Selasa, 27 November 2012

Ketika Badai Menerpa

ketika badai menerpa .......

Kehidupan sepasang insan yang selalu berbahagia, tiada masalah, jauh dari perselisihan, tanpa pertengkaran, selalu seia-sekata, tanpa pernah saling menyakiti, yang ada hanya cinta yang tidak pernah layu dan kemesraan yang tidak pernah usang dimakan waktu, tentu hanya ada di surga. Adapun biduk rumah tangga di dunia, jangan pernah dibayangkan tidak akan berembus angin masalah atau diterpa badai problem.
Namun, ini tidak berarti kita tidak perlu menempuh perkara-perkara yang dapat mencegah timbulnya masalah. Kita percaya, setiap jalan yang dilalui memang ada penghalang dan rintangannya. Agar bisa melewatinya dengan selamat, tentu kita harus tahu bentuk penghalang tersebut.
Sebagian orang mengatakan, “Masalah rumah tangga ibarat garam kehidupan suami istri karena setelah masalah berlalu akan berganti dengan kedekatan dan cinta.” Persis seperti masakan, setelah digarami rasanya lebih enak.
Kalau kita anggap ucapan tersebut benar, garam itu tentu tidak melebihi kadarnya. Ibarat masakan kalau tanpa garam tidak enak, namun sebaliknya apabila kelebihan garam rasanya pun tidak karuan. Apabila problem dalam sebuah rumah tangga sampai berlebihan niscaya akan muncul kebencian, yang setelahnya dapat mengantarkan kepada kebinasaan.
Namun, hendaknya ucapan di atas tidak sampai mendorong kita untuk membuat-buat perselisihan yang justru akan mengeruhkan kebersamaan kita dengan pasangan hidup. Bisa jadi, problem adalah bumbu atau garam dalam berumah tangga bagi orang yang mendapatkan hasil yang baik setelah hilangnya problem tersebut. Adapun bagi yang menuai akibat buruk atau kehancuran keluarga, tentu tidak tergambar di pikiran kita bahwa dia akan menganggap manis masalah yang pernah lewat dalam kehidupannya.
Seorang yang berakal adalah yang berupaya semampunya menjauhi hal-hal yang dapat memicu timbulnya masalah. Tentu tidak yang lebih bodoh daripada orang yang mampu meraih faktor-faktor kebahagiaan dalam hidupnya, namun ia meninggalkannya dan justru mencari-cari jalan kesengsaraan lalu ditempuhnya.
Seorang istri hendaklah pandai bercermin diri, jangan sampai ia menjadi sebab kesengsaraan dan pemicu masalah dalam rumah tangganya. Hendaknya ia berusaha “sesuai” dengan suaminya, tidak menyelisihinya.
Hindari menjadi istri yang sifatnya seperti yang digambarkan oleh seorang badui ketika ditanya, “Sebutkan pada kami sifat wanita yang paling jelek.”
Ia menjawab, “Tubuhnya kurus tidak berdaging. Lisannya seakan-akan tombak. Ia menangis tanpa sebab. Ia tertawa pun bukan karena sesuatu yang patut ditertawakan. Ucapannya adalah ancaman. Suaranya keras. Ia mengubur kebaikan dan justru menyebarkan kejelekan… Jika suaminya masuk, ia keluar. Apabila suaminya keluar, ia masuk. Jika suaminya tertawa, ia malah menangis. Jika suaminya menangis, ia justru tertawa….”
Istri yang baik adalah istri yang melakukan apa yang disukai oleh suaminya dan menjauhi hal-hal yang dibencinya. Hal-hal semacam ini harus dijaga oleh seorang istri dan ia tidak butuh berulang-ulang diingatkan oleh suaminya di setiap waktu.
Di sisi lain, ada suami yang menjadi sumber masalah. Ada istri yang diselimuti ketakutan hidup bersama suami yang tidak dikenalinya selain dengan teriakannya. Si suami tidak bergaul dengannya melainkan dengan liar dan buas. Ia menjadikan ketenangan dan ketenteraman yang harusnya terwujud dalam pernikahan menjadi keinginan untuk lari melepaskan diri. Apabila si suami datang, ia tidak merasakan gembira karenanya. Apabila suami pergi, istri dan anak-anaknya sampai berharap ia tidak kembali. Rasanya tidak ada sesal apabila berpisah dengannya, sebagaimana sirna rasa bahagianya apabila bertemu dengannya.
Yang lebih menjadi musibah, suami tega menghina, memukul, dan menyiksa istrinya, padahal seorang istri salehah lebih mahal nilainya daripada sebuah permata yang paling mahal sekalipun. Bisa jadi, di sekitar kita tidak hanya satu atau dua orang istri yang bernasib seperti ini. Ibaratnya, istri ini hidup dengan makhluk liar dalam jasad seorang insan yang telah tercabut rahmah (kasih sayang) dari hati mereka. Terhadap orang lain, mereka punya perasaan, tetapi tidak terhadap istri dan anak-anak mereka.
Seorang wanita pernah menulis surat untuk meminta nasihat terkait dengan problemnya bersama suaminya. Kita bawakan di sini agar bisa diambil ibrahnya. Si wanita berkata, “Sebenarnya saya tidak tahu dari mana saya harus memulai dan bagaimana cara memulainya. Sementara itu, hati saya bercucuran dengan kesedihan, dan tubuh saya mengeluh kesakitan….”
Ia melanjutkan, “Saya hidup dalam keadaan seperti ini dengan seseorang yang seharusnya menjadi orang yang paling dekat dengan saya. Bukankah seorang istri menjadi tempat ketenangan bagi suaminya? Suami juga menjadi ketenangan bagi istrinya?1
Kesedihan saya hidup bersama suami telah saya rasakan sejak masa awal pernikahan kami, bahkan sejak malam pertama. Ia menanamkan rasa sakit dan rasa takut dalam jiwa saya. Saya berusaha memupus rasa tersebut dengan belajar mencintai dan memahaminya. Akan tetapi, yang saya dapati adalah wajah yang senantiasa masam, pergaulan kaku yang dikuatkan dengan pelecehan dan penghinaan. Demikianlah bekal harian saya.
Saya sendiri belum berusia tua, usia saya baru 22 tahun, sedangkan suami saya 30 tahun. Tadinya, saya menyangka kematangan berpikir dan akal yang kuat akan menyertai tindak tanduknya. Ternyata, saya diperlakukannya seperti pekerja, atau lebih tepatnya budak. Saya harus menunaikan seluruh kewajiban saya yang dimulai dengan memakaikan baju dan sepatunya. Hal ini tidak berakhir dengan menyiapkan hidangan yang dimakannya sendiri. Rasa tinggi hati dan gengsi sebagai lelaki atau seorang yang jantan menghalanginya untuk makan bersama saya dalam satu meja hidangan. Hal itu terjadi, baik sebelum saya punya anak maupun setelahnya. Saya dan anak-anak tidak berani menyentuh makanan sebelum ia makan. Ini satu sisi. Adapun sisi lain amat banyak.
Sering kali ia pulang tengah malam, namun sama sekali saya tidak berani bertanya, mengapa ia baru pulang selarut itu? Tidak pula saya berani menanyakan, di mana ia menghabiskan malamnya (begadang)? Bersama siapa? Saya juga tidak berani bertanya tentang bau tidak sedap yang kudapatkan darinya seperti bau minuman yang tidak halal. Yang wajib saya lakukan hanyalah melepas sepatu dan pakaiannya, menyiapkan makanannya, dan berdiri di dekatnya sampai ia selesai menyantap makanannya. Yang wajib saya lakukan adalah bangun dini hari untuk membangunkannya. Ia pun bangun setelah memaki dan mencerca saya, bahkan terkadang meludahi wajah saya.
Saya tidak berlebih-lebihan dalam keluhan saya ini. Kelemahan saya dalam bertutur dan rasa malu menahan saya untuk banyak bicara. Saya, alhamdulilah, seorang wanita yang bagus lahiriahnya, bersih, dan bermartabat. Akan tetapi, semua itu tidak menghalanginya untuk melemparkan kata-kata yang menyakitkan saya di setiap kesempatan. Setiap kali saya berusaha menjawab atau meminta agar ia menceraikan saya, saya tidak dapatkan selain tamparan dan tendangan. Yang dijadikan pembenaran terhadap perbuatannya adalah harga diri seorang lelaki dan kejantanan, bukan pergaulan dan muamalah yang baik.
Bayangkan, ia tidak pernah bermain-main dan bersenda gurau dengan anak-anaknya, tiga putri yang cantik. Terkadang ia mencela saya dengan keberadaan tiga putri tersebut dengan mengatakan, “Mereka (tiga putri itu) tidak bisa menyamai kuku satu anak laki-laki.”
Putri-putri kami patah hati dan selalu dalam kesedihan, walaupun saya telah berupaya mengasuh mereka dengan sebaik-baiknya dan meringankan beban yang mereka rasakan. Saya dan putri-putri saya memang hidup dalam ketakutan. Seluruh aktivitas di dalam rumah tidak pernah dilakukan dengan tenang dan lembut, bahkan selalu dengan kekerasan. Setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia tidak pernah memanggil saya. Yang dilakukannya adalah melempari saya dengan sesuatu yang ada di dekatnya hingga saya bangkit memenuhi apa yang diinginkannya, membanting pintu dengan keras, atau bertepuk tangan seakan-akan saya seorang pembantu. Setiap kali ia datang ke rumah membawa teman-temannya, saya harus selalu siap berdiri dekat pintu guna memenuhi permintaannya.
Adapun ‘hak saya sebagai istri’, saya tidak pernah menuntutnya. Sementara itu, dia mengambil haknya dan berlalu, membiarkan saya hanya berhadapan dengan tembok. Terkadang anak-anak berteriak, namun ia tidak menaruh perhatian dan tidak punya perasaan. Saya mencoba menyimpan masalah ini dalam hati saya dan bersabar menanggungnya, semoga ia mau berubah. Akan tetapi, ternyata tidak ada faedahnya.
Bisa jadi, Anda bertanya, mengapa saya tidak meminta perlindungan kepada keluarga saya atau menuntut cerai darinya? Saya jawab, hal itu sudah terjadi berulang-ulang. Keluarga saya selalu meminta saya untuk kembali kepadanya. Terkadang, dia sendiri yang datang selang beberapa waktu, lalu mengajak bicara keluarga saya, tanpa mengajak bicara diri saya. Akhirnya, ayah saya memerintahkan saya pulang bersama suami saya, sedangkan saya tidak sanggup berbicara sepatah kata pun karena segan dan hormat kepada beliau.
Demikianlah hidup saya yang dipenuhi teror dan ketakutan di dalam rumah saya sendiri yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi saya, bersama seorang suami yang seharusnya memberikan rasa aman untuk saya dan anak-anak saya. Sungguh, saya hidup dalam sebuah penjara yang saya tidak sanggup keluar darinya. Apabila saya harus merinci penderitaan saya, mungkin akan membutuhkan berlembar kertas. Saya tulis kisah ini dengan harapan semoga dia membacanya atau para wanita yang mungkin bernasib hampir sama seperti saya membacanya, hingga mereka bisa mengukur sejauh mana kesusahan saya dengan kesusahan mereka2.”
Apa yang bisa kita komentari dari pengaduan atau kisah wanita di atas? Tidak lain kita katakan bahwa rasa kasih sayang memang telah tercabut dari hati sebagian manusia, tidak ada lagi belas kasih dalam dadanya. Sebagian orang bergaul dengan pasangannya seakan-akan hubungan pernikahan adalah sebuah serikat dagang yang suatu hari akan berakhir dengan keuntungan atau kerugian di pihaknya. Akibatnya, dia berusaha meraup keuntungan untuk dirinya. Padahal, tinjauan seperti ini justru menjadi jalan yang mengantarkan banyak orang ke arah kehancuran.
Masalah paling buruk yang bisa menghantam kehidupan berkeluarga adalah sikap kaku, tidak ambil peduli, dan masa bodoh. Apabila semua ini berlanjut, akan mengantarkan kepada hilangnya keutuhan keluarga, tercerai-berainya kebersamaan, dan padamnya cahaya cinta. Pasangan yang cerdas adalah yang berusaha mengubah kejenuhan yang mungkin muncul dalam kebersamaan yang telah dijalin dan mengupayakan kembalinya cinta ke dalam rumahnya. Sungguh, canda tawa dan kelembutan di antara suami istri berperan besar melipatgandakan kebahagiaan dalam rumah tangga. Perhatikanlah hadits berikut ini.
Aisyah x memberitakan,
كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ n فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَب، وَأَتَعَرَّقُ الْعَرقَ وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ n فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ
“Aku pernah minum dari sebuah gelas ketika aku sedang haid. Kemudian kuberikan gelas tersebut kepada Nabi n. Beliau lalu meletakkan mulutnya di bekas tempat mulutku dan beliau minum darinya. Pernah pula di saat haid, saya menggigit daging yang menempel pada tulang, kemudian kuberikan kepada Nabi n, lalu beliau meletakkan mulutnya di bekas tempat mulutku.” (HR. Muslim)
Rasulullah n pernah meletakkan kepala beliau yang mulia di pangkuan Aisyah x, dalam keadaan Aisyah haid, lalu beliau membaca al-Qur’an. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ummu Salamah x, salah seorang istri Rasulullah n menceritakan,
بَيْنَا أَنَا مَعَ النَّبِيِّ n مُضْطَجِعَةً فِي خَمِيْصَةٍ إِذْ حِضْتُ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حَيْضَتِي، قَالَ: أَنُفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيْلَةِ
Tatkala aku sedang berbaring bersama Nabi n dalam satu kain/selimut, tiba-tiba aku haid. Aku pun diam-diam meninggalkan tempat tidur, lalu memakai pakaian haidku. Nabi yang menyadari hal tersebut bertanya, “Apakah kamu haid?” “Ya,” jawabku. Beliau lalu memanggilku untuk mendekat, kemudian aku kembali berbaring bersama beliau dalam satu selimut. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kira-kira, cinta apa lagi setelah cinta yang ditunjukkan oleh Rasul n yang mulia ini? Kasih sayang apa lagi setelah kasih sayang ini?
Aisyah x bertutur tentang kasih dan cinta itu. Berikut ini kisahnya.
Rasulullah n memanggilku tatkala orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak pendek mereka pada hari Id. Beliau berkata kepadaku, “Wahai Humaira, apakah kamu ingin melihat permainan mereka?”
“Ya,” jawabku.
Beliau pun memberdirikan aku di belakang beliau lalu menundukkan kedua pundak beliau untukku agar aku bisa melihat permainan orang-orang Habasyah tersebut. Aku pun meletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku ke pipi beliau. Aku melihat permainan mereka dari atas kedua pundak beliau. Beliau berkata, “Wahai Aisyah, kamu belum puas melihat permainan mereka?”
“Belum,” jawabku.
Dalam satu riwayat: Hingga ketika saya telah bosan, beliau berkata, “Cukup?”
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu pergilah,” kata beliau.
Aisyah x mengabarkan, “Sebenarnya aku tidaklah senang melihat permainan mereka. Hanya saja, aku ingin agar tersampaikan kepada para wanita tentang keberadaan beliau terhadapku dan kedudukanku di sisi beliau dalam keadaan aku wanita yang masih muda. Jadi, kalian hargailah kedudukan seorang wanita yang masih muda usia dan masih senang dengan permainan3.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa’ no. 65)
Sejak awal kita mengakui bahwa tidak ada rumah tangga yang lepas sama sekali dari permasalahan atau problem, namun tentunya harus diketahui bagaimana penyelesaian problem tersebut sehingga berujung dengan kebaikan. Tidak benar anggapan sebagian orang bahwa satu-satunya jalan keluar dari permasalahan rumah tangga adalah mengurai ikatan pernikahan dengan talak (cerai).
Di antara hal yang bisa membantu menyelesaikan perselisihan suami istri adalah kelembutan, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan berhias dengan kesabaran. Kelembutan dan ketenangan adalah kunci bagi segala kebaikan dan pemimpin dari segala keutamaan. Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الرِِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasi sesuatu tersebut. Dan tidaklah dicabut kelembutan dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, kelembutan dan tidak terburu-buru mengambil keputusan adalah sesuatu yang dituntut dalam seluruh urusan kehidupan. Dengannya, seseorang bisa mengumpulkan pikirannya yang tercerai-berai, menghadirkan akalnya, serta tidak melangkah dan bertindak serampangan yang akan menghancurkan kehidupannya dalam waktu yang terbilang singkat.
Renungkan kisah di bawah ini untuk kita ambil pelajaran darinya.
Seorang istri sepakat dengan suaminya untuk bercerai. Si suami berkata, “Rumah ini menjadi milikmu karena engkau tidak memiliki ayah dan ibu lagi. Saudara-saudara lelakimu sudah berkeluarga, dan engkau akan beroleh kesulitan hidup bersama mereka. Karena itu, rumah ini untukmu saja. Aku nanti akan tinggal bersama saudara laki-lakiku.”
Si istri menjawab, “Tidak. Rumah ini tetap milikmu karena engkau yang banyak berkorban untuk membangunnya. Aku sendiri akan mencoba menyesuaikan diri dengan istri saudara lelakiku agar bisa tinggal bersamanya.”
Si suami menanggapi, “Kalau begitu, kamu ambil saja perabotan dalam rumah ini.”
“Tidak, engkau lebih membutuhkannya daripada diriku. Rumah saudara lelakiku lengkap perabotannya. Semuanya ada,” jawab si istri.
“Kalau demikian, terimalah dariku sejumlah uang ini,” kata si suami.
“Jangan, aku kan punya penghasilan. Aku tidak butuh materi, engkau lebih membutuhkannya daripadaku,” jawab si istri.
Tatkala si istri sedang menyiapkan tasnya untuk meninggalkan rumah yang sekian lama menaungi keduanya, tiba-tiba si suami berseru dengan penuh sesal dan bertanya kepada si istri, “Kalau begitu, mengapa kita harus bercerai?! Karena tidak ada kecocokan? Karena aku tidak bisa memahamimu dan engkau tidak bisa memahamiku? Ucapan apa ini?! Tidakkah cukup bagi sepasang suami istri bahwa masing-masing bersemangat memberikan kebaikan bagi yang lain? Apakah di antara keduanya disyaratkan harus ada cinta yang membara atau kesesuaian yang sempurna? Apakah sebagian perselisihan kita berarti harus memutuskan hubungan kita? Bagaimana kita harus putus, padahal masing-masing merasa nikmat apabila bisa menghormati dan menghargai serikat hidupnya serta mengutamakannya daripada dirinya sendiri?! Bukankah saling menghormati lebih penting daripada cinta yang membara?”
Si istri diam tidak bersuara.
Akhirnya, tidak terjadi perceraian. Sampai saat ini keduanya masih tetap menjadi sepasang suami istri.
Kisah di atas hendak menjelaskan sejauh mana sikap tidak terburu-buru, tenang, dan berhati-hati/tidak gegabah dalam bertindak adalah sebab tetap langgengnya ikatan pernikahan di antara suami istri. Kisah ini menggambarkan bahwa masing-masing pihak memiliki pikiran dan perasaan yang jauh tentang pasangannya. Tatkala salah satunya membuka hatinya untuk pasangannya, pasangannya pun memenuhi hatinya. Hilanglah penghalang yang tadinya ada di antara dia dan pasangannya. Ternyata, didapatinya pasangannya sangat dekat dengannya.
Maka dari itu, marilah kita saling bertanya, adakah kita telah mengambil cara-cara seperti ini sebagai pegangan dalam kehidupan berkeluarga: sikap tidak terburu-buru dan gegabah ketika terjadi masalah, membuka hati, dan melapangkan dada untuk menyelesaikan masalah? Seandainya hal ini kita lakukan, niscaya akan terselesaikan banyak masalah. Setelah itu, ditutupi dengan kedekatan dan kebahagiaan.
Yang penting dicamkan saat terjadi masalah di antara suami istri adalah melihat sisi-sisi kebaikan dari pasangan, tidak semata-mata melihat kesalahan. Akan tetapi, lihatlah berapa banyak kebaikan yang melekat pada dirinya. Ada suami yang berkata, “Istriku punya kekurangan pada sebagian sisi. Aku pandang hal itu sebagai sisi keburukannya. Akan tetapi, pada dirinya ada kebaikan yang banyak. Ia lembut hatinya, punya kasih sayang terhadap ayahku dan anak-anakku, dermawan suka memberi. Karena itu, aku bergaul dengannya dari sisi kebaikannya, bukan dengan melihat sisi buruknya. Karena itulah, kehidupanku berjalan di atas apa yang diinginkan.”
Apabila hal seperti ini diterapkan dalam kehidupan suami istri, niscaya ketenangan bisa terwujud. Lebih-lebih lagi, memang harus disadari bahwa jarang sekali seorang hamba bisa menikmati kehidupan yang sempurna tanpa dihampiri oleh kekurangan sedikit pun.
Dalam menjalani kebersamaan hidup dengan pasangan, seorang istri harus lebih banyak bersabar dan lapang dada menghadapi suami. Lelaki sebagai suami harus bergelut dengan kehidupan di luar rumah yang ia temui. Bisa jadi, banyak hal yang mengeruhkan hatinya. Bisa jadi, hal itu tampak pada wajahnya saat ia kembali ke dalam rumahnya. Apabila seorang istri tidak menghadapinya dengan pikiran jernih, tenang, lapang, dan memaklumi, niscaya akan rusak kehidupan.
Tidaklah pantas seorang istri tertawa di hadapan suaminya dalam keadaan si suami sedang marah. Sebagaimana tidak pantas pula saat suaminya marah, seorang istri meninggalkan begitu saja tanpa ambil peduli dengan kemarahannya. Sungguh, sikap seperti ini justru akan menambah kemarahannya. Berapa banyak wanita yang bisa menempati ruang-ruang hati suaminya dengan sebab pandai menampakkan cintanya kepada si suami dan membuatnya ridha. Nabi n yang mulia pernah bersabda,
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟ كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى
Maukah saya beritakan kepada kalian tentang istri-istri kalian di surga? Yaitu (wanita) yang penuh cinta lagi banyak anaknya (subur rahimnya). Apabila ia marah atau diperbuat keburukan kepadanya, atau suaminya marah, ia berkata, “Ini tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa memejamkan mataku hingga kamu ridha.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath dan ash-Shaghir. Lihat ash-Shahihah hadits no. 3380)
Abud Darda z, seorang sahabat Rasul yang mulia, pernah berkata kepada istrinya, Ummud Darda x,
“Apabila engkau melihatku marah, buatlah aku ridha. Apabila aku melihatmu marah, aku pun akan membuatmu ridha. Jika tidak demikian, kita tidak bisa berteman.
Maafkanlah aku, niscaya cintaku kepadamu akan kekal.
Janganlah engkau berbicara menyelaku di saat aku sedang marah.
Jangan pula engkau banyak mengeluh karena keluhan akan menghilangkan kekuatan dan hatiku akan menolakmu padahal hati itu memang dibolak-balikkan.
Aku memandang, apabila cinta di dalam hati menyatu dengan perbuatan yang menyakiti, niscaya tak berapa lama cinta akan pergi.”
(Disusun kembali dengan beberapa perubahan dari tulisan asy-Syaikh Salim al-‘Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah dengan judul Walyasa’ki Baituki min Ajli Hayah Zaujiyah Hani’ah disertai tambahan dari sumber/rujukan yang lain)
Sumber :Majalah AsySyariah Edisi 078, http://www.asysyariah.com
(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar