Rabu, 09 Januari 2013

FAIDAH MENUNDUKAN PANDANGAN



Dari Mata Turun ke Hati

Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah berkata :
“Pandangan adalah pintu yang paling besar menuju hati, paling banyaknya jalan indra adalah dari pandangan. Dan senang memandang adalah sebab sering terjatuh dari kedudukannya, sehingga wajib meninggalkannya.” [1]
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya pandangan itu melahirkan kecintaan, maka dimulai dari keterkaitan hati dengan yang dipandang. Kemudian menjadi kuat sehingga akhirnya menjadi cinta, yang menyebabkan hati senantiasa mengingatnya dan tidak mau melepaskan. Kemudian menjadi kuat sehingga sangat cinta, cinta yang berlebih-lebihan kemudian menguat dan menjadi mabuk cinta, yaitu cinta dari lubuk hati yang paling dalam. Kemudian bertambah kuat dan akhirnya menjadi budak, yaitu hamba sahaya sehingga hati menjadi budaknya orang yang tidak pantas menjadi tuannya dan ini semua adalah kejahatan pandangan. Dan ketika itu hati menjadi tawanan setelah sebelumnya sebagai raja, dan menjadi terpenjara setelah sebelumnya bebas dari pandangan, dan dia mengeluhkan pandangannya, sedangkan pandangan mengatakan, “Saya adalah penuntunmu dan utusanmu, engkau telah mengutusku.” Maka diuji dengan kebutaan, sehingga tidaklah melihat kebenaran sebagai kebenaran, tidak pula bisa melihat kebathilan sebagai kebathilan, dan ini adalah perkara yang dirasakan oleh jiwa masing-masing orang. 


Karena hati seperti cermin dan nafsu seperti kotoran. Cermin akan menggambarkan hakikat gambar sebagaimana mestinya, tetapi apabila cermin itu kotor maka tidak akan menggambarkan sebagaimana mestinya.”  [2]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar