Kamis, 17 Oktober 2013

(BAGUS)>>Berlian Yang Terbuang (Cerita Tentang Seorang Kawan)

www.salafyciampeabogor.blogspot.com
Al Yazidi pernah datang bertamu ke rumah kawannya,  Al Khalil bin Ahmad. Kawannya tersebut adalah seorang ulama ahli hadits tersohor di masanya. Sambutan hangat dari Al Khalil mengiringi perjumpaan dua orang sahabat yang sangat erat hubungannya. Al Khalil yang sedang duduk di atas bantal kecil segera saja mempersilahkan Al Yazidi untuk duduk bersama di atas bantal itu.
"Aku takut membuat dirimu tidak terlalu nyaman. Bantal initidak akan mencukupi untuk kita berdua", Al Yazidi beralasan.
Al Khalil bin Ahmad lalu mengucapkan kata-kata mutiara. Bening, indah, bernilai dan perlu untuk kita pajang di atas deretan cerita hidup kita. Dengan penuh nafas persahabatan Al Khalil menyatakan,"Maa dhaaqa makaanun 'ala itsnaini mutahaabbain wad dunya laa tasa'u itsnain mutabaaghidhain"
Sesempit apapun tempatnya, pastilah akan terasa cukup dan lapang untuk dua orang yang saling mencinta.Dunia yang sedemikian luasnya niscaya akan terasa sempit bagi dua orang yang saling membenci.
Seperti itulah kata-kata Al Khalil bin Ahmad!
Subhaanallah! Duh…duh...
Tidak hanya sekali, bahkan selalu terulang berkali-kali, saya dicurhatin oleh beberapa orang tentang masalah problem tentang kawannya. Konflik antar kawan memang akan selalu ada selama manusia hidup di bumi. Hanya di surga saja, konflik antar kawan itu akan tiada. Bahkan kalau mau jujur berbicara, hingga detik ini pun kita masih menyimpan rasa tak suka kepada kawan, bukan? Atau malah anda tidak lagi menganggapnya kawan? Menyedihkan!
Hanya karena sebab sepele, urusan uang beberapa ribu atau puluhan ribu rupiah, sebuah perkawanan menguap dan hilang tanpa bekas? Entah karena hutang piutang, pembagian keuntungan, persaingan bisnis, harga barang atau sebab lainnya. Hanya karena hal-hal "kecil" seperti ini, dua orang yang dahulunya dekat sedekat saudara kandung bahkan lebih, menjadi saling tidakmengenal?seolah-olah demikian. Tidak ada lagi canda dan perbincangan hangat seperti dahulu kala.
Memang benar kata-kata Al Khalil di atas! Dunia ini pasti akan terasa sempit bagi mereka yang hidup dalam kebencian. Jalan ke sana…eh ketemu dia,akhirnya berusaha mencari jalan lain.Sudah berusaha menghindar untuk tidak bertemu berhadap-hadapan. Akhirnya mau tak mau ya harus begitu.
000000___000000
Seorang kawan semestinya diabadikan sebagai harta. Kawan adalah modal utama bagi mereka yang ingin hidup bahagia. Tanpa hidup berkawan, appa yang bisa kita lakukan? Semua ingin serba sendiri?Segala-galannya mampu diselesaikan sendirian?Tidak mungkin!!!
Mencari musuh bisa dilakukan dalam sekejap. Bahkan dalam hitungan, beribu-ribu musuh bisa kita cari. Namun, untuk seorang kawan, bertahun-tahun lamannya kita habiskan belum tentu kita memperolehnya. Kenyataan adalah bukti terkuat. Hingga terkadang saya termenung,”Apakah semua kenangan indah bersama kawan harus terhapus dalam waktu singkat?”
Konflik dan masalah jika muncul wajar-wajar saja. Tidak ada yang selamat dan terbebas dari konflik. Kan tetapi, cobalah mengenang dan mengingat-ingat semua momen-momen indah yang pernah anda lewati bersama kawan tersebut. Bangkitkanlah kembali semua senyum, canda dan tawa yang pernah ada di antara anda berdua. Kemudian bandingkan dengan saat-saat ini, benar-benar pahit, bukan?
Setan tidak akan kenal berhenti untuk memisahkan dua sekawan. Apalagi dua sekawan itu sama-sama hidup di atas jalan sunnah.  Celah sekecil apapun akan di manfaatkan oleh setan untuk merusak perkawanan. Waspada dan berhati-hatilah selalu!
Tahukah Anda, celah apa yang sering digunakan oleh setan untuk merusak perkawanan? Dunia. Ya, urusan dunia. Kedudukan, harta terutama gengsi adalah sebab yang paling mendominasi retaknya hubungan perkawanan di alam nyata.
Siang itu, Al Asadi dan beberapa kawannya ikut mengiringi sang guru untuk menghadiri sebuah prosesi pemakaman jenazah. Sang guru sempat memperhatikan segerombolan anjing yang sedang bermain-main dan saling bercanda satu sama lain. Sambil menoleh ke arah murid-muridnya, sang guru mengatakan,
“Perhatikan anjing-anjing itu! Alangkah akrabnya mereka satu dengan yang lainnya!”
Sepulang dari prosesi pemakaman, jalan yang dipilih sang guru tidak berbeda ketika berangkat. Namun ada pemandangan yang berubah. Seonggok bangkai telah berada di tengah-tengah kerumunan anjing-anjing tersebut. Mereka saling menyalak, menggonggong, mencakar dan saling menyerang satu sama lain.
Ujar sang guru,” Bukankah kalian telah menyaksikan sendiri, wahai murid-muridku? Selama tidak ada dunia yang diperebutkan, kalian bisa hidup berkawan. Akan tetapi jika dunia telah hadir,kalian akan saling berebut seperti anjing- anjing itu berebut bangkai"
Naudzu billah min dzaalik!
Tidak usah tersinggung! Jangan marah terlebih dahulu oleh sang guru untuk murid-muridnya, bukan untuk kita yang membaca. Jikapun kita bisa menyerapnya sebagai nasehat, tentu lebih baik. Tidak adahalangannya bagi kita untuk turut merasa dinasehati oleh sebuah cerita.
Kita hanya sebatas menelaah,benarkah kisah di atas dengan kenyataan yang ada di sekitar kita? Dengan diri kita?
000000___000000
Nasehat memang terkadang terasa pahit. Namun, apakah kita akan selalu menghindar dari yang "pahit-pahit”? Kenpa kita tidak memulainya dari sekarang? Merenung dan bertafakur untuk mencari dan mengumpulkan kembali berlian yang sempat terbuang. Kawan-kawan kita adalah tumpukan berlian. Jangan pernah befikir untuk membuang berlian!
Mulai detik ini,marilah kita belajar cara merawat dan memperlakukan berlian. Bagaimanakah langkah yang tepat untuk membersihkannya? Dimanakah tempat terbaik untuk menyimpannya? Bagaimana cara memegang dan menggenggamnya? Agar berlian itu tidak tergores, tidak cacat dan tidak retak. Agar berlian itu tidak pecah.
Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris yang lebihdikenal dengan Al Imam As Syafi'i (Al Imam As Syafi'i karya Ad Daqr hal 343) mengatakan demikian tentang perkawanan,
"Orang yang jujur di dalam berkawan adalah orang yang bisa menerima alasankawannya,menutupi kekurangan dan memaafkan kesalahannya"
Barangkali ucapan Al Imam As Syafi' di atas bisa mencerahkan pemahaman kita tentang langkah-langkah indah untuk merawat perkawanan sebagaimana kita merawat berlian.
Kini, pembuktian dan pelaksanaannya kembali kepada kita masingmasing.Melakukan koreksi pada diri sendiri selagi masih di dunia pastinya jauh lebih mudah dan ringan sebelum dihisab di hadapan Allah kelak.
Sitrak wa luthfak,yaa Rabb….

_abu nasiim mukhtar "iben" rifai la firlaz_04 Dzulhijjah 1434 H_09 Okt
2013_menjelang matahari terbenam_daar el hadith dzamaar_republic of yemen_

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar