Sabtu, 02 Februari 2013

Kiat Menjadi ISTRI IDAMAN

>>>salafyciampeabogor.blogspot.com<<<

[HR. Muslim dan Ibnu Majah, shohih]


Seluruh wanita mengharapkan dari hati terkecilnya untuk menjadi istri shalihah, dicintai dan mencintai suaminya. Namun, bagaimanakah caranya untuk menjadi istri yang shalihat tersebut?!

Istri yang Membahagiakan Suaminya

Inilah sifat yang pertama kali disebutkan Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam agar tiap-tiap perempuan yang beriman dan bertaqwa bisa menggapai kebahagiaan rumah tangga.

Istri yang shalihah adalah istri yang mampu menghadirkan kebahagiaan didepan mata suaminya walau hanya dengan sekedar pandangan mata kepadanya. Perindahlah keadaanmu didepan suamimu dengan apa-apa yangAlloh bolehkan dan halalkan, seperti memakai inai pada kuku atau memakai celak untuk mata.
 
Karena itulah, seorang muslimah hendaknya sangat hati-hati agar jangan sampai pandangan suaminya tertuju kepada sesuatu yang tidak disukainya, baik bau yang tidak sedap maupun pandangan yang tidak enak dan semisalnya.

Wahai saudaraku muslimah…, jadikanlah keceriaan senantiasa memenuhi sisi kehidupanmu, kebahagiaan menyenangkan suamimu, kesuka-citaan selalu menghiasi rumahmu.
Seorang Perempuan yang Taat kepada Suaminya
Diriwayatkan dari Al Hushain bin Mihshan, bahwa bibinya pernah datang kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluannya. Setelah selesai dari keperluannya, Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah bersuami?”
Ia menjawab, “Ya.”
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu terhadap dia?”
Ia menjawab, “Saya senantiasa berusaha dengan keras untuk melayaninya, kecuali yang saya tidak mampu.”
Beliau pun bersabda, “Maka lihalah, bagaimana sikapmu kepadanya. Sesungguhnya dia adalah surgamu dan sekaligus juga nerakamu.”
[HR. Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Abi Syaibah, Hakim, dan yang lainnya. Hasan]

Manakala seorang istri muslimah taat kepada suaminya dan menjauhi hal-hal yang menyakitkan hati suaminya serta berusaha untuk meraih keridhaannya, maka Alloh pun akan ridha kepadanya didunia dan akhirat.

Menjaga Kehormatannya dan Harta Suaminya Tatkala Dia Sedang Tidak di Tempat

Alloh ‘azza wa jalla berfirman,
“Wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka).”
[QS. An-Nisaa' ; 34]

Hak-mu dari suamimu adalah kamu tidak dikhianati oleh suamimu, dia tidak mengorek-ngorek keuranganmu dan sebaliknya, hak suamimu terhadapmu adalah kamu menjaga harga dirimu pada saat dia tidak ada.
 
Bukanlah ajaran Islam sama sekali jika kamu keluar dari rumahmu pada saat suamimu tidak ada di tempat selagi ia tidak mengizinkanmu keluar. Bila kamu keluar tanpa persetujuannya atau ia tidak tahu karena tidak ada ditempat, maka berarti kamu telah berbuat dosa dan tidak menjaga harga diri tanpa kau sadari.

Menjaga harga diri juga berarti tidak mengizinkan seorang yang asing untuk tidak masuk ke rumahmu pada saat suami tidak ada ditempat.

Istri shalihah adalah wanita yang sangat hati-hati dalam membelanjakan harta suaminya, karena ia sebagai pemegang amanahnya, maka ia tidak boleh mengkhianati amanah tersebut.

Seorang Istri Tidak Berpuasa Kecuali dengan Izin Suaminya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallampernah bersabda,
“Tidak halal bagi seorang perempuan untuk berpuasa dan suaminya menyaksikannya kecuali dengan izinnya.”
[HR. Bukhari, Muslim, Abu dawud, Tirmidzi, Imam Ahmad. Shohih]

Imam Nawawi berkata, “Larangan ini dimaksudkan pada puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu.”
[Syarhun Nawawi terhadap Shohih Muslim, 7/115]

Ibnu Hajar berkata, “Dalam hadits ini, ada petunjuk bahwa hak suami lebih kuat bagi seorang perempuan daripada ibadah sunnah, karena hak suaminya adalah wajib sedangkan melakukan kewajiban harus dikedepankan daripada melakukan yang sunnah.”
[Fathul Bari' 9/296]

Seorang Perempuan Tidak Boleh Meninggalkan Tempat Tidur Suaminya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosulullah sholalohu ‘alaihi wasallambersabda,
“Bila seorang perempuan melalui malamnya dengan meninggalkan tempat tidur suaminya, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari.”
[HR. Bukhari, Musli, Imam Ahmad, Ad-Darimi, Al-Baihaqi. Shohih]

Hadits diatas mengisyaratkan betapa besarnya perkara menyelisihi ajakan seorang suami yang ditujukan kepada istrinya. Juga menunjukkan bahwa doa para malaikat yang baik maupun yang buruk dikabulkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, karenanyalah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallammengkhawatirkan hal tadi.

Sesungguhnya Rosulullah menghendaki kebaikan untuk kaum wanita, karena itulah Beliau mengarahkan mereka kepada sesuatu yang membawa kebaikan bagi mereka dunia dan akhirat. Beliau mengarahkan kepada suatu perkara yang besar, yaitu tidak bolehnya seorang istri membangkang terhadap perintah suaminya dan Beliau menjelaskan resiko bagi para wanita jika membangkang terhadap perintah suaminya.

Dengan sebab inilah, wajib bagi seoang istri untuk mencari ridha suaminya, menghindari kemurkaannya dan tidak pernah menolak (berjima’) kapan saja suaminya menghendakinya. Kecuali bila ada alasan syar’i yang menghalanginya, seperti haidh, nifas, atau sakit parah.

Seorang Perempuan Tinggal di Rumahnya

Istri shalihah percaya bahwa tempat terbaik untuk menjaga dari keterjerumusan ke dalam jurang kebinasaan adalah tetap tinggal dirumahnya, karena itu ia tidak menjadi orang yang suka kesana kemari keluar dari rumahnya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan tinggallah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian….”
[QS. Al Ahzaab ; 33]

Saudaraku muslimah…., Islam menghendaki seorang istri shalihah berada dalam keadaan yang sangat baik, jauh dari keragu-raguan dan syubhat. Karena itulah, bila memang ada kebutuhan yang mendesak untuk keluar, maka hendaknya ia keluar dengan memakai hijab (pakaian penutup aurat), berjalan dengan sopan, menundukkan mata dan menghindari berjalan di bagian tengah, karena berjalan di bagian tengah merupakan sebab dirinya menjadi sasaran pandang kaum lelaki

Maksud dari hadits ini bukan seperti yang banyak disangka oleh sebagian besar muslimah, yang mana mereka mengira Islam membatasi ruang gerak seorang perempuan atau mengurangi peranannya. Sesungguhnya, maksud hadits ini adalah untuk mengatur bagaimana seorang perempuan keluar dari rumahnya.

Hukum asalnya seorang perempuan adalah tinggal di rumahnya, memikirkan urusan rumahnya dan tidak keluar kecuali dalam keadaan darurat saja. Kalaulah seorang perempuan ingin bekerja, maka harus pada hal-hal yang diperbolehkan oleh syariat, berupa pekerjaan-pekerjaan yang memang khusus untuk kaum hawa.

Adapun seorang perempuan yang keluar dari rumahnya dengan berpenampilan tabarruj (berdandan), tidak menutup aurat, berkeliaran d jalan-jalan, bercampur baur dengan lelaki, maka inilah yang menyalahi syariat.
‘Aisyah radhiyallohu ‘anha berkata, “Andai Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam melihat apa yang dilakukan oleh para wanita saat ini, tentulah beliau tidak akan mengizinkan mereka untuk keluar, yakni keluar ke masjid untuk sholat.”
 
Perkataan beliau ini diucapkan tak selang lama setelah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam wafat, lantas bagaimana keadaan para wanita pada zaman kita ini yang sangat jauh dari zaman Nabi ?!

Seorang Istri berterimakasih Kepada Suaminya

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Nabi sholallohu’alaihi wasallambersabda,
“Alloh tidak melihat kepada seorang perempuan yang tidak bersyukur (berterimakasih) kepada suaminya, dia tidak pernah merasa cukup darinya.”
[HR. An-Nasai ; Shohih]

Seorang istri halihah selalu bersyukur kepada suaminya dan bersabar terhadap berbagai kesulitan dan kesusahan yang dihadapinya.

Seorang Perempuan Tidak Menggambarkan (menyebutkan Sifat dan Bentuk Tubuh) Perempuan Lain kepada Suaminya

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah seorang perempuan melihat langsung kepada perempuan lainnya lalu menceritakan dengan detil kepada suaminya sampai seolah-olah ia melihatnya.”
[HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan yang lainnya. Shohih]

Hadits ini adalah suatu pokok untuk mengantisipasi segala jalan yang bisa mengantarkan kepada yang haram. Dikhawatirkan sang suami terpikat dengan sifat-sifat tadi lalu hal ini dapat menyebabkan ia menceraikan istrinya atau ia terfitnah dengan orang yang diceritakan sifat-sifatnya.

Seorang Perempuan Tidak mengeraskan Suaranya Melebihi Suara Suaminya

Istri yang shalihah meyakini bahwa mengeraskan suara melebihi suara suaminya termasuk ciri khas wanita-wanita yang fasik.
Seorang Badui pernah ditanya tentang sifat-sifat wanita yang paling jelek.
Ia menjawab, “Wanita yang paling jelek adalah yang bersifat menguasai, menyalahgunakan kenikmatan, gampang kabur dari rumah, cepat emosi, lisannya tajam laksana ujung tombak, suka tertawa tanpa ada yang lucu, mudah menangis tanpa sebab, mengajak ribut dengan suami, sombong sikapnya, ucapannya mengancam dan suaranya menggelegar.”

Seorang Perempuan Tidak meminta Cerai Kepada Suaminya

Istri shalihah senantiasa berusaha untuk mencarikan solusi problem apapun yang menghinggapi kehidupan rumah tangganya tanpa terbersit dalam benaknya untuk meminta cerai.
“Wanita mana saja yang meminta cerai kepada saminya tanpa alasan yang membolehkannya maka diharamkan baginya untuk mencium baunya surga.”
[HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya. Shohih]

Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa seorang perempuan yang meminta cerai kepada suaminya dalam keadaan yang tidak mendesak (seperti kekhawatirannya bahwa ia tidak dapat melaksanakan hukum-hukum Alloh bila tetap menikah), karena sebab kebenciannya terhadap suaminya, maka yang demikian ini haram, yakni terhalangi dari mencium semerbaknya bau surga.

Sesungguhnya istri shalihah senantiasa intropeksi pada dirinya dan mengoreksi hatinya, kenapa sampai terjadi kebekuan di antara dirinya dengan suaminya?!

Sebagai penutup, ada untaian nasehat bagi perempuan yang ingin menggapai predikat Istri Shalihah :

1. Janganlah suamimu sampai melihatmu dalam keadaan yang tidak menyenangkannya. Istri shalihah selalu menghadirkan kebahagiaan berada di pelupuk mata suaminya pada setiap kali pandangannya tertumbuk pada dirimu.
2. Jadikanlah senyumanmu selalu mengembang, menghiasi bibirmu tiap kali pandangannya mengarah kepadamu.
3. Perbanyaklah ketaatanmu kepada suami untuk meraih keridhoannya.
4. Pilihlah waktu yang tepat dan cara yang pas untuk mengingatkan kesalahan suami.
5. Jadilah orang yang berlapang dada, janganlah engkau mengungkit-ungkit sisi negatif suamimu terhadap orang lain.
6. Dengan bekal kecerdasanmu dan kecintaanmu terhadap suami, perbaikilah kesalahan-kesalahannya tanpa engkau harus menyakiti perasaannya.
7. Jangan coba-coba memuji lelaki lain didepan suamimu kecuali kalau untuk menerangkan keadaan agamanya.
8. Jangan percaya omongan orang lain terhadap suamimu.
9. Engkau harus selalu berbuat hal-hal yang disukai oleh suamimu di hadapannya dan mengucapkan hal-hal yang enak didengar olehnya.
10. Pahamkanlah kepada suamimu agar ia meghormatimu tatkala terjadi ketegangan dalam pergaulan sehari-hari. Sesungguhnya ketegangan dala rumah tangga hanyalah sementara saja.
11. Ingatkanlah selalu suamimu bila ada salah satu orangtuanya atau kerabatnya yang sakit agar menjenguknya bersama-sama, bukan sendiri-sendiri.
12. Janganlah menampakkan kebosanan dan kejenuhan padanya bila suami mengalami kesulitan ekonomi dan ingatkanlah selalu bahwa banyak kebaikan yang engkau dapati dari dirinya.
13. Usahakanlah untuk ikut tertawa bila ia tertawa, ikutlah menangis dan bersedih bila ia sedang menangis dan bersedih. Sesungguhnya ikut senasib dan sepenanggungan menambah rasa cinta.
14. Nampakkanlah kepatuhan dan upayamu untuk mendengar bila ia berbicara.
15. Janganlah merengek-rengek terus dan sering mengulang-ulang permintaanmu terhadap sesuatu, bahkan kamu jangan mengingatkannya kecuali bila ia dalam keadaan longgar rizkinya.
16. Hati-hati dari mengulangi kesalahan atau terjerumus ke dalam suatu sikap yang sudah kamu ketahui bahwa hal itu tidak disukai dan tidak ingin dilihatnya.
17. Bila suamimu mengerjakan sholat sunnah di rumah, maka janganlah lupa untuk ikut sholat dibelakangnya dan bila ia sedang membaca kitab maka ikutlah duduk disampingnya dan mendengarkannya.
18. Janganlah keterlaluan dalam membicarakan cita-cita pribadimu didepan suami, mintalah ia untuk sering-sering menceritakan kepadamu tentang cita-cita pribadinya.
19. Janganlah kamu mendahulukan pendapatmu dari pada pendapatnya, pada setiap masalah baik kecil maupun besar. Karena dasar cintamu kepadanya, maka utamakanlah pendapatnya dalam sebagian besar permasalahan.
20. Jagalah rahasia yang disampaikan kepadamu, jangan sampai membocorkannya walaupun kepada bapak dan ibumu. Jika hal itu kamu lakukan, maka hal itu akan menyulut api kemarahan dalam hatinya.
21. Hati-hatilah engkau, jangan sampai menyebutkan bahwa kamu pemegang ijazah ini dan itu dalam bertukar pikiran. Yang demikian bisa menimbulkan kebencian kepadamu.
22. Lemah lembutlah terhadap suamimu, sangat baik kalau dalam suatu kondisi tertentu kamu menyediakan makanan kecil untuknya.
23. Janganlah meninggalkan rumah walaupun terjadi percekcokan yang sangat parah atau perdebatan di antara kamu dengannya, karena yang demikian menambah padanya rasa tidak butuh kepadamu.
24. Jauhilah cemburu buta, karena yang demikian adalah senjata yang menghancurkan.
25. Janganlah berkomunikasi dengan suami dengan posisi seolah-olah kamu orang yang tak pernah salah sedangkan suami sebagai pihak yang selalu salah.
26. Jagalah perasaannya, janganlah sering-sering memuji dan menyebutkan kelebiha serta kebaikan kerabat dekatmu dihadapannya.
27. Jauhilah sejauh mungkin berdusta kepada suamimu, karena yang demikian itu sangat menyayat hati.
-dinukil dari kitab Lin-Nisaa’ Faqath, Az-Zaujatush-Shalihah, karya Abu Maryam Majdi bin Fathi As-Sayyid-


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar