Senin, 07 Oktober 2013

>>>Pernyataan Rujuk dan Himbauan Untuk Rujuk >


<<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>>
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Telah beredar tuduhan bahwa kami menikam guru kami yang mulia Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah dengan menuduh beliau telah menyimpang aqidahnya, juga tuduhan berdusta atas nama Asy-Syaikh Khalid dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar’i hafizhahumallah tentang pembolehan mendengarkan radio Rodja bagi orang-orang awam, untuk itu ada beberapa catatan yang perlu kami sampaikan:
Pertama: Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak pernah terbetik sedikitpun dalam benak kami untuk menikam dan berdusta terhadap guru-guru kami yang mulia, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, apalagi berani melakukannya. WalhamduliLlah, kami insya Allah ta’ala termasuk orang-orang yang menghormati para ulama Ahlus Sunnah dan mengerti kedudukan mereka, dan itu masih terus kami sampaikan dalam ceramah maupun tulisan kami, sebagai pengamalan terhadap firman Allah ta’ala,
يَرْفَعِ اللَّه الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujadilah: 11]
Dan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا ، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا
“Bukan bagian dari umatku, orang yang tidak menghormati yang tua di antara kami, dan tidak menyayangi yang muda di antara kami, dan tidak mengetahui haknya seorang yang berilmu di antara kami.” [HR. Ahmad dari Ubadah bin Shamitradhiyallahu’anhuShahihut Targhib: 101]
Kedua: Sebagai bukti kami tidak menikam Asy-Syaikh Robi’ hafizhahullah jelas sekali terdapat dalam penafikan kami terhadap penisbatan ucapan tersebut terhadap beliau hafizhahullah, dan itu berdasarkan keterangan Asatidzah yang juga hadir dalam mejelis tersebut, dan ternyata saudara-saudara kami yang lain memiliki bukti bahwa itu memang ucapan beliau hafizhahullah maka kami rujuk dari kesalahan tersebut dan bertaubat kepada Allah ta’ala.
Ketiga: Adapun yang kami katakan sebagai penyimpangan aqidah adalah makna terjemahan “lafzhiyah” dalam benak orang awam terhadap ucapan Asy-Syaikh Robi’ hafizhahullah, yaitu seakan-akan beliau menutup pintu taubat bagi seseorang, dan tidaklah kami berbicara kecuali setelah mendengarkan tentang adanya pendengar radio yang salah dalam memahami ucapan tersebut. Maka inilah maksud kami, dan ternyata apa yang kami katakan tersebut dinilai salah oleh salah seorang Ustadz yang insya Allah ta’ala termasuk orang yang berilmu maka dengan ini kami menyatakan rujuk dari kesalahan tersebut dan bertaubat kepada Allah ta’ala.
Keempat: Adapun penisbatan fatwa terhadap Asy-Syaikh Kholid dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar’i hafizhahumallah tentang pembolehan mendengar radio Rodja bagi orang-orang awam maka yang pertama sanadnya, kami dengarkan dari Al-Akh Amin Abu Ibrohim (alumni Dhiyaus Sunnah Cirebon), dari Al-Akh Romi ketika umroh bersama dua orang Ustadz, mereka mendengarkan hal itu di Saudi, dan yang kedua dari Ustadz ‘Amr hafizhahumullah. Dan ternyata sebagian saudara-saudara kami mengatakan bahwa itu tidak benar, kedua Syaikh tidak berfatwa demikian, maka kemungkinan besar kami yang telah salah dalam menukil atau salah mendengarkan, maka dengan ini kami menyatakan rujuk dan bertaubat kepada Allah ta’ala.
Kelima: Kami berprasangka baik insya Allah ta’ala terhadap orang-orang yang menyebarkan kesalahan para da’i Ahlus Sunnah di internet, bahwa mereka menginginkan agar sang da’i rujuk kepada kebenaran, maka inilah yang kami lakukan, tunduk kepada kebenaran, rujuk dari kesalahan.
Keenam: Oleh karena itu kami pun menghimbau kepada mereka yang menyebarkan kesalahan para da’i juga rujuk kepada kebenaran, bersikap tawadhu’ kepada al-haq, bahwa sebagian yang kalian lakukan telah melampaui batas, kami tidak sedikitpun mengingkari disampaikannya kebenaran secara terbuka dan mengkritik orang yang bersalah, akan tetapi semua itu ada adabnya dalam agama kita yang mulia ini, maka di sini kami ingin menyampaikan beberapa himbauan dan nasihat terhadap para pengkritik, dengan harapan mereka pun rujuk kepada al-haq dan tidak menyombongkan diri.
Himbauan Pertama: Mari Mentaati Nasihat Ulama dan Asatidzah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Para ulama seperti Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhari, Asy-Syaikh ‘Utsman As-Salimi dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar’i hafizhahumullah yang mengetahui adanya perselisihan para da’i di Indonesia, menasihati hendaklah saling menasihati secara baik, bukan saling mentahdzir antara sesama Ahlus Sunnah, dan Al-Ustadz Muhammad As-Sewed hafizhahullah mengetahui adanya nasihat tersebut, sehingga beliau termasuk orang yang pertama menasihati agar website-website yang mengkhususkan diri dalam bidang tersebut untuk segera rujuk kepada kebenaran, berikut transkrip nasihat beliau:
Pertanyaan:
Yaa Ustadz, Syaikh ‘Utsman As-Salimi dan Syaikh ‘Abdullah Al-Mar’iy telah menasehatkan agar tahdziran di internet (kepada) asatidzah ahlussunnah segera dicabut dan dihapus. Tapi situs tukpencarialhaq.com dan ‘atsarsunnah‘* belum juga mencabut tahdzirannya kepada Ustadz Dzulqarnain dan ustadz lainnya. Apa nasehat ustadz kepada pengelola situs-situs tersebut?
Jawaban:
Nasehatnya cukup apa yang dikatakan oleh Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah Al-Mar’iy, na’am. Barangkali mereka belum dengar. Kirimkan kepada mereka.. Dan masih banyak lagi, bukan hanya dua situs ini. Masih banyak situs-situs lainnya yang seperti itu, dari kedua belah pihak. Ada pengacau-pengacau yang senang membikin ramai dunia maya. Seakan-akan yang namanya ilmu adalah tahdzir-tahdziran, padahal masih banyak ilmu-ilmu yang penting untuk disampaikan di internet. Dan perkara-perkara yang seperti itu, kalaupun benar, kalaupun haq, bukan tempatnya di internet. Na’am.
Tanya-jawab pada yanggal 13 Sya’ban 1434 / 22 Juni 2013.
Ditranskrip oleh Abu Ahmad Siraj
*blog atsarsunnah.wordpress.com
link download rekaman: 
Pertanyaan:
Apakah nasehat ustadz terhadap situs-situs yang cenderung melakukan atau menyebarkan al-jarh wat ta’dil, atau al-jarh saja tanpa ta’dil terhadap sebagian du’at ahlussunnah. Karena tulisan-tulisan mereka di internet sangat meresahkan. Sementara sebagian manusia yang melakukan al-jarh tersebut tidak dikenal sebagai penuntut ilmu apalagi sebagai ulama tetapi sangat hebat kalau urusan fitnah.
Jawaban:
Ikhwani fiddin a’azzakumullah, memang ini menambah parah fitnah yang terjadi. Ketika saya tanyakan kepada Syaikh Abdullah Al-Bukhari hafizhahullah (tentang) masalah ini di masjidnya ketika beliau shalat -saya sempat ketemu-, beliau mendukung, “Iya, yang lebih membikin parah fitnah adalah mereka, yang bermain di internet dalam keadaan mereka tidak punya ilmu.” Sampai beliau mengatakan, “Wallahi, kalau di alam nyata mereka adalah orang yang penakut, orang yang bodoh tidak berani mengatakan satu kalimat, bahkan nanya saja nggak berani. Tapi di internet dia masyaAllah.. bicara ke sana ke mari.”
Ikhwani fiddin a’azzakumullah, dari bahasa beliau, kita pahami bahwa beliau tidak suka dengan model-model yang seperti ini. Dan saya sudah sering mengingatkan kaum muslimin, khususnya ahlussunnah-salafiyyin agar jangan menyibukkan diri dengan yang kayak gitu. Ilmu ndak ada atau pas-pasan, kemudian berbicara tentang fulan kadza.. fulan kadza.., ustadz fulan begini.. ustadz fulan begini.. dan yang dibicarakan (adalah) ustadz-ustadz ahlussunnah. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.
Dan saya tidak menyatakan yang di pihak sini atau di pihak sana, dua-duanya ada! Dari yang membela pihak sana ada dan dari yang membela pihak sini ada. Sejenis.. Sama modelnya, tidak memiliki ilmu kecuali copy-paste. Gunting-tempel, gunting-tempel, itu yang mereka punya, nggak punya ilmu lain.
Bayangkan, kalau guntingnya salah (malah jadi) fitnah, batrul kalaam ini berbahaya. tahu (apa) itu batrul kalaam? menggunting-gunting ucapan. Ini berbicara lengkap tapi digunting belakangnya saja, akan dipahami lain. Ini sangat berbahaya dan sangat mengerikan.
Maka ikhwani fiddin a’azzakumullah, uusikum wa iyyaaya bi taqwallaah. Aku wasiatkan kepada antum semuanya dan khususnya mereka-mereka yang aktif di internet, para blogger-blogger, para fesbuker-fesbuker. Dan siapa lagi? Mereka-mereka yang aktif di dalam internet. Hati-hati.
Sampaikan tauhid, sampaikan sunnah, sampaikan ilmu. Adapun masalah itu, bukan konsumsi umum. Bukan konsumsi orang banyak. Kalaupun bener, (tapi) tempatnya salah. Apalagi ada yang salah! Para ulama masih menganggapnya ahlussunnah, orang ini sudah menganggapnya sebagai mubtadi’ dholl. Para ulama masih menganggapnya sebagai seorang ustadz salafi masyaAllah, tetapi orang ini, para fesbuker tadi sudah menganggap bahwa ini adalah hizbi.
Kalaupun benar, ada penyimpangan satu-dua orang perkara kemudian disebutkan, bukan internet tempatnya.. barakallahu fiykum. Sampaikan kepada orang-orang yang membutuhkan dan tidak perlu menyampaikan kepada orang-orang yang belum membutuhkan. “Siapa ini? Saya nggak kenal.” “Siapa sih ini? Nggak tau.” Ini orang mau mencari, “Ana tuh tertarik dengan salaf, kita pengen cari apa sih prinsip-prinsipnya.” (Kemudian) buka internet, “Tahdzir pada si fulan!” “Al-Kadzab!” MasyaAllah.. “Siapa sih? Nggak tau..”
Ikhwani fiddin a’azzakumullah, kasihan orang ini. Baru mau tahu apa itu salaf dapetnya yang kayak gitu. Karena selalu kalimatnya kalimat ‘salaf’ dimuat di atasnya. Kalimat salaf, kalimat ahlussunnah, kalimat masyaAllah.. sehingga orang-orang yang mau mencari ilmu diin buka, ternyata isinya orang berantem. Tahdzir-tahdziran sana-sini. Bukan tempatnya..
Sudah berkali-kali saya sampaikan, di sana yang membaca orang awam, orang bodoh, orang jahil, ada hizbi, ada orang-orang yang ingin mencari kejelekan ahlussunnah. “Ini kita cari kejelekannya di sini saja. Kenapa? Karena situs ini asyik, mereka saling bantah. Maka kita ambil untuk mencerca mereka dari sini dan untuk mencerca yang sini dari sana. Beres khan..” Dan itu tertulis, tercetak dalam buku-buku yang mencerca salaf, mencerca manhaj salaf, mencerca salafiyyin, mencerca ahlussunnah, ada dalam buku itu, “Sebagaimana dinukil dalam situs ini, dalam situs itu..” hah..
Berarti kalian memberikan senjata kepada mereka untuk memukul saudara sendiri ahlussunnah-salafiyyin. Maka hati-hati, hati-hati.. Bertanggung jawab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, innal bashara was sam’a wal fu’adaa, kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas’uulaa..
Bersambung insya Allah ta’ala…
Entri ini ditulis dalam Manhaj. Buat penanda ke permalink.

Satu Respon untuk Pernyataan Rujuk dan Himbauan Untuk Rujuk

  1. mnoval97 berkata:
    Komentar Anda sedang menunggu moderasi.
    Bismillah,….. Assalamu`alaikum ya ustadz, jazaakallahu khoiron semoga Allah ta`ala menjaga ustadz ahlussunnah di atas al haq. Semoga Allah ta`ala mempersatukan ahlussunnah diatas al haq.Baarakallahu fiikum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar