Kamis, 14 Februari 2013

Muhasabah: Barangkali Karena Aku Berdosa



logo islami
>>>www.salafyciampeabogor.blogspot.com<<<
Oleh Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i
Hari Arafah adalah hari istimewa. Pada hari itu Allah subhanahu wata’ala melimpahkan ampunan danmaghfirah untuk sekian banyak hamba. Allah subhanahu wata’ala membanggakan semua hamba yang Wukuf di Arafah dihadapan para Malaikat. Allah subhanahu wata’ala berfirman kepada para Malaikat: “Lihatlah kepada hamba-hamba -KU itu! Mereka datang kepada-KU dalam keadaan rambut acak-acakan dan penuh debu.”
Al Fudhail bin Iyadh rahimahullah memerhatikan orang-orang yang bertasbih dan menangis petang hari Arafah lalu bertanya, “Apa pendapat kalian? Seandainya semua orang itu menemui seseorang untuk meminta seperenam dirham, apakah mungkin orang itu menolak permintaan mereka?’
Mereka menjawab, “Tentu tidak.”
Al Fudhail mengatakan , “Demi Allah subhanahu wata’ala, ampunan dari Allah subhanahu wata’ala lebih mudah dibandingkan orang itu memenuhi permintaan seperenam dirham itu.”
Hari Arafah adalah hari yang paling dinanti oleh setiap jama’ah haji. Hari Arafah juga menjadi hari yang paling diharapkan oleh setiap insan di seluruh penjuru bumi. Hari itu adalah hari pengampunan dari Dzat Yang Maha Tinggi.
Namun, ternyata ada sisi lain yang perlu kita ketahui.
Masih ada hamba yang takut bila dosa-dosanya tidak terampuni. Bagi mereka sekeping dosa adalah sumber kehancuran dan kebinasaan.  bagi mereka, secuil kesalahan dapat menjerumuskan kedalam jurang-jurang neraka. Beban rasa bersalah akibat satu bentuk kemaksiatan, ibarat gunung berat ditimpakam diatas pundaknya.
Hari Arafah adalah hari istimewa. Hari Arafah adalah hari pengampunan.
Namun, lihatlah diujung sana. Diatas sepetak tanah tempat kaki berpijak. Ada beberapa hamba yang menangisi kesalahan dan dosa.
Pada hari Arafah, Mutharrif bin Abdullah rahimahullah bertutur dalam kekhusyuan doa: “Ya Allah, janganlah Engkau menolak untuk mengabulkan doa-doa seluruh hamba-MU disini, hanya karena diriku yang penuh dosa.”
Bakr bin Abdullah Al-Muzani rahimahullah bercerita, “Tatkala aku memerhatikan seluruh jama’ah di padang Arafah, aku yakin Allah pasti mencurahkan ampunan untuk mereka semua, kalau saja aku tidak berada ditengah-tengah mereka.”
Masya Allah! Benar-benar rasa bersalah akibat dosa telah membawa seorang hamba kedalam lautan penyesalan. Ia khawatir, jika dosa yang dilakukannya, bukan hanya ia yang menanggung akibatnya. Bisa jadi orang lainpun merasakan pahitnya akibat dosanya.
>>>abu yusrina al-atsary<<<
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
(QS. Al-Anfal:25)
Ibnu Katsir menjelaskan (700-774H), “Melalui ayat ini Allah subhanahu wata’ala memberikan peringatan keras kepada hamba-Nya kaum mukminin tentang cobaan dan hukuman yang sifatnya merata, menimpa hamba-Nya yang jahat maupun yang tidak. Cobaan dan hukuman tidaklah hanya menimpa para pelaku maksiat, juga tidak hanya menimpa pelaku dosa secara langsung. Namun sifatnya secara merata.”
Bisa jadi karena amar ma’ruf nahi munkar yang ditinggalkan. Bisa jadi cobaan itu menimpa hamba mukmin agar derajatnya semakin tinggi atau sebagai penghapus dosanya. Mungkin, untuk sebuah hikmah yang kita tidak ketahui.
Jagalah diri dari dosa! Sebab akibatnya sangat terasa.
Seorang Ulama Salaf berujar, “Sungguh, setiap kali aku berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, pengaruh buruknya dapat aku rasakan pada perangai hewan tungangan dan istriku.”
Barangkali, kesulitan yang kita hadapi atau problema masalah yang tak kunjung berakhir merupakan akibat dari dosa kita sendiri.
Bertaubatlah!
Selagi kesempatan masih ada.
Dicopy dari: catatanmms.wordpress.com, kutip dari Majalah QUDWAH//edisi 3 Vol 01 2012// hal 84-85

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar