Selasa, 05 Februari 2013

Jadikan Istirahatmu Bernilai Disisi Allah



(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Istirahat atau tidur adalah salah satu aktivitas harian yang diharapkan bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Melanjutkan edisi sebelumnya, bahasan kali ini akan menginjak permasalahan doa dan adab tidur lainnya.
Rasulullah n telah memberikan bimbingan agar berdoa di dalam tidur kita. Tentunya dengan harapan agar istirahat kita bisa berbarakah dan bernilai ibadah di sisi Allah. Rasulullah n bersabda:
“Barangsiapa duduk di sebuah tempat dan tidak berdzikir kepada Allah maka akan diberikan kekurangan oleh Allah. Dan barangsiapa mengambil tempat tidurnya dan tidak berdzikir kepada Allah maka dia tidak mendapatkan dari-Nya melainkan keku-rangan.”
Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 4805, 5059 dan An-Nasa`i dalam kitab ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah no. 404, dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali di dalam kitab Bahjatun Nazhirin 2/109, Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab As-Shahihah no. 78, dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4065.
Dalam pembahasan sebelumnya, telah kita simak beberapa doa yang telah diajarkan Rasulullah n untuk diamalkan. Dan kita yakin, setiap bimbingan ada keutamaannya sendiri dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud z berkata:
“Tidur ketika berdzikir adalah dari setan dan jika kalian ingin (mengetahuinya) maka cobalah. Dan apabila seseorang dari kalian menuju pembaringannya dan dia ingin tidur, maka hendaklah dia berdzikir kepada Allah.”1
Ibnul Qayyim t menjelaskan: “Barangsiapa mempelajari sifat tidur dan bangun Rasulullah n, dia akan menjumpai bahwa tidur beliau adalah tidur paling nyaman dan lebih memberikan manfaat kepada badan dan semua anggotanya, serta memberikan kekuatan.
Beliau tidur di awal malam dan bangun pada akhir pertengahan kedua dari malam. Beliau bangun dan menggosok gigi dengan siwak dan berwudhu. Dan beliau mendirikan shalat yang telah diwajibkan Allah atas beliau. Dengan itu, badan, semua anggotanya, dan tenaga, mengambil manfaat dari tidur dan istirahatnya itu. Dan juga olahraga, bersamaan dengan limpahan pahala. Tentu ini merupakan puncak kebagusan hati dan badan, dunia dan akhirat.
Beliau tidak tidur melebihi kebutuhan dan tidak meninggalkannya melebihi yang dibutuhkan badan. Dan beliau melaksana-kannya dengan cara yang sempurna. Beliau tidur di atas lambung sebelah kanan dalam keadaan berdzikir kepada Allah hingga mata beliau terpejam.” (Lihat Zadul Ma’ad, 2/142)
>>>www.salafyciampeabogor.blogspot.com<<<
Doa-doa ketika Hendak Tidur
Di antara doa-doa yang beliau baca adalah:
q Membaca Ayat Kursi
Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sunnah taqririyah beliau ketika setan mengajarkan tameng dari sebuah kejahatan kepada Abu Hurairah z, dia berkata:
“Apabila kamu menuju ranjang pembaringanmu, maka bacalah ayat kursi. Niscaya kamu terus bersama penolong dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai datang waktu pagi.” Rasulullah n bersabda: “Dia benar dan dia adalah seorang pendusta. Dia itu setan.”2
q Membaca Dua Surat yaitu Alif Lam Mim As-Sajadah dan Al-Mulk
Hal ini dijelaskan Rasulullah n dalam riwayat Jabir bin Abdullah z, beliau berkata:
“Adalah Rasulullah tidak tidur sehingga beliau membaca (surat) Alif Laam Mim Tanzil dan Tabaarakalladzi biyadihi Al-Mulk.”3
q Membaca Doa-doa di bawah ini:
1. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 5045 dari Hafshah x, beliau berkata: “Apabila Rasulullah n hendak tidur beliau meletakkan tangan kanannya di atas pipi beliau, dan berkata:
“Ya Allah, lindungilah aku dari adzabmu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3638 dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman z dan dari shahabat Al-Bara` bin ‘Azib z no. 3639, dan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adab Al-Mufrad no. 1215.
2. Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3636 dari shahabat Anas bin Malik z, berkata: “Adalah Rasulullah n apabila beranjak ke tempat pembaringan, beliau berdoa:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, yang telah mencukupi dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak memiliki yang akan mencukupi dan melindunginya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih beliau no. 2715, dan Al-Imam Abu Dawud no. 5053.
3.    Diriwayatkan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah no. 2714 bahwa Rasulullah n bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian menuju pembaringannya, hendaklah dia mengambil ujung sarungnya lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya. Dan hendaklah dia menyebut nama Allah karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Dan bila dia akan berbaring, maka berbaringlah di atas lambung sebelah kanan dan mengucapkan:
“Maha Suci Engkau ya Allah, wahai Rabbku. Karena Engkau aku meletakkan lambungku dan karena Engkau aku mengang-katnya. Dan jika Engkau menahan jiwaku, maka ampunilah ia. Dan jika Engkau mele-paskannya kembali maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.”
4.    Diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Suhail dari Abu Shalih dan Abu Shalih mengatakan: Kami meriwayatkannya dari Abu Hurairah z. Suhail mengatakan Abu Shalih memerintahkan kami, apabila salah seorang dari kami akan tidur hendaklah dia tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berkata:
“Wahai Rabb kami, pemilik langit dan bumi serta pemilik ‘Arsy yang agung. Wahai Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau yang Awwal dan tidak ada sesuatupun sebelum-Mu, Engkau yang akhir dan tidak ada sesuatupun setelah-Mu, Engkau yang Dhahir tidak ada sesuatu di atas Engkau, dan Engkau yang Batin dan tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Tunaikanlah hutang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”
Dan masih banyak lagi wirid-wirid yang dibaca Rasululah n dan jika dijabarkan tidak akan mencukupi dengan pembahasan singkat ini.
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Lebih utama bagi seseorang untuk mem-baca seluruh doa yang tersebut dalam bab ini. Namun bila tidak memungkinkan, hen-daknya dia membaca doa terpenting yang dia mampu.” (Al-Adzkar, hal. 80, ed)
Dan jika ingin mengetahui lebih jauh dapat dilihat dalam kitab Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi dan tahqiqnya.
Bila Terjaga di Malam Hari
Apakah ada tuntunan doa yang diajarkan Rasulullah n bila seseorang terjaga di malam hari?
Tentu ada. Diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud (no. 5060) dari shahabat ‘Ubadah bin Ash-Shamit z berkata: Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa terjaga lalu berdoa ketika bangunnya:
“La ilaha illallah tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, dan segala pujian milik Allah dan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan milik Allah lalu dia berdoa: “Wahai Rabbku ampunilah aku!” –Walid berkata– bila dia berdoa niscaya akan diampuni dan bila dia bangun kemudian berwudhu lalu shalat akan diterima shalatnya.”
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3478) dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan keduanya (yakni Abu Dawud dan Ibnu Majah). Bahkan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit z((ed).
Doa Bangun dari Tidur
Bila bangun dari tidur Rasulullah n berdoa:
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah matinya kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”4
Bersiwak bila Bangun dari Tidur
Diceritakan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman z tentang perbuatan Rasulullah n ketika bangun dari tidur:
“Adalah Rasulullah n apabila bangun di malam hari beliau menggosok mulut dengan siwak.”5
Cara Tidur yang Dilarang
Ya’isy bin Thikhfah Al-Ghifari berkata: “Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata:
“Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.”
(bapakku berkata): “Setelah aku melihat ternyata beliau adalah Rasulullah n.”6
Dan hadits ini diriwayatkan dari shahabat yang lain yaitu Abu Dzar z, diriwayatkan Al-Imam Ibnu Majah no. 3724 dan dari Abu Hurairah z, diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi no. 2230.
Bila Bermimpi
Di dalam kitab-kitab yang menghim-pun Sunnah Rasulullah n, ahlul hadits membawakan permasalahan mimpi dan ta’birnya. Hal ini menunjukkan bahwa ta’bir/takwil mimpi adalah sesuatu yang sangat penting untuk diilmui. Kita tidak hendak menjelaskannya secara detail di sini, hanya sebatas adab bila bermimpi.
Rasulullah n banyak menjelaskannya di dalam sabda-sabda beliau dan telah diriwayatkan sejumlah shahabat Rasulullah n di antaranya Abu Hurairah, ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Anas bin Malik, Abu Qatadah, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan selain mereka seperti:
“Apabila zaman berdekatan, hampir-hampir (mimpi) orang beriman tidak pernah meleset dan mimpinya orang yang beriman merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah.”7
a.    Macam Mimpi
Disebutkan oleh Rasulullah n bahwa mimpi ada tiga macam:
Pertama: Mimpi yang baik, dan ini merupakan kabar yang baik dari Allah.
Kedua: Mimpi yang buruk, dan ini dari setan.
Ketiga: Mimpi tentang apa yang terbetik di dalam diri.
Ketiga jenis mimpi ini disebutkan oleh Rasulullah n, dalam hadits yang diriwayat-kan Al-Imam Muslim dan selain beliau no. 2263 dari Abu Hurairah z.
b.    Adab bila Bermimpi
Ini termasuk kesempurnaan Islam. Tidak ada sesuatupun dalam Islam yang lepas dari bimbingan syariat. Maka berbaha-gialah orang yang menerima bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
q Adab Bila Bermimpi yang Baik
Rasulullah n telah menjelaskan sebuah adab bila seseorang bermimpi dengan mimpi yang baik. Diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari no. 6985 dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z bahwa beliau telah mendengar Rasululah bersabda:
“Apabila seseorang bermimpi yang disukainya maka sesungguhnya datang dari Allah, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain.”
Dalam hadits di atas ada dua adab yang disebutkan Rasulullah n bila bermimpi baik, yaitu memuji Allah dengan menga-takan: Alhamdulillah, dan menceritakannya kepada orang lain.
q Adab Bila bermimpi yang Buruk
Rasulullah n telah menjelaskannya dalam lanjutan hadits di atas yaitu:
“Apabila dia bermimpi yang selain itu (yakni yang tidak disukai), maka itu datangnya dari setan. Hendaklah dia berlindung dari (kejahatan) setan dan jangan menceritakannya kepada orang lain karena hal itu tidak akan membahayakannya.”
Di dalam hadits ini ada dua adab yang disebutkan Rasulullah n yaitu: berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan jangan dia menceritakannya kepada orang lain.”
Rasulullah n menyebutkan adab yang lain bila bermimpi buruk, seperti:
- Meludah tiga kali ke arah kiri
Hal ini dijelaskan Rasululah n dalam sabda beliau dari shahabat Abu Qatadah diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari no. 6986 dan Muslim no. 2261:
“Hendaklah dia meludah sedikit8 tiga kali.”
- Mengubah posisi tidur
Dijelaskan Rasulullah n dalam riwa-yat Jabir bin Abdullah z, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 2261:
“Dan hendaklah dia berpindah dari posisi tidur sebelumnya.”
- Shalat
Dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau sebagai-mana dalam riwayat Abu Hurairah z, diriwayatkan Al-Imam Muslim no. 2263:
“Maka hendaklah dia shalat.”
Ini beberapa pembahasan singkat bila bermimpi ketika tidur.
Penutup
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tidur itu ada dua fungsi dan faidah bagi setiap orang.
Pertama: Memberikan rasa nyaman kepada badan dari rasa lelah
Kedua: Menghancurkan makanan dan mematangkan segala campuran makanan. (Lihat Zadul Ma’ad 2/143)
Wallahu a’lam.

1 HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 1208 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Adabul Mufrad no. 918.
2 HR. Al-Imam Al-Bukhari
3 HR. Al- Imam Al-Bukhari di dalam kitab Adabul Mufrad no. 1207 dan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 3066, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab beliau Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2316, Shahih Adabul Mufrad no. 917, Ash-Shahihah no. 585, Al-Misykat no. 2155 dan di dalam kitab Ar-Raudh no. 227
4 HR. Al-Imam Al-Bukhari no.6314 dan Muslim no. 2711 dari shahabat Abu Hurairah z
5 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 889, 1136 dan Muslim no. 255
6 HR. Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan beliau no. 5040, Ibnu Majah no. 3723, At-Tirmidzi no. 2768, Ibnu Hibban no.5549, Ahmad 3/429, 430, dan Al-Hakim, 4/271. Dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali di dalam kitab Bahjatun Nazhirin (2/108) dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3000 dan Al-Misykat no. 4718.
7 Al-Bukhari dan Muslim
8 Makna at-tafl adalah meniup disertai sedikit ludah, dan at-tafl lebih besar daripada an-nafts. (An-Nihayah, ed)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar