Senin, 23 September 2013

<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>
Abu Nasiim Mukhtar "iben" Rifai La Firlaz
 Dalam hikayat-hikayat lama, purnama mengambil tempat khusus di hati para pujangga. Seorang penyair tidak akan mau melewatkan momen purnama begitu saja. Ada sejuta inspirasi yang bisa ia peroleh dari hanya sekadar memandang purnama. Sampai dikatakan oleh sebagian orang ; orang bisu pun akan berdesis ketika menikmati cahaya purnama yang menyirami bumi.
Zaman dahulu…sebelum dikenal secara luas, apa yang dinamakan dengan kalender dan penanggalan. Purnama ditetapkan sebagai alat penghitung yang diandalkan. Seorang ibu yang ditinggal oleh putranya karena merantau akan bergumam," Sudah berapa purnama, engkau tinggalkan Ibumu, Nak?". Begitupun seorang istri yang ditinggal pergi suaminya berlayar menentang gelombang," Entah di purnama ke berapakah, ia kan kembali?". Bagi mereka, purnama tidak pernah menampakkan dusta.
Bagi seorang hamba yang gemar beribadah, apakah arti purnama baginya? Purnama adalah momen yang selalu dinanti-nanti. Sebab, ketika itu, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Pada malam ke tiga belas,empat belas dan lima belas.
Al Imam An Nasa'i (4/222) meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar tentang hal ini. Oleh Syaikh Al Albani, hadits dimaksud dihasankan. As Sindi di dalam Hasyi-yah nya menyebutkan beberapa hikmah yang mungkin untuk dipahami dari sunnah ini." Tatkala cahaya menerangi malam, sangat pas sekali jika di siangnya diterangi oleh ibadah".
_____00000_____
Bagi seorang muslim, apakah arti dari sebuah purnama? Semestinya, purnama mengingatkan kita kepada Dzat yang telah menciptakan dan mengaturnya. Alasan inilah yang mendorong saya untuk menulis coretan ringan ini. Ya, seharusnya memang demikian! Sadar  akan kadar diri itu harus! Ternyata, kita hanyalah makhluk kecil yang seringkali lupa dan lalai untuk mengingat Nya.
Sore tadi, dari atas lantai tiga bangunan tempat kami bermukim. Nampak indah terlihat bulan yang sedang berproses menuju purnama. Ya, malam ini adalah malam ke-tiga belas Dzulqo'dah 1434 H. Adzan Maghrib membahana. Gemanya mengisi ruang-ruang jiwa. Langit diselimuti awan-awan tipis.
"Eh, Yusuf…Coba kau tengok di atas sana!", ujar saya dengan suara agak meninggi kepada salah seorang kawan.
Katanya," Subhaanallah! Indah sekali, Bang!"
Memang indah! Sudah berapa kali momen purnama yang kita lalui? Apakah momen tersebut lantas mengingatkan kita kepada Ar Rahman? Padahal, di dalam Al Qur'an Al Karim, Allah memberitakan tentangibaadur rahmaan.Mereka yang benar-benar menjadi hamba Ar Rahman! Apakah salah satu hal yang Allah sebutkan tentang mereka?
تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا
Di dalam surat Al Furqan,sebelum memberitakan tentang ibaadur rahmaan,Allah memulainya dengan ayat di atas.
Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (QS. 25:61)

Allahumma, yaa Allah…ampunilah hamba yang terlalu sering melewatkan momen purnama tanpa berucap tasbih, tanpa menghadirkan rasa syukur pun tanpa membangkitkan rasa khauf kepada Mu.
_____00000_____
Bagi pelaku thalabul ilmi, apakah arti purnama untuknya? Purnama adalah motivasi besar untuknya. Purnama adalah semangat yang bisa membangkitkan dirinya dari rasa malas dan jenuh. Memandang purnama akan menyadarkan dirinya bahwa thalabul ilmi yang sedang ia tempuh adalah perjalanan suci dan mulia. Lalu, apa hubungannya, antara purnama dan thalabul ilmi?
Sebuah hadits dari Muadz bin Jabal dan dishahihkan Al Albani di dalam Al Misykah (212) merupakan jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas.
Rasulullah bersabda,
فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلَى سَاِئرِ الكَوَاكِبِ
"Keutamaan seorang alim jika dibandingkan seorang ahli ibadah seperti halnya purnama jika dibandingkan dengan seluruh bintang"
Subhaanallah! Ho..hoo…
Setelah membaca hadits di atas, masihkan kita ragu untuk berthalabul ilmi?
Bagi para ulama yang aktif berkarya dalam ujud kitab,apakah arti purnama bagi mereka?
Purnama menjadi salah satu pilihan untuk menentukan judul sebuah karya monumental. Al Imam Ibnul Mulaqqin (wafat tahun 804 H), misalnya. Beliau mentakhrij hadits dan atsar kitab As Syarhul Kabiir dan menamakannya Al Badrul Muniir (Purnama Bercahaya). Contoh lainnya adalah Al Badru At Thaali' karya Al Imam Asy Syaukani (wafat tahun 1250 H). Karya tulis yang menceritakan ulang biografi para ulama setelah abad ke tujuh sampai masa beliau, dinamakannya Purnama Bersinar (Al Badru At Thaali').
Bagi para pecinta dan pengejar Al Jannah (surga), apakah arti purnama untuk mereka?
Purnama adalah lambang harapan. Bagaimana tidak akan menjadi lambang harapan? Sedangkan Rasulullah pernah memberitakan bahwa penduduk surga berbeda-beda tingkatannya! Semua penduduk surga tidak sama derajatnya. Tentu sesuai bekal amalan yang telah dipersiapkan. Tahukah Anda, seperti apakah Rasulullah menggambarkan rombongan pertama yang masuk surga?
أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ
"Rombongan pertama yang akan masuk surga, seperti rembulan di malam purnama", sabda Rasulullah di dalam hadits Abu Sa'id Al Khudri riwayat Tirmidzi (2522) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Ash Shahihah (1736).
Ayo berlomba-lomba…bermusabaqah dan bermunafasah untuk menjadi bagian dari rombongan pertama ke dalam surga! Jika semangat beribadah sedang melemah, pandanglah purnama dan sadarkanlah diri bahwa hanya mereka yang bersungguh-sungguh saja…hanya mereka yang bermujahadah melawan hawa nafsu,yang akan masuk surga seperti rembulan di malam purnama!
_____00000_____
Bagi seorang Salafy, pengikut faham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, apakah arti purnama untuknya?
Purnama tentu mengingatkan dirinya dengan momen Rasulullah bersama para sahabatnya di sebuah saat, seribu empat ratusan tahun yang lalu. Tatkala itu, beliau sedang duduk-duduk bersama para sahabat sambil memandang rembulan di kala purnama.(Bukhari 554 Muslim 633).
”Sesungguhnya kalian akan memandang Rabb kalian,sebagaimana kalian memandang bulan. Kalian tidak berdesakan ketika memandang Allah", sabda Rasulullah malam itu.
Hadits mutawatir semacam ini tentu menambah semangat untuk berkarya dalam ibadah! Siapa pula yang tidak bercita-cita untuk memandang wajah Allah? Jika seorang pengingkar hadits tidak dapat menerima berita dari Nabi Muhammad di atas,biarkan saja kelak ia tidak memandang wajah Allah!!! Bukankah ia sendiri tidak mempercayai?
Seorang Salafy? Imam Ahmad bin Hanbal (Ushulus Sunnah hal 23) pernah menerangkan tentang prinsip-prinsip Ahlus Sunnah." Beriman (bahwa kaum mu’minin) akan melihat (wajah Allah Ta’ala yang maha mulia) pada hari kiamat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih", adalah salah satunya.
Pastinya kita mesti selalu memohon dengan doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah di dalam hadits Ammar bin Yasir riwayat An Nasa'i (1305) dan dishahihkan Al Albani di dalam Shifat Shalat Nabi (hal 165).
وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ
”Aku meminta kepada Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah Mu,di akhirat kelak.Dan aku meminta kepada Mu kerinduan untuk bertemu dengan Mu”
_____00000_____
Bagi saya yang menulis, apakah arti purnama? Selain hal-hal penting di atas, tentu purnama menjadi setetes penawar rindu. Jika rindu mulai berkunjung menyapa, saya akan memandang purnama walau sesaat saja. Sebab, purnama di Yaman tentu sama dengan purnama di Solo. Di bawah purnama yang sama, seakan kami pun berada di dalam ruangan yang sama.
Bagaimana dengan Anda?

_Dzamar The Spirit Of Yemen_dalam malam bermandikan cahaya purnama_13 Dzulqo'dah 1434 H_18 SEPT 2013_

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar