INGAT SHALAT :

Minggu, 30 Desember 2012

DALAM LABUHAN LEMBUTNYA KASIHMU

>>> DALAM LABUHAN LEMBUTNYA KASIHMU <<<

 

Dalam Labuhan Lembutnya Kasihmu 

Seorang suami dituntut untuk dapat bersikap lembut terhadap istrinya. Karena, sebagaimana telah dijelaskan Rasulullah r, istri (wanita) diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, maka tulang itu akan patah. Dan sebaliknya, jika dibiarkan akan tetap bengkok.
Suami adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga, demikian syariat telah menetapkan. Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, Allah I telah mengangkat suami sebagai qawwam (pemimpin).
“Kaum pria adalah qawwam bagi kaum wanita….” (An-Nisa: 34)
Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah I tentang keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasul yang mulia r:
“Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829)
Dalam menjalankan fungsinya ini, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku dan kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang.
Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang berwatak keras dan kaku, namun ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi dengan istri dan anak-anaknya, ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan berpaling. Dan sikap lemah lembut ini merupakan rahmat dari Allah I sebagaimana kalam-Nya ketika memuji Rasul-Nya yang mulia:
“Karena disebabkan rahmat Allah lah engkau dapat bersikap lemah lembut dan lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu adalah seorang yang kaku, keras lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)
Dalam tanzil-Nya, Allah I juga memerintahkan seorang suami untuk bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Al-Hafidz Ibnu Katsir t ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama. Allah I berfirman dalam hal ini:
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)
Rasulullah r sendiri telah bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).”
Termasuk akhlak Nabi r, beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan istri, bersikap lembut dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477)
Masih menurut Al-Hafidz Ibnu Katsir t: “(Termasuk cara Rasulullah r dalam memperlakukan para istrinya secara baik) setiap malam beliau biasa mengumpulkan para istrinya di rumah istri yang mendapat giliran malam itu. Hingga terkadang pada sebagian waktu, beliau dapat makan malam bersama mereka. Setelah itu, para istri Rasulullah r kembali ke rumah masing-masing. Beliau pernah tidur bersama salah seorang istrinya dalam satu pakaian. Beliau meletakkan rida (semacam pakaian ihram bagian atas)-nya dari kedua pundaknya, dan tidur dengan kain/ sarung. Dan biasanya setelah shalat ‘Isya, beliau r masuk rumah dan berbincang-bincang sejenak dengan istrinya sebelum tidur guna menyenangkan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477)
Demikian yang diperbuat Nabi r, seorang Rasul pilihan, pemimpin umat, sekaligus seorang suami dan pemimpin dalam rumah tangganya. Kita dapati petikan kisah beliau dengan keluarganya, sarat dengan kelembutan dan kemuliaan akhlak. Sementara kita diperintah untuk menjadikan beliau sebagai contoh teladan.
“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir. Dan dia banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di t berkata: “Ayat Allah I:
(Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma‘ruf) meliputi pergaulan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Karena itu, sepantasnya bagi suami untuk mempergauli istrinya dengan cara yang ma‘ruf,  menemani dan menyertai (hari-hari bersamanya) dengan baik, menahan gangguan terhadapnya (tidak menyakiti), mencurahkan kebaikan dan memperbagus hubungan dengannya, termasuk dalam hal ini pemberian nafkah, pakaian dan semisalnya. Dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 172)
Rasulullah r sendiri menjadikan ukuran kebaikan seseorang bila ia dapat bersikap baik terhadap istrinya. Beliau pernah bersabda:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad, 2/527, At-Tirmidzi no. 1172. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil t dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/336-337)
Nabi r menyatakan:
‘Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya’ karena para istri adalah makhluk Allah yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/273)
Di sisi lain, beliau r memerintahkan untuk berhias dengan kelembutan, sebagaimana tuntunan beliau kepada istrinya ‘Aisyah:
“Hendaklah engkau bersikap lembut1.” (Shahih, HR. Muslim no. 2594)
Dan beliau r menyatakan:
“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikan sesuatu itu indah). Dan tidaklah dihilangkan kelembutan itu dari sesuatu melainkan akan memperjeleknya.” (Shahih, HR. Muslim no. 2594)
“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6024)
“Dan Allah memberikan kepada sikap lembut itu dengan apa yang tidak Dia berikan kepada sikap kaku/ kasar dan dengan apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya.” (Shahih, HR. Muslim no. 2593)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Dalam hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan sikap lemah lembut (ar-rifq dengan makna yang telah disebutkan, red) dan penekanan untuk berakhlak dengannya. Serta celaan terhadap sikap keras, kaku, dan bengis. Kelembutan merupakan sebab setiap kebaikan. Yang dimaksud dengan Allah memberikan kepada sikap lembut ini adalah Allah memberikan pahala atasnya dengan pahala yang tidak diberikan kepada selainnya.
Al-Qadhi t berkata: “Maknanya dengan kebaikan tersebut akan dimudahkan tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan dan akan dimudahkan segala tuntutan, maksud dan tujuan yang ada. Di mana hal ini tidak dimudahkan dan tidak disediakan untuk yang selainnya.” (Syarah Shahih Muslim, 16/145)
Dalam hubungan dengan istri dan keluarga, seorang suami harus membiasakan diri dengan sifat rifq ini. Termasuk kelembutan seorang suami ialah bila ia menyempatkan untuk bercanda dan bersenda gurau dengan istrinya. Hal ini dilakukan Rasulullah r dengan istrinya sebagaimana dinukilkan di atas. ‘Aisyah x menceritakan apa yang ia alami dengan suami dan kekasihnya yang mulia. Dalam sebuah safar (perjalanan), Rasulullah r bersabda kepada para shahabatnya:
“Majulah kalian (jalan duluan)”. Maka mereka pun berjalan mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah (yang ketika itu masih belia dan langsing): “Ayo, kita berlomba lari”. Kata Aisyah: “Akupun berlomba bersama beliau dan akhirnya dapat mendahului beliau”. Waktupun berlalu. Ketika Aisyah telah gemuk, Rasulullah kembali mengajaknya berlomba dalam satu safar yang beliau lakukan bersama ‘Aisyah. Beliau bersabda kepada para shahabatnya: “Majulah kalian”. Maka mereka pun mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepadaku: “Ayo, kita berlomba lari”. Kata ‘Aisyah: “Aku berusaha mendahului beliau namun beliau dapat mengalahkanku”. Mendapatkan hal itu, beliau pun tertawa seraya berkata: “Ini sebagai balasan lomba yang lalu (kedudukannya seri, red).” (HR. Abu Dawud no. 2214. Asy-Syaikh Muqbil t menshahihkan sanad hadits ini dalam takhrij beliau terhadap Tafsir Ibnu Katsir, 2/286).
Allah I Yang Maha Adil menciptakan wanita dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Ia butuh dibimbing dan diluruskan karena ia merupakan makhluk yang diciptakan dari tulang yang bengkok. Namun meluruskannya butuh kelembutan dan kesabaran agar ia tidak patah.
“Wanita itu seperti tulang rusuk, bila engkau meluruskannya engkau akan mematahkannya. Dan bila engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau dapat bersenang-senang dengannya namun pada dirinya ada kebengkokan.”
Demikian disabdakan Rasulullah r dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5184) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1468). Hadits ini diberi judul bab oleh Al-Imam Al-Bukhari dengan bab Al-Mudarah ma’an Nisa (Bersikap baik, ramah dan lemah lembut terhadap para istri).
Rasul yang mulia r, juga bersabda:
“Berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri) dengan kebaikan karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling atas. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan begitu saja (tidak engkau luruskan) maka dia akan terus menerus bengkok. Karena itu berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5186 dan Muslim no. 1468)
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
“Dan bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Dan patahnya adalah dengan menceraikannya.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “Sabda Nabi r   ‘Berwasiatlah kalian’ maksudnya adalah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik dengan para wanita (istri). Maka terimalah wasiatku ini berkenaan dengan diri mereka, dan amalkanlah.”
Beliau melanjutkan: “Dan  dalam  sabda Nabi   ‘kepada para wanita (istri) dengan kebaikan’ seakan-akan ada isyarat agar suami meluruskan istrinya dengan lembut, tidak berlebih-lebihan hingga mematahkannya. Dan tidak pula membiarkannya hingga ia terus menerus di atas kebengkokannya.” (Fathul Bari, 9/306)
Dalam hadits ini juga ada beberapa faidah, di antaranya disukai untuk bersikap baik dan lemah lembut terhadap istri untuk menyenangkan hatinya, Hadits ini juga menunjukkan bagaimana mendidik wanita dengan memaafkan dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang tidak berupaya meluruskan mereka (dengan cara yang halus), dia tidak akan dapat mengambil manfaat darinya. Padahal, tidak ada seorang pun yang tidak butuh dengan wanita untuk mendapatkan ketenangan bersamanya dan membantu dalam kehidupannya. Hingga seakan-akan Nabi mengatakan: “Merasakan kenikmatan dengan istri tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadapnya”. Dan satu faidah lagi yang tidak boleh diabaikan adalah tidak disenangi bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya tanpa sebab yang jelas. (Lihat Fathul Bari, 9/306, Syarah Shahih Muslim, 10/57)
Dengan tuntunan beliau di atas, seyogyanya seorang suami menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan keluarganya yang lain. Sebagaimana istrinya pun diperintah untuk taat kepadanya dalam perkara yang baik, sehingga akan terwujud ketenangan di antara keduanya dan abadilah ikatan cinta dan kasih sayang.
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri (pasangan hidup) dari jenis kalian agar kalian merasakan ketenangan bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang2 di antara kalian.” (Ar-Rum: 21)
“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia menjadikan pasangan dari jiwa yang satu itu, agar jiwa tersebut merasa tenang bersamanya.” (Al-A`raf: 189)
Demikian kemuliaan dan kelembutan Islam yang menuntut pengamalan dari kita sebagai insan yang mengaku tunduk kepada aturan Ilahi. Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.


1 Makna ar-rifq sendiri adalah bersikap lunak terhadap orang lain, baik dengan ucapan maupun dalam perbuatan, dan mengambil yang paling mudah dari perkara yang ada. Ar-Rifq ini lawan dari sikap kasar, keras, bengis dan kejam. (Fathul Bari, 10/464)
2 Ibnu ‘Abbas dan Mujahid berkata: “Al-Mawaddah adalah jima’ (senggama) dan Ar-Rahmah adalah anak.” Demikian pula yang dikatakan Al-Hasan. Ada pula yang mengatakan Al-Mawaddah wa Ar-Rahmah adalah hati mereka condong dan dipenuhi kelembutan terhadap pasangan hidupnya. As-Suddi mengatakan: “Al-Mawaddah adalah cinta sedangkan Ar-Rahmah adalah kasih sayang”. Diriwayatkan pula yang semakna dengan ini dari Ibnu ‘Abbas. Ia menyatakan: “Al-Mawaddah adalah kecintaan seorang lelaki terhadap istrinya, dan Ar-Rahmah adalah kasih sayangnya terhadap istrinya, jangan sampai istrinya itu ditimpa kejelekan.” (Al-Jami` li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthubi, 13/13)
Sumber :
(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

BOLEHKAH MENGUNJUNGI CANDI BOROBUDUR ..... ???

>>> BOLEHKAH MENGUNJUNGI CANDI BOROBUDUR ....??? <<<

 

 

Bolehkah Mengunjungi Borobudur? 

Apa hukumnya berkunjung ke tempat-tempat wisata yang merupakan tempat ibadah orang kafir seperti Candi Borobudur dan semisalnya?
Rasyid Ariefiandy
salafy…@myquran.com

Jawab:
Oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari
Alhamdulillah.
Ini adalah perbuatan yang di dalamnya terdapat perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat Islam, di antaranya:
1. Bertentangan dengan firman Allah l:
“Dan barang siapa memuliakan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati kepada Allah.” (al-Hajj: 32)
2. Bertentangan dengan firman Allah l:
“Dan barang siapa memuliakan perkara-perkara yang memiliki kehormatan di sisi Allah maka hal itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (al-Hajj: 30)
Allah l memerintahkan dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Islam sebagai suatu bentuk ketakwaan kepada Allah l, dan hal itu lebih baik bagi kita di sisi Allah l. Sedangkan tempat-tempat itu merupakan syi’ar-syi’ar kekufuran dan kesyirikan yang diagungkan serta dimuliakan oleh orang-orang kafir sebagai tandingan terhadap syi’ar-syi’ar Islam. Maka apakah pantas bagi seorang muslim yang beriman dan bertakwa untuk mengagumi dan mengunjunginya?
3. Bertentangan dengan sabda Nabi n:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, dihasankan Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, dan asy-Syaikh al-Albani sebagaimana dalam Jilbabul Mar’ah al-Muslimah, hlm. 203—204, dan juga oleh Syaikhuna al-Wadi’i)
Karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat perayaan atau ‘ied bagi kaum musyrikin, sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Bahwa setiap tempat yang dimaksudkan sebagai tempat berkumpul, beribadah, ataupun selain ibadah, maka itu dinamakan ‘ied atau perayaan.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 300)
Jadi mengunjungi tempat-tempat tersebut menyerupai perayaan atau ‘ied mereka, apalagi bila waktu berkunjung tersebut bertepatan dengan waktu ‘ied atau perayaan mereka.
4. Bertentangan dengan firman Allah l:
“Dan mereka hamba-hamba Allah yang beriman tidak menyaksikan perkara yang mungkar.” (al-Furqan: 72)
Jadi menghadiri/menyaksikan perkara yang mungkar bukanlah merupakan sifat orang-orang yang beriman. Sementara di tempat-tempat itu terdapat berbagai macam kemungkaran. Kalaulah tidak ada kemungkaran lain selain bahwa itu adalah tempat kesyirikan, maka itu sudah cukup untuk menghalangi hamba Allah l yang beriman dan bertakwa untuk mengunjungi tempat tersebut.
5. Bertentangan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.
Paling tidak dengan pengingkaran dalam hati. Adapun mengagumi dan mengunjungi tempat-tempat tersebut merupakan satu bentuk keridhaan seseorang terhadapnya serta semakin mengokohkan keberadaan tempat-tempat tersebut sehingga menjatuhkan dia dalam perbuatan mudahanah, yaitu bermuka manis terhadap kemungkaran, sedangkan Allah l berfirman:
“Mereka kaum musyrikin berharap jika seandainya kamu (wahai Muhammad) bermudahanah terhadap mereka, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama.” (al-Qalam: 9)
Jadi Allah l mengingatkan khalil-Nya (kekasih-Nya) yang juga merupakan peringatan terhadap seluruh umat ini untuk tidak bermuka manis terhadap kaum musyrikin. Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t berkata dalam Taisir al-Karimir Rahman ketika menafsirkan ayat ini, “Kamu setuju dengan sebagian kemungkaran yang ada pada mereka, baik dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan cara diam terhadap perkara yang semestinya diingkari.”
Wallahu a’lam.
HUKUM MEMBERI UCAPAN SELAMAT ULANG TAHUN
Bagaimana hukumnya mengucapkan selamat ulang tahun, adakah penggantinya yang lebih baik dari ucapan itu?
Rasyid Ariefiandy
salafy…@myquran.com
Jawab:
Oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari
Berkaitan dengan masalah ini ada dua pembahasan:
Pertama, hukum perayaan ulang tahun itu sendiri.
Kedua, hukum mengucapkan selamat ulang tahun.
Permasalahan pertama telah dibahas oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t dalam kitab al-Qaulul Mufid (1/382). Beliau mengatakan, “Setiap perkara yang dijadikan ‘ied atau perayaan berulang setiap pekan atau setiap tahun, dan tidak disyariatkan, maka itu termasuk perkara bid’ah. Dalil yang menunjukkan bid’ahnya perayaan hari ulang tahun (kelahiran) adalah bahwa pembuat syariat ini, yaitu Allah l, yang mewahyukannya kepada Nabi-Nya Muhammad n telah menetapkan acara aqiqah untuk kelahiran seorang anak dan tidak menetapkan selain dari itu. Sedangkan kegiatan mereka merayakan hari-hari tersebut yang berulang setiap pekan atau setiap tahun berarti menyamakannya dengan hari raya Islam. Padahal tidak ada dalam Islam kecuali tiga hari raya atau ‘ied yaitu ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha, dan ‘Iedul Usbu’ (hari raya tiap pekan), yaitu hari Jum’at. Ini bukanlah perkara adat kebiasaan belaka, karena dilakukan berulang-ulang. Oleh karena itu, tatkala Nabi n tiba di kota Madinah dan mendapati kaum Anshar merayakan dua ‘ied, beliau n bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Iedul Adha dan ‘Iedul Fitri.”1
Padahal kedua hari yang mereka rayakan itu merupakan perkara yang biasa bagi mereka.”
Begitu pula asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t telah berfatwa yang sama, kata beliau, “Tidak boleh mengadakan perayaan maulid, baik hari kelahiran Rasulullah n maupun (hari kelahiran) selain beliau n, karena sesungguhnya itu merupakan bid’ah yang diada-adakan dalam agama ini. Rasulullah n dan para al-Khulafa ar-Rasyidin serta yang lainnya dari kalangan sahabat g, tidak pernah mengadakannya. Tidak pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dari generasi-generasi yang mufadhdhalah (dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah n dari generasi-generasi yang lainnya). Padahal mereka rahimahumullah adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang sunnah dan paling sempurna kecintaan dan mutaba’ah-nya (pengikutannya) terhadap Rasulullah n. Sedangkan Rasulullah n telah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan kami (agama ini) yang bukan darinya maka tertolak.”2
Kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz t menyebutkan hadits-hadits lainnya dan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah n dan para sahabatnya g dalam menjalani kehidupan ini. (Majmu’ al-Fatawa, 1/178—182)
Adapun hukum mengucapkan selamat ulang tahun, pembahasannya sama dengan permasalahan pertama karena merupakan bagian dari perayaan. Tidak dibenarkan seseorang untuk turut andil dalam menyukseskan acara tersebut, seperti membantu menata ruang tempat acara atau yang lainnya, berdasarkan firman Allah l:
“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)
Bahkan sekadar hadir pun tidak diperbolehkan, berdasarkan firman Allah l:
“Dan mereka hamba-hamba Allah yang beriman tidak menyaksikan/menghadiri perkara yang mungkar.” (al-Furqan: 72)
Semoga Allah l memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua sehingga kita terjaga dari amalan yang tidak diridhai oleh-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan yang lainnya, disahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/442) dan al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1134.
2 Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah.
Sumber : Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 004


Sabtu, 29 Desember 2012

Untukmu Yang Mencomot Nama Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed Hafizhahullah


Untukmu Yang Mencomot Nama

Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed Hafizhahullah

(Bantahan Terhadap Status atau Komentar Hanan Bahanan dan Ja’far Sholeh)

new1a
Bismillah,
Alhamdulillah  wa shalatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du…
Para pembaca yang mulia, pada akhir-akhir ini kaum muslimin terkhusus salafiyin dihebohkan dengan statement-statement yang ditampilkan di facebook. Sungguh sangat memalukan status-statusnya adalah status yang ditampilkan oleh seseorang yang bergelar ustadz. Yang mana seperti kita tahu tugas yang diemban oleh seorang ustadz adalah memberikan contoh dalam berilmu dan beramal, duduk didepan thullab mengajarkan ilmunya dan mempraktekannya dalam bentuk amal.
Dan Sungguh sangat disayangkan, justru realita yang terjadi di dunia facebook, ustadz ini telah menjatuhkan kehormatan beberapa asatidzah ahlus sunnah. Diantaranya al ustadz Luqman Ba’abduh dan al ustadz Muhammad Umar As Sewed hafizhahumallah.
Para pembaca yang mulia, bagi segenap salafiyin yang ada di Indonesia, nama kedua ustadz tersebut adalah nama-nama yang sudah sangat dikenal keilmuan dan amalannya. Baik melalui kajian-kajiannya, daurohnya, rekaman-rekamannya dan yang lainnya. Tidak urung lagi terkadang kajian-kajiannya membuat gerah para hizbiyin, baik itu dari kalangan khawarij, sufi, turotsi, sururi, haddadi dan hizbiyin lainnya. Maka sudah merupakan konsekuensi bagi mereka berdua, akan adanya kebencian terhadap dakwah yang mereka serukan. Dan sudah terlalu banyak celaan serta hinaan dari kalangan hizbiyin yang berusaha menjatuhkan kehormatan mereka berdua.
Kita ambil contoh, ketika salafiyin digemparkan dengan fitnah sururiyin turotsiyin, tampillah al ustadz Muhammad hafizhahullah membongkar fitnah tersebut. Al ustadz Muhammad hafizhahullah mejelaskan tokoh-tokohnya baik yang ada di luar negeri  maupun di Indonesia. Maka salafiyin mendapatkan pencerahan seterang-terangnya. Namun sungguh ketika sururyin turotsiyin sudah terbungkam, kini mereka berusaha memunculkan kembali dengan syubhat-syubhat busuknya yang dikemas berbeda tapi sama.
Para pembaca yang mulia, sururiyin turotsiyin mempunyai gaya yang sungguh luar biasa ketika ingin menutupi borok-borok mereka. Salah satu gaya mereka adalah dengan memutus mata rantai sejarah, dan ternyata al ustadz Muhammad hafizhahullah lah yang mereka target. Mulailah mereka menjatuhkan kehormatan al ustadz Muhammad hafizhahullah. Kaum muslimin dibikin ragu terhadap ketsiqohan al ustadz Muhammad hafizhahullah. Namun Alhamdulillah sebagus apapun kebusukan hizbiyah dikemas, maka disana akan terus ada jiwa-jiwa yang terpercaya yang siap membongkarnya.
Para pembaca yang mulia, itulah sekilas tentang kiprah dakwah dua ustadz kita yang mulia, yang mana semakin hari semakin banyak cobaan dan fitnah terhadap mereka berdua. Maka sungguh sangat memalukan, ketika kedua ustadz tersebut disibukkan di pondok-pondok mereka, memberikan bimbingan kepada ummat, membantah hizbiyin, tiba-tiba muncul celaan terhadap keduanya dari seorang atau dua orang yang diustadzkan.
Penulis pribadi sendiri melihat langsung bagaimana al ustadz Muhammad hafizhahullah begitu sibuknya berdakwah kesana kemari, begitu pula penulis sering mendapatkan berita bahwa al ustadz Luqman sedang sibuk mendidik santri-santrinya di pondok, selain itu juga banyak jadwal kajian beliau yang penulis dapatkan dari internet. Tiba-tiba muncul hujatan dan celaan terhadap mereka berdua di facebook.
Para pembaca yang mulia, dari sini saja sebenarnya pembaca sendiri bisa menilai perbedaan antara keduanya, yang satu sibuk membimbing ummat dan yang satunya sibuk mencurahkan isi hatinya di facebook. Kalau kita tanya apa maksud ustadz ini menyibukkan diri di facebook kalau hanya untuk menjatuhkan kehormatan dua asatidzah kita ???
Kalu dia menjawab dalam rangka menyampaikan al haq, penulis curiga dengan caranya tersebut.
Kalau hanya ingin mencurahkan kebencian hatinya saja, maka ini MUSIBAH.
Para pembaca yang mulia, sebenarnya telah sampai kepada penulis berita-berita kotor bahkan dusta yang ditebarkan lewat facebook oleh salah seorang ustadz terhadap kehormatan al ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah. Namun siapakah ustadz tersebut? maka sudah tidak asing lagi ustadz tersebut adalah Hanan Bahanan.
Para pembaca yang mulia, perlu diketahui bahwasannya posisi tempat penulis dengan al ustadz Luqman hafizhahullah sangatlah jauh, sulit kemungkinan bagi penulis untuk berhubungan secara langsung dengan beliau, bahkan besar kemungkinan beliau tidak mengenali penulis, beliau di Jember sedangkan penulis di Majalengka Jawa Barat.
Seperti yang telah penulis sampaikan tadi, bahwa jarak tempuh antara penulis dengan al ustadz Luqman hafizhahullah sangatlah jauh. Namun Alhamdulillah jarak tempuh antara penulis dengan kediaman al ustadz Muhammad hafizhahullah tidaklah terlalu jauh, hanya dengan waktu satu jam perjalanan, insya Allah penulis bisa berkunjung ke pondok Dhiya’us Sunnah tempat beliau mengajar. Untuk itu yang memungkinkan bagi penulis adalah bertanya setiap permasalahan kepada beliau, termasuk diantaranya permasalahan sepak terjang Hanan Bahanan di dunia facebook.
Perlu pembaca ketahui, dari awal sebenarnya penulis sudah mengetahui akan adanya kunjungan Hanan Bahanan ke kediaman al ustadz Muhammad hafizhahullah. Sampai pada akhirnya penulis dikejutkan dengan berita-berita bahwa pasca kunjungannya tersebut, Hanan Bahanan menulis status-status yang terkesan sudah mendapatkan restu dari al ustadz Muhammad hafizhahullah.
Bagaimana tidak, sebelum menuju tujuannya, dia berusaha mengesankan kepada pembaca dengan modal kunjungannya ke rumah al ustadz Muhammad hafizhahullah. Masya Allah, para facebooker diawal mulanya digiring dengan status-statusnya tersebut. Dan diantara statusnya adalah status yang berusaha menjatuhkan kehormatan al ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah, sungguh sangat disesalkan, didalam statusnya tersebut Hanan Bahanan juga berusaha memuji-muji al ustadz Muhammad dengan ungkapan “ Ustadzuna”, ”Bapak Salafiyin”, dan yang lainnya.
Sekarang kita tanya kepada dia, apa yang terjadi dengan pujiannnya tersebut ???
Para facebooker dari kalangan hizbiyin turotsiyin ikut berkomentar dengan sindiran yang terkesan melecehkan al ustadz Muhammad hafizhahullah.
“Kalau ada bapak salafiyin tentunya ada ibu salafiyin?”
Atau sampai ada dari kalangan sururiyin yang mencoba menampilkan bantahan terhadap al ustadz Muhamamd hafizhahullah dalam peraksiannya tentang As Shofwa.
Sungguh telah dilecehkan kehormatan dua ustadz yang mulia di dindingnya Hanan Bahanan.
Selanjutnya kita tanya apa reaksi Hanan dengan komentar-komentar tersebut ????
Mana pengakuan dia dengan panggilan ustadzuna ???
Mana pengakuan dia dengan pujian Bapak Salafiyin ???
Jangankan pembelaan dari Hanan Bahanan, untuk menghapus komentar-komentar dari para hizbiyin saja, dia tidak sanggup, Allahul musta’an.
Hanan Bahanan berusaha membangun opini para facebooker, dengan kunjungannya ke rumah al ustadz Muhammad hafizhahullah, digambarkan bahwa status dia, seakan-akan sudah mendapatkan rekomendasi dari beliau. Maka mulailah Hanan Bahanan membikin status pembukakaan yang diberi judul “PERSELINGKUHAN ABDUL GHAFUR AL MALANJI DENGAN MANTAN WAKIL PANGLIMA LASKAR JIHAD AMBON,LUQMAN BANGABDUH (BACA : BA’ABDUH)”
Ketika penulis mendapatkan berita tersebut, penulis mencoba memforwardkan judul status yang akan diluncurkan Hanan Bahanan itu ke ustadz Muhammad hafizhahullah.
Walhamdulillah penulis berkesempatan bertemu dengan beliau, kemudian al ustadz Muhammad hafizhahullah menceritakan bahwa beliau sudah melarang Hanan Bahanan, untuk (agar dia -ed) MENGURUSI RUMAHNYA SENDIRI JANGAN URUSI RUMAH ORANG LAIN.
Namun Hanan Bahanan kelihatannya lebih cenderung mengikuti hawa nafsunya, apalah artinya larangan al ustadz Muhammad hafizhahullah yang katanya “Ustadzuna” atau “Bapak Salafiyin”.
Maka meluncurlah status yang dia janjikan…..
Subhanallah, kembali al ustadz Muhammad hafizhahullah dikhianati, dilecehkan dan tidak digubris.
Mana gelar ustadzuna terhadp al ustadz Muhammad ????
Mana gelar Bapak Salafiyin terhadap al ustadz Muhammad ????
Sebenarnya siapa yang mendukung sepak terjangmu ???
Tidak lain hanyalah para facebooker dari kalangan hizbiyin, sururiyin, turotsiyin !!!!!
Walhasil terbitlah apa yang dijanjikan Hanan Bahanan.
Pasca terbitnya status Hanan tersebut, penulis secara langsung mendengar dari al ustadz Muhammad hafizhahullah, bahwa beliau mengirim SMS ke Hanan yang bunyinya :
“ SELAMAT ANDA ADALAH ORANG YANG PERTAMA KALI MELANGGAR PERTEMUAN DENGAN SYAIKH RABI’.”
Barangkali diantara pembaca masih meragukan berita-berita yang penulis sampaikan, maka perlu kiranya penulis jelaskan, bahwasannya komunikasi yang terjadi antara penulis dengan al ustadz Muhammad hafidzahullah adalah melalui beberapa cara :
Bisa melalui pertemuan langsung ketika beliau selesai mengisi kajian rutin bulanan di kota Majalengka, atau
Melalui pertemuan langsung ketika beliau selesai mengisi kajian umum setiap hari ahad di pondok Dhiya’us sunnah Cirebon, atau
Ketika penulis berkunjung ke rumah beliau, atau
Melalui email, atau
Melalui telepon dan SMS
Dengan demikian penulis berharap bahwa apa yang penulis sampaikan bukanlah hasil rekayasa penulis pribadi.
Pembaca bisa membandingkan bagaimana Hanan Bahanan begitu lihainya membangun opini para facebooker hanya dengan modal satu kali kunjungannya ke rumah al ustadz Muhammad hafizhahullah, dia berani membuat status dengan menjual kemuliaan nama al ustadz Muhammad hafizhahullah, Allahul musta’an.
Status demi status Hanan Bahanan digulirkan di dindingnya,
Dan termasuk peristiwa yang sangat menghebohkan adalah ketika salafiyin mendapati akan adanya Dauroh duet antara Hanan Bahanan dan Abdul Mu’thi al Medani di Bali.
Iya, memang menghebohkan, karena yang mengundang Hanan Bahanan dan Abdul Mu’thi ke Bali adalah si Badrimin si Hizbi.
Lagi-lagi penulis berkesempatan bertemu dengan al ustadz Muhammad hafizhahullah di pondoknya, sungguh al ustadz Muhammad hafizhahullah memberikan komentar yang sangat pedas terhadap acara Dauroh mereka. Namun penulis memohon maaf untuk komentar yang satu ini penulis tidak bisa menampilkannya, biarkan penulis saja yang mengetahuinya, yang jelas komentar beliau sangat pedas.
Disela-sela status Hanan Bahanan, penulis juga mendapatkan status-status atau komentar yang diluncurkan Ja’far Sholeh.
Memang benar Ja’far Sholeh sudah terlalu banyak menulis status yang aneh-aneh
Kembali penulis bertanya, apa maksud dan tujuan status-statusnya tersebut ???
Kalau alasannya dia ingin menyampaikan al haq, maka sekali lagi penulis curiga dengan caranya tersebut
Kalau alasanya hanya ingin meluapkan emosi yang tersimpan saja, maka ini MUSIBAH
Status atau komentar Ja’far Sholeh terkadang keterlaluan dan bahkan kebablasan, sampai-sampai mengatakan :
Perkara Ihya’ut turots tidak akan ditanya di alam kubur,
Radio Rodja adalah radio ahlus sunnah,
Badrussalam salafy,
Makan bareng dengan Badrussalam,
Orang yang mengambil dana dari Ihya’ut turots adalah cerdas,
Membawakan kalam al ustadz Muhammad tidak pada tempatnya,
Dan masih banyak lagi kengawurannya, Allahul Musta’an
Sekarang kita tanya kepada dia, siapakah orang yang telah menjelaskan kepada ummat dari semenjak awal datangnya fitnah Ihya’ut turots, terkhusus di Indonesia ???
Atau siapakah yang terus membimbing ummat dari awal munculnya Radio Rodja untuk TIDAK mendengarkan radio tersebut, dikarenakan para narasumber radio tersebut adalah para HIZBIYIN dan bahkan mubtadi’ semacam Ali Hasan Al Halabi ???
Kalau jawaban Ja’far Sholeh orang tersebut adalah al ustadz Muhammad Umar As Sewed hafidzahullah, maka dia telah berkata JUJUR
Para pembaca yang mulia, pembaca bisa menilai sendiri sebenarnya siapakah taget dari status-statusnya di atas,
Kapan dan dimana al ustadz Muhammad hafizhahullah mengatakan Badrussalam salafy?
Lalu bagaimana mungkin kita bisa menerima persaksian Ja’far Sholeh yang membawakan kalamnya al ustadz Muhammad hafizhahullah yang tidak pada tempatnya di statusnya ???
Maka kiranya pertemuan penulis dengan al ustadz Muhammad hafizhahullah yang terakhir berikut ini, bisa memberikan gambaran bagaimana rusaknya keadaan dua ustadz yang rajin membuat status dan komentar di dunia facebook.
Hari selasa, 11 Desember 2012, di sela-sela acara jamuan ba’da kajian rutin bulanan di kota Angin Majalengka, Jawa Barat :
Seperti biasanya penulis berbincang-bincang dengan al ustadz Muhammad hafidzahullah, dan salah satu yang penulis usulkan waktu itu adalah penulis mengusulkan kepada beliau untuk membuat tulisan yang isinya bara’ah terhadap radio Rodja yang telah menampilkan rekaman kajian beliau dan al ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahumallah di situs mereka, maka perhatikan jawaban beliau :
Tidak perlu, TAPI KALAU ENTE MAU BIKINKAN TULISAN BARA’AH UNTUK HANAN BAHANAN BOLEH,
Penulis mencoba memperjelas dengan menanyakan kembali
Yang benar ustadz ?
Beliau tetap menjawab : IYA BOLEH
Kemudian diantara kami ada yang bertanya tentang Ja’far Sholeh
Kalau Ja’far Sholeh gimana ustadz, kesalahan dia termasuk kesalahan apa ?
Beliau menjawab : KESALAHAN MANHAJI
Bukan, penulis bukanlah santri atau ustadz, penulis hanyalah seorang pendengar kajian-kajian yang disampaikan astidzah ahlus sunnah. Penulis merasa cemburu dengan agama ini, yang mana para da’i-da’i yang penulis kenal kemuliaannya dilecehkan dan direndahkan kehormatannya di facebook. Apalagi da’i tersebut adalah al ustadz Muhammad Umar As Sewed hafizhahullah. Penulis menyimpan memori di ingatan penulis hasil pembicaraan-pembicaraan antara penulis dengan al ustadz Muhammad hafizhahullah. Adapun data status-status atau komentar-komentar dari Hanan Bahanan atau dari Ja’far Sholeh, penulis menyimpannya di HP atau di komputer  penulis.
Terakhir penulis berharap hendaknya salafiyin jangan mudah terpancing atau terpengaruh dengan status-status atau komentar-komentar dari Hanan Bahanan dan Ja’far Sholeh, apalagi kalau mereka berdua sudah mengambil atau mengatasnamakan nama al ustadz Muhammad Umar As Sewed hafizhahullah.
Bagaimana kita mau menerima kalam mereka berdua dalam keadaan sepak terjangnya atau amalannya sendiri tidak bisa dipercaya.
Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu an la ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.
(Oman Komarudin – Majalengka)

Sumber : www.tukpencarialhaq.wordpress.com

Sssssttttt .......,???!!! ADA MITOS SYIRIK GUNUNG SALAK



>>> ADA MITOS DI GUNUNG SALAK ??? <<<


 BISMILLAH,



MITOS SYIRIK GUNUNG SALAK
(Tanggapan terhadap artikel: misteri gunung Salak, burung pun bisa jatuh di atas makam Syekh)
Bukannya mengambil hikmah dari kecelakaan Sukhoi dengan bertobat dari kemaksiatan dan dosa, seorang “pemuka” di kaki gunung salak, desa palasari, Cijeruk malah menganjurkan makam Syekh Hasan dikukuhkan sebagai tempat ziarah. “Perlu semacam ada pengukuhan makam Syekh Hasan menjadi tempat ziarah” kata Habib Mukhsin Barakbah.

Musibah Sukhoi dan Makam Syekh Hasan
Allah yang maha bijak telah menetapkan bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Apakah berdasarkan dalil syar’i atau kauni. Al Qur’an misalnya adalah sebab syar’i bagi kesembuhan, bagitu pula madu, habbatsauda’, air zamzam, semuanya adalah sebab kesembuhan berdasarkan dalil Al Qur’an dan hadits yang shahih. Begitu pula api yang merupakan sebab kauni untuk membakar, dan seterusnya.
Tapi hubungan sebab-akibat bisa tidak berfungsi apabila Allah menghendaki. Berapa banyak obat yang diyakini sebagai sebab kesembuhan tapi tidak berfungsi pada sebagian orang, seperti api yang tidak berfungsi ketika digunakan untuk membakar nabi Ibrahim Alaihissalam.
Maka mengimani sebab-akibat tidak merusak tauhid selagi seseorang meyakini bahwa segala sesuatunya tergantung kehendak Allah.
Lalu benarkah pesawat Sukhoi yang jatuh beberapa waktu lalu ada hubungannya dengan makam Syekh Hasan, seperti yang dikatakan oleh KH Marsa Abdullah? “Di gunung Salak ada penunggunya, jadi harus ada syarat. Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Apa yang dikatakan Marsa ini nyata bertentangan dengan Islam, jelas tidak ada kaitan sebab-akibat antara kecelakaan pesawat dengan makam Syekh Hasan, tidak ada keterangan berupa dalil syar’i maupun pembuktian ilmiyah (kauni) dalam hal ini. Bahkan pernyataannya menunjukkan kedangkalan Marsa akan syariat Islam dan ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Marsa telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, sehingga dia pun terjatuh kepada kesyirikan.
Marsa mengatakan: “Di gunung Salak ada penunggunya...”. Ajaran yang mirip dengan keyakinan banyak orang terhadap Nyi Roro Kidul ini kembali diungkap Marsa dengan redaksi yang berbeda. Kalau Nyi Roro Kidul “penguasa laut selatan” sedangkan makam Syekh Hasan “penunggu gunung Salak”.
Padahal Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada musyrikin Makkah): Milik siapakah bumi dan apa-apa yang ada padanya, apabila kalian mengetahui? Orang-orang (musyrikin) itu akan mengatakan: milik Allah. Katakan (kepada mereka): tidakkah kalian mengingat? Katakanlah (kepada mereka): siapakah yang penguasa langit yang tujuh dan penguasa ‘ary yang besar? Mereka akan menjawab: milik Allah. Katakan (kepada mereka): Tidakkah kalian bertakwa? (Qs. 23: 84-88)
Maka tidak ada penguasa semesta alam ini kecuali Allah, meski hanya sejengkal apalagi sampai segunung. Dan meyakini apa yang dikatakan Marsa dan keyakinan-keyakinan serupa merupakan kufur akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
Lebih jauh lagi, apabila kita perhatikan ayat di atas dan ayat-ayat serupa di dalam Al Qur’an, kita dapati bahwa orang-orang jahiliyah dahulu (musyrikin Quraisy) ternyata lebih mendapat petunjuk daripada Marsa yang bergelar Kyai. Orang-orang musyrikin dahulu mengakui hanya Allah Ta’ala penguasa tunggal alam semesta, sedangkan orang-orang seperti Marsa masih meyakini ada selain Allah yang ikut menguasai, ikut menjaga atau menunggui sebagian dari bumi Allah ini?! Apa Marsa tidak membaca firman Allah Ta’ala yang mengatakan; “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik itu): Di tangan siapakah kerajaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada seorang pun bisa berlindung dari (siksa)nya, apabila kalian mengetahui? Mereka (musyrikin Quraisy) itu akan menjawab: Milik Allah. Katakan (kepada mereka): Maka bagaimana kalian bisa dipalingkan? (Qs. 23: 89)
Pak Kyai juga bilang: “Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Ada dua kemungkinan disini, Marsa telah berdusta atau Allah ingin menyesatkan orang-orang seperti Marsa. “Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari pada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. 5:41)
Padahal cukup bagi orang yang diberi akal sehat untuk tidak percaya bualan Marsa dan orang yang sepertinya, yaitu peristiwa yang menimpa sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Raden KH Moh Hasan bin R KH Bahyudin Praja Kusuma (Mbah Gunung Salak), yang berada di dekat lokasi Sukhoi naas, diberitakan telah rusak tertimpa logistik dari Super Puma.
Maka bagaimana bisa makam yang tidak dapat menolak kerusakan yang menimpa dirinya diyakini mampu menimpakan musibah dan bencana kepada orang lain?! Sungguh kecelakaan Sukhoi adalah musibah yang besar bagi keluarga yang ditinggal, tapi musibah yang keluar dari mulut Kyai Marsa dan Habib Barakbah jauh lebih besar.

(Tulisan ini saya buat di atas asumsi apa yang ditulis wartawan Tribun Jakarta edisi Pagi, Selasa 15 Mei 2012 adalah benar) – Jafar Salih.

Sumber : Oleh : Ustadz Jafar Salih
 www.ahlussunnah-jakarta.com

Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya.



>>> MITOS SYIRIK GUNUNG SALAK <<<

                                                                                                

MITOS SYIRIK GUNUNG SALAK
(Tanggapan terhadap artikel: misteri gunung Salak, burung pun bisa jatuh di atas makam Syekh)
Bukannya mengambil hikmah dari kecelakaan Sukhoi dengan bertobat dari kemaksiatan dan dosa, seorang “pemuka” di kaki gunung salak, desa palasari, Cijeruk malah menganjurkan makam Syekh Hasan dikukuhkan sebagai tempat ziarah. “Perlu semacam ada pengukuhan makam Syekh Hasan menjadi tempat ziarah” kata Habib Mukhsin Barakbah.

Musibah Sukhoi dan Makam Syekh Hasan
Allah yang maha bijak telah menetapkan bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Apakah berdasarkan dalil syar’i atau kauni. Al Qur’an misalnya adalah sebab syar’i bagi kesembuhan, bagitu pula madu, habbatsauda’, air zamzam, semuanya adalah sebab kesembuhan berdasarkan dalil Al Qur’an dan hadits yang shahih. Begitu pula api yang merupakan sebab kauni untuk membakar, dan seterusnya.
Tapi hubungan sebab-akibat bisa tidak berfungsi apabila Allah menghendaki. Berapa banyak obat yang diyakini sebagai sebab kesembuhan tapi tidak berfungsi pada sebagian orang, seperti api yang tidak berfungsi ketika digunakan untuk membakar nabi Ibrahim Alaihissalam.
Maka mengimani sebab-akibat tidak merusak tauhid selagi seseorang meyakini bahwa segala sesuatunya tergantung kehendak Allah.
Lalu benarkah pesawat Sukhoi yang jatuh beberapa waktu lalu ada hubungannya dengan makam Syekh Hasan, seperti yang dikatakan oleh KH Marsa Abdullah? “Di gunung Salak ada penunggunya, jadi harus ada syarat. Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Apa yang dikatakan Marsa ini nyata bertentangan dengan Islam, jelas tidak ada kaitan sebab-akibat antara kecelakaan pesawat dengan makam Syekh Hasan, tidak ada keterangan berupa dalil syar’i maupun pembuktian ilmiyah (kauni) dalam hal ini. Bahkan pernyataannya menunjukkan kedangkalan Marsa akan syariat Islam dan ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Marsa telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, sehingga dia pun terjatuh kepada kesyirikan.
Marsa mengatakan: “Di gunung Salak ada penunggunya...”. Ajaran yang mirip dengan keyakinan banyak orang terhadap Nyi Roro Kidul ini kembali diungkap Marsa dengan redaksi yang berbeda. Kalau Nyi Roro Kidul “penguasa laut selatan” sedangkan makam Syekh Hasan “penunggu gunung Salak”.
Padahal Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada musyrikin Makkah): Milik siapakah bumi dan apa-apa yang ada padanya, apabila kalian mengetahui? Orang-orang (musyrikin) itu akan mengatakan: milik Allah. Katakan (kepada mereka): tidakkah kalian mengingat? Katakanlah (kepada mereka): siapakah yang penguasa langit yang tujuh dan penguasa ‘ary yang besar? Mereka akan menjawab: milik Allah. Katakan (kepada mereka): Tidakkah kalian bertakwa? (Qs. 23: 84-88)
Maka tidak ada penguasa semesta alam ini kecuali Allah, meski hanya sejengkal apalagi sampai segunung. Dan meyakini apa yang dikatakan Marsa dan keyakinan-keyakinan serupa merupakan kufur akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
Lebih jauh lagi, apabila kita perhatikan ayat di atas dan ayat-ayat serupa di dalam Al Qur’an, kita dapati bahwa orang-orang jahiliyah dahulu (musyrikin Quraisy) ternyata lebih mendapat petunjuk daripada Marsa yang bergelar Kyai. Orang-orang musyrikin dahulu mengakui hanya Allah Ta’ala penguasa tunggal alam semesta, sedangkan orang-orang seperti Marsa masih meyakini ada selain Allah yang ikut menguasai, ikut menjaga atau menunggui sebagian dari bumi Allah ini?! Apa Marsa tidak membaca firman Allah Ta’ala yang mengatakan; “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik itu): Di tangan siapakah kerajaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada seorang pun bisa berlindung dari (siksa)nya, apabila kalian mengetahui? Mereka (musyrikin Quraisy) itu akan menjawab: Milik Allah. Katakan (kepada mereka): Maka bagaimana kalian bisa dipalingkan? (Qs. 23: 89)
Pak Kyai juga bilang: “Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Ada dua kemungkinan disini, Marsa telah berdusta atau Allah ingin menyesatkan orang-orang seperti Marsa. “Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari pada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. 5:41)
Padahal cukup bagi orang yang diberi akal sehat untuk tidak percaya bualan Marsa dan orang yang sepertinya, yaitu peristiwa yang menimpa sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Raden KH Moh Hasan bin R KH Bahyudin Praja Kusuma (Mbah Gunung Salak), yang berada di dekat lokasi Sukhoi naas, diberitakan telah rusak tertimpa logistik dari Super Puma.
Maka bagaimana bisa makam yang tidak dapat menolak kerusakan yang menimpa dirinya diyakini mampu menimpakan musibah dan bencana kepada orang lain?! Sungguh kecelakaan Sukhoi adalah musibah yang besar bagi keluarga yang ditinggal, tapi musibah yang keluar dari mulut Kyai Marsa dan Habib Barakbah jauh lebih besar.

(Tulisan ini saya buat di atas asumsi apa yang ditulis wartawan Tribun Jakarta edisi Pagi, Selasa 15 Mei 2012 adalah benar) – Jafar Salih.

Sumber : Oleh : Ustadz Jafar Salih
 www.ahlussunnah-jakarta.com

Diperbolehkan mengkopi artikel dengan menyertakan sumbernya.

SALAFY CIAMPEA BOGOR: PERKATAAN "DEWI FORTUNA TIDAK BERSAMA KITA"

SALAFY CIAMPEA BOGOR: PERKATAAN "DEWI FORTUNA TIDAK BERSAMA KITA": Perkataan ” Dewi Fortuna Tidak Bersama Kita”        Mungkin diantara  kita pernah mendengar atau sering me...

Rabu, 26 Desember 2012

LEBIH AJAIB LAGI DARI TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

>>>www.salafyciampeabogor.blogspot.com<<<

 

 

Ada Tujuh Keajaiban Dunia Yang Lebih Ajaib lagi

Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?
Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:
1. Hewan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami“.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia“. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]
2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu ‘anhu- bertutur,
“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya). [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
3. Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang“.[HR.Muslim dalam Shohih-nya (1782)].
4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.
Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]
5. Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun“. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus“. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]
6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
7. Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,
Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh“. (QS.An-Naml: 16-19).
Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin
Sumber : http://www.almakassari.com dari Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah).