Selasa, 25 Juni 2013

>>Hadits-Hadits Seputar Bulan Sya'ban


bulan
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Silih bergantinya hari dan bulan adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi setiap muslim.Betapa tidak, Allah telah melimpahkan berbagai rahmat dan kemurahan-Nya kepada umat Islam, berupa kebaikan dan amalan sholih yang disyari'atkan pada hari-hari atau bulan-bulan itu.Dalam sepekan misalnya, ada hari Jum'at yang padanya terdapat sejumlah prioritas, ada Senin dan Kamis yang merupakan waktu puasa sunnah yang telah dimaklumi keutamaannya. Demikian pula di berbagai bulan ada sejumlah prioritas padanya, seperti bulan Ramadhan, bulan Dzul Hijjah dan lain-lainnya. Maka sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mengenal dan mengetahui apa yang dituntunkan agamanya di saat menyongsong bulan-bulan tersebut agar kehidupannya - Insya 'Allah - menjadi suatu yang sangat berarti dan penuh kebahagiaan di dunia yang fana ini dan sangat berarti untuk akhiratnya kelak. Namun jangan lupa, bahwa di masa ini sangat banyak terjadi bentuk ritual ibadah yang sama sekali tidak memiliki dasar tuntunannya dalam syari'at kita, karena itu haruslah dibedakan antara hal yang dituntunkan dengan hal yang tidak ada tuntunannya bahkan merupakan perkara baru dalam agama alias bid ' ah. Seluruh hal ini harus diperhatikan agar "maksud memetik nikmat" tidak berubah menjadi "menuai petaka" 1 .
Berkenaan dengan datangnya bulan Sya'ban 1427H, maka berikut ini kami ketengahkan kepada para pembaca yang budiman, beberapa hadits yang berkaitan dengan bulan Sya'ban. Diuraikannya hadits-hadits shohih yang berkaitan dengan bulan Sya'ban ini adalah dalam rangka mengingatkan bahwa hadits-hadits tersebut sepatutnya diamalkan, adapun dijelaskannya hadits-hadits yang lemah adalah dalam rangka menyampaikan nasehat untuk kaum muslimin agar menghindarinya. Semoga Allah mencurahkan taufiq dan 'inayah-Nya kepada kita semua.
-www.salafyciampeabogor.blogspot.com_
Beberapa Hadits Shohih Seputar Sya'ban
Hadits Pertama
كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم فما رأيت رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم استكمل صيام شهر إلا رمضان وما رأيته أكثر صيام منه في شعبان
"Adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam berpuasa sampai kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan / pernah berpuasa, maka saya tidak pernah melihat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan selain bulan Ramadhan dan tidaklah saya melihat paling banyaknya beliau berpuasa di bulan Sya'ban. "
Takhrijul Hadits
Dikeluarkan oleh Al-Bukhary no. 1969, Muslim no. 1156, Abu Daud no. 2434, An-Nasâ'i 4/151 dan Ibnu Majah no. 1710 dari 'Aisyah radhiyallâhu 'anhâ .
Fiqih Hadits
Hadits di atas, menunjukkan bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, sebab hal tersebut merupakan puasa wajib terhadap kaum muslimin. Adapun puasa sunnah maka kebanyakan puasa beliau adalah pada bulan Sya'ban.
Hadits Kedua
ما رأيت النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصوم شهرين متتابعين إلا شعبان ورمضان
"Saya tidak pernah melihat Nabi Shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada Sya'ban dan Ramadhan."
Takhrijul Hadits
Hadits di atas, dikeluarkan oleh Abu Daud no. 2336, At-Tirmidzy no. 735, An-Nasâ'i 4/151, 200, Ad-Dârimy 2/29 dan lain-lainnya dari Ummu Salamah radhiyallâhu 'anhâ . Dan sanadnya shohih .
Fiqih Hadits
Hadits di atas, lebih mempertegas bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam paling banyak berpuasa di bulan Sya'ban. Bukan artinya beliau puasa Sya'ban sebulan penuh sebagaimana yang kadang dipahami dari konteks hadits di atas, karena orang yang berpuasa di kebanyakan hari pada suatu bulan, oleh orang Arab, dikatakan dia telah berpuasa sebulan penuh. Maka tidak ada pertentangan antara hadits ini dengan hadits-hadits sebelumnya. Demikian keterangan Imam Ibnul Mubarak rahimahullâh dalam mengkompromikan antara dua hadits di atas. 2
Adapun Syaikh 'Abdul' Aziz bin Baz rahimahullâh , beliau berpendapat bahwa dua hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam pada sebagian tahun beliau berpuasa Sya'ban sebulan penuh dan pada sebagian lainnya beliau hanya berpuasa pada kebanyakan saja. 3
Hadits Ketiga
Fari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu , beliau berkata kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam , "Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam suatu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya'ban?" Maka beliau menjawab,
ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
"Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang manusia lalai darinya. Dan ia adalah bulan yang padanya segala amalan akan diangkat kepada Rabbul 'Alamin. Maka saya senang amalanku diangkat sementara saya sedang berpuasa. "
Takhrijul Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad 5/201, Ibnu Abu Syaibah 2/347, An-Nasâ'i 4/201, Ath-Thahawy dalamSyarah Ma'âny Al-Atsar 2/82, Al-Baihaqy dalam Syu'bul Iman 3 / 377 dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah9/18. Dan sanadnya dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwa'ul Ghalil 4/103 dan Tamamul Minnah hal. 412.
Fiqih Hadits
Berkata Ibnu Rajab rahimahullâh , "Nabi Shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam telah menyebutkan bahwa tatkala (bulan Sya'ban) dihimpit oleh dua bulan yang agung; bulan Harom (Rajab) dan bulan Puasa (Ramadhan), maka manusia pun sibuk dengan keduanya sehingga (Sya'ban) terlalaikan. Dan banyak manusia yang menyangka bahwa puasa Rajab lebuh afdhal dari puasa (Sya'ban) karena ia adalah bulan haram, dan hakikatnya tidak demikian. " 4
Dan dari hadits di atas, para ulama juga memetik dua hikmah kenapa Nabi Shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya'ban, yaitu karena banyak manusia yang lalai darinya dan ia senang amalan beliau terangkat sedangkan beliau dalam kondisi berpuasa.
Dan sebagian ulama menyebutkan bahwa hikmah dari puasa Sya'ban adalah sebagai latihan guna menghadapi puasa Ramadhan. Tatkala seseorang telah merasakan manis dan lezatnya berpuasa di bulan Sya'ban, maka ia akan masuk pada bulan Ramadhan dalam keadaan segar dan kesiapan serta telah terbiasa untuk berpuasa. 5
Hadits Keempat
يطلع الله إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا مشرك أو مشاحن
"Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam nishfu (pertengahan) Sya'ban lalu mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bertikai."
Hadits di atas dikeluarkan oleh sejumlah Imam Ahli Hadist dari hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq, Mu'adz bin Jabal, Abu Tsa'labah Al-Khusyany, 'Aisyah, Abu Hurairah,' Abdullah bin 'Amr bin' Ash, Abu Musa Al- 'Asy'ary,' Auf bin Malik, 'Utsmân bil Abil' Ash dan Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu 'anhum , Dan hadits di atas dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dari seluruh jalannya. 6
Hadits di atas adalah satu-satunya hadits shohih 7 yang menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya'ban.Dan hal ini berlaku bagi mereka yang memiliki kebiasaan beribadah pada malam hari yang bertepatan dengan malam nishfu Sya'ban. Ini bukanlah berarti bahwa diizinkan untuk melakukan ibadah-ibadah khusus yang tidak pernah dilakukan pada hari-hari lainnya sebagaimana kebiasaan sebagian manusia yang menghidupkan malam nishfu Sya'ban secara khusus.
Tidak pernah dinukil dari Nabi Shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam dan para shahabatnya ada yang menghidupkan malam nishfu Sya'ban secara khusus dengan melaksanakan shalat lail dengan melebihkan malam-malam lainnya, apalagi melakukan ritual-ritual khusus yang sama sekali tidak ada tuntunannya dalam agama kita. 8
Hadits-Hadits Lemah Seputar Sya'ban
Hadits Pertama
كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم إذا دخل رجب قال اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
"Adalah Nabi shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam bila ia telah memasuki bulan Rajab beliau berdoa: 'Ya Allah, berkahilah untuk kami bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan. "
Hadits di atas dikeluarkan oleh Ahmad 1/259, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 4/no. 3939 dan dalam Ad-Du'â ' no. 911, Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 3/375 dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 6/269 dari jalan Zâ'idah bin Abi Ar-Ruqâd dari Ziyad An-Numairy dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu . Zâ'idah bin Abi Ar-Ruqâd menurut Imam Al-Bukhary munkarul hadits , dan Ziyad An-Numairy juga lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I'tidal . Dan hadits di atas dilemahkan pula oleh Syaikh Al-Albany dalam Dho'îful Jami ' .
Hadits Kedua
كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصوم من كل شهر ثلاثة أيام فربما أخر ذلك حتى يجتمع عليه صوم السنة وربما أخره حتى يصوم شعبان
"Adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam biasa berpuasa tiga hari dalam sebulan. Dan kadang beliau mengakhirkan hal tersebut hingga terkumpul puasa setahun, dan kadang beliau akhirkan sampai beliau berpuasa Sya'ban. "
Hadits di atas dikeluarkan oleh Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 2/no. 2098. Dan dalam sanadnya ada 'Abdurrahman Ibnu Abi Lailah dan beliau dha'îful hadîts (lemah haditsnya). Demikian keterangan Al-Haitsamy dalam Majma 'Az-Zawa'id 3/441 dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 4/214.
Hadits Ketiga
رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتى
"Rajab adalah bulannya Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulannya umatku."
Derajat Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 3/374 dari jalan Nuh bin Abi Maryam dari Zaid Al-'Ammy dari Yazid Ar-Raqâsyi dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu . Mengatakan Al-Baihaqy setelah meriwayatkannya, "Sanad ini sangatlah mungkar." Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam tabyin Al-Ujabtelah menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits palsu dari kedustaan ​​Nuh bin Abi Maryam.
Dan Syaikh Al-Albany dalam Adh-Dha'ifah no. 4400 menyebutkan bahwa Al-Ashbahâny dalam At-Targhib membawakan riwayat lain dengan sanad yang mursal dari AL-Hasan Al-Bashry. Dan demikian pula disebutkan oleh Asy-Syaukany dalam Nailul Authar 4/331, 621 dikeluarkan oleh Abul Fath Ibnu Abil Fawaris.
Hadits Keempat
فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الأذكار, وفضل شعبان على سائر الشهور كفضل محمد على سائر الأنبياء, وفضل رمضان على سائر الشهور كفضل الله على عباده
"Keutamaan Rajab terhadap bulan-bulan yang lain adalah seperti keutamaan Al-Qur'ân terhadap dzikir-dzikir selainnya, dan prioritas Sya'ban terhadap bulan-bulan selainnya adalah seperti keutamaan Muhammad terhadap nabi-nabi selainnya, dan keutamaan Ramadhan terhadap bulan-bulan selainnya adalah seperti keutamaan Allah terhadap segenap hamba-Nya. "
Derajat Hadits
Hadits di atas adalah hadits palsu. Demikian keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam tabyin Al-Ujabsebagaimana dalam Kasyful Khafa ' karya Al-Ajlûny 2/85 dan Al-Mashnû 'fi Ma'rifah Al-Hadits Al-Maudhu' karya 'Ali Qari' hal. 128.
Hadits Kelima
سئل النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أي الصوم أفضل بعد رمضان? فقال شعبان لتعظيم رمضان, قيل فأي الصدقة أفضل? قال صدقة في رمضان

"Nabi Shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam ditanya, 'Puasa apakah afdhol * setelah Ramadhan? 'Beliau menjawab, 'Sya'ban, untuk mengagungkan Ramadhan.' Kemudian ditanyakan lagi, 'shodaqah apakah yang afdhol?' Beliau menjawab, 'shodaqah pada bulan Ramadhan.' "
Derajat Hadits
Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy no. 663 dan Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman dari Anas bin Malikradhiyallahu 'anhu . Dan dalam sanadnya ada shodaqah bin Musa dan beliau dho'îful hadîts . Hadits ini dilemahkan oleh At-Tirmidzy, As-Suyuthy dan Al-Albany. 9 Demikian pula dilemahkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar 10 dan beliau menganggap bahwa hadits di atas menyelisihi hadits Abu Hurairah riwayat Muslim no.1163 dengan lafazh,
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
"Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah Al-Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat lail."
Bulan Al-Muharram yang diinginkan dalam hadits mungkin bulan Muharram yang merupakan awal bulan dalam penanggalan Islam dan mungkin juga seluruh bulan harom dalam Islam yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. 11
Hadits Keenam
كان رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم وكان أكثر في شعبان فقلت يا رسول الله مالي أرى أكثر صيامك في شعبان فقال يا عائشة إنه شهر ينسخ لملك الموت من يقبض فأحب أن لا ينسخ اسمي إلا وأنا صائم
"Adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak (akan / pernah) berbuka, dan beliau berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak (akan / pernah) berpuasa, dan kebanyakan puasa beliau pada bulan Sya ' ban. Maka saya berkata, 'Wahai Rasulullah, kenapa saya melihat kebanyakan puasamu (adalah) pada bulan Sya'ban?' Dia berkata, 'Wahai' Aisyah, ia adalah bulan yang dituliskan untuk malaikat maut siapa yang akan dicabut nyawanya, maka saya senang namaku ditulis sedang saya dalam kondisi berpuasa. '"
Derajat Hadits
Hadits di atas disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Al-Ilal 1/250-251 dari hadits 'Aisyah radhiyallâhu 'anhâ . Beliau menanyakan posisi hadits ini kepada ayahnya, Abu Hatim-salah seorang ahli Ilalul hadits di waktu-. Maka Abu Hatim berkomentar bahwa hadits tersebut adalah hadits yang mungkar.
Hadits Ketujuh
خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب, وليلة النصف من شعبان, وليلة الجمعة, وليلة الفطر, وليلة النحر
"Ada lima malam yang tidak tertolak padanya doa: awal malam pada bulan Rajab, malam nishfu Sya'ban, malam Jum'at, mala 'Iedul Fitri dan malam' Iedul Adha."
Derajat Hadits
Dikeluarkan oleh Ibnu 'Asakir dan Ad-Dailamy dari hadits Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu 'anhu .Demikian keterangan Syaikh Al-Albany dalam Adh-Dha'ifah no. 1452 dan beliau memvonis hadits di atas sebagai hadits maudhu ' (palsu).
Hadits Kedelapan
إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها. فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر لي فأغفر له ألا من مسترزق فأرزقه ألا مبتلى فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر
"Bila datang malam nishfu Sya'ban maka lakukanlah Qiyam Lail dan puasa pada siang harinya, karena ketika matahari terbenam Allah turun pada malam itu ke langit dunia dan berkata, 'Apakah yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, apakah yang memohon rezki, niscaya Aku akan memberikannya, apakah yang tertimpa penyakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, apakah ..., apakah ... sampai terbit fajar. '"
Derajat Hadits
Dikeluarkan oleh Ibnu Majah no. 1388, Al-Baihaqy dalam Syu'abul Iman 3/378, Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal. Seluruh ulama sepakat akan lemahnya hadits di atas. Namun Syaikh Al-Albany dalam Adh-Dha'ifah no. 2132 berpendapat bahwa sanad hadits di atas adalah palsu, karena Ibnu Abi Sarbah-salah seorang perawinya-telah dicap oleh Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in sebagai pemalsu hadits.
Hadits Kesembilan
من أحيا ليلتي العيدين وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه يوم تموت القلوب
"Siapa yang menghidupkan malam dua 'Ied dan malam nishfu Sya'ban, niscaya hatinya tidak akan mati pada hari semua hati menjadi mati."
Derajat Hadits
Hadits di atas dikeluarkan oleh Ibnu Jauzy dalam Al-'Ilal Al-Mutanâhiyah 2/71-72 dari shahabat Kurdûsradhiyallahu 'anhu . Demikian pula disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Ishôbah 5/585 dan Ibnu Atsir dalam Usudul Ghabah 1/931. Al-Hafizh menyatakan bahwa Marwan bin Salim-salah seorang perawinya-adalah seorang rawi yang matruk (ditinggalkan haditsnya) dan muttaham bil kadzib (dituduh berdusta). Dalam Lisanul Mizan pada biografi 'Isa bin Ibrahim bin Thahmân-salah seorang perawi hadits di atas-Ibnu Hajar menghukumi hadits di atas sebagai hadits yang mungkar lagi mursal .
إذا كان النصف من شعبان فلا صوم حتى يجيئ رمضان
"Ketika masuk pertengahan dari bulan Sya'ban maka tidak ada lagi puasa sampai datangnya bulan Ramadhan."
Derajat Hadits
Hadits di atas dikeluarkan oleh 'Abdurrazzaq 4/161, Ibnu Abi Syaibah 2/284, Ahmad 2/442, Ad-Dârimy 2/29, Abu Daud no. 2337, Ibnu Majah no. 1651, Ibnu Hibban no. 3589, 3591, Ad-Dâruquthny 2/191, Ath-Thâhawy dalam Syarah Ma'âny Al-Atsar 2/82, Ibnu Ady dalam Al-Kamil 5/280, Ath-Thabarâny dalam Al-Ausath 7/no. 6863 dan dalam Musnad Asy-Syamiyyîn no. 1827, Al-Baihaqy 4/209 dan Al-Khathib 8/48.
Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama tentang kedudukan hadits di atas. Kesimpulan dari apa yang disebutkan oleh Ibnu Rajab 12 , Ibnu Qayyim Al-Jauziyah 13 , Ibnu Hajar 14 , dan Al-'Ainy 15 bahwa hadits dishohihkan oleh At-Tirmidzy, Ath-Thâhawy, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu 'Abdil Barr , Ibnu Asakir dan Ibnu Hazm. Di versi lain, hadits di atas telah dilemahkan oleh sejumlah ulama yang lebih besar dan lebih berilmu dari mereka dimana mereka berkata bahwa hadits di atas adalah hadits yang mungkar.Demikian komentar Imam Ahmad, 'Abdurrahman bin Mahdi, Abu Zur'ah Ar-Razy dan Al-Atsram serta diikuti oleh Abu Ya'la Al-Khalily 16 dan Az-Zarkasyi 17 dan lainlainnya. Imam Ahmad berkata bahwa hadits di atas adalah hadits yang paling mungkar yang diriwayatkan oleh Al-'Ala' bin 'Abdurrahman.
Dan insya 'Allah pendapat para ulama yang melemahkannya ini yang paling tepat, karena mereka mereka itulah yang merupakan referensi dan acuan dalam masalah posisi dan derajat sebuah hadits.
Hadits Kesebelas
يا علي من صلى ليلة النصف من شعبان مئة ركعة بألف قل هو الله أحد قضى الله لته كل حاجة طلبها تلك الليلة
"Wahai 'Ali, siapa yang shalat malam nishfu Sya'ban seratus raka'at dengan (membaca)' Qul Huwallahu Ahad 'seribu (kali) maka Allah akan menunaikan seluruh hajat yang ia minta pada malam itu."
Derajat Hadits
Hadits ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Manar Al-Munif hal. 78 dan Asy-Syaukany dalam Al-Fawa'id Al-Majmu'ah hal. 50-51 sebagai hadits yang maudhu ' (palsu). Dan baca pula lafazh yang mirip dengannya dalam Lisanul Mizan karya Al-Hafizh Ibnu Hajar pada biografi Muhammad bin Sa'id Ath-Thabary.
Berkata Syaikh Ibnu Baz rahimahullâh , "Adapun (hadits-hadits) yang menjelaskan tentang shalat pada malam (nishfu Sya'ban) seluruhnya adalah maudhu ' (palsu) sebagaimana yang diingatkan oleh banyak ulama. "18
Dan Syaikh Ibnu 'Utsaimin menjelaskan bahwa orang yang melakukan shalat pada malam nishfu Sya'ban ada tiga tingkatan:
Satu: Orang yang melakukan kebiasaan shalatnya sebagaimana hari-hari lainnya, tanpa meyakini adanya keutamaan khusus bagi orang yang melakukan shalat pada malam nishfu Sya'ban. Yang seperti ini tidak mengapa, karena tidak ada padanya bentuk bid'ah dalam agama.
Dua: Ia melakukan shalat pada malam nishfu Sya'ban tidak pada selainnya. Ini adalah bid'ah dalam agama, karena Nabi shollallahu 'alaihi wa' ala alihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah melakukannya dan tidak mencontohkannya.
Tiga: Ia melakukan shalat dengan jumlah raka'at tertentu pada setiap tahun. Ini lebih besar bid'ahnya dan lebih jauh dari Sunnah ketimbang yang kedua. Karena hadits-hadits tentang hal tersebut semuanya maudhu ' (palsu) .19
Hadits Kedua Belas
من قرأ ليلة النصف من شعبان ألف مرة قل هو الله أحد بعث الله إليه مئة ألف ملك يبشرونه
"Siapa yang membaca pada malam nishfu Sya'ban 'Qul Huwallahu Ahad' seribu kali, niscaya Allah akan mengutus untuknya seratus ribu malaikat memberi kabar gembira kepadanya."
Derajat Hadits
Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan pada biografi Muhammad bin 'Abd bin' Amir As-Samaqandy sebagai salah satu bentuk / (contoh) hadits palsunya. Dan disebutkan pula oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Manar Al-Munif hal. 78.
Hadits Ketiga Belas
من صلى ليلة النصف من شعبان ثنتي عشر ركعة يقرأ في كل ركعة ثلاثين مرة قل هو الله أحد شفع في عشرة قد استوجبوا النار
"Siapa yang shalat pada malam nishfu Sya'ban 12 raka'at, pada setiap raka'at ia membaca 'Qul Huwallahu Ahad' tiga puluh kali, niscaya Allah akan mengizinkannya untuk memberi syafa'at kepada sepuluh orang yang sudah wajib masuk neraka."
Derajat Hadits
Hadits ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Manar Al-Munif hal. 78 sebagai hadits yang maudhu '(palsu).
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullâh , "Yang mengherankan, ada sebagian orang yang telah menghirup harumnya ilmu Sunnah tertipu dengan igauan ini dan melakukan shalat itu. Padahal shalat tersebut hanya diada-adakan setelah empat ratus tahun (munculnya / lahirnya) Islam dan munculnya di Baitul Maqdis, kemudian dipalsukanlah sejumlah hadits tentangnya. "
Hadits Keempat Belas
من أحيا الليالي الخمس وجبت له الجنة: ليلة التروية, وليلة عرفة, وليلة النحر, وليلة الفطر, وليلة النصف من شعبان
"Siapa yang menghidupkan malam-malam yang lima (ini), maka wajib baginya surga: malam Tarwiyah * , malam 'Arafah, malam' Iedul Adha, malam 'Iedul Fitri dan malam nishfu Sya'ban. "
Derajat Hadits
Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Ashbahâny dari Mu'adz bin Jabal, dan dianggap sebagai hadits palsu oleh Syaikh Al-Albany dalam Dha'if At-Targhib no. 667.
Bid'ah-bid'ah Seputar Sya'ban
Sebagai tambahan manfaat terhadap penyebutan hadits-hadits di atas, maka berikut ini beberapa keterangan para ulama terkait dengan sejumlah bid'ah yang berkembang di tengah kaum muslimin pada bulan Sya'ban 20 :
1. Merayakan malam nishfu Sya'ban.
2. Mengkhususkan shalat seratus raka'at pada malam nishfu Sya'ban dengan membaca surah Al-Ikhlash sebanyak seribu kali. Shalat ini dinamakan shalat Alfiyah .
3. Mengkhususkan shalat pada malam nishfu Sya'ban dan berpuasa pada siang harinya.
4. Mengkhususkan doa pada malam nishfu Sya'ban.
5. Shalat enam rakaat dengan maksud menolak bala, dipanjangkan umur dan berkecukupan.
6. Seluruh doa yang dibaca ketika memasuki bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan. Karena semua bersumber dari hadits yang lemah.
7. Menyalakan api dan lilin pada malam nishfu Sya'ban.
8. Berziarah ke kuburan pada malam nishfu Sya'ban dan menghidupkan api di sekitarnya. Dan kadang para perempuan juga ikut keluar.
9. Mengkhususkan membaca surat Yasin pada malam nishfu Sya'ban.
10. Mengkhususkan berziarah kubur pada bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan dan pada hari 'Ied.
11. Mengkhususkan bershodaqah bagi ruh yang telah meninggal pada tiga bulan tersebut.
12. Meyakini bahwa malam nishfu Sya'ban adalah malam Lailatul Qadri.
13. Membuat makanan pada hari nishfu Sya'ban kemudian membagikannya kepada fakir miskin dengan asumsi makanan untuk kedua orang tua yang meninggal
Footnote:
1 Baca pembahasan Bid'ah dan Bahayanya dalam majalah An-Nashihah vol. 06 pada Rubrik Manhaj.
2 Keterangan Ibnul Mubarak disebutkan oleh Imam At-Tirmidzy setelah membawakan hadits di atas. Dan baca juga Fathul Bary 4/214.
Majmu 'Fatawa beliau 15/416.
Latho'if Al-Ma'ârif , hal. 138 karya Ibnu Rajab.
Latho'if Al-Ma'ârif , hal. 138 karya Ibnu Rajab.
6 Baca Silsilah Ahadits Ash-Shohihah , no. 1144 dan risalah " Husnul Bayân Fima Warada fi Lailah An-Nishf min Sya'ban "karya Masyhur Hasan Salman.
7 Kebanyakan para ulama menganggap bahwa tidak ada satu hadits pun yang shohih terkait dengan keutamaan Nishfu Sya'ban. Di antara mereka yang menganggap seperti itu, Al-Hafizh Ibnu Dihyah, Abu Bakr Ibnul 'Araby, Al-Qurthuby, Jamalauddin Al-Qasimy, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu' Utsaimin dan lain-lainnya. Dan sebagian penulis di masa ini ada yang tidak menyetujui Syaikh Al-Albany dalam menshohihkan hadits di atas. Kami dalam permasalahan kali ini belum sempat untuk lebih meneliti masalah ini. Semoga Allah memudahkannya di waktu lain.
8 Akan datang penjelasan tentang bid'ah-bid'ah seputar Sya'ban.
afdhol dalam bahasa Arab berarti "paling utama" atau "lebih utama".
9 Baca Irwa'ul Ghalil 3/397.
10 Fathul Bary 4/214.
11 Demikian keterangan Ibnu Taimiyah sebagaimana yang dinukil oleh muridnya, Ibnu Qayyim dalamI'lamul Muwaqqi'in 4/293.
12 Latho'if Al-Ma'ârif , hal. 151 karya Ibnu Rajab.
13 Al-Furûsiyah , hal 247.
14 Fathul Bary 4/129.
15 'Umdah Al-Qari' 11/85.
16 Al-Irsyad 1/218, karya Al-Khalîly dan beliau menyebutkan bahwa hadits di atas termasuk hadits-hadits yang Al-'Alâ' bersendirian dalam meriwayatkannya dan tidak ada pendukungnya.
17 An-Nukat 'alâ Muqaddimah Ibnu Ash-Sholah , karya Az-Zarkasyi 1/364-365.
18 Risalah yang ketiga tentang hukum merayakan nishfu Sya'ban dari buku beliau At-tahdzir min Al-Bida ' , hal. 22.
19 Diringkas dari Fatâwâ beliau pada jilid 20.
* Malam Tarwiyah adalah malam menjelang hari Tarwiyah yang jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah setiap tahunnya.
20 Disarikan dari buku Mu'jam Al-Bida ' , hal. 299-301 dan Al-Bida 'Al-Hauliyah , hal. 300-304.

(Dinukil dari Majalah An-Nashihah Vol. 11 Th. 1 / 1427H/2006M, kategori: Hadits, judul: Hadits-Hadits Seputar Bulan Sya'ban , hal. 46-52,


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar