Selasa, 25 Desember 2012

ARTI SEBUAH C I N T A

>>> CINTA YANG HAKIKI <<<



 

Arti Sebuah Cinta 

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Namun cinta apakah yang paling tinggi dan mulia?
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk memahami hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikit pun.
Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya serta menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah l dan Rasul-Nya Muhammad n. Allah l berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)
Rasulullah n dalam haditsnya dari sahabat Tsauban z mengatakan, “Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.” Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?” Rasulullah n berkata, “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air bah. Dan Allah l benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian, dan benar-benar Allah l akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan al-wahn, ya Rasulullah?” Rasulullah n menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no. 4297, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t dalam tafsirnya mengatakan, “Allah  l memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13—14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat. Allah l menjelaskan pula perbedaan besar antara dua negeri tersebut. Allah l memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka serta menanamkannya di dalam hati-hati mereka. Semuanya berakhir pada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta, dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”
Definisi Cinta
Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim t mengatakan, “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas. (Berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)
Hakikat Cinta
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah l, maka ia akan menjadi ibadah. Sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah l, yaitu kesyirikan.
Cinta Kepada Allah l
Cinta yang dibangun karena Allah  l akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim t dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata, ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah l, lalu Allah l menurunkan ayat ujian kepada mereka:
ﭮ ﭯ ﭰ    ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ
“Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian’.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata, “(Firman Allah l) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut, buah serta faedahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah l) adalah mengikuti Rasulullah n. Faedah dan buahnya adalah kecintaan Allah l kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah n maka kecintaan Allah l kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena Allah l, tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi-Nya. Rasulullah n bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik z:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal yang jika ketiganya ada pada diri seseorang niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman: hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, hendaklah dia mencintai seseorang serta tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim t mengatakan bahwa di antara sebab-sebab datangnya cinta Allah l kepada seorang hamba ada sepuluh perkara:
Pertama, membaca Al-Qur’an, menggali dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah  l dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.
Ketiga, terus-menerus berzikir dalam setiap keadaan.
Keempat, mengutamakan kecintaan Allah l di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.
Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah l, menyaksikan dan mengetahuinya.
Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah l dan segala nikmat-Nya.
Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah l.
Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah l turun (ke langit dunia).
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
Kesepuluh, menjauhkan segala sebab yang akan menghalangi hati dari Allah l. (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah l berfirman:
ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ  ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ
“Tetapi Allah menjadikan kamu mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (al-Hujurat: 7)
ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍﮎ
“Dan orang-orang yang beriman lebih mencintai Allah.” (al-Baqarah: 165)
ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (al-Maidah: 54)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah n adalah hadits Anas z yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah, “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-Macam Cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Yamani t dalam kitab al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hlm. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam.
Pertama, cinta ibadah.
Yaitu mencintai Allah l dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.
Kedua, cinta syirik.
Yaitu mencintai Allah l dan juga selain-Nya seperti cintanya kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah). Mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Ketiga, cinta maksiat.
Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah l dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah l berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (al-Fajr: 20)
Keempat, cinta tabiat.
Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta, dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah l berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf q) berkata, ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf: 8)
Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah k sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, berubahlah menjadi cinta maksiat.
Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih mencintai perkara-perkara tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah l atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.
Buah Cinta
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah l ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t menyatakan, “Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah l. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya. Bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (al-Qaulus Sadid, hlm. 110)
Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah l? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.
Pertama, bila dia mencintai selain Allah l lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah k maka ini adalah cinta syirik. Hukumnya jelas haram.
Kedua, bila dengan cinta kepada selain Allah l menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat. Hukumnya haram.
Ketiga, bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.
Wallahu a’lam.
Sumber :
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an-Nawawi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar