Rabu, 21 Agustus 2013

>>>Benarkah Banyak Jalan Menuju Roma ... ???

www.salafyciampeabogor.blogspot.com
Oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa'izah-hafizhahullah-
[Pengasuh Pesantren Al-Ihsan Gowa]
Tak ada jalan yang paling baik menuju Allah, kecuali jalan yang pernah digariskan oleh-Azza wa Jalla-melalui lisan Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-. Semua jalan-jalan kebaikan telah ada dalam syariat yang telah digariskan dan diajarkan oleh beliau kepada para sahabat dan umatnya.
Barangsiapa yang membuat jalan (syariat) dalam beragama, tanpa mengikuti syariat dan jalan beragama Nabi-Shallallahu alaihi wa sallam-, maka ia akan buntu dan tak akan sampai tujuan. Semuanya akan ditolak oleh-Azza wa Jalla-. Ini membantah ungkapan masyhur yang berbunyi , "Banyak jalan menuju Roma".
Allah-Tabaroka wa Ta'ala-berfirman,
وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون [الأنعام / 153]
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus. Karenanya, ikutilah dia (jalan itu), dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa ". (QS. Al-An'aam: 153)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa semua jalan dan cara beragama yang dikarang dan dibuat-buat oleh manusia, tanpa ada dasar dan contohnya dalam agama, maka semua itu ditutup dan ditolak oleh Allah-Azza wa Jalla-.
Al-Imam Al-Hafizh Abu Abdillah Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah -rahimahullah-berkata saat menjelaskan keutamaan mengikuti ilmu dan sunnah Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-yang merupakan jalan hidup dalam beragama yang pernah diajarkan oleh beliau-Shallallahu alaihi wa sallam-,
ولو أتى الناس من كل طريق واستفتحوا من كل باب, فالطرق عليهم مسدودة والأبواب عليهم مغلقة إلا من هذا الطريق الواحد, فإنه متصل بالله موصل إلى الله
"Andaikata manusia manusia datang dari jalan dan berusaha membuka semua pintu, maka semua jalan-jalan dan pintu-pintu itu akan ditutup buat mereka, kecuali dari jalan yang satu ini, maka sesungguhnya jalan itu terhubung dengan Allah dan menyampaikan (para hamba) kepada Allah-Azza wa Jalla-". [Lihat Madarij As-Salikin (hal. 15) oleh Ibnul Qoyyim, dengan tahqiq Muhammad Hamid Al-Faqi, cet. Dar Al-Kitab Al-Arabiy, 1393 H]
Inilah keistimewaan jalan dan syariat agama yang dibawa oleh Nabi-Shallallahu alaihi wa sallam-: jalan yang lurus, mudah dan luas.
Syaikh Ibnu Qosim An-Najdiy -rahimahullah-berkata dalam Hasyiyah Kitab At-Tauhid (hal. 17) saat menjelaskan kata "jalan" yang disebutkan dalam ayat di atas,
وقد جمع ثلاثة أمور: السهولة والسعة والقرب, فهو أقرب الطرق إلى الله وأوسعها وأسهلها, ولو اجتمع أهل الأرض وأضعاف أضعافهم لوسعهم, بل الطرق كلها مسدودة على الخلق إلا طريقه الذي نصبه على ألسن رسله, وجعله موصلا لعباده إليه, وهو إفراده بالعبودية, وإفراد رسله بالطاعة. فأمر باتباعه ونهايته الجنة, وتشعبت منه طرق فمن سلك الجادة منها نجا, ومن خرج إلى تلك الطرق أفضت به إلى النار .
"Sungguh kata itu mengumpulkan tiga hal: fasilitas, kelapangan dan kedekatan. Jadi, jalan itu jalan terdekat ke Allah, terluas dan termudah. Andaikan penduduk bumi dan lebih dari itu lagi untuk berkumpul, maka jalan itu dapat menampung mereka. Bahkan, semua jalan tertutup bagi para makhluk, kecuali jalan-Nya yang Allah tetapkan melalui lisan para rasul-Nya dan Allah jadikan jalan itu mampu mengantarkan para hamba- Nya kepada-Nya. Jalan itu adalah mengesakan-Nya dalam ibadah, dan mengesakan rasul-rasul-Nya dalam ketaatan.
Dari sisi jalan (lurus) ini bercabanglah jalan-jalan (yang sesat). Barangsiapa yang menempuh jalan yang lurus dari jalan-jalan itu, maka ia akan selamat. Barangsiapa yang keluar menuju jalan-jalan (yang sesat) itu, maka jalan-jalan itu akan mengantarkannya ke neraka ". [Lihat Mausu'ah Tauhid Robbil Ibad (8/22)]
Jalan yang lurus ini memuat berbagai macam jalan-jalan kebaikan yang telah dijelaskan dan diajarkan oleh Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-kepada para sahabat agar umatnya setelah itu mengikuti jalan-jalan kebaikan itu.
Ini kembali menguatkan kita bahwa menyelisihi manhaj (jalan hidup) para sahabat dalam beragama merupakan pintu kesesatan yang akan menyeret seseorang jauh dari jalan yang lurus sebagaimana yang pernah diajarkan dan digambarkan oleh Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas'ud - radhiyallahu anhu-, ia berkata,
خط لنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يوما خطا ثم قال: "هذا سبيل الله". ثم خط خطوطا عن يمينه وعن شماله ثم قال: "هذه سبل, على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه". ثم تلا: (وأن هذا صراطى مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله (
"Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-pernah membuat garis (yang lurus) untuk kami seraya bersabda,"Inilah jalan Allah" . Kemudian beliau membuat beberapa garis ke samping kiri dan kanan seraya bersabda, "Ini adalah jalan-jalan; pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya". [HR. Ad-Darimiy dalam Sunan -nya (no. 208). Hadits ini di- hasan -kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 116)]
Lalu beliau membaca firman Allah di atas. Hadits ini merupakan penjelasan untuk ayat di atas. Semua ini menggambarkan kepada kita bahwa kesesatan memiliki banyak jalan yang mengantarkan kepada kebinasaan, kesesatan dan kebingungan!!!
Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah -rahimahullah-berkata,
"Nabi-Shallallahu alaihi wa sallam-telah meninggalkan para sahabatnya di atas agama yang lurus lagi kokoh dan jalan yang putih bersih, tak ada ambiguitas dan kesamaran padanya. Tak ada udzur bagi orang yang menyimpang darinya. Karena, hujjah telah tegak dan sampai kepadanya. Demikian itu termasuk kekhususan para sahabat. Sebab mereka itu tak sama dengan yang lain. Mereka telah menerima dan menyampaikan (risalah), sedang manusia adalah pengikut mereka dalam hal ilmu dengan penjelasan yang bersih ini dan manusia berutang jasa kepada mereka. Karena, hal seperti ini-pada awalnya-tak cocok bagi yang lainnya. Jadi, setiap hal yang samar, bermasalah dan kabur, maka penjelasan dan penerangannya ada dalam ilmu para sahabat Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-, baik dalam hal aqidah, ucapan, perbuatan, mau pun dalam seluruh hal agama. Hal ini tak diketahui oleh orang yang jahil dan diketahui oleh orang yang tahu. Semua ini memutuskan wajibnya kembali kepada ilmu mereka ketika terjadinya masalah, ambiguitas dan perselisihan ".[Lihat Basho'ir Dzawi Asy-Syarof (hal. 84)]
Semua hal agama yang samar, bermasalah dan kabur, maka penjelasan dan penerangannya ada dalam syariat Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-, baik dalam hal aqidah, ucapan, perbuatan, mau pun dalam seluruh hal agama. Hal ini tak diketahui oleh orang yang jahil dan diketahui oleh orang yang tahu. Ini memutuskan wajibnya kembali kepada syariat ketika terjadinya masalah, ambiguitas dan perselisihan.
Jika Anda melihat ada orang yang membuat jalan dan metode beragama yang tak ada contoh dan dasarnya dalam agama, maka ketahuilah bahwa orang itu pasti dan salah jalan, meskipun ia menyangka bahwa dirinya berada di atas jalan yang lurus.
Demikian pula bila Anda melihat ada jalan-jalan baru dalam agama Islam yang diciptakan para pelakunya (seperti, dzikir jama'ah, maulid dan lainnya), maka semua itu adalah jalan-jalan buntu dan tertutup lagi sia-sia,sebab pelakunya akan dihalangi untuk sampai dengan selamat kepada Allah dalam Kampung Keamanan (surga). Siapa yang menghalangi? Allah Sang Pemilik dan Penguasa desa itu.
Inilah yang diisyaratkan oleh Allah-Azza wa Jalla-dalam firman-Nya,
قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا (103) الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا (104) [الكهف / 103, 104]
"Katakanlah," Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? "Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya". (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Al-Imam Al-Hafizh Abul fidaa 'Muhammad Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-,
وإنما هي عامة في كل من عبد الله على غير طريقة مرضية يحسب أنه مصيب فيها, وأن عمله مقبول, وهو مخطئ, وعمله مردود
"Sesungguhnya ayat ini umum pada setiap orang yang menyembah Allah tidak berdasarkan jalan yang diridhoi (oleh Allah), sedang ia mengira dirinya benar dalam hal itu, dan bahwa amalnya diterima. Padahal itu keliru dan amalnya tertolak!!! "[Lihat Tafsir Ibni Katsir (5/202), cet. Dar Thoybah]
Sungguh telah shohih dari Nabi-Shallallahu alaihi wa sallam-, sebuah ancaman bagi pembuat bid'ah (ajaran baru yang tak ada contohnya dalam syariat). Beliau bersabda,
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
"Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia (hal yang diada-ada itu) adalah tertolak". Hadits muttafaq alaihi [HR. Al-Bukhoriy (no. 2697) dan Muslim (no . 1718) (17)]
Bukan cuma pembuat bid'ah yang kena ancaman itu, bahkan orang yang mengekor dan mengikutinya dalam mengamalkan bid'ah itu, juga kena ancaman dan kecaman!!
Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-bersabda,
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
"Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak ". [HR. Muslim dalam Shohih -nya (no. 1718) (18)]
Nah, masihkah ada alasan bagi orang yang menciptakan dan menciptakan bid'ah?!! [1] Jelas tak ada lagi!!!Namun anehnya, ketika mereka sudah kehilangan argumentasi, argumen dan alasan, maka mereka pada lari dan berpegang kepada ungkapan yang tak diketahui asal-usulnya, yaitu banyak jalan menuju Roma, demi melegitimasi dan membenarkan bid'ah-bid'ah yang mereka yakini dan amalkan !!
Padahal ungkapan itu bukanlah wahyu yang dijamin kebenarannya. Diantara bukti kebatilan ungkapan ini, jika kita mau berpikir sedikit, maka jelas bahwa ungkapan masih dapat diperdebatkan.
Anggaplah bahwa banyak jalan menuju Roma. Tapi apakah semua jalan itu mudah, singkat dan lapang?!! Tentu tidak!!! Jalan yang termudah tentunya-sebagai misal-ada jalan dan jalur pesawat. Adapun jalur lain, maka ia lama, susah dan membahayakan!!!
Demikianlah hal orang-orang yang diagonal dan menyimpang dari ash-shiroth al-mustaqim (jalan yang lurus) yang pernah ditempuh dan digariskan oleh Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam-. Wa shollallahu ala Nabiyyina wa alihi wa shohbihi ajma'in.

[1] Bid'ah-bid'ah, semisal peringatan maulid, Isra 'dan Mi'raj, Nuzul Qur'an, haulan, tahlilan untuk mayat, baca Yasinan khusus malam jumat, atau Yasinan di kuburan, ceramah ta'ziyah, dan masih banyak lagi macam bid'ah-bid'ah lainnya. Semoga kita selamat darinya, amin.

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum...
    artikelnya bagus...
    semoga blog antum membawa banyak kebaikan, Aamiin...

    BalasHapus