Selasa, 29 Januari 2013

Jika Memang Diharamkan, Sulitkah Meninggalkannya? Di balik Indahnya Nyanyian dan Alunan Musik.



Ditulis oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafizhahullah
Qoddarallahu wa maa sya-a fa’ala (قَدَّرَ اللَّه وَمَا شَاءَ فَعَل) Allah Ta’ala telah mentaqdirkan dan Allah Ta’ala berbuat sesuai kehendak-Nya; ketika berada di sebuah toko, atau sebuah bis atau di tempat tertentu, tanpa sengaja saya mendengarkan alunan-alunan musik yang indah, dengan lirik-lirik yang manis dan tidak jarang sesuai dengan suasana hati, tanpa sadar terkadang air mata pun menetes.
Bukan, tetesan air mata itu bukan karena indahnya alunan musik tersebut, bukan pula karena liriknya yang manis atau kebetulan cocok dengan suasana hati. Akan tetapi karena haru dengan hidayah yang Allah Ta’ala berikan, bagaimana bisa hati yang dulu sangat mencintai lagu-lagu dan musik, bahkan sampai memenuhi jiwa dan raga, namun dengan hidayah Allah tabaraka wa Ta’ala ternyata dengan mudah dapat ditinggalkan bahkan dibenci.

Nyanyian dan Musik Memang Indah dan Dapat Memperdaya Jiwa yang Lalai

Sebagaimana dahsyatnya godaan wanita terhadap laki-laki yang sanggup menghilangkan akal sehatnya, demikian pula godaan musik terhadap jiwa manusia, ia bagaikan khamar bagi jiwa, sanggup menghilangkan akal dan mematikan hati. Inilah penuturan sang dokter hati.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

و الْمَعَازِفُ هِيَ خَمْرُ النُّفُوسِ تَفْعَلُ بِالنُّفُوسِ أَعْظَمَ مِمَّا تَفْعَلُ حُمَيَّا الْكُؤُوسِ

“Dan alat-alat musik itu adalah khamrnya jiwa, pengaruhnya lebih dahsyat dibanding khamar dalam gelas.”(Majmu’ Al-Fatawa, 10/417)
Sebagaimana mantra para penyihir dapat berpengaruh buruk -dengan izin Allah Ta’ala-, demikian pula nyanyian dapat mengantarkan kepada zina penglihatan, pendengaran, hati dan mungkin lebih daripada itu.
Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) juga berkata,

فَالْغِنَاءُ رُقْيَةُ الزِّنَا

“Nyanyian itu adalah mantra perzinahan.” (Ibid, 10/418)
Sampai-sampai para pecinta musik itu dapat bergetar jiwanya, tergerak hatinya dan bangkit semangatnya ketika mendengarkan nyanyian [termasuk nasyid] namun ketika mendengarkan Al-Qur’an tidak ada atau sedikit sekali pengaruhnya dalam diri mereka.
Beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) juga berkata,

وَلِهَذَا يُوجَدُ مَنْ اعْتَادَهُ وَاغْتَذَى بِهِ لَا يَحِنُّ إلَى الْقُرْآنِ وَلَا يَفْرَحُ بِهِ وَلَا يَجِدُ فِي سَمَاعِ الْآيَاتِ كَمَا يَجِدُ فِي سَمَاعِ الْأَبْيَاتِ ؛ بَلْ إذَا سَمِعُوا الْقُرْآنَ سَمِعُوهُ بِقُلُوبٍ لَاهِيَةٍ وَأَلْسُنٍ لَاغِيَةٍ وَإِذَا سَمِعُوا سَمَاعَ الْمُكَاءِ وَالتَّصْدِيَةِ خَشَعَتْ الْأَصْوَاتُ وَسَكَنَتْ الْحَرَكَاتُ وَأَصْغَتْ الْقُلُوبُ وَتَعَاطَتْ الْمَشْرُوبَ

“Oleh kerana itu, ada orang-orang yang sudah terbiasa mendengarkan nyanyian dan merasa puas dengannya; tidak tertarik untuk mendengar Al-Qur’an dan tidak pula bahagia dengannya. Dia tidak terkesan ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana ketika mendengar lirik-lirik lagu. Bahkan, jika mereka mendengar Al-Qur’an, mereka mendengarnya dengan hati yang lalai dan lisan yang kosong. Tetapi, apabila mereka mendengar tepukan dan tiupan musik, maka mereka dengarkan dengan seksama, diam terpaku, jiwa membisu, seraya meneguk minuman (khamar jiwa).” 
(Majmu’ Al-Fatawa, 11/568)

Nyanyian dan Musik Termasuk Nikmat Surga, Jangan Dinikmati Di Dunia

Sebagaimana bidadari-bidadari nan cantik jelita akan dianugerahkan kepada orang-orang beriman yang menahan dirinya dari godaan bidadari-bidadari palsu di dunia, demikian pula –insya Allah Ta’ala- orang yang bersabar dari kenikmatan semu nyanyian dunia akan diberikan kenikmatan mendengar nyanyian bidadari surga.
Allah Ta’ala mengabarkan diantara kenikmatan penghuni surga,

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَهُمْ فِي رَوْضَةٍ يُحْبَرُون

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.” 
(QS. Ar-Rum: 15)
Dengan apakah mereka bergembira? Diantaranya dengan mendengarkan nyanyian bidadari. Al-Imam Al-Mufassir Ath-Thobari rahimahullah berkata,

وقال آخرون يلذذون بالسماع والغناء

Dan ulama lainnya berkata, (makna bergembira di surga adalah) bersenang-senang dengan mendengarkan nyanyian dan alat musik.” 
(Tafsir At-Thobari, 20/82)
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إن أزواج أهل الجنة ليغنين أزواجهن بأحسن أصوات سمعها أحد قط إن مما يغنين به نحن الخيرات الحسان أزواج قوم كرام ينظرن بقرة أعيان وإن مما يغنين به نحن الخالدات فلا نمتنه نحن الآمنات فلا نخفنه نحن المقيمات فلا نظعنه

“Sesungguhnya bidadari-bidadari Surga akan menyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara paling merdu yang belum pernah didengar oleh seorangpun (di dunia ini). Di antara lantunan lagu yang mereka nyanyikan,
Kami wanita-wanita cantik nan jelita,
Isteri-isteri kaum yang mulia,
yang memandang dengan kelentikan mata.
Dan sungguh di antara lantunan lagu yang mereka dendangkan,
Kami wanita-wanita kekal yang tidak akan pernah mati.
Kami wanita-wanita yang penuh keamanan, tiada pernah merasa takut.
Kami wanita-wanita yang mukim, tidak akan pernah pergi.”
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shagir dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahihul Jami’: 1561)
>>>www.salafyciampeabogor.blogspot.com<<<

Dalil-Dalil Atas Haramnya Lagu dan Musik

Banyak dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengharamkan lagu dan musik, diantaranya firman Allah Ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِين

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” 
(QS. Luqman: 6)
Sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu ketika menjelaskan makna “perkataan yang tidak berguna” yang dicela oleh Allah Ta’ala dalam ayat di atas, beliau berkata,

الغناء، والله الذي لا إله إلا هو، يرددها ثلاث مرات

“Maksudnya adalah nyanyian, demi Allah yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia,” beliau mengulangi sumpahnya tiga kali.” 
(Tafsir Ath-Thobari, 21/39, sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir, 6/330)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

وكذا قال ابن عباس، وجابر، وعِكْرِمة، وسعيد بن جُبَيْر، ومجاهد، ومكحول، وعمرو بن شعيب، وعلي بن بَذيمة.

وقال الحسن البصري: أنزلت هذه الآية: { وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ } في الغناء والمزامير.

“Penafsiran yang sama juga dikatakan oleh Abdullah bin Abbas, Jabir, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Makhul, ‘Amr bin Syu’aib dan Ali bin Badzimah.
Dan berkata Al-Hasan Al-Basri, turunnya ayat ini, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan,” dalam (mencela) nyanyian dan alat-alat musik (seperti seruling dan semisalnya, pen).”
(Tafsir Ibnu Katsir, 6/331)

Ulama 4 Mazhab Sepakat Atas Keharaman Nyanyian dan Alat-Alat Musik

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

فإنهم متفقون على تحريم المعازف

“Sesungguhnya mereka (para imam empat mazhab) sepakat atas diharamkannya alat-alat musik.” 
(Minhajus Sunnah, 3/256)
Semoga dapat menjadi pelajaran bagi para pecinta musik.
Ya, saya mengerti sulit bagimu meninggalkannya, maka kenalilah keharamannya dan minta tolonglah kepada Allah Ta’ala agar dapat meninggalkannya. Dan ingatlah kenikmatan di surga, jangan engkau korbankan demi kenikmatan di dunia yang sedikit ini.

Tambahan dari penulis:
Hadits terpenting dalam pengharaman musik, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari secara mu’allaq dengan shighah jazm (artinya Al-Imam Al-Bukhari menshahihkannya) dan oleh para imam lainnya secara maushul, yakni hadits Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Akan ada nanti segolongan dari ummatku yang menghalalkan (yang haram) yaitu perzinahan, sutera (haram bagi laki-laki), khamar dan alat-alat musik.” 
(HR. Al-Bukhari, no. 5590)
Disusun dari status Facebook Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar