INGAT SHALAT :

Rabu, 23 Juli 2014

>>Kelemahan Hadits-hadits Yang Menyebutkan Bacaan Basmalah Secara Jahr


KELEMAHAN HADITS-HADITS YANG MENYEBUTKAN BACAAN BASMALAH SECARA JAHR
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahberkata:
“Ulama yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits telah bersepakat, tidak ada satu pun hadits (sahih, pen.) yang tegas menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Demikian pula, tidak diketahui ada salah satu kitab sunan yang masyhur—seperti Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i—yang membawakan periwayatan basmalah secara jahr. Periwayatan yang menyebutkan secara jahr hanya didapatkan dalam hadits-hadits maudhu’ah (palsu) yang diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Mawardi—dalam Tafsir—dan yang serupa dengan beliau berdua, atau disebutkan di beberapa kitab fuqaha yang tidak membedakan antara riwayat yang palsu dan yang tidak.
Ketika Al-Imam Ad-Daraquthni  datang ke Mesir, beliau pernah diminta mengumpulkan hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Beliau pun melakukannya. Ketika beliau ditanya, adakah yang sahih dari hadits-hadits tersebut? Beliau menyatakan, “Adapun dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak didapatkan, sedangkan atsar dari sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ada yang sahih dan ada pula yang dhaif (lemah).” (Majmu’ Fatawa, 22/416,417)
Beliau juga berkata, “Sebenarnya, banyak beredar kedustaan dalam hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr karena orang-orang Syi’ah berpendapat bacaan basmalah dijahrkan, padahal mereka dikenal oleh kaum muslimin sebagai kelompok yang paling pendusta di antara kelompok-kelompok sempalan dalam Islam. Mereka memalsukan hadits-hadits dan membuat rancu agama mereka dengan hadits-hadits tersebut.
Oleh karena itu, didapatkan ucapan imam Ahlus Sunnah dari penduduk Kufah, seperti Sufyan ats-Tsauri, yang menyatakan bahwa termasuk sunnah adalah mengusap kedua khuf dan meninggalkan membaca basmalah secara jahr. Sebagian mereka juga menyebutkan bahwa Abu Bakr dan Umar lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama dan lebih mulia daripada para sahabat yang lainnya, dan ucapan-ucapan yang semisalnya, karena hal-hal tersebut—yaitu tidak mau mengusap khuf, membaca basmalah secara jahr, menganggap ada yang lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama, dan lebih mulia daripada Abu Bakr dan Umar—merupakan syiar Rafidhah. Ada pula seorang imam mazhab Syafi’i, Abu Ali ibnu Abi Hurairah, yang meninggalkan jahr ketika membaca basmalah. Ketika ditanya sebabnya, beliau t berkata, “Karena membaca basmalah secara jahr telah menjadi syiar orang-orang yang menyelisihi agama.”(Majmu’ Fatawa, 22/424)
Hadits yang menyebutkan secara tegas bahwa basmalah diucapkan dengan jahr diriwayatkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (hadits no. 145), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/233), dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya (2/47), dari jalan Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Bakr bin Hafsh bin Umar, dari Anas bin Malik, bahwasanya Mu’awiyah  pernah mengimami shalat di Madinah dan menjahrkan bacaan Al-Qur’an, membaca basmalah sebelum membaca Al-Fatihah, dan tidak membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Al-Fatihah sampai selesai bacaan tersebut. Beliau z tidak bertakbir ketika turun sujud hingga selesai shalat. Setelah mengucapkan salam dari shalatnya, para sahabat Muhajirin yang mendengar hal tersebut menyerunya dari setiap tempat, “Wahai Mu’awiyah, apakah engkau mencuri shalat, ataukah engkau lupa?” Setelah peristiwa itu, bila shalat mengimami manusia, Mu’awiyah membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Ummul Qur’an (Al-Fatihah) dan bertakbir ketika turun sujud.
Hadits yang lain diriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari bapaknya, bahwasanya Mu’awiyah pernah mengimami penduduk Madinah tanpa membaca basmalah dan tanpa bertakbir ketika melakukan gerakan turun dan naik dalam shalat. Beliau ditegur oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar, kemudian disebutkanlah hadits yang semakna dengan hadits di atas. (Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i no. 146)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, hadits ini dhaif ditinjau dari beberapa sisi.
1. Riwayat yang sahih dan masyhur menyebutkan secara jelas penyelisihan dari Anas z terhadap riwayat di atas.
2. Poros sanad dalam kedua hadits tadi dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim. Ia dilemahkan sekelompok ahlul hadits. Mereka memandang hadits ini mudhtharib/goncang periwayatannya, baik secara sanad maupun matan. Ini menjelaskan bahwa hadits tersebut ghairu mahfuzh (mungkar).
3. Pada sanadnya tidak ada kesinambungan mendengarnya seorang perawi dari perawi yang lain. Bahkan, dalam sanad itu ada kelemahan dan kegoncangan yang dikhawatirkan menyebabkan inqitha’ (terputusnya sanad), juga jeleknya hafalan perawinya.
4. Anas tinggal di Bashrah, sedangkan ketika Mu’awiyah z di Madinah, tidak ada seorang ulama ahli sejarah pun yang menyebutkan Anas bersamanya. Bahkan, secara zahir Anas tidak bersama Mu’awiyah.
5. Kalaupun benar terjadi di Madinah dan perawinya adalah Anas, tentu murid-murid beliau yang terkenal menemani beliau—demikian juga penduduk Madinah—akan meriwayatkan hadits tersebut dari beliau. Akan tetapi, tidak didapatkan salah seorang dari mereka yang meriwayatkan dari Anas, bahkan yang dinukil dari mereka justru sebaliknya.
6. Bila benar Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr, ini menyelisihi kebiasaan beliau yang dikenal oleh penduduk Syam yang menemani beliau, sementara tidak ada seorang pun dari mereka yang menukilkan bahwa Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr. Bahkan, seluruh penduduk Syam, baik pemimpin maupun ulamanya, berpendapat tidak menjahrkan bacaan basmalah. Dalam hal ini Al-Imam Al-Auza’i sendiri—yang dikenal sebagai imam negeri Syam—bermazhab seperti mazhab Al-Imam Malik, yaitu tidak membaca basmalah sama sekali, baik sirr ataupun jahr.
Dengan demikian, orang yang berilmu (para muhaddits) yang melihat beberapa sisi ini akan memastikan bahwa hadits ini batil, tidak ada hakikatnya, atau telah diubah dari yang sebenarnya. Adapun yang membawakan hadits ini, telah sampai kepadanya (hadits tersebut) dari jalan yang tidak sahih, sehingga menimbulkan cacat berupa terputusnya sanad.
Kalaupun hadits ini selamat, dia tetap syadz (ganjil), karena menyelisihi periwayatan perawi yang banyak dan lebih kokoh (hafalannya) yang meriwayatkan dari Anas bahkan menyelisihi periwayatan penduduk Madinah serta Syam. Sumber : dari www.forumsalafy.net
[Majmu’ Fatawa, 22/431—433]


Sabtu, 19 Juli 2014

>>>DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “MIRATSUL ANBIYA” Ke-10 1435 H/2014 M

<<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>>


Alhamdulillah, dengan pertolongan dan taufik dari Allah,
insya Allah akan hadir kembali…
 DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH 

“MIRATSUL ANBIYA” Ke-10 1435 H/2014 M
dengan tema
“URGENSI ULAMA DI TENGAH UMAT KETIKA FITNAH 

MELANDA”,
Dengan pembicara:
✔ Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
✔ Asy-Syaikh Badr bin Muqbil azh Zhafiri (Arab Saudi)
✔ Asy-Syaikh Usamah bin Sa’ud al-’Amri (Arab Saudi)
Kajian umum insya Allah diselenggarakan :
di Masjid Agung Manunggal, Bantul pada tanggal Sabtu-Ahad, 13-14 Syawal\ 1435 H (9-10 Agustus 2014);
Daurah asatidzah insya Allah diselenggarakan  :
di Ma’had al Anshar, Kamis-Sabtu, 11-20 Syawal 1435 H (7-16 Agustus 2014).

Kajian ini insya Allah bisa diikuti melalui:
Radio Rasyid
Radio Miratsul-Anbiya
Radio Salafy.or.id

✔ Info Tambahan
Insya Allah akan ada taushiyyah al-Walid al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-

Madkhali hafizhahullah [ teleconference]


Bagi yang ingin bertaawun dana untuk  Dauroh ilmiyah ahlussunah wal jama’ah miratsul anbiya ke 10 , bisa melalui:
✔ Rek. Bank MANDIRI no rek 9000002394642 a.n. LUWIH AGUS TRIYONO,
  
MANDIRI KALIURANG
✔ Rek BCA atas nama BUSONO SUPRAPTO 8610124705 BCA KCP KALIURANG
Konfirmasi pengiriman dana ke no. 0858-6812-9542,  +62 823-2940-6754
Laporan dana yang sudah masuk akan di tampilkan Di salafy.or.id dan miratsul-anbiya.net

Selasa, 24 Juni 2014

>>>Audio: “Ramadhan Dalam Pandangan Syariat”

www.salafyciampeabogor.blogspot.com


Berikut ini Audio Kajian yang di adakan pada Hari Selasa 19 Sya’ban 1435H – 16 Juni 2014M, Tempat Masjid Al Falah Bugih.
Bersama: Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy Hafizhahullah
 ” RAMADHAN DALAM PANDANGAN SYARI’AT “
Sumber : www.forumsalafy.net

Jumat, 20 Juni 2014

>>>Mengingat Kembali Hukum-hukum Puasa ~ Bagian 3

<<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>>

MENGINGAT KEMBALI HUKUM-HUKUM PUASA
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushaby hafizhahullah
BAB KE-5:  HAL-HAL YANG DIANJURKAN BAGI ORANG-ORANG YANG BERPUASA DAN SELAIN MEREKA
Hal-hal yang dianjurkan bagi orang-orang yang berpuasa dan selain mereka:
1. Berusaha melihat hilal.
2. Berdoa ketika melihat hilal.
3. Memperbanyak doa.
4. Mendoakan kebaikan bagi kaum Muslimin.
5. Selalu menyebarkan salam.
6. Menyambung silaturahmi walaupun dengan telpon.
7. Memperbanyak berbuat baik kepada orang-orang yang memiliki hubungan darah.
8. Memperbanyak sedekah.
9. Tersenyum di hadapan saudaramu.
10. Memperbanyak berbuat baik kepada tetangga.
11. Memperbanyak berbuat baik kepada orang-orang yang lemah, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim.
12. Selalu mengucapkan perkataan yang baik.
13. Memperbanyak dzikir.
14. Memperbanyak taubat dan istighfar sebanyak ratusan kali.
15. Memperbanyak mengucapkan “laa ilaha illallah.”
16. Memperbanyak mengucapkan “laa haula wa laa quwwata illa billah.”
17. Memperbanyak mengucapkan “subhanahullah wabihamdihi, subahanallahul azhim.”
18. Memperbanyak mengucapkan shalawat bagi Rasulullah shallallahu alaihi was sallam.
19. Memperbanyak menuntut ilmu.
20. Memperbanyak usaha mendakwahkan agama Allah.
21. Mengharapkan pahala ketika memberi nafkah keluarga.
22. Menjaga wudhu.
23. Bersiwak.
24. Menjaga agar bau badan tetap harum.
25. Mengerjakan shalat dua rakaat sebelum maghrib.
26. Menjaga shalat-shalat sunnah rawatib.
27. Semangat untuk mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib di rumah.
28. Memperbanyak shalat sunnah.
29. Bersegera mendatangi shalat.
30. Selalu berusaha agar mendapatkan shaff pertama.
31. Menunggu shalat setelah selesai shalat.
32. Berusaha memanfaatkan waktu dikabulkannya doa pada hari Jum’at.
33. Berusaha memanfaatkan waktu dikabulkannya doa pada malam hari.
34. Semangat untuk tinggal di masjid hingga terbitnya matahari.
35. Duduk bersama orang-orang yang suka berdzikir di pagi dan petang hari.
36. Menjaga dzikir pagi dan petang.
37. Menghadiri taman-taman syurga (mejelis ilmu dan dzikir –pent).
38. Mempelajari Al-Qur’an Al-Karim.
39. Memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an.
40. Melakukan sujud tilawah ketika membaca ayat yang dianjurkan untuk melakukan sujud padanya.
41. Memperbanyak membaca Al-Qur’an.
42. Semangat untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.
43. Berdoa ketika mengkhatamkan Al-Qur’an.
44. Menjenguk orang sakit.
45. Ziyarah kubur.
46. Mengingat kematian, akherat, syurga, dan neraka.
47. Merenungkan ayat-ayat Allah dan makhluk ciptaan-Nya.
48. Bersikap zuhud di dunia.
49. Bersikap zuhud terhadap apa-apa yang di tangan manusia.
50. Mengumpulkan empat hal berikut: dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟
“Siapa diantara kalian yang hari ini berpuasa?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Beliau bertanya lagi:
فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟
“Siapa diantara kalian yang hari ini mengikuti jenazah?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Beliau bertanya lagi:
فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِيْنًا؟
“Siapa diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Beliau bertanya lagi:
فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيْضًا؟
“Siapa diantara kalian yang hari menjenguk orang sakit?”
Abu Bakr menjawab: “Saya.”
Maka beliau berkata:
مَا اجْتَمَعْنَ فِيْ امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Tidaklah perkara-perkara tersebut terkumpul pada seseorang kecuali dia pasti masuk syurga.”(HR. Muslim no. 1028)
Sumber artikel:
Mudzakkirah Fii Ahkamis Shiyam

Alih bahasa: Abu Almass
Rabu, 20 Sya’ban 1435 H
>>>Klik www.tokobagusbogor.blogspot.com

Senin, 16 Juni 2014

>>Audio Kajian Salafiyah Indonesia 15-17 Sya’ban 1435H/13-15 Juni 2014 [TERBARU]

www.salafyciampeabogor.blogspot.com

Berikut ini Rekaman Kajian yang di adakan di beberapa daerah di indonesia
| | |
.
Banjar, 14-15 Juni 2014 PETA1.Ma’had Al ManshurahAl Ustadz Abdurrahman Mubarak
Pembahasan Sekitar Puasa
1. Sesi 1 ~  Download Audio di Sini
2. Sesi 2 ~  Download Audio di Sini
3. Sesi 3 ~  Download Audio di Sini
4. Sesi 4 ~  Download Audio di Sini
5. Sesi 5 ~  Download Audio di Sini
6. Sesi 6 ~  Download Audio di Sini
7. Sesi 7 ~  Download Audio di Sini
8. Tausiyah Ummahat ~  Download Audio di Sini
*********************************************************************************************************************
syaikh ghalib2. Ma’had Ibnul Qayyim Balikpapan @ Asy Syaikh Dr Muhammad bin Ghalib Hasan
1. Khutbah Jum’at – Nasehat Menyongsong Datangnya Bulan Suci Ramadhan ~  Download Audio di Sini
2. [Sesi 1] Mengikuti Metode Salafus Shaleh Dalam Beragama ~  Download Audio di Sini
3. [Sesi 2] Hak-Hak Allah dan Hak Makhluk ~  Download Audio di Sini
4. [Sesi 3] Tanya Jawab ~  Download Audio di Sini
5. Tausyiah Ba’da Fajr – Wasiat-Wasiat Indah Untuk Penuntut Ilmu Syar’i  ~  Download Audio di Sini
*********************************************************************************************************************
3. Masjid Al Mujahidin Jakarta * Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsary
1. Sesi 1 Tafsir Ibnu Katsir Download di Sini
2. Sesi 2 Tafsir Ibnu Katsir Download di Sini
*********************************************************************************************************************
cilegonA4. Masjid As Salam Cilegon * Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar
1. Tausiyah Keikhlasan dalam Berdakwah Download di Sini
2. Sesi 1 Kesah, Resah dan Gelisah Kita Download di sini
3. Tanya Jawab Download di Sini
*********************************************************************************************************************
5. Ma’had Al Faruq Purwokerto * Al Ustadz Muhammad as Seweed
1. Sesi 1 Bernadzar untuk selain Allah termasuk kesyirikan Download di Sini
2. Sesi 2 Bernadzar untuk selain Allah termasuk kesyirikan Download di Sini
3. Sesi Tanya Jawab Download di Sini
4. Tausiyah Tentang Pendidikan Download di Sini
*********************************************************************************************************************
Semarang Ca6. Masjid Asy Syifa Semarang * Al Ustadz Abu Yahya Muslim
1. Sesi 1 Pentingnya Tauhid Download di Sini
2. Sesi 2 Keutamaan Mengikuti Sunnah Download di Sini
3. Tanya Jawab Download di Sini
*********************************************************************************************************************
kajian salafy 15juni147. Masjid Agung Darussalam Purbalingga *Al Ustadz Luqman Ba’abduh
1. Sesi 1 Mengenal Salafy Lebih Dekat Download di Sini
2. 1. Sesi 1 Mengenal Salafy Lebih Dekat Download di Sini
@ Tausiyah Masjid Aisyah Ma’had al Manshurah Purbalingga
1. Pentingnya Silaturrahim Ustadz Abdush Shammad Download di Sini
2. Keutamaan Ilmu Ustadz Alfiyan Download di Sini
*********************************************************************************************************************
dauroh fiqh8. Masjid Darul Arqam Surabaya * Al Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc
1. Sesi 1 Fiqh Seputar Puasa Download di Sini
2. Sesi 2 Fiqh Seputar Puasa Download di Sini
3. Sesi Tanya Jawab Download di Sini


* Kami Haturkan Kepada Semua Ikhwah yang sudah turut serta berbagi Faedah dengan Mengirimkan Rekaman Kajian Kepada Kami baik berupa Audio ataupun Link Download Kajian Semoga Tercatat sebagai Amalan Shalih di sisi Allah dan Bermanfaat bagi Kaum Muslimin. Baarokallohu Fiikum

Sabtu, 14 Juni 2014

>>>Bolehkah Bedah Mayat Dan Otopsi Jenazah


BEDAH MAYAT & OTOPSI JENAZAH
Kami mengharapkan jawaban tentang hukum Islam terhadap mahasiswa kedokteran yang ketika masa kuliahnya melakukan praktikum bedah mayat. Selain itu mereka harus menyingkap aurat wanita atau sebagiannya. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut dalam rangka mempelajari kedokteran dan harus dilakukan agar mereka tidak menjadi dokter yang bodoh (tentang anatomi) dan tidak bisa mengobati penyakit yang diderita wanita. Apabilaini terjadi, tentulah para wanita muslimah akan ditangani oleh dokter-dokter Nasrani atau yang lain.
Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Pertama; tentang operasi bedah mayat, telah keluar ketetapan dari Haiah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Besar) Kerajaan Arab Saudi yang garis besarnya sebagai berikut. Masalah ini terbagi tampak memiliki tiga keadaan:
a. Bedah mayat (otopsi) untuk meneliti sebuah kasus kriminalitas.
b. Otopsi untuk meneliti sebuah penyakit yang mewabah dalam rangka menemukan prosedur perlindungan (masyarakat) dari penyakit tersebut.
c. Bedah mayat untuk kepentingan ilmu pengetahuan, yakni kegiatan belajar dan mengajar. Setelah komisi yang terkait bertukar pikiran, beradu argumentasi, dan mempelajari masalah di atas, forum  mengeluarkan ketetapan sebagai berikut. Tentang dua keadaan yang pertama (yakni poin a dan b), forum memandang bahwa pembolehannya bisa mewujudkan banyak maslahat dalam bidang keamanan dan pengadilan, serta perlindungan masyarakat dari penyakit yang mewabah. Efek negatif tindakan otopsi tersebut akan tertutup oleh sekian banyak maslahat yang nyata dan berdampak luas.
Oleh karena itu, forum sepakat menetapkan bolehnya pembedahan mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat tersebut terlindungi (oleh hukum syariat, -pent.) maupun tidak. Adapun terkait dengan jenis bedah mayat yang ketiga, yaitu untuk kepentingan ilmiah, dengan mempertimbangkan bahwa:
• syariat Islam membawa terwujudnya maslahat dan memperbanyaknya,
• syariat Islam mencegah mafsadat dan mempersedikitnya,
• bolehnya dilakukan sebuah tindakan yang lebih kecil kerusakannya untuk menghilangkan hal yang kerusakannya lebih besar,
• apabila dua hal yang bermaslahat ternyata kontradiktif, dipilih yang lebih banyak efek positifnya,
• pembedahan terhadap hewan tidak bisa menggantikan pembedahan mayat,
• operasi bedah mayat berefek positif terhadap kemajuan berbagai bidang ilmu kedokteran; maka forum memandang bolehnya operasi bedah mayat manusia secara global. Di sisi lain, forum mempertimbangkan:
• perhatian syariat Islam terhadap kemuliaan seorang muslim yang telah meninggal sebagaimana saat hidupnya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
كَسْرُ عَظْم الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا
“Mematahkan tulang mayat (hukumnya) seperti mematahkannya saat ia hidup.”
• pembedahan mayat mengandung perendahan terhadap kemuliaan seorang muslim,
• kebutuhan operasi bedah mayat muslim bisa diganti dengan mayat yang tidak dilindungi (oleh syariat); maka forum memandang hendaknya dicukupkan dengan operasi bedah terhadap mayat yang semacam ini dan tidak melakukannya terhadap mayat yang dilindungi (oleh syariat), dalam keadaan yang telah disebutkan.
Wallahul muwaffiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Haiah Kibarul Ulama
Kedua; tentang menyingkap aurat wanita, apabila ada wanita lain yang bisa melakukannya, seorang lelaki tidak boleh melakukannya. Apabila tidak ada wanita yang bisa melakukannya—sementara adafaktor yang mengharuskan aurat si wanita disingkap—seorang lelaki muslim boleh melakukannya sekadarnya, dalam rangka mengetahui penyakit si wanita. Apabila mayatnya adalah wanita nonmuslim atau yang tidak dilindungi (oleh syariat), tidak ada halangan auratnya disingkap dalam rangka kegiatan belajar mengajar dan mengetahui penyakit-penyakit yang diderita wanita sekaligus cara penyembuhannya, berdasarkan ketetapan Haiah Kibarul Ulama yang disebutkan di atas.
###########################
Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa)
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil: Abdur Razzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud (Fatawa al-Lajnah 25/93—95,
pertanyaan ke-4 dari fatwa no. 3685)

Sumber Artikel : Majalah Asy Syariah online
Klik : www.tokobagusbogor.blogspot.com   atau www.engkuskurniadi.wordpress.com

Jumat, 13 Juni 2014

>>>UPDATE AUDIO Merauke, Malaysia dan Magelang

2014 JUNI-Papua7Juni14
Berikut ini Rekaman Daurah yang di adakan di Merauke Papua bersama Al Ustadz Muhammad as Seweed Hafizhahullah
2014 JUNI-Papua7Juni14~1. Merauke * Al Ustadz Muhammad as Seweed
1. Khutbah Jum’at Download di Sini
2. Sesi 1 Sabar terhadap Ujian dan Musibah Download di Sini
3. Sesi 2 Sabar terhadap Ujian dan Musibah Download di Sini
4. Tausiyah Keutamaan Menuntut Ilmu Download di Sini
5. Sesi 1 Tegar di atas Sunnah Download di Sini
6. Sesi 2 Tegar di atas Sunnah Download di Sini
7. Tausiyah Keharmonisan dalam Rumah Tangga Download di Sini
8. Sesi 1 Pembatal-Pembatal Keislaman Download di Sini
9. Sesi 2 Pembatal-Pembatal Keislaman Download di Sini
10. Nasehat Buat Salafiyin dalam Menghadapi Fitnah Download di Sini

**Sumber : Panitia Kajian Islam Merauke-Papua
****************************************************************************
Dauroh Malaysia2. Malaysia * Al Ustadz Abu Karimah Asykari
1. Sesi 1 Kokoh di atas Badai Fitnah Download di Sini
2. Sesi 2 Kokoh di atas Badai Fitnah Download di Sini

***************************************************************************

3. Magelang * Al Ustadz Abu Nasiim Mukhtar
* Dosa Namimah yang tidak Kita sadari Download di Sini