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang apa itu kebaikan. Beliau menjawab, “Kebaikan itu adalah wajah yang ceria dan lisan yang lembut.”
Berwajah ceria akan memasukkan kegembiraan pada manusia, mendatangkan rasa kasih sayang dan cinta, mendatangkan kelapangan dalam hati, bahkan mendatangkan rasa lapang dada bagi Anda sendiri dan orang-orang yang Anda temui. Sebaliknya, jika Anda bermuka masam, maka manusia akan menjauh dari diri Anda. Mereka tidak akan suka untuk duduk bersama dan bicara dengan Anda. Dan bisa jadi karena ini Anda ditimpa stress dan tekanan jiwa. Wajah yang ceria dan berseri adalah obat yang mencegah dari penyakit stress atau tekanan jiwa.
Tahukah Anda kalau para dokter menasehati orang yang ditimpa penyakit stress untuk untuk menjauhi dari perkara-perkara yang bisa memicu amarah, karena amarah hanya akan menambah tekanan jiwanya? Sebaliknya wajah yang ceria akan mengobati penyakit ini, karena orang-orang di sekitar Anda akan mencintai Anda dan Anda menjadi mulia di sisi mereka. Ini adalah tiga landasan akhlaq mulia, di mana pada tiga hal inilah berkisar sikap berakhlaq baik dalam bermuamalah dengan mahluk yaitu:
1. Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa)
2. Suka membantu (Badzlun Nada)
3. Wajah yang berseri (Thalaqatul Wajh)
Semoga bisa bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab. (bersambung)
REFERENSI:
- MAKAARIMUL AKHLAQ KARYA ASY SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN

Rabu, 10 September 2014

>>>(Audio) Download Kajian Salafiyah di Beberapa tempat di Indonesia 11 – 12 Dzulqo’dah 1435H/6-7 September 2014


Berikut Rekaman Kajian Ilmiyah di beberapa temapat di Indonesia…semoga Bermanfaat
Purbalingga-06-Agustus-2014
1. Purbalingga * Al Ustadz Muhammad Afifuddin
~Radikalisme dalam Timbangan Syariat Islam~
2. Sambutan Aparat Desa Brobot ~ Download Audio Di Sini
3. Sesi II ~ Download Audio Di Sini
4. Sesi I II (Tanya Jawab) ~ Download Audio Di Sini
5. Tambahan Tausyiah Ba’da Maghrib ~ Download Audio Di Sini
———————————————————————————————————————
BANYUMAS-12-Dzulqodah-1435-H
2. Purwokerto *Al Ustadz Muhammad Afifuddin
~Peristiwa-Peristiwa Hari Kiamat
3. Sesi II (TJ)` Download Audio di Sini
4. Tausiyah Wajibnya Mensyukuri Hidayah~ Download Audio di Sini
——————————————————————————————————————
cileungsi
3. Cileungsi Bogor * Al Ustadz Ayip Syafruddin
~Hak-Hak Suami Istri
3. Tausiyah Ustadz Muhammad Abu Huzaifah ~ Download Audio di Sini
———————————————————————————————————————
4. Semarang * Al Ustadz Idral Harits-Al Ustadz Qamar Su’aidy Lc
ust idral
*Upaya Pensucian Jiwa (Ustadz Idral Harits)
2. Sesi II ~ Audio Download di Sini

Dauroh Semarang
* Fikih Ibadah (Ustadz Qamar Su’aidy)
2. Sesi II TJ~ Audio Download di Sini


————————————————————————————————————————
Dauroh Bandung
5. Bandung * Al Ustadz Muhammad as Seweed
* Kaidah-Kaidah Salafiyyah & Bimbingan terarah untuk Keluar dari Fitnah Hizbiyah
1. Sesi I ~ Download di Sini
2. Sesi II~ Download di Sini

————————————————————————————————————————
Aceh
6. Aceh * Al Ustadz Luqman Ba’abduh
Antisipasi ISIS Menurut Syariat
1. Sesi I ~ Download di Sini
2. Sesi II ~ Download di Sini
3. Sesi III!~ Download di Sini
4. Tanya Jawab 01~ Download di Sini
5. Tanya Jawab 02~ Download di Sini
————————————————————————————————————————
kolaka
7. Kolaka * Al Ustadz Abu Dihya Kamal al Atsary
Jalan Keluar dari Fitnah
1. Sesi I~ Download di Sini
3. Sesi III~ Download Audio di Sini
————————————————————————————————————————
 8. Wonogiri * Al Ustadz Abu Ubaid Fauzan & Ustadz Abu Huzaifah
1. Keutamaan Ilmu & Ahli Ilmu/Ustadz Fauzan Download di Sini
2. Agar Rumah Tangga Bahagia/Ustadz Abu Huzaifah Download di Sini
————————————————————————————————————————
limo
9. Limo Depok * Al Ustadz Ayip Syafruddin & Ustadz Fauzan & Ustadz Abu Huzaifah Muhammad
1. Arba’in Nawawiyyah Download di Sini
2. Al Qawaidul Arba Download di Sini
3. Tausiyah Ustadz Abu Huzaifah Download di Sini