Senin, 20 Mei 2013

>>Ironi Dunia Pendidikan Kita>>

<<www.salafyciampeabogor.blogspot.com>>

Makam mantan presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dipadati siswa sejak sepekan terakhir ini.Mereka datang untuk memanjatkan doa. Harapannya, para siswa tersebut memiliki kesiapan mental saat mengerjakan Ujian Nasional. (inilah.com, 14/4/2012)
SMA Negeri 3 Nganjuk, Jawa Timur, menggelar acara sungkeman bagi para siswanya yang akan ikut ujian nasional pada para guru mereka. Tak hanya sekedar sungkeman, para siswa tersebut juga membasuh kaki gurunya dengan air kembang, sekaligus meminta maaf pada seluruh adik-adik kelasnya, layaknya ritual bermaaf-maafan saat Lebaran. (okezone.com, 14/4/2012) 
Pembaca yang dirahmati Allah ...
Ujian nasional yang merupakan parameter utama dalam kelulusan seakan-akan menjadi momok bagi sebagian besar siswa di Indonesia belakangan ini. Berbagai persiapan pun dilakukan agar bisa lulus.Beberapa sekolah bahkan mengadakan beberapa ritual dengan harapan agar mental siswa menjadi lebih siap dan agar Allah memudahkan mereka dalam mengerjakan tes. Ritual ini bisa berupa dari doa bersama, sungkeman dengan guru, hingga ziarah ke makam orang-orang yang dianggap mulia. Alih-alih menenangkan, cara seperti ini justru membuat siswa semakin tegang dalam menghadapi ujian.
Betapa banyak suara-suara miring dari generasi yang lebih tua yang mengeluhkan kondisi ini. Mental juang anak muda sekarang sangat lemah. Zaman dulu, siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus memang mengalami kekecewaan yang besar, namun tidak sampai histeris, sampai bunuh diri. Para guru pun tidak sampai mengadakan ritual-ritual khusus dalam menghadapi ujian. Semuanya alamiah, dianggap sebagai ujian biasa.
Pembaca yang dirahmati Allah ...
Pendidikan yang benar seharusnya menitikberatkan pada proses belajar dan kekokohan ilmu. Tes jelas perlu, namun kegagalan dalam tes bukan berarti bahwa masa depan kita sudah berakhir. Kegagalan dalam tes justru menunjukkan bahwa kita memang belum benar-benar memahami materi yang disampaikan.
Dan yang paling utama, pendidikan seharusnya menekankan agar siswanya memiliki tujuan hidup yang benar. Lalu apa sesungguhnya tujuan hidup manusia? Allah berfirman,
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
"Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia melainkanuntuk beribadah kepadaKu" [QS. Adz Dzariyat: 56]
Dari ayat tersebut, sangat jelas bahwa setiap muslim tujuan hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Dan tujuan hidup inilah yang seharusnya diajarkan kepada putra-putri kita. Ketika kelak menjadi dokter, ia akan menjadi dokter yang berjiwa sosial tinggi yang menolong warga miskin secara cuma-cuma dengan niat beribadah. Ketika kelak menjadi ilmuwan, ia akan berusaha keras untuk melakukan berbagai penelitian dengan niat ibadah untuk kemaslahatan manusia.
Dan kita pun berharap agar anak cucu kita besok ada yang menjadi alim ulama, yang mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk berdakwah di jalan Allah. Mengapa? Karena kita semua sudah memaklumi bahwa mundurnya umat dan bangsa ini karena meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh orang tua kita, baik itu nilai kesusilaan, kesopanan, dan terutama nilai-nilai agama. Sehingga para juru dakwahlah yang justru memiliki peran penting dalam pembangunan umat dan bangsa ini. Allah berfirman,
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض
Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami anugerahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi  [QS. AI-A'rof: 96].
Berita pada awal artikel ini jelas menunjukkan ironi dunia pendidikan kita saat ini. Alih-alih mengajarkan hidup beribadah yang benar, pihak sekolah justru mendorong siswanya melakukan ritual-ritual yang mengarah pada kesyirikan. Dari sini kita bisa menangkap bahwa sistem pendidikan kita saat ini memang belum bisa dijadikan tumpuan utama pendidikan putra-putri kita.
Pendidikan yang utama sejatinya berada pada pendidikan keluarga di rumah (lihat artikel  "Pendidikan Keluarga" ) . Ketika rumah telah dijadikan sebagai tempat pendidikan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, sehebat apapun pengaruh kesyirikan di luar, ia tidak akan terpengaruh. Karena ia akan kembali ke rumah, tempat dimana ibadahnya dimurnikan kembali. Allah telah berfirman,
يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka"  [QS.At Tahrim: 6]
Tulisan ini juga sebagai bentuk nasehat kepada para praktisi pendidikan agar menggunakan cara-cara rasional yang tidak menyelisihi nilai-nilai agama dalam mendidik. Anda sekarang sedang membentuk bibit-bibit harapan bangsa. Tentu kita tidak ingin umat dan bangsa ini kelak dipimpin oleh orang-orang yang masih percaya dengan hal-hal mistik yang mengandung kesyirikan. Hanya satu cara untuk sukses, yaitu dengan belajar, berusaha, dan beribadah hanya kepada Allah.
Semoga Allah menjaga diri dan keluarga kita dari berbagai macam kesyirikan Wallaahu a'lam (Ristyandani)
dari: Majalah Tashfiyah edisi 16

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar