Jumat, 23 Agustus 2013

>>>Rinai-Rinai Cerita_Episode Kedua_<<BAGUS....>>

www.salafyciampeabogor.blogspot.com

Mengukur Rasa Jujur

Berkawan dengan seseorang yang jujur itu sangat menyenangkan.Bukan hanyaterbatas pada kawan saja…kejujuran akan menjadi anugrah indah yang melekat seorang tetangga, pegawai, pimpinan, anak, suami, istri, murid, guru, relasi bisnis atau siapasaja yang berinteraksi dengan kita…Marilah bersama melatih diri untuk bersikap jujur…Cerita berikut terhitung singkat dan pendek. Hanya saja panjang dan pendeknyacerita bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan kualitasnya. Seringkali sebuahcerita pendek mampu menggetarkan hati, sementara yang panjang malahmembosankan..Sepakat?
Dahulu kala…Abul Hasan An Najjar –seorang ulama di masa itu- bertetangga dengan seseorangyang dikenal dermawan. Kita sebut saja tetangga beliau dengan Si Fulan.Dalam sebuah kesempatan di malam hari, seorang buta melintas di depan rumahSi Fulan. Orang buta itu belum pernah dikenal sebelumnya oleh Si Fulan..Rasa iba yangberdasar dari sikap dermawannya, mendorong Si Fulan ingin berbagi dengan carabersedekah.

Apa yang ia lakukan?
Ada dua kampil uang yang selalu dibawaoleh Si Fulan kemanapun ia pergi. Sekampil berisiuang dinar, yang sekampilnya lagi berisi uangdirham…Ketika itu, Si Fulan hendak bersedekahsebesar satu dirham..akan tetapi ia kelirumemilih kampil sehingga justru sekeping uangdinar yang malah berpindah tangan ke orangbuta tersebut.Senang sekali orang yang buta itu!Keesokan harinya…si buta berangkatmenuju sebuah toko kelontong yang berada tak jauh dari rumahnya untuk sekadarberbelanja..Ia berjalan dengan penuh keyakinan, sekeping uang pemberian dari Si Fulanadalah sekeping uang dirham.."Silahkan Anda menerima sekeping dirham ini…Untuk membayar barangbelanjaanku,maka sisanya adalah sekian", kata orang buta itu kepada si penjual setelahmemilih barang-barang belanjaan.Si penjual terheran-heran dengan kejadian tersebut," He…darimana kamumempunyai uang dinar ini????!!!""Tadi malam aku diberi oleh Si Fulan",jawab si buta.Kata si penjual menerangkan,"Uang yang engkau bayarkan bukan sekepingdirham..Uang ini adalah sekeping dinar"Tahukah Anda berapa besaran uang dinar dan dirham???
Sekeping dinar adalah uang emas dengan berat 4,25 gr…sementara sekeping
dirham adalah uang perak dengan berat 2,975 gr…
Hari berikutnya…si buta berusaha menemui kembali Si Fulan yang telah
bersedekah untuknya.Setelah bertemu,sambil menyerahkan sekeping dinar itu…
"Anda kemarin bersedekah untukku dengan uang ini. Saya berpikir ; sebenarnya
Anda ingin bersedekah dengan sekeping dirham, namun Anda keliru mengambil. Dan saya
tidak ingin menerima pemberian yang keliru semacam ini...Silahkan Anda mengambil
kembali sekeping dinar ini",kata si buta kepada Si Fulan.

Mendengar kejujuran luar biasa semacam itu, Si Fulan langsung menyatakan,
"Kalau begitu,uang dinar ini aku berikan untuk Anda saja..Kemudian, silahkan
Anda datang menemui saya di setiap awal bulan agar saya bisa membalas kejujuran
Anda"

Sejak hari itu…setiap awal bulan si buta datang menemui Si Fulan untuk
menerima lima keping dirham sebagai pemberian darinya.
Subhaanallah! Sangat…dan sangat-sangat luar biasa sekali!
Si buta mampu mengendapkan rasanya untuk tidak terseret oleh arus "mengejar
kesempatan"…ia bisa mengendapkan rasanya untuk tidak terbawa oleh gelombang
"menangkap peluang"…Dengan tenang dan indahnya ia mengatur perasaan agar
berjalan dan bersikap di atas kejujuran…Padahal bisa saja ia bersukacita karena telah
memperoleh sekeping dinar.. Namun, ia tidak ingin bersukacita dengan cara semacam itu.

Begitupun sang penjual…Sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk menipu
orang buta.Ia cukup mengiyakan jika uang itu memang benar-benar sekeping dirham
sebagaimana keyakinan dan pengakuan si buta.Sejatinya ia mempunyai peluang untuk
memperoleh untung besar dalam waktu sepersekian menit hanya dengan bersikap diam
tanpa perlu menjelaskan bahwa uang yang dibawa si buta adalah sekeping uang dinar.
Namun….sang penjual sangat pandai mengendapkan rasa..
Jika saja hal di atas terjadi pada diri kita..kira-kira bagaimana perasaan kita???
Mungkin nafas menjadi naik turun tidak teratur,pandangan mata berbinar-binar dan
gejolak-gejolak perasaan lainnya.
Bayangkan jika Anda menjadi si buta! Bayangkan jika Anda menjadi si penjual
Dan bagaimanakah sikap dengan keputusan Anda jika Anda menjadi Si Fulan???
Abul Hasan An Najjar mengatakan,
"Aku belum pernah menemui kejadian yang lebih menakjubkan dari kejujuran
si penjual dan orang buta itu.Seandainya hal semacam ini ada di zaman kita,pasti
akan terjadi yang sebaliknya"

Sumber :http://ibnutaimiyah.org/blog/post/2013/07/12/20/rinai-rinai-cerita_episode-kedua_

_abu nasim mukhtar "iben" rifai la firlaz_06
Ramadhan 1434_14 Juli 2013_09.29_dari balik selembar
selimut_republik of rindoe_disadur dari Aniisul Jaliis 2/141_

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar