Jumat, 10 Januari 2014

>>Maafkan Ananda, Bunda ...

<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>

Maafkan Ananda, Bunda.

Ibunda tercinta…
Hati Ananda terasa terombang-ambing oleh rasa bersalah yang tak bertepian. Gelombang dan arus perasaan berdosa membuat Ananda terpuruk dalam pusaran sesal disertai kisaran-kisaran angin kesedihan. Jiwa Ananda bagi remuk redam. Bagaimana tidak demikian perasaan Ananda? Sementara di hadapan Ananda termaktub sebuah rangkaian sabda nabi Muhammad yang membuat Ananda tergetar kencang.
Rasulullah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim,
رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
.
“Celakalah dia! Celakalah dia! Celakalah dia!”.Ada sahabat yang bertanya,”Siapakah yang Anda maksudkan,wahai Rasulullah?”.Beliau menjelaskan,”Seseorang yang masih berkesempatan untuk menemui kedua orangtuanya ketika telah lanjut usia,atau salah seorang dari mereka,akan tetapi hal itu tidak menyebabkan dirinya masuk ke dalam surga”
Astaghfirullahal adziim!
.
Semoga Ananda tidak termasuk dalam golongan manusia yang disebutkan dengan kejelekan oleh Rasulullah di dalam hadits di atas. Ananda bertekad untuk masuk surga dengan menjadi anak yang berbakti selagi kesempatan masih tersisa. Nabi Muhammad secara khusus menerangkan bakti anak kepada orangtuanya pada saat telah lanjut usia karena umumnya semakin bertambah lanjut usia orangtua maka akan semakin berkurang pula perhatian seorang anak untuk mereka.
.
Ibunda sayang…
Ananda membayangkan betapa susah dan sulitnya hari-hari Bunda saat mengandung dalam masa sembilan bulan lebih. Begitu terasa… Ananda belum bisa membalas perjuangan Bunda walaupun hanya setitik. Tak terbayangkan bagaimana pengorbanan Bunda tatkala mempertaruhkan nyawa demi melahirkan Ananda di dunia fana ini… Sungguh luar biasa pengorbananmu, Bunda..!
Ananda tidak mampu membayangkan kesabaran dan ketabahan Bunda selama dua tahun untuk menggendong dan menyusui Ananda. Setiap saat… setiap waktu… Ananda selalu merepotkan Bunda dengan tangisan dan rengekan. Malam-malam itu… Bunda pasti terusik oleh tangisan Ananda yang memecah kesunyian malam. Belum lagi sepanjang siang yang membuat Bunda tak mampu tenang beristirahat karena kenakalan Ananda. Bunda memang sungguh-sungguh orang hebat..!
Maha Benar Allah dalam firman Nya ;
وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ  وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. 31:14)
.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)
 .
Ibunda tercinta…
Maafkanlah Ananda… yang terlambat untuk merasakan keindahan dan keluhuran ajaran-ajaran Islam. Selama ini Ananda menganggap Bunda hanyalah seperti orang lain yang biasa-biasa saja di mata Ananda. Telah berapa banyak petuah-petuah dari Bunda yang Ananda abaikan begitu saja. Bahkan tidak jarang Ananda ditegur Allah karena tidak mengindahkan petuah-petuah Ibunda. Sekali lagi, maafkanlah Ananda…
Duhai alangkah indahnya Allah berfirman di dalam kedua ayat di atas! Demi Allah, tidak ada ajaran hidup yang lebih sempurna dibandingkan Islam! Sungguh tidak ada ajaran hidup yang lebih lengkap dan lebih sempurna bila dibandingkan Islam! Islam benar-benar sempurna di dalam mengatur tata kehidupan manusia. Dan semua ajaran Islam akan berujung dengan ketentraman jiwa dan ketenangan hati bagi siapa saja yang merealisasikannya secara jujur di dalam hidupnya.
.
Ibunda sayang…
Seringkali perintah berbakti kepada orangtua diletakkan di urutan kedua setelah perintah untuk taat kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Bukankah kenyataan ini menjadi bukti bahwa Islam sangat menghormati dan memuliakan hak-hak orangtua? Ayat-ayat di atas pun disebutkan Allah setelah ayat sebelumnya yang berisi perintah kepada seluruh hamba untuk beribadah secara murni kepada Nya dan tidak mempersekutukan Nya dalam kubangan syirik.
Subhaanallah! Oleh sebab itu, maafkanlah Ananda yang terlambat menyadari hal ini…
Suatu waktu (hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari dan Muslim), seorang sahabat datang menemui nabi Muhammad untuk bertanya,
”Wahai Rasulullah,siapakah gerangan orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik dariku?”
“Ibumu!”, dengan tegas nabi Muhammad menerangkan. Sahabat itu bertanya untuk yang kedua kalinya, ”Lalu setelah itu,siapakah gerangan?”
“Ibumu!”, nabi Muhammad mengulang jawaban yang sama. Kali yang ketiga sahabat itu bertanya, ”Lalu setelah itu siapa lagi?”
“Ibumu!”, tetap dengan jawaban yang sama Rasulullah menjawab pertanyaan ketiga. Terakhir kali sahabat itu bertanya, ”Kemudian siapakah berikutnya?”
“Ayahmu!”, demikian nabi Muhammad menjawab.
Masya Allah! Indah sekali Islam yang memerintahkan setiap anak untuk berbakti kepada orangtuanya terkhusus ibu.
.
Ibunda tercinta…
Ananda pernah mendengar sebuah hadits yang berbunyi demikian,
الْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ
 “Surga itu di bawah telapak kaki ibu”
Hal ini memang luar biasa! Akan tetapi berikutnya Ananda pun mengetahui bahwa hadits di atas adalah hadits yang dipalsukan atas nama nabi Muhammad. Beberapa ulama memang menyebutkan riwayat di atas lengkap dengan sanadnya, akan tetapi setelah diperiksa dan diteliti oleh seorang ahli hadits masa kini bernama Syaikh Al Albani (Silsilah Dha’ifah 593) ternyata hadits tersebut palsu. Allahul musta’an…
Meskipun demikian, hadits yang ternyata palsu di atas sama sekali tidak mengurangi rasa bakti Ananda kepada Ibunda. Toh hadits Abu Hurairah sebelumnya sudahlah cukup sebagai motivasi bagi Ananda untuk berbakti kepada Ibunda. Apalagi Allah di dalam kedua ayat surat Luqman di atas menyebutkan kelebihan-kelebihan seorang ibu dibandingkan ayah. Hal ini tentu tidak dapat diingkari meskipun oleh sang ayah sendiri,sebab sang ayah pun terlahir dari seorang ibu.
.
Ibunda sayang…
Ananda ingin sekali meneladani para ulama Salaf di masa lalu yang benar-benar menjadi contoh hidup di dalam berbakti kepada ibundanya.
Ananda ingin mencontoh Manshur bin Al Mu’tamir yang menyisir rambut ibunya untuk membersihkan kutu kemudian merapikannya kembali.
Ananda ingin meniru Al Imam Abu Hanifah yang selalu mengajak serta ibunya untuk menghadiri majlis-majlis ilmu karena khawatir jika ibunya menginginkan sesuatu beliau tidak dapat memenuhinya bila ditinggalkan.
Ananda ingin menyamai Muhammad bin Al Munkadir yang lebih memilih untuk memangku kedua telapak kaki ibunya semalam suntuk dibandingkan menegakkan qiyamulail.
Ananda ingin meneladani Kahmas bin Al Hasan yang berusaha membunuh seekor kalajengking. Namun kalajengking itu bergerak cepat sehingga bisa bersembunyi di dalam sebuah lubang. Kahmas pun memasukkan tangannya ke dalam lubang tersebut yang mengakibatkan tangannya disengat oleh kalajengking. Saat Kahmas ditanya,
”Kenapa Anda nekat melakukan hal ini?”
 “Aku khawatir jika kalajengking ini keluar dari liangnya ia akan menyengat ibuku!”, jawab Kahmas.
Subhaanallah!
Ananda juga ingin meniru Zainal Abidin Ali bin Al Husain yang tidak pernah mau untuk makan semeja dengan ibunya. Ketika hal ini ditanyakan kepada beliau,
”Mengapa Anda tidak mau makan semeja dengan ibunda Anda sendiri? Padahal engkau dikenal sebagai anak yang paling berbakti kepada orangtuanya?”
“Aku takut mengambil sesuatu sementara pandangan ibuku telah mendahuluinya.Dengan demikian aku telah durhaka kepadanya”,seperti itu beliau menjawab.
Masya Allah!
Ananda sangat ingin mencontoh Muhammad bin Sirin yang dianggap oleh orang sedang mengalami sakit jika berbicara dengan ibunya. Anggapan ini muncul karena Muhammad bin Sirin berbicara dengan lembut dan penuh sopan kepada ibunya, mirip orang yang sedang jatuh sakit.
Ibunda sayang…
Rasa-rasanya Ananda ingin mencium kening Ibunda di tiap pagi dan petang lalu bertanya, ”Perintah apa yang harus Ananda lakukan hari ini untuk Bunda?” Ananda ingin membahagiakan hati Bunda semampu Ananda bisa lakukan. Berbicara dengan kelembutan dan kasih sayang. Semua Ananda lakukan dengan harapan Allah memudahkan Ananda masuk ke dalam surga Nya.
Seorang ulama bernama Iyas bin Mu’awiyah terlihat menangis tersedu-sedu ketika ibunya wafat. Ada seseorang bertanya,
”Kenapa Anda menangis?” Iyas pun menjawab, ”Sebelum ini, ada dua pintu surga yang selalu terbuka untukku. Namun kini salah satunya telah tertutup”.
Alhamdullillah, ya Allah…
Engkau masih berkenan melimpahkan rahmat dan hidayah Mu untuk hamba Mu yang penuh dosa ini. Engkau telah menyadarkan hamba Mu dengan mengenalkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah tentang perintah berbakti kepada orang tuanya. Engkau telah memberikan kesempatan kepada hamba Mu untuk berusaha memasuki surga yang Engkau janjikan dengan keberadaan orangtuaku.
Entah tidak mampu hamba membayangkan tentang orang-orang itu! Betapa merugi dan menyesalnya mereka kelak.
Orang-orang itu adalah mereka yang terbiasa membentak, memaki bahkan menganiaya orangtuanya sendiri. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tega membunuh orangtuanya hanya karena berselisih pendapat. Atau ada juga di antara mereka yang berharap besar agar orangtuanya segera meninggal dunia saja agar harta warisannya segera berpindah tangan ke mereka. Na’udzu billah min dzalik…
Entah tidak mampu hamba membayangkan tentang orang-orang itu! Betapa merugi dan menyesalnya mereka kelak.
Orang-orang itu yang telah membicarakan rencana ke depan, ”Di Panti Jompo manakah orangtua kita akan dititipkan?” Mereka yang menganggap orangtua sebagai ‘beban’ yang menyulitkan saja. Mereka yang tidak senang jika melihat orangtuanya datang berkunjung ke rumahnya. Mereka yang tidak bersabar ketika orangtuanya telah mulai pikun dan linglung. Mereka yang jauh dari nilai-nilai Islam sehingga tidak mengerti bagaimanakah seorang anak mesti berbakti.
Mereka tidak sadar bahwa esok hari anak-anak mereka pun akan memperlakukan mereka sama dengan perlakuan mereka kepada orangtuanya!
Ibunda tercinta…
Setelah mencoba meresapi makna tiap-tiap kata dari kedua ayat surat Luqman di atas, Ananda semakin yakin akan keindahan dan keluhuran ajaran Islam. Betapa tidak! Jangankan dalam urusan duniawi yang hina dan rendah ini, Islam tetap juga memerintahkan agar setiap anak berbakti dan berbuat baik kepada orangtuanya walaupun berbeda agama berlainan keyakinan.
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (QS. 31:15)
 .
Luar biasa ajaran Islam!
Asma’ bintu Abi Bakar (riwayat Bukhari Muslim) menceritakan tentang kedatangan ibunya ke kota Madinah semasa gencatan senjata antara kaum muslimin dan kaum Quraisy. Saat itu ibunya masih dalam keadaan musyrik. Asma’ pun bertanya kepada Rasulullah,
 “Wahai Rasulullah, ibuku datang menemuiku dengan penuh harap, bolehkah saya berhubungan dengannya?” Nabi Muhammad pun bersabda,
    نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
 “Tentu boleh. Jalinlah hubungan dengan ibumu”
.
Ibunda tercinta…
Sesungguhnya yang membuat Ananda tercenung dan termenung adalah status perintah dari Allah di dalam kedua ayat di dalam surat Luqman di atas. Ternyata kedua ayat di atas disebut Allah sebagai wasiat. Artinya pada hari kiamat nanti Ananda dan seluruh anak yang pernah hadir di alam dunai ini harus siap ditanya dan bertanggung jawab, ”Apakah kita telah benar-benar berbakti kepada orangtua?”
Semoga Allah mudahkan…
Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz
(Keterangan : Email untuk Redaksi Majalah Qudwah sebagai naskah edisi 8,
telah diedit tanpa mengubah makna )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar