Jumat, 12 April 2013

Mengapa Islam Memperingatkan Umatnya dari Bid’ah ... ???


>>www.salafyciampeabogor.blogspot.com<<
Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan Islam sangat memperingatkan umatnya dari bid’ah:
1. Bid’ah merupakan penyebab terjadinya perpecahan umat
Tidaklah perpecahan dan perselisihan yang terjadi di umat ini melainkan disebabkan oleh kebid’ahan yang tersebar di tengah-tengah umat Islam. Allah berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)
Menurut sebagian salaf, di antaranya Mujahid bin Jabr rahimahullah, bahwa makna as-subul(jalan-jalan yang lain) adalah bid’ah dan syubuhat. Sehingga maksud firman Allah “dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)” adalah janganlah kalian mengikuti kebid’ahan dan berbagai syubuhat.
2. Bid’ah adalah penyebab tertolaknya amalan
Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ.
“Barangsiapa yang mengada-adakan (kebid’ahan) dalam urusan(agama) kami yang sebenarnya bukan bagian dari agama kami tersebut, maka ia akan tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari shahabat Aisyah radhiyallahu ‘anha)
Dalam riwayat Muslim dengan lafazh,
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ.
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang bukan bagian dari urusan agama kami, maka amalan tersebut akan tertolak.” (HR. Muslim)
3. Semua bentuk kebid’ahan adalah sesat
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة.
“Dan hati-hatilah kalian dari perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya semua perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya dari shahabat Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu)
4. Pelaku bid’ah tidak diterima taubatnya , berbeda dengan pelaku maksiat yang lain, sehingga bid’ah pun lebih disukai iblis daripada maksiat
Yakni sangat sulit bagi pelaku bid’ah untuk bertaubat dari kebid’ahannya, berbeda dengan pelaku maksiat. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena bid’ah itu tidak akan diampuni, adapun maksiat akan diampuni.”
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa bid’ah tidak akan diampuni adalah firman Allahta’ala,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا.
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi: 103-104)
Bagaimana pelaku bid’ah akan bertaubat sementara ia meyakini bahwa kebid’ahan yang ia perbuat itu merupakan kebaikan?
5. Pelaku bid’ah, pada hakekatnya telah menuduh bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah khianat dalam menyampaikan risalah, ada beberapa risalah (ajaran) yang belum beliau sampaikan kepada umatnya.
Sungguh beliau telah sempurna dalam mengemban amanah risalah ini. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah beliau ajarkan kepada umatnya, dan tidak ada satu kejelekan pun kecuali telah beliau peringatkan agar umatnya menjauhinya.
Barangsiapa yang berkata, beramal, atau berkeyakinan dengan sesuatu yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara ia menganggapnya suatu kebaikan, maka sungguh ia telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak amanah dalam menyampaikan risalah ini.
Wallahu a’lam bish shawab.
(Diambil secara ringkas dari catatan pelajaran Ushulus sunnah Al-Imam Ahmad bin Hanbaldi Ma’had As-Salafy Jember, disampaikan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar